Beriman : Berani Hidup dengan Pertanyaan

October 4th, 2010 § 4 comments

Seseorang mengajak rekan-rekannya makan bersama untuk merayakan ulang tahunnya. “Ayo,  pumpung ada promo nih.  Diskon 50 % all item.”  Maka duduklah ia bersama dengan 4 rekannya yang lain.  Sambil membaca menu, ia bertanya kepada pelayanan restaurant,”  Diskonnya 50 % khan mbak?”  Sang pelayanan menjawab,” Benar pak! Tapi hanya untuk makan pada pukul 2 sampai dengan 4 sore.”  “Lho, ada batasan jam nya ya. Kok tidak tertulis di iklannya?” protes rekan itu.  Sang pelayanan tersenyum,” Ada kok pak. Ada tanda * dan tulisan : syarat dan ketentuan berlaku, kecil sekali di bagian bawah.”

Syarat dan ketentuan berlaku.  Pernahkah Anda memperhatikan dengan detil tulisan yang selalu ditulis dalam huruf kecil itu?  Diskon 50% all item, syarat dan ketentuan berlaku.  Buy 1 get 2, syarat dan ketentuan berlaku.  Bonus voucher diskon senilai Rp. 500.000,-, syarat dan ketentuan berlaku.  Bagaimana Anda menilai kalimat syarat dan ketentuan berlaku?  Tidak jujur? Atau ini semata-mata upaya promosi, jadi wajar kalau seperti itu?

Saya harus mengatakan pada Anda, para pedagang yang memasang promosi diskon dalam huruf besar, dan syarat dan ketentuan berlaku dalam huruf kecil itu ada kalanya lebih jujur daripada para pengkhotbah Kristen tertentu.  Tidak percaya?  Saya kutipkan langsung beberapa perkataan mereka :

  • Datang dan rasakan kuasa Tuhan.  Segala sakit disembuhkan. Yang lumpuh berjalan, yang buta melihat, yang tuli mendengar!  Titik.  Begitu iklannya.  Realitanya?  Semua yang lumpuh berjalan, yang buta melihat dan tuli mendengar?  Puji Tuhan kalau realitanya seperti itu. Namun seringkali tidak demikian bukan?  Mungkin beberapa sembuh, tapi jauh lebih banyak yang merasa kecewa.  Harusnya dipasang tanda * syarat dan ketentuan berlaku bukan? Apa syarat dan ketentuannya? Jika sesuai dengan kehendak dan rencana Tuhan.
  • Alami kuasa perjamuan kudus.  Segala kutuk : kutuk kemiskinan, kutuk operasi, kutuk kesusahan, kutuk musibah, kutuk sakit penyakit dipatahkan.  Seorang rekan begitu mempercayai  ini : ikut perjamuan kudus, dinyatakan sembuh oleh karena imannya, dan dengan demikian menolak untuk operasi.  Hasilnya? Usus buntu itu pecah di perutnya. Harusnya dipasang tanda * syarat dan ketentuan berlaku.  Apa syarat dan ketentuannya? Jika sesuai dengan kehendak dan rencana Tuhan.
  • Berilah persembahan Anda, Tuhan akan mengembalikan berlipat kali ganda.  Seorang rekan begitu tergiur, sehingga meminjam uang sana-sini untuk memberikan persembahan.  Setelah persembahan diberi, otomatis kembali berlipatkali ganda?  Sampai sekarang realitanya tidak.  Ia pun kecewa.  Harusnya dipasang * syarat dan ketentuan berlaku.  Apa syarat dan ketentuannya? Jika sesuai dengan kehendak Tuhan.

Nah, masalahnya justru pada kalimat : jika sesuai dengan kehendak dan rencana Tuhan.  Tidak mudah kita memahami  kehendak dan rencana Tuhan bukan?  Secara umum kehendak Tuhan dinyatakan dalam firman-Nya, tetapi dalam situasi tertentu kita  seringkali bertanya,” Apakah situasi ini kehendak Tuhan?  Mengapa hal ini terjadi?  Apa yang Tuhan kehendaki dari hidupku?”  Pernahkah Anda menanyakan hal-hal yang seperti ini?

Kadangkala, ketika kita menanyakan hal-hal seperti itu, kita merasa semua itu terjadi karena kita kurang “rohani”.  Seandainya saya lebih “rohani” maka saya akan memahami kehendak dan rencana Tuhan.  DItambah lagi dengan sorot mata penghakiman dari orang lain.  Menambah rasa bersalah kita.

Apakah memang ketidaktahuan kita terhadap rencana Tuhan itu karena faktor kita kurang “rohani”?  Kita merasa seandainya kita lebih dekat dengan Tuhan, maka semua pertanyaan itu hilang lenyap tak berbekas.  Namun, benarkah demikian?

Mari kita dengarkan serentetan pertanyaan ini :

  • Berapa lama lagi, TUHAN, aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar, aku berseru kepada-Mu: “Penindasan!” tetapi tidak Kautolong?
  • Mengapa Engkau memperlihatkan kepadaku kejahatan, sehingga aku memandang kelaliman?

Siapa yang melontarkan pertanyaan dan gugatan ini kepada Tuhan?  Habakuk!  Siapa Habakuk?  Seorang nabi, penyambung lidah Allah pada umat.  Bayangkan seorang nabi bertanya dan menggugat Allah di dalam ketidakmengertiannya.  Ia tidak bisa mengerti mengapa : aniaya dan kekerasan ada di depan mataku; perbantahan dan pertikaian terjadi.  Hukum kehilangan kekuatannya dan tidak pernah muncul keadilan, sebab orang fasik mengepung orang benar; itulah sebabnya keadilan muncul terbalik.  Kalau seorang nabi saja tidak paham tentang apa yang ada di depan matanya, bagaimana ia menjelaskan hal ini kepada pendengarnya?

Ternyata status dan kedudukan sebagai nabi tidak membuatnya lebih tahu dari manusia lain.  Itu sebabnya Habakuk bertanya dan bahkan pertanyaannya bernada gugatan.  Apakah Habakuk kurang “rohani” dan kurang beriman?

Pertanyaan dan bahkan gugatan Habakuk adalah sebuah bukti bahwa beriman hanya berarti  memilki kepastian, kemenangan dan damai sejahtera selama-lamanya.  Semua itu akan terjadi di surga, tetapi kita masih hidup di dunia.  Di dalam dunia ini, walau beriman, kita juga harus berani berhadapan dengan pertanyaan :  mengapa ini dan itu terjadi, dan berapa lama semua ini akan berakhir?  Beriman berarti berani hidup dengan pertanyaan.

Beriman nampaknya  tetapi juga menuntut keberanian  hidup dengan pertanyaan.  Ada saat di mana-mana kita bertanya-tanya kepada Tuhan.  Dan dalam satu dua cara Tuhan menjawab kita.  Kita bersyukur.  Namun ada saatnya kita harus hidup dengan tanda tanya : mengapa Tuhan?  Bagaimana caranya Tuhan?  Tidak banyak orang tahan hidup dengan pertanyaan, akibatnya Tuhan ditinggalkan dan mencari kepastian yang lain.  Yang lebih bisa dipegang dan kasat mata : orang pintar, benda-benda jimat tertentu, pergi ke gunung tertentu.  Hal-hal yang membuat Tuhan berduka.

Beriman seringkali memang tidak memberikan kepastian kasat mata, tetapi satu-satunya cara untuk hidup.  Di dalam pergumulan-Nya, Habakuk berkata,” tetapi orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya.” (Habakuk 2:4).  Apa maksudnya?

Alden (3,5 th) anak saya sudah menghafal rute dari pastori ke gereja.  Suatu kali kami akan ke gereja.  Karena jalan yang biasa dilalui macet, saya mencoba mencari jalan lain.  Sepanjang jalan itulah Alden mengeluh dan menyalahkan saya kenapa kok lewat jalan ini dan bukan yang biasanya.  Saya berupaya untuk menjelaskan kepada Alden, tetapi ia tetap sulit mengerti.  Akhirnya saya memilih berdiam diri.  Saya baru bicara ketika kami sudah parkir di gereja.  Melihat kami telah sampai di gereja, langsung keluhan Alden berubah menjadi pujian : papa pinter.  Keterbatasan pikiran Alden membuat ia tidak mengerti apa yang saya ingin sampaikan.  Menyadari keterbatasan itu, saya tidak perlu bicara lagi.  Saya diam, tetapi terus mengupayakan agar sampai ke gereja.  Saya rasa itulah juga yang seringkali Allah lakukan dalam kehidupan kita.  Kita tidak selalu bisa memahami rancangan Allah, tetapi berserah senantiasa adalah sikap yang terbaik.  Inilah arti orang benar hidup karena percayanya.  Percaya pada Tuhan, walaupun belum melihat jalan-Nya.  Percaya pada kebaikan dan kemurahan Tuhan atas umat-Nya.

Karakter Allah itulah dasar kepercayaan kita pada-Nya. Mengapa berani percaya kepada-Nya? Karena kita mengetahui walau bibir Tuhan terkatup, dan kita tidak mendapat jawaban, namun tangan-Nya terus berkarya untuk kebaikan kita.  Inilah hidup beriman : berani hidup dengan pertanyaan.

* berdasarkan Habakuk 1:1-4


Tagged , , , , , , , , , , , ,

§ 4 Responses to Beriman : Berani Hidup dengan Pertanyaan"

  • Handy Tirta Saputra says:

    Sebuah renungan yang sangat mendalam. Saya sangat diberkati sekali. Terima kasih dan Puji Tuhan !

  • Widi says:

    Ada satu hal yg membuat saya selalu bertanya2.. apakah segala kejadian dan kepahitan hidup itu merupakan hasil rancangan Allah terhadap umatnya???..

    • Johanes says:

      Kejadian dan kepahitan hidup merupakan sesuatu yang wajar terjadi dalam dunia yang penuh dosa. . . Sifat dan natur kasih Allah tidak akan pernah membuat-Nya merancang sesuatu yang tidak baik. Namun dalam dunia yang kotor ini, rancangan Allah yang baik memang seringkali terlihat kabur oleh kita. Percayalah, ketika kita hidup mengasihi-Nya, maka Ia dapat mengubah segala perkara menjadi berkat, sesuai apa yang dijanjikan-Nya dalam Roma 8 : 28. Be still and know, that He is God. Jesus bless!!

  • Ricardo says:

    Saya baru pernah membuka blog ini, dan saya sangat menyukai setiap artikel yang ada. Terimakasih atas artikelnya. Tuhan memberkati.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

What's this?

You are currently reading Beriman : Berani Hidup dengan Pertanyaan at Wahyu 'wepe' Pramudya's blog.

meta

Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome.