Kotak-kotak Kehidupan

June 18th, 2014 § 1 comment

Berapa kali Anda beribadah dalam seminggu?  Saya tahu beberapa orang Kristen atau Katolik yang gemar mengikuti ibadah atau persekutuan doa selain di gerejanya sendiri.  Ada persekutuan doa wilayah tempat tinggal, persekutuan doa di kantor, di sekolah dan kampus.  Cobalah hitung sejenak, dalam seminggu berapa ibadah yang Anda ikuti?  Dua, tiga atau sampai lima kali?  Nah, sekarang coba Anda bayangkan sekelompok orang yang mengikuti ibadah tujuh kali dalam sehari.  Yak, tujuh kali dalam sehari, bukan seminggu. Wow … luar biasa bukan?  Tapi, kalau kita beribadah tujuh kali dalam sehari, kapan kerjanya?  Kapan waktu untuk keluarga?  Apa tidak akan mengalami kejenuhan dan kebosanan?

***

panoramaPagi itu, saya berjalan menyusuri sebuah lahan peternakan.  Tak ada tujuan khusus, saya hanya ingin melihat peternakan yang bertempat di sebuah pertapaan.  Udara masih terasa cukup dingin, walau mentari sudah beberapa jam bersinar terang.

“Selamat pagi.  Kapan tiba di sini?” sapa ramah seorang pria mengenakan baju kerja berwarna putih.

Ah, saya segera mengenali pria tersebut.  Pria itu adalah salah satu penghuni pertapaan yang berada dalam pengelolaan OCSO.  Order of Cistercians of the Strict Observance  adalah kepanjangan dari OCSO, juga dikenal sebagai  “Trappists”.   Ordo ini adalah bagian dari gereja Roma Katolik yang bercorak kontemplatif yang menjalani kehidupan dan pelayanan mereka dengan tinggal di biara atau pertapaan.  Dari kepanjangan OCSO kita dapat mengenali dua hakikat kelompok ini : cistercians dan Strict Observance.

ocso

Istilah Cistercian berasal dari Cistercium, istilah Latin untuk desa Cîteaux, yang berada dekat Dijon, Perancis bagian timur.  Di desa inilah sekelompok biarawan mendirikan pertapaan pada tahun 1098 dengan tujuan untuk mengikuti lebih seksama ajaran dari St. Benedict.  Niat untuk mengikuti dengan lebih seksama atau lebih ketat itulah yang menjadi bagian dari nama kelompok ini : Strict Observance.  Secara ringkas, ajaran dari St. Benedict adalah mencari penyatuan dengan Tuhan, melalui Yesus Kristus, dalam hidup bersama saudara seiman.  Nah, ibadah bersama tujuh kali dalam sehari adalah salah satu upaya untuk mengarahkan hati dan pikiran pada Kristus.

“Selamat pagi Frater.  Saya memang masih baru di sini.  Baru beberapa hari yang lalu saya datang ke tempat ini,” jawab saya.

“Oh, sama. Saya juga baru di tempat ini,” jawab Frater itu.

“Oh ya, baru berapa lama?” selidik saya.

“Baru enam belas tahun.  Saya menyebutnya baru, karena ada yang lebih dari 30  tahun di tempat ini,” tuturnya sambil tersenyum.

Kami pun tertawa bersama.  Enam belas tahun tentu bukan waktu yang pendek.  Enam belas tahun dengan setiap hari mengikuti tujuh ibadah?  Maka segeralah meluncur pertanyaan dari bibir saya,”  Tidak pernah bosan mengikuti ibadah setiap hari sebanyak tujuh kali?”

“Bosan?  Ya tentu saja pernah.  Bosan itu bagian hidup manusia. Kebosanan juga adalah salah satu alat pemurni motivasi.  Waktu bosan saya  mengingat kembali mengapa dulu memasuki pertapaan ini.  Ini pilihan saya sendiri,” jawab frater itu sembari melangkahkan kakinya menuju kandang sapi.  Hari itu perternakan akan mendapatkan kunjungan dari dinas peternakan yang akan membawa rombongan peternak untuk studi banding.

***

suasana ibadah“Kalau di pertapaan, penghuninya hanya berdoa kepada Tuhan di kamarnya, ya?  Di Kamarnya ada satu jendela, satu-satunya jendela yang terbuka untuk melihat dunia luar dan menatap langit?” tanya seorang rekan. Ah, saya tak tahu mengapa apa persepsi seperti itu terkait dengan hidup di pertapaan.  Mungkin karena tak banyak orang pernah bersentuhan secara langsung dengan mereka yang tinggal di pertapaan.

Beribadah dan bekerja, itulah dua hal yang justru saya saksikan selama beberapa hari di Pertapaan Rawaseneng, Temanggung.  Pertapaan ini terletak 14 km dari kota Temanggung, sebuah kota kecil penghasil tembakau di Jawa Tengah.  Di pertapaan ini, ibadah yang berlangsung selama tujuh kali sehari bukanlah halangan untuk melakukan pekerjaan.  Justru sebaliknya,  kerja dibingkai oleh rangkaian ibadah yang ada.  Kami memulai hari dengan Ibadah Bacaan pada pk 03.30.  Ibadah Pagi yang dilanjutkan dengan Ekaristi mulai pada pk 06.00, sedangkan Ibadah Tertia berlangsung pada 08.15.  Jeda waktu yang ada antar jam kebaktian digunakan untuk persiapan pribadi seperti mandi, makan pagi atau melakukan aktivitas yang lain.  Para petapa melakukan pekerjaan sehari-hari setelah Ibadah Tertia berakhir.

Lima menit menjelang pk 12.00 lonceng berbunyi berulangkali sebagai tanda Ibadah Sexta akan segera berlangsung.  Ibadah selanjutnya adalah Ibadah Nona pada pk 14.30, Ibadah Sore pk 17.30 dan Ibadah Penutup pk 19.45.  Oh ya, jangan berharap ada nona apalagi nona-nona di Ibadah Nona.  Kata Nona, sebagaimana Tertia dan Sexta, berasal dari bahasa Latin yang berarti jam ke sembilan sejak matahari terbit.

Satu hal yang mengesankan saya adalah nyanyian mazmur yang mewarnai mayoritas ibadah sepanjang hari.  Bukan hanya satu dua buku nyanyianbait yang dinyanyikan, tetapi keseluruhan pasal dan berulangkali malah beberapa pasal.  Kita dapat mengikuti rangkaian nyanyain dengan buku-buku ibadah yang tersedia.  Dengan iringan organ yang sederhana, suara para petapa bergema di tengah keheningan  yang hanya berhias suara gemercik air dan sesekali sapi yang melenguh keras.  Jiwa tergetar, Sang illahi menyapa melalui semesta dan suara sesama.

***

“Rasa jenuh atau bosan barangkali adalah pertanda kalau hidup kita selama ini terkotak-kotak,” ujar Romo pemimpin pertapaan menjawab pertanyaan saya.

“Kita mengkotak-kotakkan hidup kita : pekerjaan, keluarga, hobby, bisnis, ibadah dan seterusnya.  Kotak-kotak yang seringkali tak kita temukan hubungannya satu dengan yang lain.  Akibatnya kita bertanya untuk apa saya bekerja?  Untuk apa saya berkeluarga?  Untuk apa saya melakukan ini dan itu?  Pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab itu menghasilkan kekosongan dan kekeringan dalam hidup ini.

Saya terdiam mendengarkan kata-kata itu.  Ah, seandainya ada gadget di tangan, pasti saya segera tweet kata-kata luar biasa tersebut.

“Lalu, bagaimana menemukan hubungan antar kotak-kotak yang ada dalam hidup kita?” tak sabar saya menanyakan hal ini.

Romo itu tersenyum.

“Salah satu disiplin rohani yang kami lakukan di sini adalah mencoba mengingat atau mengarahkan hati pada Tuhan dalam segala aktivitas yang ada.  Barangkali ini menolong untuk mencoba menemukan hubungan antar kotak-kotak yang ada di kehidupan kita.  Jika hati dan pikiran kita terarah pada Tuhan, maka akan lebih mudah bagi kita untuk menemukan makna dari semua aktivitas sehari-hari.  Penemuan makna ini akan mengurangi kejenuhan dan kebosanan dalam hidup,” terang Romo tersebut lirih dan perlahan.

Saya mengangguk perlahan.  Pertemuan sore menjelang malam itu berakhir.

***

christ

Kejenuhan dan kebosanan bukanlah musuh kehidupan.  Kejenuhan dan kebosanan adalah sahabat yang berulangkali hadir untuk menanyakan ulang : mengapa saya melakukan ini?  Mereka mengajak kita untuk memeriksa apakah kotak kotak kehidupan : pekerjaan, keluarga, dan pelayanan terhubung satu dengan yang lainnya.  Sebuah hubungan dan bahkan rangkaian yang indah hanya akan tercipta ketika dalam segala aktivitas mata kita terarah pada Sang Pencipta.  Balas menatap mata-Nya yang selalu tertuju pada kita.

 

 

*saya mengambil semua gambar ini secara langsung ketika menginap  di Pertapaan Rawaseneng, Temanggung.  Pertapaan ini terbuka bagi orang-orang yang ingin melakukan retret pribadi. Hubungi saya untuk mendapatkan nomor telepon contact person yang mengelola penginapan tamu.


§ One Response to Kotak-kotak Kehidupan

  • Bonaventura says:

    Artikel yg bagus mas Wahyu,saya juga ingin berkunjung ke biara pertapaan rawaseneng,kalau menuju ke biara dari surabaya menggunakan transportasi apa saja ya mas?

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

What's this?

You are currently reading Kotak-kotak Kehidupan at Wahyu 'wepe' Pramudya's blog.

meta

Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome.