“Tali ini masangnya gimana ya mas ?” tanya seorang ibu kepadaku. Saya tersenyum dan langsung membantunya memakai seatbelt yang tadi disebutnya sebagai tali. Di sebelah saya ada sepasang suami isteri yang sudah berusia lanjut. Saya perkirakan usia mereka 70-an tahun. “Terima kasih ya mas. Maklum orang desa. Baru kali ini kami naik pesawat terbang. Mau nengok cucu, tiketnya dibelikan anak saya,” tutur bangga pria tua itu.
Ketika pesawat akan lepas landas, sang isteri nampak menyatukan tangannya, dan mulutnya komat-kamit berdoa. “Kowe wedhi tho?” kata sang suami sambil memegang tangan isterinya. Sang isteri mengibaskan tangan suaminya,” Ojo nganggu. Kowe yo mesti wedhi!” Sang suami tangkas menjawab,” Aku orang wedhi, kowe sing wedhi!” Isterinya pun menimpali,” Ora. Kowe sing wedhi!” Agak lucu juga mengamati dua orang yang sudah berusia lanjut ini saling menuduh bahwa pasangan mereka yang takut. “ Yo wis, podho-podho wedhi,” begitu pungkas sang suami sambil menggenggam tangan isterinya. “Isin aku, ono mase,” begitu bisik sang isteri pada suami.
Saya pun tersenyum. Menyaksikan anak remaja berpegangan tangan di gedung bioskop adalah pemandangan biasa. Melihat suami isteri saling memeluk juga adalah hal yang umum. Tapi, mendengar dan melihat kemesraan pasangan suami isteri yang sudah berusia lebih dari 70 tahun adalah hal yang luar biasa.
Ada saatnya, cinta memang bertahan melintasi usia, atas ijin yang Mahakuasa.
***
Saya memperhatikan anak kecil itu terus berjalan mengikuti papanya. Ketika papanya sibuk mempersiapkan peralatan tata suara, anak tak kalah sibuknya memegang dan memainkan beberapa barang yang ada. Papanya pun beberapa kali mengajaknya berbicara dan memeluknya. Mereka berdua begitu dekat dan akrab. Sebuah keakaraban anak laki-laki dan papanya yang terasa tak biasa. Usia anak itu kira-kira 5 tahun.
“Mamamu di mana? Kamu punya adik atau tidak?” begitu tanyaku setelah mengenal namanya. Anak itu nampak terdiam. Tiba-tiba keceriaannya lenyap. Ketika papanya lewat, ia segera mendekati dan memeluk papanya. Saya kembali mengulang pertanyaan itu,” Mamamu di mana? Punya adik atau tidak?” Mendengar pertanyaan itu, sang anak mendengok dan mengarahkan pandangan pada papanya. Sang papa pun menjawab lirih,” Adiknya sudah ke surga, dibawa oleh mamanya.” Suaranya nampak tergetar, mata nyaris berkaca-kaca. Saya pun terdiam sedih, tak mampu bicara.
Ada saatnya, cinta hanya bertahan sementara waktu saja. Bukan karena tak ingin mencinta, tetapi karena kepergian selama-lamanya yang tak pernah terduga.
***
Kita tak pernah tahu berapa lama cinta terus berlangsung. Cinta kepada orang tua, anak, pasangan, pacar atau kepada siapa pun juga. Kita tidak akan pernah tahu kapan mereka akan pergi dari kehidupan ini. Maka, saat yang terbaik untuk mengungkapkan cinta adalah saat ini. Hari ini, sekarang ini. Bukan sekadar karena ini Valentine Day, tetapi karena hari inilah yang masih diberikan-Nya kepada kita.
Kita tidak bisa mengulang masa lalu, kita juga tak bisa menebak masa depan. Kita hanya bisa mencintai seseorang pada hari ini, dan berharap bisa mengulanginya pada esok hari, sampai perpisahan itu terjadi. -wepe
*) kado valentine untuk vanda, alden dan clay.
Facebook
Twitter
cinta, puji Tuhan masih ada cinta, ungkapkan sebisa dan sebanyaknyahari ini. Saya baru merenung, mengapa penyesalan dan penghormatan kepada sesama bahkan musuh dalam berelasi sering tampil saat MATI? Mis: episode terakhir film The Last Samurai; apalagi terhadapYesus……”sungguh Anak Allah”!.