Jalan Termudah Menyelesaikan Masalah

September 7th, 2010 § 0 comments § permalink

Tikus-tikus yang menghuni sebuah rumah besar sedang berkumpul untuk membicarakan nasib mereka. Beberapa rekan mereka telah menjadi santapan seekor Kucing yang baru saja hadir di dalam rumah itu. Tikus-tikus itu menjadi gelisah dan takut kalau-kalau tiba giliran mereka. Pemimpin para Tikus itu berkata,” Mari kita diskusikan masalah ini. Kita cari jalan keluar yang terbaik.” Beberapa jam kemudian, tikus-tikus itu terlibat dalam diskusi yang seru. Pelbagai analisis dipaparkan, tetapi tetap saja tidak ada usulan yang menyakinkan.

Kemudian berdirilah seekor tikus muda, dengan penuh semangat ia berkata,” Bukankah masalah kita yang terutama dengan kucing itu adalah gerakannya yang tanpa suara? Begitu cepat menangkap dan memangsa kita?” Tikus muda itu menegaskan lagi,” Benarkan seperti ini?” ”Ya, memang itu masalahnya,” sahut tikus-tikus lain. ”Kalau begitu, mari kita lakukan sesuatu pada Kucing itu, supaya bila ia bergerak, kita bisa melarikan diri,” lanjutnya. ”Apa yang harus kita lakukan?” tanya tikus-tikus lain. Tikus muda itu dengan serius dan penuh percaya diri berkata,” Ayo kita kalungkan sebuah pita dengan bel kecil di leher kucing itu. Dengan begitu, kalau ia bergerak, kita bisa lari lebih cepat. Nyawa kita selamat. Kalau Kucing itu sedang jalan-jalan ke luar rumah, kita pun tahu sehingga bisa istirahat. Setuju?” Terpesona oleh kata-kata yang menyakinkan itu, tikus-tikus lain pun menjawab,” Setuju!” ”Ayo kita berpesta karena masalah ini sudah selesai,” ajak Tikus muda itu.

Akhirnya, mereka larut dalam nyanyian dan tari-tarian, karena mereka merasa sudah menyelesaikan masalah yang ada. Tiba-tiba, seekor tikus tua memukul-mukul meja meminta perhatian. Tikus-tikus pun menoleh dengan wajah tidak senang, tapi Tikus tua itu segera berkata lirih,” Usul untuk mengalungkan pita dengan bel kecil ke leher Kucing adalah gagasan yang baik. Tapi, siapa di antara kita yang bersedia dan berani mengalungkan pita dan bel kecil itu?” Terkejut dengan perkataan itu, Tikus-tikus itu pun saling menoleh dan kemudian menunjuk teman di sebelahnya yang segera disambut dengan gelengan kepala. Mereka akhirnya memandang Tikus muda sang pemberi usul. Tikus muda itu pun juga hanya menggelengkan kepala.
Dalam menyelesaikan masalah, gagasan yang terbaik seringkali tidak pernah mudah. Gagasan yang mudah seringkali bukanlah jalan yang terbaik. Begitulah salah satu kisah dari Aesop di atas mengingatkan kita. Aesop menulis kisah-kisahnya kira-kira pada abad 6 SM, tetapi mengapa masih relevan hingga ratusan bahkan ribuan tahun kemudian, bahkan sampai masa kini? Apakah ini tandanya sebagai manusia kita terus menginginkan yang terbaik dengan jalan yang termudah?

Cara Memperlakukan Manusia

September 7th, 2010 § 0 comments § permalink

Joseph Stalin adalah salah seorang pemimpin terbesar dan paling sering menumpahkan darah dalam sejarah. Stalin memerintah selama 25 tahun dalam sejarah Rusia. Ia disegani baik oleh kawan maupun lawannya. Dalam masa pemerintahannya, ribuan bahkan puluhan ribu orang menemui ajal ketika dicurigai memberontak kepadanya.

Suatu kali di hadapan anak-anak buahnya, ia meminta disediakan seeokor ayam hidup. Stalin kemudian mencengkram ayam itu dengan tangan kirinya, dan mulai mencabuti bulu ayam itu dengan tangan kanannya. Ayam itu tentu saja meronta-ronta, tetapi Stalin terus saja mencabuti bulu-bulunya. Setelah cukup banyak bulu tercabuti, dan beberapa tetesan darah keluar dari ayam itu, Stalin melepaskannya. Ayam itu segera lari menjauh dari Stalin ke pojok ruangan.

“Sekarang kalian perhatikan,” perintah Stalin ke anak-anak buahnya. Ia meletakkan beberapa butir remah roti di dekat ayam itu. Meski terlihat ragu-ragu, ayam itu mulai mematuk remah-remah roti tersebut. Mengherankan, ayam yang tadinya ketakutan kita mulai berani mendekati kaki Stalin. Stalin berjalan keliling ruangan itu sambil menjatuhkan remah-remah roti dan ternyata ayam itu mengikutinya. Sambil melakukan itu, Stalin berkata,”Inilah caranya memerintah orang. Kalian melihat bagaimana ayam itu berjalan mengikutiku meminta pakan, meski saya baru saja menyiksanya. Orang itu seperti ayam. Jika engkau menimbulkan banyak sekali kepedihan kepada mereka, mereka akan mengikutimu untuk meminta pangan seumur hidupmu.”

Cara pandang kita terhadap orang lain, ternyata menentukan perilaku kita terhadapnya. Tidak mengherankan apabila pemazmur mengingatkan kita betapa mulianya manusia dengan berkata,” Engkau telah membuatnya (manusia) seperti Allah … ” (8:5). Dan tentunya pemazmur berharap kita memperlakukan sesuatu yang mulia, dengan cara yang mulia juga.

Jalan Menuju Kesuksesan

September 7th, 2010 § 0 comments § permalink

Apakah Anda mengenal nama Dr.John S. Pemberton? Saya yakin sedikit sekali dari Anda yang mengenal nama ini. Tetapi, saya sangat yakin kalau Anda pernah menikmati hasil karyanya. Dr. Pemberton adalah seorang ahli dalam meramu obat-obatan. Tahukah Anda ramuan apa yang paling terkenal hasil olahannya? Obat sakit kepala? Obat pengurang rasa sakit? Tidak!

Coca Cola! Ya, Coca Cola nama sebuah softdrink yang terjual paling banyak di dunia. Itulah ramuan yang dihasilkan oleh Dr. Pemberton pada bulan Mei 1886. Nama Coca Cola sendiri diberikan oleh rekan Dr. Pemberton yang bernama Frank Robinson. Coca Cola pertama kali dijual pada Jacob’s Pharmacy di Atlanta. Saati itu, Coca Cola belum dijual dalam kemasan botol, tetapi melalui soda fountain (sebuah alat seupa dispenser). Coca Cola dalam kemasan botol baru dijual pertama kali pada 12 Maret 1984.

Dalam tahun pertama penjualannya, Coca Cola hanya laku rata-rata 9 gelas per hari. Nilai penjualan pertahunnya hanya sebesar US$50, sedangkan pengeluaran biaya penjualannya sendiri sebesar US$70. Jadi, pada tahun pertama itu, Dr. Pemberton mengalami kerugian sebesar US$20. Kemudian, paten ramuan itu dijual kepada Asa Chandler, yang perusahaannya terus menjadi produsen Coca Cola sampai dengan saat ini. Kini setiap hari di seluruh dunia dikonsumsi sebanyak satu milyar kemasan produk perusahaan Coca Cola.

Kesuksesan sejati tidak pernah terjadi secara instan. Kesuksesan itu sendiri mewajibkan adanya pertumbuhan terus menerus. Bertumbuh berarti tidak cepat puas diri, tapi bersedia berjuang untuk menjadi lebih baik lagi. Sebuah sikap yang juga nampak dalam diri Rasul Paulus, seorang rasul “terbesar”. Rasul Paulus pernah berkata,” … aku sendiri tidak menganggap, bahwa aku telah menangkapnya, tetapi ini yang kulakukan : aku melupakan apa yang telah dibelakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku.” (Fil 3:13)

Susah itu (Tidak) Ada Gunanya

September 7th, 2010 § 0 comments § permalink

Seorang anak sedang asyik mengamati kupu-kupu yang sedang berusaha keluar dari kepompongnya. Ia melihat betapa susah payahnya kupu-kupu tersebut berjuang untuk melepaskan diri dari kepompongnya. Menit-menit berlalu, kupu-kupu tersebut masih terus berjuang untuk melepaskan dirinya. Lamban sekali kemajuannya untuk keluar dari kepompong itu. Didorong oleh rasa kasihan, anak itu mengambil gunting dan memotong bagian kepompong yang belum terbuka itu. Akhirnya dengan cepat kupu-kupu tersebut keluar dari kepompongnya. Kupu-kupu itu bebas terbang ke mana pun juga. Tetapi, yang terjadi justru mengenaskan. Kupu-kupu tersebut tidak dapat menggerakkan sayapnya untuk terbang. Akhirnya, ia terjatuh dan mati. Mengapa demikian?

Menurut pakar serangga, kepompong itu membelenggu kupu-kupu sedemikian rupa sehingga ia dipaksa untuk bersusah payah menggeliat dan membentuk otot-ototnya. Akibat susah payah tersebut, otot-ototnya terbentuk dan kupu-kupu tersebut siap dan mampu untuk terbang. Setelah lewat segala susah payah itu, kupu-kupu tersebut siap untuk terbang. Membebaskan kupu-kupu dari susah payahnya sama dengan memberinya hukuman mati.

Susah payah itu ada gunanya. TIdak heran apabila Paulus mampu berkata,”Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami.” (2Kor 4:17)

Berapa Kata Kita Ucapkan?

September 7th, 2010 § 0 comments § permalink

Para ahli komunikasi mengatakan bahwa kata yang diucapkan seorang rata-rata setiap hari cukup untuk memenuhi 20 halaman kwarto dengan spasi tunggal. Ini berarti mulut kita meluncurkan kata-kata yang cukup untuk mengisi 2 jilid buku, masing sebanyak 300 halaman setiap bulan, 24 buku setiap tahun, dan 1200 buku dalam 50 tahun berbicara.

Maka, pertanyaannya adalah apakah kualitas hidup kita berbanding lurus dengan kuantitas kata-kata kita? Alias, apakah semakin banyak kata, berarti hidup semakin berkualitas? Penulis Pengkhotbah mempunyai jawaban tegas : tidak. Pengkhotbah berkata,” Karena makin banyak kata-kata, makin banyak kesia-siaan… (6:11).

Where Am I?

You are currently browsing the Ilustrasi Wepe category at Wahyu 'wepe' Pramudya's blog.

Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome.