Bejana Retak

August 10th, 2012 § 2 comments

Saya tiba di pastori sekitar pukul 22.30 di malam minggu itu. Ada permintaan konseling yang mendadak dan urgent tiga jam sebelumnya. Percakapan konseling,  bagi saya selalu lebih melelahkan dibandingkan dengan berkhotbah, karena saya harus mendengar, menganalisa, dan memberikan jawaban.  Secangkir kopi yang nyaris tandas menemani saya menyelesaikan khotbah untuk minggu pagi.  Kopi yang selalu memberi inspirasi menjadi nyaris tak ada artinya saat itu.  Macet.  Tak ada jari jemari yang sibuk dengan keyboard notebook. Saya menopang dagu dengan kedua tangan.  Nyaris putus asa karena sama sekali belum menyusun khotbah untuk besok minggu.  Jangan salah sangka.  Saya tak pernah persiapan mendadak.  Teks Alkitab biasanya sudah saya baca berulang kali mulai Selasa sebelumnya. Coretan-coretan outline khotbah pun bertumpuk.  Namun, malam itu saya gagal untuk menuangkannya dalam naskah lengkap.  Saya menutup notebook dengan putus asa dan segera tidur.  Toh, besok saya masih bisa bangun jam empat pagi untuk melanjutkan persiapan khotbah, begitu pikir saya.

***

Malam itu, tidur saya tak nyenyak. Terbangun beberapa kali dan langsung teringat naskah khotbah yang sama sekali belum selesai.  Sebelum weker berbunyi, saya sudah bangun. Berdoa dan mencoba menyusun naskah khotbah. Duh … desakan tenggat waktu yang biasanya sanggup memicu inspirasi, kini hanya membuat rasa ingin menyerah semakin kuat.  Hanya tersisa 30 menit sebelum saya mandi dan mempersiapkan diri berangkat ke gereja.  Layar notebook masih kosong melompong.  Ya, saya menyerah. Saya mencari naskah khotbah  tahun lalu dan mencetaknya, tak peduli lagi apakah naskah itu sesuai dengan tema atau tidak.  Yang penting teks Alkitab yang mendasari naskah itu ada di bacaan leksionari untuk hari Minggu itu.  Oh ya, Anda perlu mengerti bahwa di gereja saya, tema-tema khotbah sudah tersusun rapi sejak setahun sebelumnya.  Tema-tema itu tercetak di warta gereja, dan kadangkala tertera di dinding samping kiri mimbar.  Jadi, saya tak bisa berkhotbah bebas seperti di gereja-gereja lain.  Minggu pagi itu saya berdoa,”  Ya Tuhan, semoga jemaat tak ingat lagi khotbah setahun lalu.”  Sebuah doa yang kontradiktif dengan doa saya ketika biasanya akan berkhotbah.  Saya selalu ingin agar jemaat mengingat khotbah yang saya sampaikan.

***

“Rasanya saya pernah dengar khotbah bapak sebelumnya,” kata seorang anggota jemaat sambil menjabat tangan saya.  Saya hanya tersenyum kecut.

“Lho khan sudah pernah dikhotbahkan tahun lalu pak, bapak salah ambil naskah ya?” tanya seorang aktivis gereja sesudah kebaktian. Saya tak tahu lagi harus ke mana menyembunyikan wajah ini. Malu. Segera saya bergegas masuk ke ruang pendeta.

“Kak, kok ga nyambung sih antara tema yang tertulis dengan khotbah kakak?”  protes seorang pemuda yang selama ini cukup dekat dengan saya.  Saya hanya terdiam. Tak menjawab.  Lemas seluruh tubuh ini rasanya.

Saya masih harus berkhotbah sekali lagi.  Khotbah yang sama.  Khotbah lama yang ternyata masih diingat oleh beberapa anggota jemaat. Saya tak berani membayangkan apa yang akan terjadi sesudah kebaktian kedua.  Ternyata … tak terjadi apa-apa sesudah kebaktian kedua. Tak ada yang menegur saya, tak ada orang yang menyampaikan bahwa mereka sudah pernah mendengarkan khotbah itu. Huh ….. saya bernafas lega. Ingin segera pulang ke pastori dan tidur.

Lampu notifikasi menyala terus di blackberry yang saya atur dalam mode silent.  Segera sesudah saya menyalakan mesin mobil, saya mengambil blackberry itu.  Ada sms masuk, bunyinya : “Pak wepe, bapak tidak persiapan ya?  Itu tadi khotbah tahun lalu.” Saya terpaku, tak mampu menjawab.  Saya segera menggerakkan jempol untuk melihat pesan yang masuk di facebook.  Ada lima pesan baru. Dengan pelbagai kalimat, semua menanyakan hal  yang serupa : mengapa saya berkhotbah melenceng jauh dari tema dan menggunakan khotbah tahun lalu.  Saya pun tertunduk lesu.  Ya Tuhan, ampuni hamba-Mu yang tak bertanggung jawab ini.

***

“Pak, kami ingin konsultasi dengan bapak malam ini juga,” pinta seorang ibu di telepon.  Saya menyarankan agar ibu itu menemui saya seusai kebaktian minggu besok.  Saya ingin memakai malam minggu itu secara penuh untuk mempersiapkan khotbah.  Peristiwa dua minggu yang lalu benar-benar merampas kepercayaan diri saya.  Tak boleh terulang tentu saja.

“Tak bisa besok pak, harus malam ini.  Besok saya dan anak sudah terbang kembali ke Kalimantan,” desak ibu itu.  Saya terdiam.  “Mohon kesediaannya pak.  Tidak akan lama.  Satu jam saja,” desaknya halus.

Saya terombang-ambing antara iya dan tidak.  Tapi, ok lah.  Toh hanya satu jam saja, begitu pikir saya.  Saya pun segera mempersiapan diri menuju gereja.

***

Ibu itu datang dengan seorang  anak perempuannya.  Saya tak mengenalinya sebagai bagian dari anggota jemaat gereja kami.  Ia pun mengulurkan tangannya dan memperkenalkan diri dan anaknya.

“Kami bukan anggota jemaat bapak.  Kami sedang berada di Surabaya untuk sebuah kepentingan, dan kami menghadiri kebaktian yang bapak pimpin dua minggu lalu,” ujarnya membuka percakapan.

Dua minggu lalu? Duh …. saya langsung merasa tak nyaman.  “Ya sudahlah, saya salah.  Saya tidak mempersiapkan dengan baik.  Saya tak berkhotbah sesuai dengan tema.  Saya memakai khotbah tahun yang lalu,” batin saya sambil mencoba tersenyum.

“Khotbah bapak itu benar-benar ….,” ibu itu mengarahkan pandangan kepada anak nya.  Mereka berpegangan tangan.  Tiba-tiba mereka berdua menangis.  Kebingungan melihat apa yang terjadi, saya mengulurkan kotak tissue.

“Khotbah bapak dua minggu yang lalu itu, benar-benar jawaban Tuhan untuk pergumulan kami selama ini.  Setiap kata yang keluar dari bibir bapak, terasa seperti Tuhan sendiri yang berbicara kepada kami berdua.  Tepat sekali.  Sangat mengena dengan kondisi kami.  Ini jawaban Tuhan atas pergumulan kami,” ujar ibu itu sambil menoleh ke arahnya anaknya.  Dengan anggukan, anak itu mengaminkan perkataan ibunya.

Ibu dan anak itu sedang berada di persimpangan jalan.  Dua tahun bolak-balik terbang dari luar jawa ke Surabaya untuk menemui seorang psikolog kondang tak membuahkan hasil maksimal.  Dua minggu lalu, khotbah usang tak sesuai tema itu menjadi sarana yang dipakai Tuhan untuk memperdengarkan suara-Nya.  Saya terdiam sambil menahan air mata.  “Terima kasih Tuhan,” bisik saya dalam doa.

***

Malam hari itu, saya mengaminkan apa yang pernah Paulus tuliskan tentang dirinya,” Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami.”  Paulus, yang penuh dengan prestasi dan pengalaman rohani itu menggambarkan dirinya sebagai bejana tanah liat.  Bejana tanah liat yang rapuh. Bejana tanah liat yang tak berharga, namun menyimpan harta tak ternilai : Injil Kerajaan Allah.

Sama seperti Paulus, Anda dan sayalah bejana-bejana tanah lihat itu.  Bejana-bejana yang mungkin sudah tak utuh lagi.  Bejana-bejana yang mungkin sudah retak karena dosa, kesalahan dan keterbatasan. Setiap retak pada diri kita adalah sebuah peringatan yang menjauhkan kita dari kesombongan.  Setiap retak pada diri kita adalah panggilan untuk bergantung pada-Nya.  Setiap retak pada diri kita adalah kesempatan bagi Tuhan untuk menyatakan kuasa-Nya.

Dalam diam dan takjub, kita hanya bisa berkata,”  Terima kasih, Engkau berkenan untuk memakai bejana retak seperti diriku untuk menyatakan kehadiran-Mu.”

 

*refleksi  tujuh tahun pelayanan sebagai pendeta gki ngagel surabaya


§ 2 Responses to Bejana Retak"

  • Anonymous says:

    hehehhe….kalo di tempat saya, tidak akan ada kritik: “dulu kan sudah pernah dikotbahkan….” Komentar yang sering muncul malahan biasanya begini: “Padahal dulu sudah pernah saya dengar, tapi kali ini Tuhan berbicara lagi dengan lebih kuat kepada saya mengenai hal ini!!!”

    Ya, memang lain padang, lain belalangnya…. :-)

  • apakah kisah ini pengalaman nyata?

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

What's this?

You are currently reading Bejana Retak at Wahyu 'wepe' Pramudya's blog.

meta

Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome.