Sebuah Pertanyaan untuk Cinta

February 13th, 2013 § 0 comments

valentineAda cinta di antara seorang suami dengan wanita yang bukan isterinya. Ada cinta di antara seorang pria muda dengan wanita yang jauh lebih tua. Ada cinta di antara dua pria. Demikianlah sebagian potret tentang cinta di era postmodern seperti dituturkan oleh Seno Gumira Ajidarma-seorang cerpenis yang telah menerima banyak penghargaan. Seno memaparkan perjalanan cinta itu dalam kumpulan cerpennya yang berjudul “Sebuah Pertanyaan untuk Cinta” . Dalam penuturan Seno yang didasarkan atas pengamatan terhadap peristiwa sehari-hari, nampaknya kehadiran cinta tidak lagi dapat dibatasi oleh norma dan susila. Cinta menembus semua batas, meloncati segala rintangan, meloloskan dirinya dari jerat aturan. Siapa bisa menghalangi kekuatan cinta? Munculah kisah-kisah cinta-yang bagi sebagian orang-dinilai tidak pada tempatnya, seperti telah dipaparkan di atas.

 

Mencintai dan Dicintai : Sebuah Kebutuhan

Fenomena-fenomena yang digambarkan Seno, dalam pandangan saya, menunjukkan bahwa cinta nampaknya masih menjadi salah satu kebutuhan utama manusia. Zaman boleh berlalu, generasi bisa datang dan pergi, tehnologi boleh berkembang dengan pesat, tetapi manusia tetap membutuhkan cinta. Manusia perlu untuk mencintai dan dicintai. Dalam hirarki kebutuhan Maslow, kita akan menemukan bahwa kebutuhan untuk cinta adalah terletak pada tingkat setelah kebutuhan fisiologis dan rasa aman. Masalahnya, cinta yang seperti apakah yang sungguh-sungguh dibutuhkan oleh manusia? Sebagian orang terlanjur mengartikan cinta sebagai seks. Di mana ada cinta, di situ ada seks. Tidak mengherankan apabila hubungan seks dianggap sebagai perwujudan cinta. Tidak sedikit pertanyaan yang dilontarkan di ruang-ruang konsultasi bagi remaja dipelbagai media yang berisi kebingungan remaja putri akan “tuntutan” pacarnya. Seorang remaja putri dengan jujur bertanya kepada pengasuh kolom tersebut apakah memang benar bahwa cinta harus dibuktikan dalam hubungan seksual? Apakah cinta dalam pengertian seks inilah yang merupakan kebutuhan yang mendasar yang dibutuhkan oleh manusia? Apakah benar bahwa mereka yang tidak/belum pernah berhubungan seks tidak mengenal cinta yang sejati?

Suatu kali, usai memimpin sebuah kebaktian kebangunan rohani, seorang remaja putri meminta waktu untuk berbicara kepada saya secara pribadi. Ternyata dalam pembicaraan itu, remaja itu mengaku pada saya bahwa ia sedang hamil muda. Kehamilan ini tentu saja terjadi di luar pernikahan. Ia takut keluarganya mengetahui hal itu. Ia telah meminta pertanggungjawaban pacarnya, tetapi pacarnya hanya memberikan sejumlah kecil uang untuk pengguguran kandungan. Percaya atau tidak, remaja putri itu berbincang kepada saya bukan untuk menyesali secara mendalam kesalahannya. Tujuan utamanya datang kepada saya adalah untuk meminta bantuan sejumlah uang sehingga ia bisa menggugurkan kandungannya. Saya terbengong-bengong dan nyaris tidak percaya dengan apa yang saya dengar. Remaja putri itu terus mendesak saya untuk turut memberikan bantuan keuangan agar dia bisa menggugurkan kandungannya, dan dengan demikian kehamilannya tidak diketahui oleh orang lain, termasuk keluarganya. Akhirnya, pembicaraan kami berlangsung cukup lama. Di akhir pembicaraan itu ada banyak hal yang rumit dan kompleks yang tidak bisa diselesaikan begitu saja. Kepada remaja putri itu saya bertanya, “Setelah kejadian ini, apakah kamu masih mau pacaran dengan pacarmu yang sekarang?” Remaja itu menjawab,” Tidak. Ternyata dia hanya menginginkan tubuh saya dan bukan diri saya seutuhnya.” “Dulu saya merasa begitu dicintai dan diterima olehnya, ternyata saya hanya dimanfaatkan olehnya,” lanjut remaja putri itu.

Bertitik tolak dari kisah di atas, saya kembali disadarkan pada satu kenyataan sederhana yang seringkali terlupakan. Manusia butuh untuk dicintai dan bukan dimanfaatkan. Dicintai berarti diterima seutuhnya. Ya, berarti diterima sebagaimana adanya, lengkap dengan kelebihan dan kekurangan yang ada. Apabila cinta berarti adalah penerimaan seutuhnya tanpa syarat, maka mencintai bukanlah hal yang mudah. Kita dengan mudah bisa mencintai sesuatu yang baik dan menarik dari orang lain, tetapi untuk menerima yang buruk dan membosankan dari orang lain bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Akhirnya, yang terjadi dengan kita adalah mencoba menimbang-nimbang besar mana sisi menarik dan baik di dalam diri seseorang dengan sisi membosankan dan buruk yang ada di dalam diri orang itu. Lebih besar sisi menarik dan baik, maka cinta pun akan kita berikan, tetapi apabila ternyata sebaliknya, tentu cinta pun melayang. Ini yang biasa kita lakukan. Sangat manusiawi sekali. Kontradiksinya adalah kita memberikan cinta dalam pertimbangan seperti tersebut, tetapi kita merindukan diterima dan dikasihnya sebagai mana adanya kita secara utuh. Kita menjadi sangat kesal dan kecewa, apabila orang hanya bersedia menerima sisi baik kita, tetapi sama sekali tidak toleran terhadap kekurangan yang ada di dalam diri kita.

 

Cinta Tanpa Syarat : Kebutuhan Utama Kita

Kita membutuhkan cinta. Cinta dalam arti penerimaan secara utuh dan tanpa syarat. Kebutuhan cinta yang seperti ini muncul dari kesadaran bahwa diri kita tidaklah sempurna. Ada begitu banyak kelemahan dan keterbatasan, yang bahkan mungkin sudah tidak mungkin lagi untuk diubah. Di dalam kelemahan dan keterbatasan itulah, kita membutuhkan cinta yang memberikan penerimaan secara utuh dan tanpa syarat. Mungkinkah ada sebuah cinta tanpa syarat? Sebuah pertanyaan untuk cinta.

Dalam bahasa yang digunakan oleh Alkitab, cinta tanpa syarat itu disebut sebagai anugerah, kasih karunia atau grace dalam bahasa Inggeris. Kata tersebut seringkali dikaitkan dengan pribadi sang pemilik dan pemberi cinta yang tanpa syarat itu Pemberi atau pemilik itu adalah Allah sendiri, pencipta dan pemelihara hidup manusia. Saya rasa tidak ada kalimat yang lebih indah tentang cinta tanpa syarat itu selain yang pernah ditulis oleh Philp Yancey. Ia memberikan definisi yang indah tentang anugerah/grace. Ia menulis, “Grace means there is nothing you can do to make God loves you more. Grace means there is nothing you can do to make God loves you less.” Sebuah cinta yang tulus dan murni, yang terlepas dari kondisi apapun dari penerima kasih itu. Sebuah cinta tanpa syarat sama sekali. Sebuah cinta yang dirindukan oleh semua orang. Kabar baiknya adalah : semua orang layak untuk menerima anugerah Allah ini. Allah menyadari bahwa manusia membutuhkan cinta tanpa syarat, oleh karena itu Ia memberikannya. Rasul Paulus pernah menulis bukti cinta Allah yang tanpa syarat itu. Ia menulis, “But God commendeth his love toward us, in that, while we were yet sinners, Christ died for us“(Rom 5: 8; AV). Cinta tanpa syarat itu bukan hanya kata-kata tetapi nyata di dalam diri Yesus Kristus.

Tidak hanya di dalam kematian Yesus Kristus saja kita melihat cinta tanpa syarat, tetapi juga di dalam seluruh hidup Yesus Kristus. Ia senantiasa menerima dan mengasihi orang apa adanya. Ia menerima dan mengampuni seorang perempuan yang tertangkap basah sedang berzinah. Ia menerima dan mengasihi pemungut cukai yang telah memeras uang orang lain. Yesus Kristus menyadari bahwa tidak ada kekuatan yang lebih besar daripada kekuatan cinta tanpa syarat. Cinta tanpa syarat mempunyai kekuatan yang luar biasa untuk mendorong perubahan hidup seseorang. Zakheus, sang pemungut cukai itu berubah hidupnya setelah menerima cinta tanpa syarat dari Yesus Kristus.

Di bulan Februari ini, di tengah keramaian orang merayakan hari Valentine, pernahkah terpikir oleh kita bahwa cinta yang kita butuhkan adalah cinta yang tanpa syarat? Pernahkah kita memikirkan bahwa orang-orang yang kita cintai sebenarnya mengharapkan cinta tanpa syarat dari kita? Saya rasa kesanggupan kita untuk mencintai seseorang tanpa syarat, akan muncul ketika kita juga menemukan bahwa sebenarnya kita telah dicintai tanpa syarat oleh Yesus Kristus. Sudahkah kita mengalami cinta tanpa syarat dari Yesus Kristus itu? Sebuah cinta yang juga menyelamatkan kita dari kebinasan kekal. Apabila kita sudah menerimanya, maka rasa bersyukur karena keagungan cinta-Nya kepada kita, semestinya bisa membuat kita menyemai bibit-bibit cinta yang tanpa syarat itu kepada orang lain juga.

Berapa banyak orang di sekitar kita saat ini yang sebenarnya tengah merasa sunyi, sepi dan sendiri bahkan di hari Valentine ini? Sunyi, sepi, dan sendiri karena belum pernah berjumpa dengan cinta tanpa syarat dari Yesus Kristus? Mereka yang merasa lelah, kalah dan kecewa karena merasa telah dimanfaatkan dan bukannya dicintai. Jumpailah mereka, pantulkanlah cinta tanpa syarat yang telah Anda terima dari Yesus Kristus. Selamat Hari Valentine. Selamat meyemai cinta tanpa syarat.


Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

What's this?

You are currently reading Sebuah Pertanyaan untuk Cinta at Wahyu 'wepe' Pramudya's blog.

meta

Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome.