Lima Cara Kreatif Melakukan Saat Teduh

January 4th, 2012 § 4 comments

Saat teduh.  Apa yang Anda bayangkan ketika mendengarkan frasa itu?  Dulu, sewaktu berada di seminari, yang terbayang adalah orang telah mandi, duduk tegak, dan membaca alkitab dalam hati.  Teduh sekali.  Saking teduhnya, sulit dibedakan apakah ia benar-benar membaca, melamun, atau malah diam-diam tertidur.  Dua hal yang terakhir itu sering terjadi pada diri saya.  Jadi, orang yang agak malas mandi pagi, sulit untuk duduk diam,  apalagi membaca Alkitab agak lama, berpotensi menjadi orang yang dianggap “kurang rohani”. Yah … begitulah nasib saya sejak di seminari he…he… #curcol

Belakangan ini saya membaca beberapa buku tentang apa dan bagaimana melakukan saat teduh itu.  Nah, setelah diam-diam mempraktikkannya  (hm … kenapa sih mesti diam-diam? *mikir), saya ingin berbagi lima cara kreatif ini.  Ada pelbagai cara yang berbeda, tetapi tujuannya tetap sama : mengalami perjumpaan dengan Tuhan dalam hidup sehari-hari.  Silakan mencoba, jika Anda berani.  Resiko diluar tanggung jawab percetakan (kayak buku aja).

***

Pertama, bacalah kisah-kisah Alkitab dengan imaginasi.  Imaginasi adalah bagian dari hidup kita sehari-hari.  Kita membayangkan seseorang, masa depan atau peristiwa tertentu.  Membaca Alkitab dengan imaginasi berarti memasukkan diri kita ke dalam cerita itu.  Misalnya, kisah tentang Yesus memberi makan lima ribu orang dengan lima roti dan 2 ikan.  Kita bisa membayangkan diri kita sebagai anak kecil yang mempunyai lima roti dan 2 ikan itu.  Kita juga bisa membayangkan diri kita menjadi para murid yang kebingungan.  Ketika kita membayangkan diri kita menjadi salah satu tokoh dari kisah tertentu, kita bisa mencoba merasakan apa yang dipikirkan atau dirasakan tokoh-tokoh tertentu.  Mengapa mereka berkata begini atau begitu dalam situasi tertentu.  Dengan imajinasi, kisah itu menjadi hidup di benak kita. Kita dapat menarik pelajaran dari kisah itu bagi hidup kita.  Saya secara pribadi tidak menyarankan Anda membayangkan misalnya tentang perempuan yang berzinah yang dibawa ke hadapan Yesus.  Saya kuatir jika Anda malah membayangkan proses sebelumnya he…he…

Sebagai variasi atas metode ini, Anda dapat mendengarkan rekaman pembacaan Alkitab.  Pilih rekaman pembacaan yang baik, dengan iringan musik yang mendukung yang disertakan.  Rekaman pembacaan Alkitab ini bisa Anda dapatkan melalui internet.  Please jangan tanya alamat situsnya ke saya, tanya ke Oom Google.  Be resoucefull begitu kata salah satu teman saya yang galak itu.

***

Kedua, tangan ke atas, tangan ke bawah.  Yak, ini bukan senam, tetapi salah satu metode bersaat teduh.  Yang saya maksud tangan ke atas dan tangan ke bawah adalah telapak tangannya.  Kita mulai ya? Buka telapak tangan Anda, sehingga Anda bisa melihat kuku-kuku Anda.  Lihat betapa panjang dan kotornya kuku-kuku itu. Bersihkan, sebelum masuk sekolah.  Hm … kok jadi teringat masa sekolah dulu.  Ok, posisikan tangan Anda seperti mendrible bola basket.   Telapak tangan yang terbuka ke bawah adalah lambang kesediaan kita melepas sesuatu.  Dengan telapak tangan yang menghadap ke bawah, katakan apa yang menjadi beban hidup Anda.  Misalnya, “Saya malu ditanyain terus kapan menikah.  Bagaimana mau menikah, pacar saja tidak punya!”  Nah,  dengan bersuara yang wajar (jangan sampai membangunkan tetangga), katakan beban-beban hidup yang ingin Anda lepaskan.

Sesudah itu, balik telapak tangan Anda, menghadap ke atas.  Seperti posisi pengemis yang meminta uang atau sedekah.  Lakukanlah  … bukan mengemisnya, tapi posisi tangannya.  Sudah? Dengan posisi telapak tangan terbuka ke atas, katakan apa yang Anda nantikan dari Tuhan.  Misalnya,” Berikanlah saya pada hari ini, jodoh saya yang secukupnya.  Cukup  secantik Angelina Jolie, cukup lulusan S2, cukup anak salah satu konglomerat di Indonesia.” Weeiiit … ini minta atau malah nodong?  Intinya : tangan terbuka adalah wujud permintaan kita kepada Tuhan.  Lakukan tangan terbuka ke bawah dan ke atas ini secara bergantian, alias jangan satu telapak tangan terbuka ke bawah sementara yang satu terbuka ke atas.  Jangan lakukan, karena itu seperti latihan menari he…he…

***

Ketiga,  siap dengan cara kreatif yang ketiga?  Mana suaraaaanyaaaa? Eh … ini kok malah jadi kayak panggung dangut.  Baiklah, begini caranya.  Berjalanlah ke sekeliling tempat tinggal Anda.  Sila membawa isteri, anak, anjing atau apa pun yang Anda miliki.  Nah, ketika Anda berjalan berkeliling itu.  Rasakan kesegaran udara yang berhembus, bunga bermekaran, kicau burung, suara tukang jual koran atau tukang rombeng yang lewat.  Serius.  Kali ini saya tidak bercanda.  Dengar, lihat dan perhatikan semua aktivitas itu.  Cobalah membayangkan kehadiran Tuhan di tengah semua keindahan itu dan ucapkanlah doa syukur karena Tuhan memberikan dunia ini keindahan dan pemeliharaannya.  Ingatlah, Tuhan bisa memelihara hidup tukang rombeng dari barang-barang tak berguna, tidakkah Tuhan yang sama bisa memelihara hidup Anda?  Disclaimer : tidak disarankan melakukan hal ini di jalan raya yang ramai atau pada saat hujan deras apalagi banjir.

***

Keempat, bacalah koran atau saksikan berita di televisi.  Lho, katanya saat teduh, kok malah baca koran dan nonton televisi? Tidak rohani nih.  Sabar … sabar … sabar.  Maksud saya, bacalah koran atau saksikan satu berita.  Nah, sesuadah itu, pikirkanlah : jika Yesus berada di tengah-tengah situasi seperti itu, apa yang  akan dilakukan-Nya?  Apa yang akan Yesus katakan?  Jika Anda sama sekali tak ada gambaran, gunakan konkordansi atau fasilitas search di gadget Anda.  Contoh : ketika saya membaca berita tentang para pemimpin yang terlilit kasus korupsi, dan kemudian bertanya-tanya apa pendapat Tuhan tentang hal ini.  Dengan memakai fasilitas search di Kindle Fire (bukan promosi, hanya informasi) saya bisa menemukan ayat ini : Dengarlah ini, kamu yang menginjak-injak orang miskin, dan yang membinasakan orang sengsara di negeri ini dan berpikir: “Bilakah bulan baru berlalu, supaya kita boleh menjual gandum dan bilakah hari Sabat berlalu, supaya kita boleh menawarkan terigu dengan mengecilkan efa, membesarkan syikal, berbuat curang dengan neraca palsu …”  Nah lho, ternyata jaman tidak makin membaik ya dari dulu.

***

Baiklah, selamat mempraktikkan lima cara kreatif bersaat teduh tadi.  Lima?  Bukannya cuman empat? Hm … benar juga yah kalau masih empat cara.  But it’s ok lah, empat aja belum tentu dipraktikkan, apalagi lima?  ngeles.com

Feel free to share cara-cara kreatif lain untuk bersaat teduh.  Kita kumpulan dan terbitkan jadi buku, dengan nama saya sebagai penulisnya he…he…


§ 4 Responses to Lima Cara Kreatif Melakukan Saat Teduh"

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

What's this?

You are currently reading Lima Cara Kreatif Melakukan Saat Teduh at Wahyu 'wepe' Pramudya's blog.

meta

Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome.