Ketawa Yuk!

April 24th, 2012 § 1 comment § permalink

Perjalanan saya, Vanda, Alden dan Clay ke Makassar dalam rangka pelayanan dan liburan memunculkan kisah-kisah lucu dan menyegarkan.  Ketawa yuk!

SALAH PESAWAT

Alden (5th) melangkahkan kaki bersama kami memasuki pesawat.  Matanya tajam memperhatikan segala sesuatu yang ada di sekitar kami.  Setelah duduk di kursi dan menunggu pesawat lepas landas, Alden terlihat cemas.  Berkali-kali ia menengok ke kiri dan kanan.

Alden    :  Pa, ini benar pesawatnya mau ke Makassar?  Tidak salah pesawat khan Pa?

Papa      :  Iya, benar.  Kenapa?

Alden    :  Tadi kok waktu masuk pesawat, koko kok tidak lihat tulisan Makassar? Yang ada tulisan citilink

Mama   :  Ini pesawat nak, bukan bis.

Papa      :   *cengar-cengir

***

GOOD dan NAKAL

Alden (5th) tengah berjongkok di depan lapak yang menjual gantungan kunci yang di dalamnya berisi kupu-kupu yang telah diawetkan.  Ia ingin membawakan oleh-oleh untuk temannya.  Ia sudah menghitung jumlahnya temannya 21 orang.  Harga gantungan kunci itu tidak murah, maka saya hanya membelikan 10 buah saja.

Papa      :   Papa belikan 10 buah saja ya?  Alden yang membagi nanti.

Alden    :  Ya, kurang dong pa.  Nanti ada teman Alden yang tidak dapat

Papa      :  Ya, koko atur sendiri aja.  Siapa yang dapat, siapa yang tidak dapat.

Alden    :  Ok, pa.

Pagi pertama setelah kembali dari Makassar,  sebelum berangkat sekolah, Alden terlihat sibuk menggunting gambar kupu-kupu dari kartu pos.  Ada beberapa gambar kupu-kupu di kartu pos itu.

Papa      :  Untuk apa itu nak?

Alden    :  Untuk teman-temanku di sekolah.

Papa      :  Lho, khan sudah ada gantungan kunci kupu-kupunya?

Alden    :  Gantungan kunci kupu-kupu untuk teman-temannya Alden yang good, yang nakal cuman  dapat gambar kupu-kupu aja.

Papa      : *cengar-cengir

***

PAKAI HAPE DONG

Alden (5th) bergembira ketika kami menuju Bantimurung untuk melihat air terjun dan penangkaran kupu-kupu.  Di sepanjang jalan di tepi air terjun itu, Alden melihat banyak kupu-kupu berterbangan dan hinggap di dekatnya.  Alden sangat ingin menangkap kupu-kupu itu, tetapi selalu gagal.

Nah, kami memasuki pusat penangkaran kupu-kupu.  Alden sudah bersiap-siap untuk menangkap kupu-kupu yang tentu saja tidak bisa terbang jauh karena ada di dalam penangkaran.  Saya melarangnya, tapi Alden bersikeras ingin menangkap kupu-kupu.

Papa      :  Ko, kupu-kupunya jangan ditangkap

Alden    :  Kenapa pa?  Aku pingin tangkap kupu-kupu pokoknya

Papa      :  Kupu-kupu itu kayak kita yang punya papa dan mama.  Nanti kalau kamu tangkap, papa atau mamanya bingung, kenapa anak kupu-kupu kok tidak pulang?

Alden    :  Lho, anak kupu-kupu khan nanti bisa kasih tahu papa mamanya kalau tidak pulang

Papa      :  Pakai apa ngasih tahunya?

Alden    :  Lho, pakai hape dong

 

Mata Bapa

May 31st, 2011 § 0 comments § permalink

Dalam beberapa kali percakapan, saya dan Vanda kadangkala membandingkan proses pertumbuhan dua anak kami : Alden dan Clay.  Mulai dari penampilan hingga perilaku mereka.  Alden yang cenderung kurus, dan Clay yang pipinya lebih berisi.  Alden yang dulu rambutnya jarang-jarang, dengan Clay yang rambutnya lebih lebat.  Alden yang pada bulan ke 11 sudah bisa berjalan, dan Clay yang masih belajar untuk berdiri tegak tanpa pegangan.  Alden yang cepat sekali dan banyak belajar ngomong, dan Clay yang tenang-tenang aja.  Alden yang tak bisa tenang sejak kecil, dan Clay yang relatif bisa duduk manis  Benar-benar dua sosok yang begitu berbeda, walaupun mereka mempunyai ayah yang sama dan lahir dari rahim yang sama.  Percakapan kami seringkali berakhir pada kesimpulan : masing-masing anak mempunyai kelucuan yang berbeda, dan kami mencintai mereka berdua.  Bukan karena penampilan atau perilaku mereka, namun karena Alden dan Clay adalah anak-anak buah cinta kasih kami.

Sore tadi, saya mengajak Alden dan Clay berjalan-jalan di pendopo depan pastori.  Ada beberapa anak lain yang sedang bermain di sana ditemani oleh papa atau mamanya.  Anak-anak itu begitu berbeda wajah, warna kulit dan perilakunya.  Di tengah perbedaan yang ada, orang lain bisa dengan cepat menilai mana anak yang ganteng atau jelek, hitam atau putih, dan baik atau nakal.   Begitulah manusia yang tidak pernah lepas dari penilai, perbandingan dan bahkan pertandingan.  Namun, ada satu hal yang saya amati. Cara memandang orang tua terhadap anak-anaknya, selalu berbeda dengan cara orang lain menatap anak-anak itu.  Di dalam sorot mata setiap orang tua, tersirat kasih dan kebanggaan pada anak-anak kecil itu.  Walaupun mereka berteriak memperingatkan anaknya,  marah dan bahkan memukul anak yang tidak mendengarkan peringatan mereka, sorot mata yang penuh kasih itu masih memancar.  Setiap anak adalah mutiara di mata orang tuanya.  Anak-anak tidak perlu melakukan apa-apa untuk menjadi berharga di hadapan orang tuanya.  Anak-anak itu berharga bukan karena perilakunya, namun karena kasih orangtua yang menyebabkan mereka ada di dunia.

Saya makin mengerti mengapa Tuhan menyebut kita anak-anak-Nya.  IA menatap kita dengan mata seorang papa  dan mama pada anaknya.   Tatapan yang penuh kasih dan kebanggaan bukan karena penampilan atau perilaku kita.  Tatapan yang tidak akan pernah bertambah, apapun pencapaian prestasi kita.  Tatapan yang juga tidak akan berkurang walaupun melukai hati-Nya.  Tatapan yang membuat hidup ini menjadi berharga.  Tatapan yang berasal dari mata Bapa.  Mata kasih karunia.

Logika

May 23rd, 2011 § 1 comment § permalink

Apa dan Mengapa?  Inilah dua hal yang seringkali ditanyakan anak-anak dalam proses pertumbuhannya.  Setelah anak-anak bertanya dan mendengarkan jawaban, seringkali mereka mengolah sendiri apa yang mereka tahu.  Begitu pula yang terjadi dengan Alden (4,5 th).

Beberapa waktu yang lalu, di malam hari saya mendapati Alden mengisi tempat minumnya dengan air dingin dari dispenser.  Sebenarnya, saya dan Vanda membatasi Alden minum air dingin supaya tidak mudah kena flu dan pilek.   Saya menanyakan hal ini ke Alden.

Papa       : Lho, kok Alden mengambil air dingin?

Alden      : Iya, pa.  Alden minum air dingin saja.

Papa       : Lebih enak ya?

Alden      : Ya, lebih enak.  Tapi ada gunanya juga lho pa minum air dingin.

Papa       : Oh, ya.  Apa?

Alden       : Supaya Alden tidak panas badannya.  Kalau minum air dingin, badan Alden jadi tidak panas.  Kayak teh khan supaya tidak panas, harus dikasih air dingin. Nanti kalau ngga minum air dingin, badan Alden panas lho. Kalau   panas, jadi batuk dan pilek.  Jadi, Alden harus minum air dingin.

Papa      :  * cenat-cenut, sambil ngomong dalam hati : ampyun dah, duh anaknya siapa sih ini.

 

Ganteng

November 18th, 2010 § 0 comments § permalink

Alden ( waktu itu 2,5 th) sudah mandi dan berpakaian rapi.  Saya sedang menggendongnya, lalu terjadilah percakapan ini :

Papa : Alden ganteng ya, anak siapa sih?
Alden : (diam)
Papa : (narsis mode on, setengah memaksa) anaknya pak wahyu pramudya ya?
Alden : Bukan!
Papa : (penasaran) Lho, Alden anaknya siapa?
Alden : Anaknya Tuhan Yesus
Papa : wakakaka ….

Bersyukur untuk Rasa Takut

October 20th, 2010 § 0 comments § permalink

Suatu kali sekitar pukul 02.00 dinihari , suara halilintar menggelegar berulangkali. Sangat keras memekakkan telinga.   Saya masih bekerja menggunakan notebook di luar kamar tidur.  Segera saya masuk ke kamar karena saya tahu biasanya Alden bisa  terbangun hanya karena suara hujan.  Apalagi halilintar yang begitu keras, pasti Alden terbangun.  Dugaan saya terbukti.   Alden terbangun dengan wajah yang terlihat pucat karena ketakutan.  Sambil menutup telinganya, ia mendekatkan tubuhnya untuk dipeluk Vanda. Dalam pelukan mamanya,  ketakutannya sirna dan Alden dapat melanjutkan tidurnya walau suara halilintar masih menggelegar.

Dari sebuah e-mail yang pernah dikirimkan, saya membaca bahwa konon  ada 484 ketakutan atau phobia manusia. Sebuah daftar panjang yang membuktikan betapa manusia tidak dapat lepas dari rasa takut. Sayangnya, semenjak kecil kita selalu diajar bahwa rasa takut harus dilawan. Rasa takut harus ditaklukkan. Jadilah berani!  Titik.  Bagaimana cara menjadi berani?  Kita tidak pernah mendapatkan jawabannya.  Akibatnya, daftar panjang ketakutan itu masih bertambah satu lagi : takut tidak bisa mengalahkan rasa takut.  Ironis bukan?

Mungkin kita harus belajar untuk hidup berdampingan dengan rasa takut, dan bukan mengalahkannya.  Rasa takut yang menjaga kita dari melakukan sebuah kesalahan yang tidak perlu.  Rasa takut yang menyebabkan kita berpikir, berkata dan bertindak dengan hati-hati.   Bayangkan jika kita tidak mempunyai rasa takut sama sekali.  Berjalan di atas atap rumah untuk memperbaiki atap yang bocor, kita anggap sama seperti berjalan kaki mengelilingi taman.  Meloncat dari atap rumah pun mungkin akan kita lakukan dengan enteng.  Hasilnya?  Mungkin patah kaki atau malah gegar otak.

Ke mana rasa takut itu membawa kita?  Inilah masalah utama dengan rasa takut, dan bukan bagaimana kita mengalahkannya.  Jika rasa takut itu membawa kita untuk menjalani hidup dengan hati-hati,maka kita membutuhkan rasa takut itu bukan?  Jika rasa takut itu mengingatkan akan keterbatasan kita sekaligus membawa kita menyadari betapa berharganya orang lain dan Tuhan, maka rasa takut itu harus kita syukuri.

Mari bersyukur untuk rasa takut.

Where Am I?

You are currently browsing the Kisah Keluarga Wepe category at Wahyu 'wepe' Pramudya's blog.

Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome.