Malu

June 24th, 2011 § 1 comment

Dunia anak-anak bukanlah sesuatu yang asing dalam hidup saya.  Saya pernah melayani beberapa tahun sebagai guru Sekolah Minggu, bahkan untuk kategori usia Batita alias tiga tahun ke bawah.  Selama masih studi di SAAT, saya pun bermain panggung boneka dan menjadi seorang badut.  Di balik penampilan yang menurut sebagian besar orang terkesan serius dan (agak) menakutkan, saya menyukai anak-anak dan senang bertegur sapa dengan mereka.  Biasanya anak-anak itu merespons tegur sapa saya dan kami pun menjadi akrab dan bermain bersama.

Pagi hari itu saya membesuk seorang anak anggota jemaat yang di rawat di rumah sakit.  Setelah menemukan kamar yang tepat, saya segera melangkah menuju tempat dudur paling ujung di mana anak tersebut berbaring.  Hanya ada satu anak yang di rawat di kamar yang cukup besar dengan beberapa ranjang itu.  Dengan mata yang tertuju pada ranjang si anak, saya melangkah maju.  Orang tua si anak pun sudah mengarahkan pandangan ke arah saya sambil tersenyum.  Makin lama makin dekat ke ranjang, anak itu pun menangis makin keras.  Ia menangis sambil memalingkan muka.  Nampak jelas anak itu tidak mau memandang saya.  Orang tua sibuk menenangkan anaknya, sementara saya bengong tidak mengerti mengapa anak itu menangis.  Orang tua itu sibuk menenangkan anaknya, namun tidak kunjung berhasil.

Anak itu terus saja menangis, orang tua bingung menenangkan, sedangkan saya tidak tahu mengapa anak itu tidak mau sama sekali menatap saya.  Ayah dari si anak nampaknya memahami rasa takut anaknya.   Ia pun berulangkali berkata pada anaknya,”  Ini Pak Wahyu, papanya Alden.  Bukan pak dokter.” Setelah berulangkali mengatakan kalimat ini, anaknya mulai tenang dan berani mencuri pandang ke saya.  Ketika masih terlihat ragu, sang ayah kembali menegaskan,” Benar khan ini pak Wahyu, pendeta bukan pak dokter.”  Anaknya masih terlihat takut berkata pelan,” Bajunya itu.”  Sang ayah pun segera tertawa sambil berkata,” Itu baju pendeta, bukan baju dokter.”  Oh … saya pun akhirnya mengerti.  Baju pendeta yang saya pakai sehari-hari itu dianggap anaknya sebagai baju dokter.  Baju yang saya kenakan tampak di gambar kiri atas.

Saya pun akhirnya bisa mulai berbincang-bincang dengan anak itu.  Namun, baru beberapa menit berjalan, tiba-tiba anak itu pun menangis dengan keras.  Orang tuanya kembali bingung.  Perkataan bahwa saya pendeta dan bukan dokter tidak lagi mempan untuk menenangkan si anak.  Setelah berulangkali bertanya mengapa menangis, si anak pun menjawab pendek : malu.  “Malu kenapa?” tanya orang tuanya.  Tidak ada penjelasan dari si anak.  “Malu sama siapa?” tanya orang tuanya lagi.  “Sama pak Wahyu” jawab anak itu.  “Lho, kenapa kok malu dengan pak Wahyu?” tanya orang tuanya.  “Malu, tadi sudah keliru,” jawab anak itu.  Mendengar jawaban itu, saya dan orang tuanya pun tersenyum bersama.

Seiring dengan perjalanan waktu dan pertambahan usia, seringkali kita telah kehilangan rasa malu itu.  Malu karena melakukan hal yang keliru.  Malu mengakui bahwa kita keliru. Malu yang menyebabkan kita pura-pura tidak tahu.  Malu yang menyebabkan kita mengambil langkah seribu.  Tanpa rasa malu, layakkah kita disebut dan menyebut diri : orang dewasa?

 

 

 


§ One Response to Malu

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

What's this?

You are currently reading Malu at Wahyu 'wepe' Pramudya's blog.

meta

Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome.