Kunci Perubahan

January 26th, 2015 § 0 comments

kunci-perubahan3Setiap kali saya pulang dari gereja menuju pastori, saya harus melewati perempatan itu.  Setiap kali pula, entah untuk keberapa ratus kalinya, saya selalu mengambil jalur paling kiri dan kemudian berjalan lurus.  Padahal jelas-jelas tertera, jalur paling kiri diperuntukkan bagi kendaraan yang akan berbelok ke kiri. Mengapa saya melanggar peraturan lalu lintas?  Sederhana saja alasannya : jalur yang tengah penuh dengan antrian mobil.  Jika saya mengambil jalur yang tengah, maka saya harus menunggu beberapa belas mobil di depan melaju lebih dulu.  Dengan mengambil jalur kiri, saya mengurangi antrian jalur tengah dan tidak mengganggu siapapun karena jalur kiri toh juga bergerak mengikuti lampu pengatur lalu lintas.

“Kak, kita seharusnya ambil jalur tengah, mengapa kakak ambil jalur kiri. Ini khan melanggar peraturan lalu lintas,” protes seorang remaja anggota gereja kami.   Tak terbilang berapa kali anggota jemaat, teman dan bahkan istri mengingatkan saya tentang pelanggaran lalu lintas ini.  Saya hanya berdiam diri atau malah tertawa.  Tak menjawab, tetapi juga tak berubah.  Tahu hal itu salah, tetapi terus saja melakukannya.  Mengapa?  Saya sudah terlanjur nyaman dengan hal itu.  Bagaimana kalau harus berurusan dengan polisi?  Tilang?  Ah, saya tidak takut.

***

Suatu siang saya bergegas pulang menuju pastori.  Seperti biasanya, mobil melaju melalui perempatan jalan itu.  Saya tentu saja mengambil jalur paling kiri, seperti biasa, untuk kemudian melaju lurus ke depan.  Setelah melewati perempatan itu, dari kaca spion saya melihat sebuah mobil polisi bergerak cepat dari jalur tengah.  Saya memperlambat dan menggerakkan mobil ke kiri untuk memberikan kesempatan bagi mobil polisi itu melaju.  Eh … ternyata mobil itu berhenti tepat di depan saya.  Seorang polisi segera turun dan menghampiri saya.

“Tahu apa kesalahan bapak?”  tanya polisi itu setelah memberikan sapaannya.

“Saya tidak tahu, Pak,” jawab saya.  Tentu saja sebenarnya saya tahu apa kesalahan saya.

“Jalur paling kiri seharusnya digunakan untuk belok kiri, Pak, dan bukan lurus.  Tolong  perlihatkan SIM dan STNK,”  ujar polisi itu tegas.

Saya pun mengulurkan SIM kepada petugas itu.  Sejenak ia membacanya.  Kemudian saya juga mengulurkan STNK.  Ua mengamati STNK itu.

“Oh, jadi, ini mobil milik Gereja Kristen Indonesia yang di ujung jalan itu,” tanya polisi itu sambil menunjuk ke arah gereja.

“Betul, Pak” jawab saya ringkas

“Bapak pastor atau pendeta gereja itu?,” selidiknya

“Ya, Pak.  Saya pendeta di GKI Ngagel,” jawab saya.

Ia pun melipat kembali STNK, menyatukannya dengan SIM, dan mengulurkannya ke saya.  Saya menerimanya dengan penuh rasa heran.

“Bapak silakan melanjutkan perjalanan.  Oh ya,Bapak khan pendeta, tokoh masyarakat, mohon bantuannya ya, Pak, jadi contoh yang baik dalam berlalu lintas,” tegas polisi itu.

Deg. Betapa malunya saya.  Perkataan polisi itu terdengar seperti Tuhan Yesus yang berkata,”  Pergilah dan jangan berbuat dosa lagi.” Ia telah mengingatkan saya tentang jati diri dan perilaku yang seharusnya terjadi.  Saya bersalah dan layak mendapatkan hukuman, tapi polisi justru memberikan ampun.  Ada semacam rasa tak pantas menerima ampun itu.  Ada harapan untuk perilaku yang lebih baik melalui pengampunan itu.

Esok hari, ketika saya melewati perempatan itu, dengan sukarela dan sukacita saya mengantri di jalur tengah.  Begitu pula hari-hari selanjutnya.

***

Tidak ada kekuatan yang lebih besar untuk mengubah perilaku dan juga hidup seseorang selain pengampunan.  Hukuman bisa memaksa orang untuk taat, tetapi ketaatan yang lahir dari keterpaksaan, apa artinya?

Hanya pengampunan yang mampu mengubah hati seseorang sehingga lahir ketaatan yang tulus.  Pengampunan sesungguhnya adalah pemberian harapan.  Harapan yang kita butuhkan di tengah jatuh bangun perjuangan untuk menjadi sosok yang lebih baik.  Pengampunan adalah kunci perubahan.

 

 

*catatan akhir : beberapa waktu yang lalu ada peraturan baru yang berlaku : jalur paling kiri dapat digunakan bukan saja untuk kendaraan yang akan belok ke kiri, tetapi juga kendaraan yang ingin berjalan lurus ke depan.


Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

What's this?

You are currently reading Kunci Perubahan at Wahyu 'wepe' Pramudya's blog.

meta

Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome.