Jurang Pemisah Relasi Pria dan Anak-anaknya

March 23rd, 2011 § 0 comments

Sebagai seorang pendeta, seringkali saya mendengar keluhan anak-anak tentang orangtuanya, secara khusus tentang ayah atau papa mereka.  Keluhan itu bisa beragam kalimatnya, namun menyuarakan esensi yang sama : ayah atau papa tidak mengerti kebutuhanku.  Di sisi lain, seringkali pula saya mendapatkan pertanyaan dari para ayah atau papa itu : Anak saya maunya apa sih?  Para pria juga mengalami kesulitan tersendiri untuk memahami anak-anak mereka.  Akibatnya tidak jarang ada jarak yang cukup lebar antara pria dan anak-anaknya.

Jurang ini bisa bertambah lebar karena kecenderungan pria untuk sedikit berbicara ketika berada di dalam rumahnya.  Akibatnya, anak-anak merasa seringkali lebih dekat dengan ibu atau mama yang nampak lebih sering berbicara dan menanggapi apa yang dilakukan anak-anaknya.  Padahal kehadiran seorang ayah atau papa mempunyai peran tak tergantikan dalam pembentukan identitas anak-anaknya.

Pagi ini, saya membaca sebuah artikel menarik berjudul “Lelaki itu Ayah” dari buku Adam Harus Bicara tulisan Deshi Ramadhani.  Penulis buku ini adalah seorang pria yang tidak menikah karena panggilannya sebagai rohaniwan Katholik.  Menarik untuk mencermati apa yang ditulisnya tentang apa yang diharapkan anak-anak dari papa atau ayahnya.  Silakan menyimak dan merenungkannya :

Bentuk penegasan identitas seorang anak lelaki dan seorang anak perempuan hanya bisa didapatkan dari ayah.  Penegasan yang dinanti-nanti bergerak seputar pertanyaan mendasar yang berbeda antara anak lelaki dan anak perempuan.  Seorang anak perempuan digelisahkan oleh pertanyaan mendasar “Apakah aku cantik?”  (“Am I beautiful?”).  Kakak atau adiknya yang lelaki akan digelisahkan oleh pertanyaan mendasar “Apakah aku mampu?” (Do I have what it takes?”)

… Seorang ayah yang mengatakan kepada anak lelakinya,” Kamu tidak mampu! akan menusukkan luka tikaman yang sangat dalam bagi anak lelakinya itu.  Sepanjang hidupnya ia bisa terus bertanya dan mengharapkan oenegasan yang berbeda.  Ia akan habiskan hidupnya untuk membuktikan bahwa ia mampu.

Hal serupa bisa terjadi dalam diri anak perempuan.  Jika pada satu titik di masa kecilnya ia mendengar ayahnya memberi komentar,” Kamu jelek sekali!”  Komentar itu akan segera mencetak luka sangat dalam dalam dirinya.  Ia akan menghabiskan waktu hidupnya untuk selalu mencari jawaban yang lebih menyenangkan.  Pujian dari lelaki sedikit saja sudah bisa menjatuhkan perempuan semacam ini ke dalam pelukan lelaki.

Bagaimana menurut pengalaman Anda?



Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

What's this?

You are currently reading Jurang Pemisah Relasi Pria dan Anak-anaknya at Wahyu 'wepe' Pramudya's blog.

meta

Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome.