Mendengar Suara Tuhan di Era Digital

July 30th, 2017 § 0 comments

digital

 

Saya mesti mulai tulisan ini dengan sebuah pengakuan.  Saya membuat kuis Facebook dengan tema pesan Tuhan bagi Anda hari ini.  Awalnya, ini hanya sebuah pengisi waktu luang, sekaligus didorong rasa ingin tahu mengapa orang mengikuti dan membagikan hasil kuis Facebook.  Ternyata cukup banyak yang mengisi kuis ini dan membagikan hasilnya.

Tak terlalu sulit untuk membuat kuis Facebook, karena telah tersedia pelbagai platform, misalnya Testony, Vonvon dan sejenisnya.  Anda tinggal menuliskan satu pertanyaan, dan memberikan 6 atau lebih alternatif jawaban, baik dengan gambar atau teks saja.  Anda juga bisa mengatur agar jawaban tertentu misalnya hanya untuk perempuan atau laki-laki, dan seberapa sering jawaban itu akan muncul. Ya, semua sudah diatur sebelumnya melalui sistem yang ada.

Yang mengherankan justru adalah bagaimana orang merespons hasil kuis itu.  Sebagian orang menganggapnya sebagai hiburan pengisi waktu luang, sebagian lagi mengisinya karena kegalauan yang ada. Sebagian lagi malah merasa hasil itu adalah penghiburan dari Tuhan.  Malah ada yang memberikan kesaksian hasil kuis itu adalah jawaban atas pergumulan hidupnya.

Tak terbilang berapa kali hasil kuis itu dishare dengan menyebutkan: amin, terima kasih Yesus, puji Tuhan, aku percaya dan sejenisnya.

Era digital memang mengubah banyak pola relasi manusia.  Percakapan lewat telepon berpindah via chating. Pertemuan rapat digeser ke grup WA.  Mengikuti ibadah pun dapat dilakukan dari rumah dengan live streaming. Doa lewat media sosial telah banyak kita baca.  Kini, hasil kuis Facebook pun diperlakukan seperti suara Tuhan.

Ya, zaman sudah berubah, namun kerinduan manusia tetap sama.  Rindu akrab dan dekat dengan pencipta kehidupan.  Ah, seandainya kita benar-benar dapat ngobrol dengan Tuhan seperti dengan rekan kita di cafe, chating dengan Tuhan seperti WA-an dengan teman.

“Seandainya saya punya akses dengan Tuhan seperti orang chating atau ngobrol bareng, pasti saya bisa lebih taat pada-Nya,” begitu curhat seorang rekan.

Benar demikian? Saya rasa tidak.

Alkitab menceritakan tentang Adam dan Hawa dengan gambaran yang begitu akrab dan dekat dengan Tuhan.  Mereka memilih untuk melawan kehendak-Nya. Kita tahu banyak kehendak Tuhan lewat Alkitab, namun seringkali kita juga mengabaikannya.

Mengetahui kehendak Tuhan tak serta merta diiringi dengan menaati-Nya.  Inilah dua wilayah pergumulan orang beriman di sepanjang zaman, juga di era digital ini: mengetahui kehendak-Nya dan melakukan-Nya.

 


Tagged ,

Leave a Reply

Your email address will not be published.

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

What's this?

You are currently reading Mendengar Suara Tuhan di Era Digital at Wahyu 'wepe' Pramudya's blog.

meta

Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome.