Kesempitan Hidup, Kesempatan Berkarya

October 15th, 2010 § 0 comments § permalink

Di tengah beratnya beban kehidupan, masih mampukah kita berkarya melayani orang lain seperti Yesus?

Nama adalah harapan. Sayangnya, apa yang menjadi harapan dari sebuah nama seringkali tidak mewujud dalam kenyataan. Hal ini adalah ironi yang kemudian bisa menjadi bahan olokan. Coba bayangkan saja nama Jujur Setiawan, nama yang jelas dan lugas mengungkap harapan orangtua sang pemberi nama. Eh … ternyata orang ini malah jadi koruptor. Seorang perempuan diberi nama Suci Murniati, h … ternyata malah menggandeng suami orang. Sebuah pabrik diberi nama Teguh Jaya Lestari. Tapi, jangankan lestari, jaya saja belum, teguh berdiri saja tidak bisa karena terbenam oleh lumpur Lapindo. Sebuah ironi bukan?

Kesempitan Hidup
Nama Bethesda adalah sebuah ironi besar. Bethesda yang mempunyai arti rumah kasih karunia, adalah nama sebuah kolam yang diyakini sanggup menyembuhkan penyakit apa pun juga (Yoh. 5:4). Penduduk di sekitar kolam itu meyakini bahwa sewaktu-waktu akan ada malaikat Tuhan yang menggoncangkan air kolam itu. Siapa saja yang pertama kali masuk setelah air kolam itu erguncang akan mengalami kesembuhan. Di sinilah ironi nama Bethesda. Di tempat yang bernama rumah kasih karunia itu, orang-orang berebutan untuk menjadi yang pertama masuk ke kolam setelah guncangan air terjadi. Sangat mungkin orang yang pertama kali masuk ke kolam Bethesda adalah orang yang paling memikirkan dirinya sendiri dengan segala akal dan kekuatannya mengalahkan yang lain. Di kolam bernama kasih karunia, tiap-tiap orang hanya berpikir tentang dirinya sendiri. Akibatnya, ada seorang yang sudah lumpuh selama 38 tahun tidak mendapatkan kasih karunia di kolam kasih karunia.

Apa yang terjadi di sekitar kolam Bethesda adalah gambaran tentang kerasnya kehidupan. Hidup ini keras dan menuntut perjuangan, sehingga selalu ada orang-orang yang kalah. Orang-orang kalah dan tersisihkan yang harus menerima realita hidup tanpa perlawanan berarti. Sama seperti saat ini, kita mungkin hanya bisa menerima sebuah kenyataan hidup, tanpa tahu mengapa dan bagaimana kenyataan hidup itu bisa sedemikian sulit. Kita harus menerima naiknya harga BBM (24/5) tanpa perlawanan berarti. Kita harus menerima realita ada anggota keluarga yang sakit tak kunjung sembuh. Kita harus bergumul dengan kenyataan bahwa anak yang kita harapkan di masa depan, tiba-tiba terjerat hidupnya dengan narkoba. Kita pun harus menerima duka yang tiba-tiba menyergap orang-orang terkasih. Hal-hal ini terjadi dan mau tidak mau kita harus menerimanya. Inilah yang membuat hidup terasa sempit.

Kesempatan Berkarya
Penulis Injil Lukas mengisahkan bahwa Yesus datang ke kolam Bethesda. Tentu banyak orang sakit yang menantikan mukjizat kesembuhan. Tapi, perhatian Yesus tertuju justru pada orang yang sudah tersisihkan di kolam kasih karunia itu. Kepada orang yang sudah lumpuh selama 38 tahun ini, Yesus bertanya, “Maukah engkau Sembuh ?” (Luk. 5:6) Sebuah pertanyaan yang terdengar aneh bukan? Jika orang lumpuh itu tidak ingin sembuh, tentu ia tidak berada di kolam Bethesda. Yesus memahami bahwa kesempitan hidup ini bisa membuat orang kecewa dan tidak berani berharap lagi. Kekecewaan orang itu nampak dalam jawaban, “ …. sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku.” Yesus ingin membangkitkan kembali semangat dan harapan orang lumpuh itu. Di mata esus, kesempitan hidup adalah kesempatan baginya untuk berkarya. Maka Yesus pun memerintahkan dengan otoritas-Nya hingga mukjizat terjadi.

Di tengah makin beratnya beban kehidupan ini, masih mampukah kita berkarya melayani orang lain seperti Yesus? Mari kita mawas diri jangan-jangan justru perilaku kitalah yang membuat kehidupan ini terasa makin sempit bagi orang lain? Mari kita belajar pada Yesus untuk melihat kesempitan hidup sebagai kesempatan untuk berkarya bagi orang lain demi kemuliaan Tuhan.

dimuat dalam Majalah Bahana Juli 2008

Mematahkan Belenggu Intimidasi

September 13th, 2010 § 0 comments § permalink

1Samuel 17:1-11;40-50

Pendahuluan

Kamus Bahasa Indonesia mendefinisikan intimidasi sebagai  tindakan menakut-nakuti (terutama untuk memaksa orang lain berbuat sesuatu); gertakan atau ancaman. Orang-orang yang berada dalam keadaan terintimidasi merasa kehilangan kebebasannya untuk melakukan sesuatu.  Ada orang yang terintimidasi dengan lingkungan kerjanya yang tidak jujur, sehingga akhirnya ia berlaku tidak jujur juga.  Ada orang yang terintimidasi oleh rasa takut “tidak laku” sehingga menikah dengan sembarang orang.  Ada yang terintimidasi dengan rasa takut gagal, sehingga tidak pernah melakukan apapun.  Intimidasi menghalangi kita untuk meraih hidup yang terbaik.

Proposisi

Umat Tuhan mampu mematahkan belenggu imtimidasi, sehingga dapat menjalani kehidupan yang terbaik

Kalimat Tanya

Bagaimana cara umat Tuhan mematahkan belenggu intimidasi?

Kalimat Peralihan

Ada dua langkah untuk mematahkan belenggu imtimidasi.

1.  Umat Tuhan mematahkan belenggu intimidasi dengan berfokus pada Tuhan, dan bukan pada kekuatan intimidasi itu. (ay. 11)

Kehadiran Goliat menjadi sebuah intimidasi yang luar biasa bagi pasukan Israel.  Deskripsi keadaan fisik Goliat yang memang tidak biasa itu memang menakutkan.  Apalagi ketika Goliat tampil dan menantang mereka.  Selama 40 hari, orang Israel ketakutan, termasuk Saul, ketika mereka memandang Goliat dan mendengarkan teriakan tangtangannya.  Intimidasi selalu mengarahkan pandangan kita pada kekuatannya.  Kita seolah-olah dibuat menjadi tidak berdaya, dan tidak bisa berbuat apa-apa lagi.  Jika intimidasi mengarahkan pandangan kita pada kekuatannya, maka untuk mematahkannya kita harus mengarahkan pandangan pada kekuatan Tuhan, dan bukan pada diri kita sendiri.

2.  Umat Tuhan mematahkan belenggu intimidasi dengan mengambil langkah iman, dan bukan hanya berdiam diri saja (ay.45)

Sebagai wujudnyata dari mengarahkan diri pada kekuatan Tuhan adalah mengambil langkah iman yang nyata. Daud mengambil langkah iman ini.  Dengan keyakinan bahwa Tuhan menyertainya, Ia maju menghadapi Goliat.  Langkah iman berarti keberanian menghadapi resiko bersama Tuhan.  Langkah iman berbeda dengan kenekadan.  Mereka yang nekad  hanya berbekal keberanian diri sendiri; langkah iman berbekal penyerahan diri pada kuasa Tuhan.  Langkah iman ini akhirnya berbuah kemenangan : Daud membinasakan Goliat.

Kesimpulan

Apapun yang sedang mengintimidasi hidup kita, pilihannya ada di tangan kita.  Kita bisa menyerah pada belenggu intimidasi itu, tetapi kita juga bisa mengalahkannya dengan mengarahkan pikiran kepada kekuasaan Allah dan mengambil langkah iman.

September 13th, 2010 § 0 comments § permalink

Keluaran 14:1-14

Pendahuluan
Maju kena, mundur pun kena. Demikianlah keadaan orang yang sedang terjepit. Terjepit oleh pergumulan hidup, sakit yang tidak kunjung sembuh, atau masalah finansial. Serba salah dan serba susah. Tidak melakukan tindakan apapun, situasi bertambah buruk; tetapi melakukan suatu tindakan pun belum tentu membuat situasi lebih baik.

Proposisi
Situasi terjepit adalah salah satu bagian dari kehidupan manusia yang berada di dalam kedaulatan Tuhan.

Kalimat Tanya
Mengapa Tuhan mengijinkan umat-Nya berada dalam situasi terjepit?

Kalimat Peralihan
Ada dua maksud Tuhan di balik situasi terjepit :

1. Situasi terjepit diijinkan Tuhan untuk menguji hati umat-Nya (ay. 10-14)
Orang Israel yang berada dalam perjalanan untuk lepas dari penjajahan di Mesir mengalami situasi terjepit ini. Di hadapan mereka terbentang laut, sedangkan di belakang mereka nampak pasukan Firaun dengan penuh semangat mengejar untuk membunuh mereka. Di dalam situasi terjepit inilah nampak hati orang Israel yang sebenarnya. Orang Israel ketakutan, menyesali langkah kepergian mereka, dan bersungut-sungut kepada Musa. Di dalam situasi terjepit, nampaklah apa yang sebelumnya di dasar hati seseorang. Tuhan menggunakan situasi terjepit untuk menguji hati kita, supaya kita menyadari apa yang sebenarnya ada di dalam diri kita. Ketika kita diri kita yang sebenarnya, Tuhan ingin kita bertumbuh.

2. Situasi terjepit diijinkan Tuhan untuk menyatakan mukjizat-Nya (ay 13-14; 21-22)
Tuhan adalah pribadi yang penuh kasih atas umat-Nya. Melihat dan menyadari situasi terjepit yang dialami umat-Nya, Ia bertindak. ketika Tuhan bertindak, maka apa yang tidak mungkin menjadi bisa terjadi. Ketika Musa mengulurkan tongkatnya, maka terbelahlah Laut Teberau sehingga orang Israel bisa berjalan melintasi laut itu semalam-malaman. Tidak hanya itu, pasukan Firaun pun tewas tenggelam ketika mereka hendak menyusul orang Israel. Inilah sebuah mukjizat. Ketika situasi yang tidak mungkin menjadi sebuah kemungkinan di tangan Tuhan. Mukjizat ini diberikan sebagai tanda bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan umat-Nya, dan kuasa-Nya akan dinyatakan seturut kehendak-Nya.

Kesimpulan
Situasi terjepit adalah keadaan yang diijinkan Tuhan untuk membuat kita menyadari keadaan hati kita yang sebenarnya. Kita belajar makin mengenal diri kita dalam situasi yang terjepit. Pengenalan diri tersebut, adalah modal utama untuk bertumbuh. Tidak usah kecewa dan putus asa dalam situasi terjepit, sebab Tuhan akan menyatakan mukjizat seturut kehendak-Nya.

Hidup adalah Proses Pembentukan Tuhan

September 13th, 2010 § 0 comments § permalink

Yeremia 18:1-10

Pendahuluan

Hidup adalah proses pembentukan Tuhan bagi umat-Nya. Itulah sebabnya, ketika kita menjadi percaya, Tuhan tidak memindahkan kita ke surga. Lewat hidup di dunia ini, IA terus bekerja menjadikan kita seperti yang diharapkan-Nya.

Proposisi

Hidup di tangan Tuhan berarti mengalami proses pembentukan Tuhan.

Kalimat Tanya

Mengapa Tuhan perlu membentuk hidup kita?


Kalimat Peralihan

Ada dua alasan mengapa Tuhan ingin membentuk hidup kita.


1. Tuhan membentuk untuk memunculkan yang terbaik dari hidup kita (ay.4)

Maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menurut apa yang baik pada pemandangannya Yeremia mendapatkan pelajaran berharga dari tukang periuk. Di tengah kondisi bangsa Israel yang mengalami banyak goncangan, Yeremia memahami alasan di balik semuanya. Tuhan membentuk umat-Nya melalui pelbagai peristiwa untuk memunculkan yang terbaik dari umat-Nya. Apa yang terbaik dari umat-Nya adalah apa yang terbaik menurut pandangan-Nya. Tuhanlah yang mempunyai dan menentukan standar apa yang terbaik dari diri umat-Nya.


2. Tuhan membentuk untuk mengajar kita mempunyai hati yang peka terhadap kehendak-Nya (ay.8-10)

Ayat 8 sd 12 menegaskan betapa pentingnya hidup seturut kehendak Tuhan. Hidup seturut kehendak-Nya menjauhkan kita dari kehancuran. Tetapi bagaimana kita dapat hidup seturut kehendak-Nya? Tidak ada cara yang lain. Tuhan menginginkan kita mempunyai hati yang peka terhadap kehendak-Nya. Peka terhadap kehendak Tuhan terlihat dalam dua hal : kesediaan untuk bertobat ketika melakukan kesalahan, dan kesediaan hati untuk mengikuti rencana Tuhan. Kepekaan ini bertumbuh seiring dengan keakraban relasi dengan Tuhan. Tidak ada jalan praktis dan cepat menuju kepekaan, yang ada sebuah proses perlahan tapi pasti.


Kesimpulan

Proses pembentukan Tuhan kadangkala tidaklah nyaman. Tetapi, inilah jalan yang Tuhan ingin kita tempuh. Inilah hidup di tangan Tuhan : belajar menjadi yang terbaik di mata-Nya, dan peka terhadap kehendak-Nya.

Mengalami Tuntunan Tuhan

September 13th, 2010 § 0 comments § permalink

Keluaran 13:17-22

Pendahuluan

Perbedaan hidup umat Tuhan dan orang lain tidak terletak pada ada atau tidaknya masalah atau pergumulan. Alkitab menyaksikan bahwa umat Tuhan pun bergumul dengan kesulitan hidup, bahkan seringkali beban hidup umat Tuhan bertambah karena dunia ini membenci mereka. Perbedaan hidup antara umat Tuhan dan yang lain adalah adanya tuntunan Tuhan.

Proposisi

Tuhan senantiasa menuntun umat-Nya melewati segala kondisi kehidupan.

Kalimat Tanya :

Bagaimana karakteristik tuntunan Tuhan?

Kalimat Peralihan :

Ada dua karateristik tuntunan Tuhan dalam hidup umat-Nya.


1. Tuntunan Tuhan didasarkan pada pengenalan-Nya yang sempurna atas diri umat-Nya (ay.17)

Tetapi Allah menuntun bangsa itu berputar melalui jalan di padang gurun menuju laut Teberau. Allah memilih jalan memutar bukan karena IA ingin mempermainkan orang Israel, apalagi menyusahkan mereka. Dasar pemilihan Allah dinyatakan dalam ay. 17, yakni : Allah tahu kekuatan mereka. Allah tahu bahwa apabila IA menuntun melewati jalan yang lebih pendek, orang Israel belum siap untuk menghadapi peperangan. Allah tahu orang Israel baru saja lepas dari kekuasaan Firaun dan belum mempunyai mental pejuang. Oleh karena itu, Allah menuntun melalui jalan yang memutar. Jalan yang lebih panjang, tetapi lebih “ringan” untuk dijalani orang Israel. Tuntunan Allah didasarkan pada pengenalan-Nya yang sempurna atas kondisi umat-Nya.

2. Tuntunan Tuhan diwujudkan dalam bentuk yang sesuai dengan kebutuhan umat-Nya (ay. 21-23)

TUHAN berjalan di depan mereka, pada siang hari dalam tiang awan untuk menuntun mereka di jalan, dan pada waktu malam dalam tiang api untuk menerangi mereka, sehingga mereka dapat berjalan siang dan malam. Mengapa Tuhan menuntun dengan tiang awan di siang hari dan tiang api di malam hari? Karena inilah kebutuhan orang Israel di tengah padang gurun. Mereka membutuhkan tiang awan untuk memberi keteduhan di tengah terik siang hari. Mereka juga membutuhkan tiang api untuk memberikan kehangatan di malam yang sangat dingin. Dan yang terpenting tiang awan dan tiang api itu menjadi penunjuk arah bagi perjalanan mereka. Itulah sebabnya, di masa kini Tuhan tidak menuntun kita dengan tiang awan dan tiang api. IA menuntun kita dengan cara yang sesuai dengan kebutuhan kita di masa kini. Ada yang dituntun Tuhan melalui mimpi, penglihatan, renungan firman, suara hati atau mendengarkan khotbah. Wujud tuntunan Tuhan didasarkan pada kebutuhan umat-Nya.


Kesimpulan

Umat Tuhan tidak sendirian di tengah pergumulan ini. Tuhan menuntun dengan pengenalan-Nya yang sempurna dan mewujudkan tuntunan itu dalam bentuk yang sesuai dengan kebutuhan umat-Nya.

Where Am I?

You are currently browsing the Kerangka Khotbah Wepe category at Wahyu 'wepe' Pramudya's blog.

Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome.