Bisakah Hari yang Buruk menjadi Lebih Buruk?

May 12th, 2016 § 0 comments § permalink

Wepe, Hans, Peter dan Anak-anak Pemulung

Wepe, Hans, Peter dan Anak-anak Pemulung di Bandara Kupang

 

Bisa! Tentu saja bisa!  Saya baru saja mengalaminya beberapa hari yang lalu.

Sebagai orang yang terbiasa menata dan mengatur jadwal dengan seksama, kejutan bukanlah hal yang saya harapkan.  Apalagi kejutan yang membawa kabar buruk. Tapi, ya begitulah kehidupan.  Kadangkala hidup menyapa kita dengan kejutan yang tak menyenangkan.

Pagi itu saya bergegas menuju ke Bandara.  Saya terlebih dahulu harus mengambil hasil fotokopi di kios langganan.  Sehari sebelumnya saya telah meninggalkan bahan untuk digandakan untuk 200 peserta pelatihan.

TERNYATA KIOS FOTOCOPY ITU MASIH TUTUP

Tak biasanya ia masih tutup di jam seperti itu.  Entah mengapa hari itu, kios itu tutup.  Ya, tak ada nomor telpon yang bisa dihubungi.  Dari gembok masih terkunci dan menempel di depan  jelaslah bahwa pemiliknya belum datang. Padahal, saya membutuhkan bahan pelatihan itu karena saya harus terbang ke Kupang.

Ah, tak mengapalah. Nanti toh saya bisa fotocopy di Kupang.  Masih ada cukup waktu.

Saya pun melanjutkan perjalanan ke bandara.  Tak seperti biasanya, saya membawa 200 eks buku Tak Pernah Tergeletak untuk dibagikan pada peserta pelatihan.  Tentu saja berat, dan pasti akan kelebihan bagasi.  Tak masalah dengan biaya, tetapi sangat repot untuk membawa dus sebesar dan seberat itu, sementara saya menyetir sendiri mobil ke bandara.  Jarak antara tempat parkir menginap dan lokasi check in lumayan.  Lumayan buat tangan pegel dan keringat mengucur.

Tibalah saya di meja check in.

Saya menaruh barang di tempat penimbangan. Menyerahkan tiket dan id saya.

“Bapak, no penerbangan ini tidak ada. Dipindah besok pagi,” kata petugas check in

HAH! APA?  BAGAIMANA MUNGKIN?  SAYA TIDAK MENDAPAT PEMBERITAHUAN  APAPUN

“Silakan bapak ke kantor untuk mengurus tiket dan hal yang lain lain,” jawab petugas  itu.

Saya melangkahkan kaki dengan malas ke kantor maskapai itu.  Ternyata bukan saya sendiri yang mengalami pembatalan penerbangan.  Pilihannya : pindah penerbangan esok hari, atau mencari maskapai lain.  Saya bersikeras untuk terbang hari itu juga.  Ada agenda yang tak mungkin saya batalkan di malam dan esok harinya.

Ternyata mayoritas penumpang sudah diberitahukan tentang pembatalan penerbangan itu.  Karena info pembatalan datang larut malam sebelumnya, maka ada belasan penumpang yang tak mendapatkan informasi.  Termasuk saya!  Beberapa penumpang marah dan kecewa, serta terpaksa menerima perubahan mendadak itu.  Sementara beberapa orang tetap bertahan di kantor maskapai itu.

“Silakan bapak menunggu,” begitu jawab petugas di kantor maskapai.

Menunggu apa? Tak Jelas, bukan?  Bukankah pesawat dengan nomor penerbangan itu tak terbang hari itu.

Dalam ketidakpastian itu, saya berjuang mencari tiket lewat maskapai lain.  Tidak ada! Semua penerbangan penuh!  Hanya tersedia penerbangan di malam hari, dan itu konsekuensinya jadwalnya berubah.  Tak ada pilihan lain.  Tentu saja, harga tiket pun melambung 2 kali lipat untuk penerbangan malam itu.

Saya lelah, bingung, dan tak tahu harus berbuat apa.

Saya duduk menunggu dan berjumpa dengan beberapa orang yang senasib dengan saya.  Beberapakali kami keluar masuk kantor maskapai dan hanya mendapatkan jawaban yang sama,” Tunggu, ya pak!”

Tunggu apa? Tak jelas!

“Rasanya tidak mungkin kita terbang pada jam ini.  Tidak mungkin hanya untuk beberapa orang, pesawat tambahan akan dikirim dan membawa kita,” keluh penumpang lain di samping saya.

“Lebih baik, pihak maskapai tegas saja. Tidak ada, dan kita bisa atur jadwal  selanjutnya,” tegas penumpang lain.

Kami menunggu. Menit demi menit terasa lama. Satu jam tersandera dan tak berdaya.

Seorang petugas mendekati tempat kami duduk.  Ia berbisik,” Bapak bisa terbang. Masih ada 7 seat. Siap-siap check ini di counter 5.”

Ada banyak pertanyaan di benak.  Tapi, petugas itu meminta kami segera ke counter 5.  Kami pun segera melangkah ke counter 5.  Dan … kami bisa terbang dengan maskapai yang sama, namun nomor penerbangan berbeda.  Bagaimana bisa seperti ini, saya tak tahu! Baru pertama kali juga saya terbang dengan boarding pass hasil tulisan tangan, bukan cetak seperti biasa.

Penerbangan berjalan lancar.  Cukup sudah kejutan tak menyenangkan . Saya harap tak ada lagi.

Begitu mendarat, saya segera menyalakan handphone agar dapat berkomunikasi dengan pihak penjemput terkait dengan beberapa perubahan jadwal yang ada.

TAK ADA SINYAL DI HANDPHONE

Ya, berulangkali saya restart handphone, tak juga muncul sinyal.  Saya berjalan ke luar bandara dan menemukan semua orang tenyata punya masalah yang sama.  Petugas di sebuah counter penjual nomor perdana mengatakan,” Hari ini, sinyal provider X hancur lebur.”

Maka terkatung-katunglah saya di bandara. Menanti dalam ketidakpastian.  Koneksi data tak biasa, suara tak nyambung, sms pun gagal kirim.

LENGKAP SUDAH!

Setelah mondar-mandir ke sana ke mari, akhirnya saya putuskan duduk di troli dan menanti.  Tak tahu lagi apa yang haru saya lakukan dan ke mana saya harus melangkah pergi.

“Permisi bapa,” tiba-tiba saya mendengar suara itu.

Dua anak usia sekolah dasar melintas. Pakaiannya nampak kotor, mereka berdua membawa plastik besar.  Ada botol-botol plastik bekas di dalamnya. Ya, mereka adalah anak-anak yang memulung plastik bekas di bandara Kupang.

“Adik, sini. Adik tak masuk sekolah?,” tanya saya

“Masuk Bapa, ini tadi pulang sekolah,” jawab mereka.

Kami pun berbincang akrab.  Beberapa kali percakapan mission trip ke NTT membuat saya memahami bagaimana cara berkomunikasi dengan anak-anak ini.

Setiap pulang sekolah, mereka akan berjalan kaki sekitar 2 kilometer ke bandara.  Mengumpulkan botol botol plastik yang hanya laku seribu rupiah perkilo.  Berapa lama yang mereka butuhkan untuk mendapatkan satu kilo? Seminggu!  Ya, seminggu. Seminggu untuk mendapatkan seribu rupiah.  Kehilangan waktu bermain dan bersama-sama dengan keluarga.

Saya terdiam dan merenung.  Usia mereka tak jauh beda dengan Alden, anak saya yang pertama. Namun, mereka tak sempat bermain dan ada di rumah yang aman dan nyaman.  Mereka harus bekerja membantu orangtua.  Salah satu anak mengatakan bahwa ayahnya adalah tukang kayu dan ibu adalah pemulung.

Namun, saya melihat keceriaan di wajah mereka. Berulangkali mereka berdua bercanda lepas dalam bahasa daerah yang tak saya pahami. Mereka bersemangat lari ketika ada orang yang membuang botol minuman plastik di tempat sampah.

Beban hidup sepertinya tak mereka rasakan.

“Kapan belajarnya kalau ke sini terus?” tanya saya

“Nanti, selepas dari sini, kami pulang, mandi dan belajar, lalu tidur,” jawabnya.

Saya suka melihat semangat mereka.  Di dalam kesulitan dan beban hidup, mereka menghadapinya dengan cara khas anak-anak : bermain dengan ceria di tengah upaya mengumpulkan botol bekas.

Anak-anak ini pun jujur dan mau membantu.  Berulangkali saya harus menitipkan tas dan troli saya ke mereka, karena harus ke toilet atau mencari penjemput saya ketika sinyal handphone belum kembali.  Mereka menunggu tas dan trolli saya dengan baik.  Dari jauh saya mengamati, mereka tak lagi bermain.  Duduk diam di dekat trolli saya.  Tak bergerak walau ada orang yang membuat botol plastik di tempat sampah.

Ah, itu penjemput saya datang!

Saya berterima kasih pada anak-anak itu.  Saya ulurkan sejumlah uang sebagai tanda ucapan terima kasih karena telah menjaga trolli dan tas  saya.  Mereka menyambutnya dengan gembira.

Hidup, memang tak selalu seperti yang kita harapkan.  Kita bisa mengatur beberapa hal, namun selalu akan ada kejutan tak menyenangkan.  Ketika kejutan tak menyenangkan datang, kita merasa kehilangan semua kendali.

Padahal, ada satu kendali yang tak mungkin diambil orang lain dari hidup kita.  Bukan kendali atas situasi, namun kendali atas pilihan sikap kita.

Everything can be taken from a man but one thing: the last of the human freedoms—to choose one’s attitude in any given set of circumstances, to choose one’s own way.”
― Viktor E. FranklMan’s Search for Meaning

Aplikasi “Amsal Hari Ini”

March 31st, 2015 § 0 comments § permalink

AHI_icon

Pada hari Rabu, 1 April 2015 akan meluncur secara resmi aplikasi “Amsal Hari Ini” untuk Android dan iOS.  Aplikasi Amsal Hari Ini akan mengupas satu ayat per hari dari Kitab Amsal.  Pdt. Wahyu ‘wepe’ Pramudya akan menguraikan ayat demi ayat secara sederhana dan mengena.  Versi audio dari Amsal Hari Ini telah terdengar sehari 4 (empat) kali melalui Radio Bahtera Yudha 96,4 FM Bahtera Yudha.

Aplikasi “Amsal Hari Ini” ini tersedia di Google Play dan App Store secara gratis.  Sila mengunduhnya dan membagikannya kepada orang lain.

Curhat Penulisan Buku : “Cuman yang Seperti Itu”

February 3rd, 2015 § 0 comments § permalink

quitSuatu saat saya berjumpa dengan seorang rekan yang melayani di sebuah gereja.

“Saya sudah membaca buku-buku kumpulan khotbahmu. Sederhana banget isinya. Kalau cuman seperti itu, ya saya bisa bikin buku.  Lebih banyak malah,” tuturnya sambil tertawa ringan.

Sambil menatap ke arahnya, saya menjawab,” Memang, buku-buku itu cerminan khotbah-khotbah saya. Sebelum khotbah, saya selalu berdoa agar bisa menguraikan firman Tuhan secara sederhana dan mudah dimengerti.  Jadinya ya buku-buku yang seperti kamu katakan tadi.  Ayo, kamu khan juga sering berkhotbah, segera terbitkan buku. Sayang kalau khotbah-khotbahmu yang bagus dan mendalam tak diterbitkan.”

“Baik, saya pasti nanti kirimkan kabar. Pasti bisalah terbitkan buku kalau cuman yang seperti punyamu,” ujarnya menutup percakapan.

***

Setahun berlalu, saya menanyakan via pesan di facebook tentang buku yang akan diterbitkannya. Tidak ada jawaban. Dua tahun berlalu, saya berjumpa dengannya di sebuah pertemuan.

“Bukumu sudah terbit ya? Diterbitkan sendiri atau lewat penerbit mana?” tanya saya.

“Belum. Belum selesai. Gampang sih menulis. Tapi ya cuman itu, saya tidak tahan duduk lama. Jadi ya gitu deh, tidak selesai-selesai,” jawab pria itu.

Sambil tersenyum kepadanya, saya menjawab,” Tidak harus duduk kok. Bisa sambil tiduran. Tidak harus lama kok. Cukup sediakan sehari 30 menit saja. Tidak sampai 4 bulan sudah selesai satu naskah buku,” jelas saya.

Tak ada jawaban darinya.

***

Mohon maaf bila rekan-rekan terpaksa membaca buku-buku yang “cuman seperti itu”. Soalnya buku-buku yang jauh lebih baik ternyata hanya eksis di cita-cita dan rencana calon penulisnya.

Hanya ketekunan yang bisa mengubah cita-cita dan rencana menjadi karya nyata. Ketekunan bukanlah hal yang rumit, sebab kita sangat mengenal apa yang menjadi penghalangnya : kemalasan diri sendiri.

Kunci Perubahan

January 26th, 2015 § 0 comments § permalink

kunci-perubahan3Setiap kali saya pulang dari gereja menuju pastori, saya harus melewati perempatan itu.  Setiap kali pula, entah untuk keberapa ratus kalinya, saya selalu mengambil jalur paling kiri dan kemudian berjalan lurus.  Padahal jelas-jelas tertera, jalur paling kiri diperuntukkan bagi kendaraan yang akan berbelok ke kiri. Mengapa saya melanggar peraturan lalu lintas?  Sederhana saja alasannya : jalur yang tengah penuh dengan antrian mobil.  Jika saya mengambil jalur yang tengah, maka saya harus menunggu beberapa belas mobil di depan melaju lebih dulu.  Dengan mengambil jalur kiri, saya mengurangi antrian jalur tengah dan tidak mengganggu siapapun karena jalur kiri toh juga bergerak mengikuti lampu pengatur lalu lintas.

“Kak, kita seharusnya ambil jalur tengah, mengapa kakak ambil jalur kiri. Ini khan melanggar peraturan lalu lintas,” protes seorang remaja anggota gereja kami.   Tak terbilang berapa kali anggota jemaat, teman dan bahkan istri mengingatkan saya tentang pelanggaran lalu lintas ini.  Saya hanya berdiam diri atau malah tertawa.  Tak menjawab, tetapi juga tak berubah.  Tahu hal itu salah, tetapi terus saja melakukannya.  Mengapa?  Saya sudah terlanjur nyaman dengan hal itu.  Bagaimana kalau harus berurusan dengan polisi?  Tilang?  Ah, saya tidak takut.

***

Suatu siang saya bergegas pulang menuju pastori.  Seperti biasanya, mobil melaju melalui perempatan jalan itu.  Saya tentu saja mengambil jalur paling kiri, seperti biasa, untuk kemudian melaju lurus ke depan.  Setelah melewati perempatan itu, dari kaca spion saya melihat sebuah mobil polisi bergerak cepat dari jalur tengah.  Saya memperlambat dan menggerakkan mobil ke kiri untuk memberikan kesempatan bagi mobil polisi itu melaju.  Eh … ternyata mobil itu berhenti tepat di depan saya.  Seorang polisi segera turun dan menghampiri saya.

“Tahu apa kesalahan bapak?”  tanya polisi itu setelah memberikan sapaannya.

“Saya tidak tahu, Pak,” jawab saya.  Tentu saja sebenarnya saya tahu apa kesalahan saya.

“Jalur paling kiri seharusnya digunakan untuk belok kiri, Pak, dan bukan lurus.  Tolong  perlihatkan SIM dan STNK,”  ujar polisi itu tegas.

Saya pun mengulurkan SIM kepada petugas itu.  Sejenak ia membacanya.  Kemudian saya juga mengulurkan STNK.  Ua mengamati STNK itu.

“Oh, jadi, ini mobil milik Gereja Kristen Indonesia yang di ujung jalan itu,” tanya polisi itu sambil menunjuk ke arah gereja.

“Betul, Pak” jawab saya ringkas

“Bapak pastor atau pendeta gereja itu?,” selidiknya

“Ya, Pak.  Saya pendeta di GKI Ngagel,” jawab saya.

Ia pun melipat kembali STNK, menyatukannya dengan SIM, dan mengulurkannya ke saya.  Saya menerimanya dengan penuh rasa heran.

“Bapak silakan melanjutkan perjalanan.  Oh ya,Bapak khan pendeta, tokoh masyarakat, mohon bantuannya ya, Pak, jadi contoh yang baik dalam berlalu lintas,” tegas polisi itu.

Deg. Betapa malunya saya.  Perkataan polisi itu terdengar seperti Tuhan Yesus yang berkata,”  Pergilah dan jangan berbuat dosa lagi.” Ia telah mengingatkan saya tentang jati diri dan perilaku yang seharusnya terjadi.  Saya bersalah dan layak mendapatkan hukuman, tapi polisi justru memberikan ampun.  Ada semacam rasa tak pantas menerima ampun itu.  Ada harapan untuk perilaku yang lebih baik melalui pengampunan itu.

Esok hari, ketika saya melewati perempatan itu, dengan sukarela dan sukacita saya mengantri di jalur tengah.  Begitu pula hari-hari selanjutnya.

***

Tidak ada kekuatan yang lebih besar untuk mengubah perilaku dan juga hidup seseorang selain pengampunan.  Hukuman bisa memaksa orang untuk taat, tetapi ketaatan yang lahir dari keterpaksaan, apa artinya?

Hanya pengampunan yang mampu mengubah hati seseorang sehingga lahir ketaatan yang tulus.  Pengampunan sesungguhnya adalah pemberian harapan.  Harapan yang kita butuhkan di tengah jatuh bangun perjuangan untuk menjadi sosok yang lebih baik.  Pengampunan adalah kunci perubahan.

 

 

*catatan akhir : beberapa waktu yang lalu ada peraturan baru yang berlaku : jalur paling kiri dapat digunakan bukan saja untuk kendaraan yang akan belok ke kiri, tetapi juga kendaraan yang ingin berjalan lurus ke depan.

Tiga Kuliah Kepemimpinan Bu Risma di Tragedi AirAsia QZ 8501

January 2nd, 2015 § 3 comments § permalink

Rabu, 31 Desember 2014, saya bergegas menuju Bandara Internasional Juanda untuk menemui keluarga-keluarga korban AirAsia QZ 8501.  Saya mengenal sebagian korban dan keluarga. Kurang lebih pukul 9.30 saya sudah berdiri di depan crisis center dan mengarahkan pandangan untuk mencari wajah-wajah yang saya kenal.  Ah, saya melihat beberapa wajah yang saya kenal.  Saya pun menyapa, berbicara dan berdoa bersama keluarga korban.

Di tengah kesibukan mengenali dan berbicara dengan keluarga korban, saya memperhatikan hiruk pikuk pekerja media, baik dari dalam maupun luar negeri.  Tiba-tiba, mereka bergerak menuju ke arah saya.  Ternyata di belakang saya ada sosok yang terkenal di Surabaya.  Namanya Tri Rismaharini atau lebih dikenal dengan sebutannya : Bu Risma, walikota Surabaya yang tersohor itu.  Segera saya arahkan kamera kepada beliau yang tengah menjelaskan penanganan warga Surabaya yang menjadi korban AirAsia.  Perhatian saya tertuju pada sepatu yang Bu Risma kenakan.  Sila Anda melihatnya sendiri!

sepatuNah, Anda sudah memperhatikan sepatu Bu Risma bukan?  Apakah menurut Anda sepatu itu sesuai dengan busana yang dikenakan beliau?  Apalagi beliau adalah seorang walikota.  Namun, ya begitulah Bu Risma.  Bagi beliau yang terpenting adalah sepatu sports itu menunjang mobilitasnya untuk melayani korban.   Dari pagi hari hingga sore hari, saya menjadi saksi mata betapa Bu Risma terus berjalan ke luar masuk ruangan crisis center, memberikan keterangan pada media dan menemui banyak pihak.  Inilah kuliah kepemimpinan Bu Risma yang pertama : pemimpin lebih mengedepankan peran daripada penampilan.  Apa gunanya punya pejabat alias pemimpin publik yang terlalu memperhatikan penampilan sehingga mengorbankan mobilitasnya untuk melayani? Btw, sepatunya bagus lho bu.

***

Sebagai seorang yang seringkali harus berdiri dan memimpin ibadah kedukaan, saya mengerti betapa sulitnya memilih kata-kata yang pas bagi keluarga yang berduka.  Tentu saja mudah hanya untuk berbicara kata-kata penghiburan yang bersifat umum, namun yang seperti ini tentu saja tak akan menyentuh hati.  Pergumulannya adalah bagaimana menempatkan diri dalam posisi keluarga korban, sekaligus sebagai rekan yang memberi kekuatan.  Ini tidak mudah.

Saya mencoba mengingat apa yang disampaikan Bu Risma kepada keluarga korban di Crisis Center.  Dengan logat khas Surabaya, kurang lebih beliau berkata,”  Hari ini giliran keluarga bapak dan ibu.  Besok bisa jadi giliran saya.  Kita tidak pernah tahu.  Hidup ini milik Allah.”   Ah, saya tertegun mendengar perkataan ini.  Bu Risma menguatkan keluarga korban dengan kalimat-kalimat yang langsung nyambung di hati.   Menaruh empati, sekaligus menguatkan hati.  Inilah kuliah kepemimpinan Bu Risma yang kedua : pemimpin itu lebih mengedepankan komunikasi yang nyambung di hati daripada basa-basi.

***

Siang hari itu, saya beristirahat dari kegiatan pendampingan keluarga korban, sambil berdiri dan menikmati kopi yang tersedia di salah satu sudut, saya mendengar seorang perempuan berkata,”  Aku bukannya ga mau bantu lho mas. Aku gak pegang datane warga luar Surabaya.  Aku wis kontak walikota karo bupatine njaluk data wargane.”  Bu Risma ternyata sedang berbicara kepada media tentang penanganan korban yang berasal dari luar Surabaya.  Beberapa saat sebelumnya, saya melihat dan mendengar sendiri beliau menelpon seorang kepala daerah dan meminta data korban yang berasal dari daerahnya.  Cepat dan lugas. Coba bayangkan seandainya dalam situasi krisis masih harus menempuh jalan birokrasi yang penuh liku itu.  Inilah kuliah kepemimpinan Bu Risma yang ketiga : dalam situasi krisis, pemimpin lebih mengedepankan komunikasi informal daripada birokrasi.

***

romoSaya, Pendeta Setyahadi dan Romo Didik dari Keuskupan Surabaya sedang berdiri bersama di dekat Crisis Center.  Kira-kira pukul 14.00,  Bu Risma lewat dan memperhatikan kami dan langsung meminta,”  Tolong dilanjutkan ya pendampingan rohaniwan untuk keluarga korban. Bapak-bapak sudah makan atau belum?”  Sebuah pertanyaan sederhana yang mengkomunikasian kepedulian.  Sebuah pertanyaan yang hanya kami balas sambil berpandangan dan tersenyum.  Malu untuk mengatakan kami belum makan siang, karena kami duga Bu Risma juga belum sempat makan.

Terima kasih Bu Risma untuk kuliah kepemimpinan di akhir tahun 2014.  Semoga kelak Tuhan membawa ibu memimpin negeri ini.

 

 

Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome.