Kepahitan, Berakar dan Berbuah dalam Keluarga

October 13th, 2010 § 2 comments

Tragis. Inilah satu kata yang dengan tepat menggambarkan nasib anak perempuan sekaligus anak tunggal Yefta. Anak perempuan itu harus berakhir hidupnya di tangan Yefta sang pemimpin Israel sekaligus ayah kandungnya. Ketika menghadapi peperangan melawan Amon, Yefta mengucapkan nazar bahwa apa yang pertama kali keluar dari pintu rumahnya akan dipersembahkan menjadi korban bakaran, jika ia pulang membawa kemenangan. Yefta menang, tapi ironisnya anak perempuan tunggalnya yang pertama kali menyambutnya. Yefta harus memenuhi nazarnya, walau itu berarti mengorbankan anak tunggalnya sendiri. Kisah lengkap tentang hal ini dapat dibaca dalam Hakim-hakim 11.

Nazar (bahasa Ibrani : nadar) adalah sebuah janji yang secara sukarela dinyatakan di hadapan Allah sebagai ganti atas sesuatu yang diharapkan akan diberikan atau dilakukan Allah. International Standart Bible Encyclopedia (ISBE) memberikan penjelasan bahwa di dalam seluruh pemaparan Alkitab tidak ditemukan perintah untuk membuat nazar, tetapi memenuhi nazar yang telah dibuat adalah sebuah keharusan yang mengikat. Bahkan menunda pemenuhan nazar adalah sebuah dosa (Ul. 23:21).

Berakar di Dalam Keluarga
Jika membuat nazar bukanlah sebuah keharusan, tetapi tindakan sukarela, mengapa Yefta membuat nazar? Bahkan sebuah nazar yang dapat dikatakan ceroboh, karena siapa atau apa saja dapat keluar dari pintu rumahnya untuk menyambutnya. Nampaknya bagi Yefta kemenangan atas orang Amon adalah hal yang sangat penting untuk mengukuhkan posisinya sebagai pemimpin orang Israel.

Yefta mempunyai masa lalu yang penuh dengan kepahitan. Meskipun Ia adalah seorang pahlawan yang gagah perkasa. Ia adalah anak dari perempuan sundal. Sebuah status yang akhirnya membuat saudara-saudaranya yang lahir dari isteri Gilead mengusirnya dari rumah. Ada akar kepahitan berupa penolakan yang dialami oleh Yefta. Penolakan yang tentu saja membuat kepercayaan diri Yefta terpukul telak. Frank Minnirth, seorang konselor Kristen, pernah mengungkapkan bahwa salah satu ekspresi orang yang tidak percaya diri adalah obstinate (kepala batu). Orang yang melakukan ini berkata di dalam dirinya, “Saya akan menampilkan diri saya sebagai sosok yang keras dan kejam. Saya akan membuat orang berpikir bahwa saya percaya diri dengan memperlakukan orang seperti sampah.” Tidak mengherankan apabila Yefta kemudian bergabung dengan petualang-petualang yang melakukan perampokan.

Orang-orang terdekat kita berpotensi untuk mencintai atau melukai kita. Itu sebabnya keluarga menjadi tempat yang terbaik untuk membentuk citra diri yang sehat, atau sebaliknya. Keluarga dapat menjadi tempat di mana citra diri seseorang terbentuk secara keliru. Kepahitan akibat penolakan keluarga adalah salah satu penghancur citra diri yang sehat.

Saya pernah menangani kasus konseling di mana konseli merasa dirinya adalah orang yang berpenampilan buruk dan tidak punya masa depan. Hal ini tentu saja mengherankan meng¬ingat konseli tersebut pernah menjadi model dan cover sebuah tabloid remaja. Prestasi sekolahnya pun terbilang bagus, karena selalu berada dalam urutan 10 besar. Sesi demi sesi konseling terlewati dan akhirnya menjadi jelas bahwa penghakiman diri yang tidak sehat itu justru diakibatkan oleh perkataan orang tuanya sendiri. Sejak ia kecil, orangtuanya berkali-kali berkata, “Kamu tidak secantik kakakmu. Kamu tidak sepintar kakakmu.” Kata-kata inilah yang membekas dalam di hatinya dan menimbulkan kepahitan hati akibat penolakan orangtuanya sendiri. Akar kepahitan yang mendalam yang tidak mudah dicabut, karena ditanamkan oleh orang tuanya sendiri. Karena itu, firman Tuhan mengingatkan agar orang tua tidak menimbulkan kepahitan di hati anak-anaknya (Kol. 3:21).

Berbuah dalam Keluarga
Kita patut bersyukur karena di tengah kelemahan manusia, Tuhan masih berkenan memakai manusia dalam rencana-Nya. Yefta yang bergumul dengan akar kepahitan akibat penolakan di masa mudanya dihinggapi oleh Roh TUHAN sehingga berhasil mengalahkan musuh-musuhnya. Tetapi, perlu diingat bahwa kehadiran Roh TUHAN di dalam diri seorang manusia tidak dengan sendirinya mengenyahkan segala luka batin akibat kepahitan hidup. Kepahitan akibat penolakan itu masih menyisakan lubang besar di hati Yefta, sehingga ia mempunyai kebutuhan yang sangat besar untuk diterima dan diakui. Kepahitan itu ternyata tidak sirna dengan sendirinya seiring dengan waktu. Kemenangan atas bangsa Amon akan menjadi sukses besar yang diharapkan Yefta menutup lubang kepahitan akibat penolakan saudara-saudaranya. Yefta merasa harus menang dan akibatnya, dari bibir Yefta terucaplah nazar yang sembrono itu.

Kepahitan yang didapatkan Yefta dari keluarganya, kini berbuah juga di dalam keluarganya. Kebutuhannya yang sangat besar untuk mendapatkan pengakuan sebagai penutup lubang kepahitan akibat penolakan keluarganya, telah menyeret Yefta ke jurang kesembronoan. Keluarganya, khususnya anaknya, akhirnya menjadi korban kesembronoan akibat kepahitan hidup Yefta.

Kepahitan hidup seringkali muncul dalam beragam ekspresi. Tetapi, apa pun ekspresi dari kepahitan hidup itu, maka orang-orang terdekatlah yang akan menjadi korbannya. Pasangan, orangtua, atau anak-anak adalah kandidat-kandidat yang akan menjadi korban buruknya ekspresi kepahitan hidup itu sendiri. Misalnya, seorang isteri yang terus menerus mencemburui suaminya, karena ayahnya ternyata pernah berselingkuh dan meninggalkan keluarganya. Atau seorang kepala keluarga yang over protektif terhadap anaknya, karena ternyata dulu di masa kecilnya tidak pernah mendapatkan perhatian dari orangtuanya.

Cabut Akar Kepahitan
Dalam dunia ini tidak ada keluarga yang sempurna. Ini berarti akan muncul luka hati di dalam keluarga. Masalahnya bukan pada bagaimana menghindari agar luka tidak terjadi di dalam keluarga, tetapi bagaimana mengembangkan sebuah keluarga di mana meminta maaf dan memberikan pengampunan adalah perilaku yang tertanam kuat. Pdt. Dr. Paul Gunadi, seorang konselor Kristen, dalam program Tegur Sapa Gembala Keluarga (TELAGA) yang disiarkan di radio pernah menyatakan bahwa pasangan atau keluarga yang kokoh adalah yang memfokuskan pada pertumbuhan. Keluarga ini menyadari bahwa mereka tidak mungkin lepas dari sakit hati dan konflik, tetapi menggunakan kedua hal ini sebagai titik balik pertumbuhan. Keluarga Kristen yang kokoh dan sehat adalah keluarga yang belajar dari konflik dan sakit hati. Lalu, bertekad untuk tidak menyalahkan satu sama lain. Wujud konkretnya adalah kesediaan untuk meminta maaf dan melepaskan pengampunan bagi anggota keluarga yang lain. Hanya dengan cara inilah, maka akar kepahitan dapat dicabut sebelum mendalam.

Henry Nouwen, seorang penulis di bidang spiritualitas, pernah menyatakan, “Forgiveness, therefore, liberates not only the other but also ourselves. It is the way to freedom of the children of God.” Terjemahannya kurang lebih demikian: pengampunan, oleh karena itu, membebaskan bukan hanya orang lain, tetapi diri kita sendiri. Pengampunan adalah jalan menuju kebebasan anak-anak Allah. Pengampunan ternyata bukan hanya hadiah bagi orang yang kita anggap penyebab luka dan kepahitan kita, tetapi pengampunan adalah hadiah bagi kesehatan jiwa kita sendiri. Keluarga yang sehat adalah keluarga yang gemar berbagi hadiah pengampunan yang mampu mencabut akar kepahitan.

Tulisan Wepe ini telah dimuat dalam Majalah Bahana, Agustus 2008


§ 2 Responses to Kepahitan, Berakar dan Berbuah dalam Keluarga"

  • Mellanie says:

    Dalam kisah Yefta ini.. Menurut Bapak WePe.. Apakah akhirnya Yefta benar benar memersembahkan anaknya sebagai persembahan manusia, seperti contohnya Bapak Abraham hendak mempersembahkan Ishak ? Atau anak Yefta tersebut dipersembahkan atau dikhususkan kepada Tuhan seperti Hana mempersembahkan Samuel ?..
    Terimakasih, Tuhan Yesus memberkati..

  • lusi says:

    Pak WP, klo punya rasa takut menyayangi sesama (dekat secara emosional) krn takut kecewa/terluka ….apa ini termasuk kelainan (latar belakang sering disalahkan/didikte oleh ortu/mama, suami selingkuh & anak satu2nya diambil Tuhan kembali) bagaimana solusi utk mslh sprt ini, tq Tuhan berkati

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

What's this?

You are currently reading Kepahitan, Berakar dan Berbuah dalam Keluarga at Wahyu 'wepe' Pramudya's blog.

meta

Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome.