Waktu untuk Segala Sesuatu *

January 1st, 2015 § 0 comments § permalink

jam pelbagaiRabu, 31 Desember 2014, dari pagi hingga sore hari saya ada di bandara Juanda Surabaya. Saya hadir sebagai bagian dari relawan kemanusiaan di tengah keluarga yang berduka karena orang-orang yang mereka kasihi belum jelas nasibnya terkait dengan penerbangan Air Asia QZ 8501.  Saya berbincang dengan keluarga-keluarga yang tengah berduka, relawan kemanusiaan lain dan media (lokal maupun internasional) tentang peristiwa yang memprihatinkan ini.

  1. Ada satu kesimpulan umum dari semua percakapan itu : rancangan manusia untuk mengalami sukacita bisa berubah menjadi kepergian untuk selama-lamanya. Manusia bisa saja merencanakan dengan begitu seksama, namun kehidupan senantiasa menghadirkan kejutan-kejutan tertentu.
  1. Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal (Pkh 3:2) demikianlah pengkhotbah membuka rangkaian penjelasan pengalaman kehidupan manusia. Ada 14 set (alias 7 x2) kontras kehidupan manusia (lahir vs mati, menanam vs mencabut, membunuh vs menyembuhkan dll) sebagai gambaran yang paripurna tentang apa yang dapat terjadi dalam kehidupan ini.
  1. Berita pengkhotbah sangat gamblang : kehidupan bergerak dari satu kutub peristiwa yang menyenangkan ke peristiwa yang menyedihkan; demikian pula sebaliknya.

Konsekuensinya : jika Anda saat ini sedang berada dalam saat-saat yang menyedihkan, bersabarlah karena sukacita akan segera mewarnai kehidupan Anda.  Tak ada airmata yang abadi.

Demikian juga, ketika saat ini kita bisa tertawa bersama, ingatlah bahwa saat untuk menangis barangkali sudah menanti di depan mata.  Tak ada suatu pengalaman kehidupan, baik atau buruk, yang bertahan selamanya.  Bersiaplah!

  1. Di dalam perjalanan kehidupan dari satu kutub ke kutub lain, ada sesuatu yang tak nampak di mata manusia, yakni : pekerjaan tangan Tuhan di dalam kehidupan ini. Tentang ini pengkhotbah berkata: Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir (Pkh 3:11).
  1. Penegasan pengkhotbah ini mempunyai dua sisi : pertama, ada jaminan bahwa tangan Tuhan bekerja di tengah perjalanan hidup manusia dari satu kutub ke kutub lain. Itu sebabnya ditegaskan : Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya.  Sebuah hal yang menggembirakan hati kita.  Kita tak pernah sendiri, Allah senantiasa menyertai.

Namun, sisi yang sebaliknya juga nyata : tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.  Konsekuensinya jelas : kita tak selalu bisa memahami apa Allah kerjakan di dalam dunia ini.  Ada tangan Tuhan yang bekerja, namun tak selalu dapat kita pahami apa yang sedang dilakukan-Nya.

Konsekuensinya : kita tak selalu punya jawaban untuk pertanyaan seperti:  “Tuhan, mengapa Engkau mengijinkan hal ini terjadi!” Di dalam ketidaktahuan lebih baik berdiam diri.

  1. Nah, ada dua hal yang sudah kita pelajari dari kitab pengkhotbah : pertama, hidup manusia bergerak dari satu kutub ke kutub lain; kedua, ada tangan Tuhan yang bekerja, namun tak kita pahami pekerjaan-Nya. Maka  bagaimana seharusnya kita menjalani kehidupan ini?
  1. Nasihat Pengkotbah terdapat dalam ayat 12-13 “Aku tahu bahwa untuk mereka tak ada yang lebih baik dari pada bersuka-suka dan menikmati kesenangan dalam hidup mereka. Dan bahwa setiap orang dapat makan, minum dan menikmati kesenangan dalam segala jerih payahnya, itu juga adalah pemberian Allah.”

Pengkhotbah mengajak kita untuk menikmati apa yang masih kita bisa nikmati (makan, minum dan kesenangan lain), sambil mengingat bahwa  kesempatan untuk menikmati kesenangan hidup adalah pemberian Allah.  Sama seperti sebuah pepatah dalam bahasa Inggris : Yesterday is history, tomorrow is a mystery. Today? Today is a gift. That’s why we call it the present.

  1. Selamat menjalani tahun yang baru.
  • Selamat menjalani kehidupan dari satu kutub ke kutub lain.
  • Selamat mengimani bahwa tangan Allah terus menyertai, walau tak selalu dapat kita pahami.
  • Selamat menikmati hari ini sebagai pemberian dari Allah

 

*Khotbah Tahun Baru 1 Januari 2015; berdasarkan Pengkhotbah 3:1-13

Tuhan Beserta Kita, Untuk Apa?

December 25th, 2014 § 1 comment § permalink

immanuel-god-with-us-large-bannerDalam drama kelahiran Yesus Kristus yang dipentaskan pada hampir setiap Natal, kita selalu melihat bahwa drama itu berakhir dengan bahagia. Maria, Yusuf dan bayi Yesus dikunjungi oleh para gembala dan orang-orang majus dalam suasana yang mengharukan dan membahagiakan. Sebuah adegan yang sulit dipertangungjawabkan data biblikalnya mengingat orang-orang majus sebenarnya datang bukan di malam kelahiran Yesus, tetapi dua tahun kemudian. Namun, apa yang terjadi sesudah malam yang mengharukan dan membahagiakan itu? Kita tidak pernah menyaksikan sebuah drama yang mementaskan hal itu.

Kita sering kali berpikir bahwa setelah malam kelahiran Yesus Kristus, semuanya telah selesai. Semuanya hidup bahagia dan sejahtera. Demikian pula dengan Yesus, Maria, dan Yusuf. Kehadiran Yesus telah menyebabkan hidup keluarga ini berbahagia. Jika kita berpikir demikian, kita salah duga. Salah duga yang fatal.

Setelah kunjungan orang-orang majus yang kira-kira terjadi setelah Yesus berusia dua tahun, keluarga Yesus harus menyingkir ke Mesir. Mengapa? Karena Herodes hendak membinasakan Yesus. Bayangkan bagaimana perasaan Yusuf dan Maria. Mereka pernah tersia-sia tidak mendapatkan tempat untuk beristirahat dan melahirkan bayi mereka, dan kini mereka harus melarikan diri ke Mesir. Tinggal dan menjadi pendatang di negara orang lain. Apakah hal ini menyenangkan? Tentu saja tidak enak harus hidup sebagai pengungsi.

Beberapa waktu kemudian, setelah Herodes mati, mereka harus kembali ke Israel. Tentunya ini bukan suatu perjalanan hidup yang mudah yang harus dijalani oleh Yesus di usianya yang masih belia. Apa yang dapat kita pelajari dari kisah ini untuk kehidupan kita di masa kini?

 

Tidak Bebas dari Pergumulan dan Kesulitan

Pertama, hidup bersama Yesus tidak berarti bebas dari kesulitan dan pergumulan. Inilah realitas yang dijalani oleh Maria dan Yusuf, bukan? Kehadiran Yesus di tengah mereka tidak menyebabkan hidup mereka lancar dan tenang. Sebaliknya, karena kesediaan Maria dan Yusuf untuk melangkah dalam rencana Allah, hidup mereka menjadi tidak nyaman. Mereka terpaksa harus hidup berpindah-pindah. Mengapa? Justru karena Yesus ada dan hidup di tengah mereka.

Jika kita dapat berteman dengan siapa saja, maka siapa yang kita pilih untuk berteman? Orang yang menguntungkan kita, bukan? Orang yang bisa memberikan kepada kita proyek? Orang yang berjabatan tinggi. Untuk apa? Untuk membuat hidup kita lebih baik dan nyaman. Dan ini manusiawi sekali, bukan? Sama sekali tidak salah. Ini hanya menunjukkan betapa kita sangat ingin hidup kita menjadi mudah.

Akan tetapi, jika kita ingin mengenal Yesus dengan motif supaya hidup kita menjadi lebih mudah dan lebih enak, maka kita mempunyai masalah. Kita akan kecewa sebab berteman dengan Yesus Kristus dan mengenal-Nya tidak berarti hidup ini menjadi lebih mudah. Ketika kita hidup dan mengenal Yesus tidak berarti kita akan terlepas dari penyakit, kegagalan, dan bahkan kemalangan yang bisa terjadi tiba-tiba.

Jika Firman Tuhan [Yesus] yang menjadi manusia saja harus menghadapi banyak kesulitan dan pergumulan, mengapa kita berharap yang lebih mudah? Jika bayi Yesus sejak kecil harus berhadapan dengan bahaya dan ancaman, mengapa kita ingin lebih dari Yesus?

 

Mengalami Tuntunan Tuhan di Tengah Pergumulan dan Kesulitan

Kedua, hidup dan mengenal Yesus berarti mengalami tuntunan Tuhan di tengah kesulitan hidup. Hal inilah yang dialami oleh Yusuf dan Maria. Karena kehadiran Yesus, hidup mereka berada di dalam bahaya. Karena kehadiran Yesus, mereka harus berpindah-pindah dan kehilangan kenyamanan. Namun, di tengah pergumulan itu tetap ada kehadiran Tuhan yang menguatkan, bukan?

Dua kali dikisahkan tentang bagaimana malaikat Tuhan menjadi alat Tuhan untuk berbicara kepada Yusuf di dalam mimpinya. Di tengah kesulitan itu, ada firman Tuhan. Ada petunjuk dari Tuhan yang mengarahkan hidup mereka.

Inilah yang dapat kita harapkan sebagai orang yang mengenal Yesus Kristus. Ada tuntunan firman Tuhan atas hidup kita. Ada tuntunan firman Tuhan yang mengarahkan langkah kaki kita.

Orang sering kali berkata, “Coba seandainya Tuhan berbicara langsung kepada saya, saya pasti lebih gampang untuk menaati-Nya. Sayangnya, Tuhan tidak pernah bicara langsung, atau lewat mimpi, atau penglihatan kepada saya. Dan saya sudah berdoa meminta Tuhan berbicara kepada saya. Tapi kok Tuhan hanya diam?”

Jika Yesus Kristus adalah Firman yang menjadi daging, maka Alkitab adalah firman yang tertulis. Di dalam 2 Timotius 3:16 dinyatakan bahwa segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermafaat untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan, dan mendidik orang dalam kebenaran. Apa artinya ini? Bukankah firman Tuhan diberikan untuk menuntun kita di dalam kesulitan hidup ini? Melalui firman Tuhan, kita tahu apa yang harus kita lakukan, ke mana kita harus mengarahkan hidup ini. Bukankah ini yang terpenting dalam hidup kita?

Sekali kita memutuskan untuk mengikutsertakan Kristus di dalam hidup kita, maka kita tahu itu tidak berarti kemudahan hidup. Kita masih terus harus hidup dan bergumul seperti manusia lainnya. Perbedaannya hanyalah jika Kristus hidup di dalam diri kita, ada tuntunan firman Tuhan di tengah kesulitan dan kesesakan kita. Imanuel, Tuhan beserta kita. Beserta untuk apa? Beserta untuk menghadapi sakit penyakit, kesulitan, kedukaan, dan bahkan air mata kita.

 

Tahun Baru, Berkat Baru

January 3rd, 2013 § 1 comment § permalink

tahun baruTahun baru senantiasa disambut dengan sukacita dan pesta yang menghadirkan pelbagai macam hiburan dan tontonan.  Tidak terhitung berapa banyak dana yang dihamburkan untuk menyambut tahun yang baru.  Namun, sesungguhnya apa yang baru?  Ketika kita memasuki tahun yang baru, kita masih membawa masalah dari tahun yang lalu bukan?  Kita masih membawa hutang, pergumulan dan masalah dari tahun yang telah berlalu.  Jadi, apa yang baru?

Menyambut tahun baru, kita mempunyai harapan yang baru.  Mungkin inilah satu-satunya yang baru di tahun yang baru : harapan yang baru.  Harapan lah yang memberikan semangat, sukacita dan kekuatan untuk menjalani tahun yang baru.  Sebagai orang Kristen, kita tentu mengharapkan agar berkat Tuhan menyertai di tahun yang baru.  Berkat Tuhan adalah frasa yang mempunyai beragam arti dalam Alkitab.  Pada era Perjanjian Lama, berkat berarti perkenanan Tuhan atas kehidupan seseorang.  Jika Tuhan berkenan atas hidup seseorang, maka Tuhan akan membuat hidupnya berhasil.  Keberhasilan tak selalu dalam arti materi, tetapi keutuhan hidup yang meliputi sukacita dan damai sejahtera.  Tujuannya agar orang yang diberkati itu menjadi saksi akan kasih dan kemurahan Allah.  Pada era Perjanjian Baru, berkat Tuhan mempunyai arti perkenanan seseorang melalui Yesus Kristus.  Berkat Tuhan yang terutama adalah kasih karunia Allah yang menyelamatkan di dalam diri Yesus Kristus dan kehidupan yang utuh karena damai dan sejahtera dari Roh Kudus.  Jadi, berkat Tuhan mencakup keutuhan hidup, baik keselamatan jiwa yang akan datang, maupun  kesejahteraan hidup di masa kini.  Karena keselamatan jiwa yang akan datang merupakan anugerah Allah yang tak bersyarat, maka kita akan membicarakan tentang berkat Tuhan dalam arti kesejahteraan hidup di tahun yang baru.  Kesejahteraan yang bukan hanya berbicara tentang kecukupan materi, tetapi juga damai sejahtera di hati.

Bagaimana mengalami berkat Tuhan, sekali lagi dalam arti kesejahteraan hidup, di tahun yang baru?  Mari kita belajar dari pengalaman bangsa Israel di bawah pimpinan Yosua, seperti yang dikisahkan dalam Yosua 1 sd 3.  Kita akan mempelajari dua kunci pembuka berkat Tuhan di tahun yang baru.

Kunci berkat Tuhan yang pertama adalah : pahamilah cara Tuhan berkerja.  Mari kita perhatikan firman Tuhan dalam Yosua 1:2 “Hamba-Ku Musa telah mati; sebab itu bersiaplah sekarang, seberangilah sungai Yordan ini, engkau dan seluruh bangsa ini, menuju negeri yang akan Kuberikan kepada mereka, kepada orang Israel itu.”  Mengapa Tuhan memerintahkan orang Israel untuk menyebrang saat itu juga?  Bukankah pada saat itu, seperti dicatat dalam Yosua 3:16 bahwa air Sungai Yordan sedang meluap?  Menyebrang Sungai Yordan sendiri adalah sebuah perjuangan yang tidak mudah, apalagi ketika air nya sedang meluap.  Mengapa Tuhan menghadapkan mereka pada kesulitan?

Nah, kita harus memahami cara Tuhan bekerja : di ujung kesulitan dan pergumulan selalu menanti berkat Tuhan.  Tuhan memerintahkan orang Israel untuk menyeberang saat itu juga karena tanah perjanjian di seberang sungai Yordan sedang mengalami masa panen.  Yosua 3: 16 menyebutkan,” … sungai Yordan itu sebak sampai meluap sepanjang tepinya selama musim menuai  (Yosua 3:16).  Inilah cara Tuhan bekerja.  Ia menyediakan berkat-Nya, namun kita harus berjuang untuk mengatasi kesulitan dan pergumulan.  Sama seperti Tuhan memelihara burung di udara, namun toh burung itu tidak boleh hanya berdiam di sarangnya.  Burung itu harus terbang kesana dan kemari untuk menemukan makanan.  Jika burung pun harus berjuang untuk mendapatkan berkat Tuhan, maka mengapa kita malas untuk bekerja dan berupaya?

Kunci berkat Tuhan yang kedua adalah : taatilah aturan yang Tuhan tetapkan.  Banyak orang mengharapkan berkat Tuhan, tetapi berapa banyak yang bersedia untuk memenuhi aturan main yang Tuhan tetapkan.  Simak aturan main yang Tuhan tetapkan ,” Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung.” (Yosua 1:8)  Perhatikan tiga hal yang dituntut oleh Tuhan bagi mereka yang ingin berhasil dan beruntung : memperkatakan, merenungkan dan bertindak hati-hati berdasarkan kitab Taurat.  Mengapa Tuhan menetapkan syarat ini?  Bukan karena Tuhan pelit dalam berbagi berkat, namun Tuhan menghendaki agar kita mempunyai karakter yang kokoh untuk menerima berkat-Nya.

Keberhasilan dan keberuntungan seringkali mengubah hidup seseorang.  Ada orang yang setelah berhasil menjadi sombong dan gemar bermain perempuan atau pria.  Ada orang yang setelah mendapatkan keberuntungan, malah meremehkan saudara-saudaranya yang belum berhasil.  Bahkan tidak jarang, setelah berhasil dan beruntung, orang malah melupakan nama Tuhan.  Itu sebabnya, sebelum Tuhan memberkati kita, Ia ingin agar kita bertumbuh dalam karakter yang kokoh dan kuat.  Tanpa karakter yang kokoh dan kuat yang terbentuk oleh firman Tuhan, berkat dan keberuntungan bisa mengelincirkan orang pada kehancuran.  Bukankah tidak terbilang jumlahnya rumah tangga, perusahaan, bahkan gereja yang hancur setelah mengalami keberhasilan?

Tahun baru, berkat baru.  Inilah harapan kita.  Tugas kita bukan sekedar berharap, namun juga terus berjuang di tengah kesulitan dan pergumulan kita.  Kita berjuang karena menyakini bahwa berkat Tuhan senantiasa ada di ujung pergumulan kita.  Kita bukan berjuang sembarangan, tetapi mendasarkan diri pada firman Tuhan.

Dua Sisi Koin

June 10th, 2011 § 0 comments § permalink

dan janganlah membawa kami ke dalam pencobaan, tetapi lepaskanlah kami dari pada yang jahat. (Karena Engkaulah yangempunya Kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya) . Amin. (Matius 6:13)

Doa ini seperti keping mata uang dengan dua sisi. Sisi pertama adalah pengakuan kita akan keterbatasan kekuatan kita dalam menghadapi pencobaan dan kejahatan. Sisi yang kedua adalah pengakuan kita akan kekuasaan dan kemuliaan Tuhan.

Tanpa sisi yang pertama, tidak ada sisi yang kedua. Orang yang merasa sok kuatdan jumawa dalam menghadapi pencobaan dan kejahatan, tidak akan mengakuikekuatan Tuhan. Kekuatan dan kemuliaan Tuhan justru dihadirkan-Nya bagi mereka yang menyadari kerapuhan hidupnya. Kekuatan untuk menjalani hidup ternyatajustru berawal pada pengakuan akan keterbatasan kita.

Memberi & Meminta Pengampunan

June 9th, 2011 § 0 comments § permalink

Dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami jugamengampuni orang yang bersalah kepada kami; (Matius 6:12)

Kata ”seperti” di kalimat ini berasal dari kata hos yang mempunyai beragam arti selain ”seperti”. Kata ini juga bisa berarti ”karena”. Maka, terjemahannya dapat berbunyi : ”Dan ampunilah kami akan kesalahan kami, karena kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami.

”Berdasarkan terjemahan tersebut, maka implikasi ayat tersebut sangat jelas. Kitatidak dapat meminta ampun kepada Tuhan, sebelum kita melaksanakan perintah-Nya untuk mengampuni mereka yang bersalah kepada kita.

Jadi, ada sebuah kaitan yang erat antara pengampunan Allah dan pengampunan manusia. Orang-orang yang menolak mengampuni orang lain, berarti sedang menutup pintu pengampunan Allah bagi dirinya sendiri

Where Am I?

You are currently browsing the Khotbah Wepe category at Wahyu 'wepe' Pramudya's blog.

Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome.