Secukupnya

June 8th, 2011 § 0 comments § permalink

Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya (Matius 6:11)

Apa maksud ”secukupnya”?  Benarkah cukup itu relatif?  Hidup keseharian kita dapat mengajar makna kata ”secukupnya”. Pernahkah Anda makan masakan lezat sampai di mana Anda tidak dapat lagi menelannya? Itulah batas secukupnya. Pernahkah Anda tidur pulas, dan pada akhirnya toh terbangun, dan tidak bisa tidur lagi walau Anda menginginkannya? Inilah batas secukupnya itu.

Doa ini adalah sebuah pengakuan betapa seringkali kita dikuasai oleh ketamakan, yang membuat kita tidak pernah merasa cukup. Ketamakan yang berakar pada kesukaan terhadap sesuatu yang berlebihan. Yesus sedang mengajar kita untuk membongkar akar ketamakan, dan menanam benih rasa cukup di hati kita

Di Bumi, Seperti Di Surga

June 7th, 2011 § 0 comments § permalink

Datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di sorga (Matius 6:10)

Mengapa Yesus mengajarkan kalimat ini? Bukankah kehendak Tuhan pasti terjadi, karena tidak ada satu pribadi pun yang dapat melawan-Nya?  Maka kalimat ini tentu bukanlah sebuah permohonan atau harapan.

Kalimat ”Jadilah kehendak-Mu, di bumi seperti di surga” lebih tepat jika dimaknai sebagai sebuah ikrar. Tekad untuk ikut bertanggung jawab dalam terwujudnya kehendak Allah di dunia ini. Sebuah tekad yang harus dibuktikan terlebih dahulu dalam kehidupan pribadi, sebelum mengharapkan atau bahkan menuntut orang lain mempunyai tekad yang sama.

Menguduskan Nama Allah

June 6th, 2011 § 0 comments § permalink

Karena itu berdoalah demikian : Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah nama-Mu. (Matius 6:9)

Hagiazein yang berarti dikuduskan mempunyai dua arti. Pertama, membuat sesuatu yang biasa menjadi kudus. Kedua, menjaga yang kudus agar tetap kudus. Tentu arti kedua inilah yang dimaksudkan Yesus dalam Doa Bapa Kami ini, karena nama Allah sudah kudus.

Menguduskan nama Allah berartimemperlakukannya dengan takjub dan hormat. Bagaimana cara menguduskan nama Tuhan? Kita bisa menguduskan nama Tuhan secara verbal, yakni lewat kata-kata yang terucap dari bibir kita. Kata-kata yang benar dan kudus.

Kita juga bisa menguduskan Tuhan lewat perbuatan kita. Perbuatan yang seturut dengan kehendak Tuhan. Kapan saja dan di mana saja.

Mendekat Kepada Allah

January 12th, 2011 § 0 comments § permalink

Beberapa waktu yang lalu saya mencari dompet saya sebelum berangkat ke gereja.  Saya mencoba mencarinya,  namun tidak ditemukan.  Hampir setengah hari mencari, namun tidak ketemu. “Hilangnya di mana pak?” tanya pembantu saya.  “Kalau bapak tahu di mana hilangnya, ya pasti sudah ketemu,” jawab isteri saya.  Kami pun tertawa. Lelah mencari, saya memutuskan untuk tidur sejenak karena malam harinya saya telah mempunyai janji konseling dan memimpin doa malam.  Tidak ada doa yang terucap, namun hanya sebuah curahan hati saja di hadapan Tuhan,”Minggu ini jadwal pelayanan padat.  Masak sih harus ditambah dengan mengurus ktp, dua sim, kartu atm, kartu kredit dan kartu-kartu yang lain.”

Saya berangkat ke gereja dan melakukan konseling.  HP pun saya silent.  Tiba-tiba ruang pendeta diketuk oleh seorang penatua.  “Vanda bilang ada orang yang menemukan dompetmu.”  Segera saya telpon ke rumah dan ternyata benar ada seorang petugas kebersihan yang menemukan dompet saya.  Uang tentu saja telah hilang, namun seluruh kartu penting masih ada.  Akhir yang indah bukan?  Plus tiba-tiba saja ada orang yang tidak saya kenal sebelumnya menitipkan uang persembahan kasih yang jumlahnya kurang lebih sama dengan yang hilang.  Luar biasa bukan?

Hidup Tak Selalu Indah

Sayangnya tidak semua kesulitan di dalam hidup ini, juga hidup saya, berakhir seindah itu.  Ada saat-saat di mana kita berdoa memohon sesuatu dari Tuhan, eh sampai sekarang belum ada jawaban dari Tuhan.  Padahal toh yang kita minta adalah hal yang baik : perubahan sikap anggota keluarga kita, pekerjaan yang lebih baik, pasangan hidup, rejeki untuk hidup sehari-hari dan juga kesembuhan dari penyakit.  Apakah ada yang salah dengan permintaan kita ini?  Tidak ada bukan! Lalu apa sulitnya bagi Tuhan untuk mengabulkan hal-hal yang baik seperti ini? Sebuah pertanyaan besar tersimpan di hati kita.

Tanya di dalam diri kita makin bertambah tatkala kita memperhatikan dunia di sekitar kita.  Kita melihat rekan-rekan kita yang mengalami keberhasilan di dalam pekerjaan dan kebahagiaan dalam keluarga.  Tubuh mereka pun sehat, terbebas dari segala penyakit.  Harta melimpah yang membuat mereka bisa menikmati segala yang terbaik di dalam dunia ini.  Padahal kita tahu benar bagaimana mereka menjalani kehidupan ini.  Bukan hanya tidak mengenal Tuhan, mereka juga melanggar tatanan moral yang ada di masyarakat.  Mereka jahat terhadap manusia lain, pintar memutarbalikan keadilan, dan tidak pernah tertangkap oleh aparat yang berwenang.  Tanya yang menggema di hati : mengapa Tuhan membiarkan hal seperti ini terjadi?  Apa sulitnya bagi Tuhan untuk menghukum mereka?  Mengapa Tuhan tidak melakukannya?

Mengapa Orang Benar Menderita?

Asaf, penulis Mazmur 73 ini, mempunyai pertanyaan yang sama dengan kita.   Mengapa orang-orang jahat mengalami kemujuran?  Tubuh mereka sehat, tidak terkena penyakit.  Mereka lepas dari segala kesulitan dan penyakit yang menimpa manusia lain.  Mereka menjadi sombong dengan segala macam kejahatannya.  Bahkan mereka berani membual di hadapan langit dan tidak ada yang terjadi pada diri mereka.  Kalau orang jahat mengalami kemujuran dan segala yang terbaik di dalam hidup ini,  Asaf merasa bahwa kesalehannya menjadi sia-sia.  Bahkan, Asaf yang menjaga hidupnya bersih pun tidak luput dari kesulitan dan tulah.  Perhatikan perkataan Asaf,”  Sia-sia sama sekali aku mempertahankan hati yang bersih, dan membasuh tanganku, tanda tak bersalah.  Namun sepanjang hari aku kena tulah, dan kena hukum setiap pagi.”

Kalau begitu, pikir Asaf, lalu mengapa tidak ikut-ikutan menjadi jahat sekalian saja.  Kalau orang benar malah menderita, sedangkan orang jahat menikmati kebahagiaan lalau mengapa tidak ikut menjadi jahat sekalian saja.  Ayat yang ketiga mengungkapkan hal ini : “Sebab aku cemburu kepada pembual-pembual, kalau aku melihat kemujuran orang-orang fasik.” (Mazmur 73:3)

Tidak ada yang lebih menggoda kita untuk melakukan hal yang jahat, selain melihat kejahatan itu membuahkan hasil yang diharapkan dan pelakunya tidak tertangkap.  Atau kalau pun tertangkap toh dengan hasil kejahatan yang ada, semua bisa diatur.  Mau keluar masuk rumah tahanan sampai 68 kali bisa.  Mau nonton tenis ke Bali juga bisa.  Tentu saja, jangan lupa pakai wig   Gemas sekali bukan kita melihatnya?

Bagaimana juga dengan mereka yang telah membunuh Munir misalnya?  Melenggang tak terungkap bukan?  Bagaimana dengan kasus penghilangan aktivis di Orde Baru, seperti Wiji Thukul misalnya?  Bagaimana dengan kasus keteledoran eksplorasi minyak yang disulap menjadi bencana alam?  Bagaimana dengan ….  Silakan Anda mengisi sendirilah.  Daftarnya bisa menjadi panjang bukan?  Rasa putus asas kita juga makin panjang.  Dan … ada godaan besar untuk berhenti melakukan yang baik, dan turut melakukan yang jahat bukan?

Dalam sebuah perjalanan dari Bandara Soekarno Hatta menuju ke gereja, kami melewati jalan tol.  Antrian begitu padat, dan satu-dua mobil mulai mengambil bahu jalan.  Ketika melihat kejadian itu, sang sopir langsung nyeletuk,”  Bakal ketangkep polisi tuh.  Polisi di sini keras.  Siap-siap aje!  Kita sih sabar aja ya pak, yang penting kita tidak ngelanggar.  Kita yang bener.”  Beberapa menit berlalu, beberapa mobil di belakang kami pun melesat mengambil bahu jalan.  Makin lama makin banyak. “Panen deh polisinya,” kata pak sopir sambil tertawa.  “Masih sabar untuk menunggu khan pak?” tanyanya.  Saya hanya tersenyum saja.  Hampir dua puluh menit nyaris tidak bergerak. Sopir mobil gereja pun bertanya,”  Pak, emang di depan tidak ada polisi?”  Saya yang duduk di sebelah kiri mengarahkan pandangan ke depan,” Ada tuh pak. Tapi semua yang tadi lewat dibiarin aja. “Kalau gitu, sekalian aja mobil ini.  Kalau nanti kita yang ketangkep, kita bilang aja kenapa yang tadi dibiarin saja,” kata sang sopir sambil membanting stir ke kiri

Ketika apa yang salah tidak mendapatkan hukuman yang seharusnya, sementara yang benar malah sengsara, tidakah kita tergoda juga untuk melakukan yang salah juga?  Asaf yang mengamati kenyataan yang serupa ini, jujur mengaku, “Tetapi aku, sedikit lagi maka kakiku terpeleset, nyaris aku tergelincir.

Sebab aku cemburu kepada pembual-pembual, kalau aku melihat kemujuran orang-orang fasik …” (Mazmur 73:1-2).

Perspektif yang Berubah

Lalu, apa yang terjadi pada Asaf selanjutnya?  Apakah ia ikut-ikutan melakukan yang jahat?  Simak penuturannya,” … sampai aku masuk ke dalam tempat kudus Allah, dan memperhatikan kesudahan mereka.  Sesungguhnya di tempat-tempat licin Kautaruh mereka, Kaujatuhkan mereka sehingga hancur. Betapa binasa mereka dalam sekejap mata, lenyap, habis oleh karena kedahsyatan!” (Mazmur  73:17-19).

Belum berakhir!  Itulah pemandangan yang dilihat oleh Asaf ketika ia masuk ke tempat kudus Allah.  Frasa tempat kudus Allah berarti tempat di mana Allah bertahta dalam kekudusan dan kemuliaan.

Dari sudut pandang Allah nampaknya kejayaan orang fasik itu tidak akan bertahan selama-lamanya.  Asaf melihat orang-orang itu seperti di taruh di tempat-tempat licin.  Hanya menunggu waktu untuk jatuh.  Kejahatan itu walaupun nampak perkasa menyimpan benih-benih kehancurannya sendiri.

Sejarah telah menjadi saksi betapa orang-orang yang jahat, berkuasa seolah-olah tanpa batas dan durasi waktu, namun toh jatuh juga.  Adolf Hitler yang begitu digdaya pun akhirnya bunuh diri ketika mendengar kabar kekalahan pasukannya.  Begitu pula dengan Stalin, Polpot, Mussolini dll.  Tuhan tidak hanya berurusan dengan kejahatan yang besar-besar saja.  Tetapi, di dalam setiap kejahatan, besar atau kecil, tersimpan benih kehancurannya sendiri.  Dan kadangkala yang Tuhan lakukan adalah membiarkan pelaku kejahatan itu terjebak oleh keinginannya sendiri.

Harian Kompas, 16 Januari 2010 mengisahkan tentang seorang pria pemalsu uang yang tertangkap polisi di Kuala Lumpur.  Uniknya, pria ini tertangkap setelah memberikan tip selembar uang 500 dollar AS (senilai 4,6 juta) kepada pelayan hotel.  Pelayan hotel yang merasa beruntung ini segera menukarkan selembar uang tersebut.  Petugas penukar uang segera memanggil polisi untuk menangkap sang pemberi tip.  Mengapa?  Karena pecahan tertinggi dalam dollar AS adalah 100 bukan 500.  Polisi menemukan uang palsu senilai 66 juta dollar AS.

“Dosa orang jahat bagaikan perangkap yang menjerat orang itu sendiri,” demikianlah peringatan penulis Kitab Amsal dalam pasal 5 ayat 22 versi Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS).  Apa yang dilakukan oleh Asaf ketika menantikan kejahatan itu akhirnya tumbang? Ia sadar kalau berdiam diri saja, ia bisa tergerus oleh keinginan untuk melakukan kejahatan yang sama. Ia pun sadar kemampuannya untuk mengubah orang lain tidaklah besar.  Apa yang dilakukan oleh Asaf?

Asaf memilih untuk,” Tetapi aku tetap di dekat-Mu; Engkau memegang tangan kananku.  Dengan nasihat-Mu Engkau menuntun aku …” (Mazmur 73:23-24).  Ia memilih untuk berada di dekat Tuhan, dan merasakan tangan Tuhan memegang tangannya.  Gambaran yang mungkin terasa abstrak, tetapi dipertegas dengan kalimat selanjutnya :  Dengan nasihat-Mu Engkau menuntun aku.  Dekat dengan Tuhan berarti memilih untuk mendengarkan sabda-Nya.

Dekat dengan Tuhan berarti membiarkan hidup dituntun oleh sabda-Nya, dan bukan oleh apa yang nampak di depan mata kita.  Seperti yang pernah dikatakan oleh Habakuk,” Tetapi orang benar akan hidup oleh percayanya.”

Inilah kekuatan kita untuk bertahan di tengah masyarakat yang karut-marut.  Ketika kejahatan nampak perkasa, ingatlah bahwa ia tak kan bertahan lama.  Sementara itu, marilah kita dekat dengan Tuhan dengan membiarkan firman-Nya menuntun kehidupan kita memasuki tahun yang baru.

Kemurahan Allah yang Menyelamatkan*

December 24th, 2010 § 0 comments § permalink

Seorang pria sedang memikirkan hadiah apa yang tepat bagi ulang tahun mama mertuanya.  Mama mertuanya terkenal kaya raya namun pelit, cerewet plus judes.  Akhirnya, pria itu menghadiahkan sebidang tanah di tempat pemakaman umum kota itu.  Mama mertuanya tentu saja terkejut dengan hadiah ini. “Ini bukan apa-apa, mam,  kebetulan ada yang menawarkan dengan harga khusus.    Cuman buat persiapan saja, harga tanah di pemakaman khan makin lama makin mahal,” jelas pria itu sambil mencium pipi mama mertuanya.  Sang mama mertua tersenyum.

Setahun berlalu, tiba kembali hari ulang tahun sang mama mertua.  “Kali ini, kamu bawa kado apa buat aku, Nak?” tanya mama mertua. Pria itu menjawab,”  Tidak bawa apa-apa Mam!”  “Lho, kenapa kamu tidak membawa apa-apa? Dasar menantu tidak tahu diri,” kata sang mama. “Lho, mama ini bagaimana sih.  Hadiah tahun lalu saja mama belum dipakai, kok sudah minta lagi?  Pakai dulu dong,” balas sang pria.

Memberi tidak selalu berasal dari kemurahan hati.  Ada orang yang memberi dengan terpaksa.  Ada pula yang memberi untuk mendapatkan keuntungan kembali yang berlipat kali ganda.  Misalnya memberikan pinjaman, tetapi dengan bunga yang sangat tinggi.   Ada pula yang memberi dengan niat mencelakai seperti dalam kisah tadi.  Memberi adalah tindakan yang nilainya ditentukan bukan oleh wujud pemberiannya, tetapi oleh motivasinya.

Itulah sebabnya, Paulus ketika menggambarkan tentang Allah yang memberi kepada manusia, ia menegaskan sejak awal tentang dimensi motivasi ini.  “Tetapi nyata kemurahan Allah, Juruselamat kita, dan kasih-Nya kepada manusia, pada waktu Dia telah menyelamatkan kita”   Motivasi Allah jelas dipaparkan : kemurahan atau kindness dan kasih-Nya kepada manusia.  Kemurahan dan kasih Allah inilah yang menghantarnya untuk memberikan keselamatan pada manusia.

Kemurnian motivasi ini : kemurahan dan kasih-Nya kepada manusia juga ditegaskan dengan kondisi manusia penerima pemberian-Nya.  “… pada waktu itu Dia menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya.”  Allah datang untuk mengampuni dosa dan kesalahan kita bukan karena kita pantas menerimanya.  Sebaliknya, kita pantas mendaptkan hukuman Allah.  Dosa dan kesalahan itu pantasnya dihukum; tetapi Allah memilih untuk mengampuni.  Inilah pemberian yang keluar dari kemurahan hati Allah, yakni keselamatan manusia.

Mengapa Allah harus menyatakan kemurahan hati dan kasih-Nya dengan menyelamatkan manusia?  Karena ada satu hal yang tak dapat diselesaikan manusia.  Dosa telah menjadi masalah yang tak mampu diselesaikan manusia.  Betapa pun manusia menginginkan yang baik, namun seringkali manusia gagal mewujudkannya.

Ketika beranjak remaja dan dewasa, kita merindukan meraih keberhasilan dalam studi dan pencarian pasangan hidup.  Kita tahu apa yang baik dan apa yang buruk.  Namun, seringkali kita gagal mengeksekusi apa yang kita tahu baik bukan?  Godaan untuk melakukan yang buruk itu begitu kuat, sehingga akhirnya kita jatuh dan terjerat di dalamnya.  Hidup dihancurkan oleh pilihan kita sendiri.

Ketika menikah, kita pasti merindukan keluarga yang berbahagia.  Namun, tentu pasangan kita mempunyai kelemahan dan keterbatasan.  Kita merasa tidak mendapatkan apa yang kita harapkan.  Lalu, apa yang kita lakukan?  Kita berjuang untuk menerima kelemahan dan keterbatasan itu, namun  bukan hal yang mudah bukan?  Apalagi ketika godaan itu menerpa kita.  Jauh lebih mudah dan menyenangkan bukan bagi kita untuk jatuh ke dalam pelukan pria atau wanita lain, daripada menerima keterbatasan pasangan kita.  Keluarga dihancurkan oleh pilihan kita sendiri.

Ketika kita mulai bekerja, kita pasti punya idealisme untuk melakukannya dengan integritas dan kejujuran.  Namun, ketika orang lain sukses dengan menghalalkan segala cara, sementara kita gagal terus menerus, tidakkah kita terpikir untuk melakukan hal yang sama?  Pada akhirnya, kita harus menekan suara hati yang menyuarakan kebenaran, demi mendapatkan apa yang kita harapkan. Kehausan untuk mendapatkan kesuksesan itu telah mengubah kita menjadi sosok yang menghalalkan segala cara.

Ketika kita sadar kita telah mengambil pilihan yang salah berkenaan dengan hidup kita, keluarga atau pekerjaan kita, apa yang kita harapkan terjadi?  “Ya, mau apa lagi pak, mesti terima konsekuensinya khan?”  Namun, kita juga berharap seandainya mungkin terhindar dari konsekuensi dari dosa itu bukan? Atau kalau pun harus menanggung konsekuensinya, kita tetap ada kemurahan Tuhan bukan?  Kita berharap pergaulan kita yang tidak kenal batas itu, tidak membawa dampak permanen di dalam kehidupan kita.  Kita berharap Tuhan tetap melindungi kita bahkan di tengah kenakalan kita.

Kita berharap pasangan kita tidak tahu apa yang kita lakukan di luar rumah, atau pun kalau tahu, kita berharap ia memaafkan dan menerima kita kembali.  Kita berharap pada kemurahan hati pasangan kita, dan tentu juga kemurahan hati Tuhan untuk menjaga keutuhan keluarga.  Kita berharap kejahatan bisnis yang kita tidak terungkap.  Bahkan di tengah kejahatan dan kesalahan kita, kita masih mengharapkan perlindungan dan kemurahan Tuhan.  Ya, walaupun kita bersalah dan berdosa.  Kita tidak menginginkan hukuman.  Kita mengharapkan pengampunan, ketika dosa itu terungkap.

Di sebuah perempatan jalan, saya pernah melanggar rambu lalu lintas.  Saya sadar bahwa yang saya lakukan itu salah, namun toh beberapa kali saya melakukannya, karena antrian di lajur itu pendek.  Saya tahu itu salah, tetapi berhenti berkali-kali menunggu lampau menyala hijau tentu tidak nyaman.  Nah, suatu kali tepat setelah melanggar rambu itu mobil saya dihentikan polisi.  “Tahu pak apa salahnya?” tanya polisi itu.  Tentu saja saya tahu apa kesalahan saya, namun toh saya menjawab,” Hm … apa ya pak? Masak sih?”  Khas orang bersalah yang pura-pura tidak tahu kesalahannya.  Polisi itu kemudian menerangkan kesalahan yang sebenarnya saya sudah tahu.

Ia meminta sim dan stnk saya sambil berkata,”  Bagaimana ini pak?”  Harusnya saya menjawab,”  Ya pak, saya salah, silakan ditilang.”  Namun saya terdiam. Sambil memeriksa sim dan stnk itu polisi itu bertanya,”  Bapak maunya bagaimana?”  Saya pun menjawab mantap,”  Saya sih maunya dimaafkan sama bapak.”  Polisi itu tersenyum dan mengembalikan sim-stnk saya,” Ya pak. Jangan diulangi lagi.  Bapak khan pendeta, pemimpin umat, harus jadi contoh yang baik.”

Sebagai orang yang bersalah atau berdosa, kita rindu mendapatkan kemurahan hati.  Kita rindu diampuni walaupun kita menyadari betapa besarnya kesalahan atau dosa kita.  Kita rindu bukan saja dimaafkan manusia, namun juga diampuni Tuhan.

Tuhan mengerti kerinduan hati yang terdalam ini.  Itu sebabnya, firman Tuhan yang saya bacakan tadi berkata,” Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa:  Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.” (Lukas 2:10-11).  Jangan takut!  Ada berita sukacita.  Tuhan mengerti kerinduan hati kita terbesar untuk mendapatkan pengampunan.  Telah lahir bagi kita, ya bagi kita yang berdosa ini : juruselamat, Kristus!

Inilah Natal : kemurahan hati Allah di tengah kesalahan dan dosa kita.  Kemurahan hati yang bukan murahan. Alkitab mengatakan,” Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Kemurahan hati yang mesti Allah curahkan dengan merelakan Yesus Kristus datang ke dunia ini : lahir, melayani dan mati untuk menyatakan betapa berharganya hidup mu dan hidupku. Berapa banyak dari kita mau menyerahkan anak kita untuk keselamatan orang lain?  Tidak ada bukan?  Namun, bapa sorgawi rela memberikan Yesus Kristus bagi keselamatan kita.

Bersediakah kita menyambut kemurahan hati-Nya dengan pertobatan alias pengakuan bahwa kita telah bersalah di hadapan sesama dan Tuhan? Bersediakah kita menerima kemurahan hati-Nya?

*) Didasarkan pada Titus 3:4-7

Where Am I?

You are currently browsing the Khotbah Wepe category at Wahyu 'wepe' Pramudya's blog.

Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome.