Mata Bapa

May 31st, 2011 § 0 comments

Dalam beberapa kali percakapan, saya dan Vanda kadangkala membandingkan proses pertumbuhan dua anak kami : Alden dan Clay.  Mulai dari penampilan hingga perilaku mereka.  Alden yang cenderung kurus, dan Clay yang pipinya lebih berisi.  Alden yang dulu rambutnya jarang-jarang, dengan Clay yang rambutnya lebih lebat.  Alden yang pada bulan ke 11 sudah bisa berjalan, dan Clay yang masih belajar untuk berdiri tegak tanpa pegangan.  Alden yang cepat sekali dan banyak belajar ngomong, dan Clay yang tenang-tenang aja.  Alden yang tak bisa tenang sejak kecil, dan Clay yang relatif bisa duduk manis  Benar-benar dua sosok yang begitu berbeda, walaupun mereka mempunyai ayah yang sama dan lahir dari rahim yang sama.  Percakapan kami seringkali berakhir pada kesimpulan : masing-masing anak mempunyai kelucuan yang berbeda, dan kami mencintai mereka berdua.  Bukan karena penampilan atau perilaku mereka, namun karena Alden dan Clay adalah anak-anak buah cinta kasih kami.

Sore tadi, saya mengajak Alden dan Clay berjalan-jalan di pendopo depan pastori.  Ada beberapa anak lain yang sedang bermain di sana ditemani oleh papa atau mamanya.  Anak-anak itu begitu berbeda wajah, warna kulit dan perilakunya.  Di tengah perbedaan yang ada, orang lain bisa dengan cepat menilai mana anak yang ganteng atau jelek, hitam atau putih, dan baik atau nakal.   Begitulah manusia yang tidak pernah lepas dari penilai, perbandingan dan bahkan pertandingan.  Namun, ada satu hal yang saya amati. Cara memandang orang tua terhadap anak-anaknya, selalu berbeda dengan cara orang lain menatap anak-anak itu.  Di dalam sorot mata setiap orang tua, tersirat kasih dan kebanggaan pada anak-anak kecil itu.  Walaupun mereka berteriak memperingatkan anaknya,  marah dan bahkan memukul anak yang tidak mendengarkan peringatan mereka, sorot mata yang penuh kasih itu masih memancar.  Setiap anak adalah mutiara di mata orang tuanya.  Anak-anak tidak perlu melakukan apa-apa untuk menjadi berharga di hadapan orang tuanya.  Anak-anak itu berharga bukan karena perilakunya, namun karena kasih orangtua yang menyebabkan mereka ada di dunia.

Saya makin mengerti mengapa Tuhan menyebut kita anak-anak-Nya.  IA menatap kita dengan mata seorang papa  dan mama pada anaknya.   Tatapan yang penuh kasih dan kebanggaan bukan karena penampilan atau perilaku kita.  Tatapan yang tidak akan pernah bertambah, apapun pencapaian prestasi kita.  Tatapan yang juga tidak akan berkurang walaupun melukai hati-Nya.  Tatapan yang membuat hidup ini menjadi berharga.  Tatapan yang berasal dari mata Bapa.  Mata kasih karunia.


Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

What's this?

You are currently reading Mata Bapa at Wahyu 'wepe' Pramudya's blog.

meta

Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome.