Jebakan Paling Berbahaya

March 24th, 2011 § 0 comments § permalink

Dalam beberapa hari ini, saya mendengar kabar tentang masalah yang dihadapi oleh beberapa pelayan Tuhan.  Ada yang bermasalah dengan penyalahgunaan kuasa, keuangan ataupun terlibat dalam relasi yang tidak wajar dengan anggota jemaatnya.  Kabar ini makin membuktikan apa yang saya dengar sewaktu masih di seminari. Beberapa kali saya mendengar uraian bahwa godaan terbesar hamba Tuhan adalah Tiga Ta  : tahta, harta dan cinta (yang tidak wajar).  Tiga hal itulah yang menjadi jebakan paling berbahaya bagi hidup seorang pelayan Tuhan, dan juga kehidupan manusia pada umumnya.

Namun pagi ini, saya menemukan sebuah perspektif yang unik ketika membaca Spiritual Direction, salah satu karya Henri Nouwen yang diterbitkan sesudah kematiannya.  Simak apa yang disampaikannya :

The greatest trap in life is not succes, popularity or power, but self rejection, doubting who we truly are.  Succes, popularity, or power can indeed present a great temptation, but their seductive quality comes from the way they are part of much larger temptation to self rejection.  When se have come to believe in the voices that call us worthless and unloveable, then succes, popularity and power are easily perceived as attractive solutions.

….

Self rejection can show itself in a lack of confidence or a surplus of  pride.

Setujukah Anda?

Jurang Pemisah Relasi Pria dan Anak-anaknya

March 23rd, 2011 § 0 comments § permalink

Sebagai seorang pendeta, seringkali saya mendengar keluhan anak-anak tentang orangtuanya, secara khusus tentang ayah atau papa mereka.  Keluhan itu bisa beragam kalimatnya, namun menyuarakan esensi yang sama : ayah atau papa tidak mengerti kebutuhanku.  Di sisi lain, seringkali pula saya mendapatkan pertanyaan dari para ayah atau papa itu : Anak saya maunya apa sih?  Para pria juga mengalami kesulitan tersendiri untuk memahami anak-anak mereka.  Akibatnya tidak jarang ada jarak yang cukup lebar antara pria dan anak-anaknya.

Jurang ini bisa bertambah lebar karena kecenderungan pria untuk sedikit berbicara ketika berada di dalam rumahnya.  Akibatnya, anak-anak merasa seringkali lebih dekat dengan ibu atau mama yang nampak lebih sering berbicara dan menanggapi apa yang dilakukan anak-anaknya.  Padahal kehadiran seorang ayah atau papa mempunyai peran tak tergantikan dalam pembentukan identitas anak-anaknya.

Pagi ini, saya membaca sebuah artikel menarik berjudul “Lelaki itu Ayah” dari buku Adam Harus Bicara tulisan Deshi Ramadhani.  Penulis buku ini adalah seorang pria yang tidak menikah karena panggilannya sebagai rohaniwan Katholik.  Menarik untuk mencermati apa yang ditulisnya tentang apa yang diharapkan anak-anak dari papa atau ayahnya.  Silakan menyimak dan merenungkannya :

Bentuk penegasan identitas seorang anak lelaki dan seorang anak perempuan hanya bisa didapatkan dari ayah.  Penegasan yang dinanti-nanti bergerak seputar pertanyaan mendasar yang berbeda antara anak lelaki dan anak perempuan.  Seorang anak perempuan digelisahkan oleh pertanyaan mendasar “Apakah aku cantik?”  (“Am I beautiful?”).  Kakak atau adiknya yang lelaki akan digelisahkan oleh pertanyaan mendasar “Apakah aku mampu?” (Do I have what it takes?”)

… Seorang ayah yang mengatakan kepada anak lelakinya,” Kamu tidak mampu! akan menusukkan luka tikaman yang sangat dalam bagi anak lelakinya itu.  Sepanjang hidupnya ia bisa terus bertanya dan mengharapkan oenegasan yang berbeda.  Ia akan habiskan hidupnya untuk membuktikan bahwa ia mampu.

Hal serupa bisa terjadi dalam diri anak perempuan.  Jika pada satu titik di masa kecilnya ia mendengar ayahnya memberi komentar,” Kamu jelek sekali!”  Komentar itu akan segera mencetak luka sangat dalam dalam dirinya.  Ia akan menghabiskan waktu hidupnya untuk selalu mencari jawaban yang lebih menyenangkan.  Pujian dari lelaki sedikit saja sudah bisa menjatuhkan perempuan semacam ini ke dalam pelukan lelaki.

Bagaimana menurut pengalaman Anda?


Mengapa Pria Kecanduan Pornografi?

March 22nd, 2011 § 0 comments § permalink

Saya sedang membaca buku berjudul Wild at Heart tulisan John Eldredge ketika menemukan kutipan menarik mengapa pornografi mempunyai daya tarik dan jerat yang kuat bagi pria. Silakan menyimaknya :

What makes pornography so addictive is that more than anythings else in a lost man’s life, it makes him feel like a man without ever requiring a thing of him. The less a guy feels like a real man in the presence of a real woman, the more vulnerable he is to porn

Bagaimana menurut pendapat Anda?

Mengapa Pornografi Digemari?

September 30th, 2010 § 0 comments § permalink

Mengapa pornografi digemari?  Ada sebuah perspektif menarik yang saya temukan dalam tulisan Henri J.M.Nouwen dalam Reaching Out, The Three Movement of Spiritual Life (Menggapai Kematangan Hidup Rohani).  Berikut ini kutipannya :

Pengalaman kesepian adalah satu di antara pengalaman-pengalaman manusiawi yang sangat biasa. Hanya saja masyarakat modern dewasa ini begitu memberikan perhatian kepada pengalaman ini hingga kesadaran kita berlebih-lebihan. Masyarakat di mana kita hidup, membuat kita sadar akan kesepian kita. Kita menjadi semakin sadar bahwa kita hidup dalam dunia, di mana bahkan hubungan yang paling intim telah menjadi bagian dari persaingan dan permusuhan.

Sebagai salah satu akibatnya ialah berkembanganya pornografi. Pornografi adalah keakraban yang diperdagangkan. Banyak orang, baik tua maupun muda melihat gambar atau membaca buku porno dengan perasaan was-was, jangan-jangan ada orang yang dikenal yang melihatnya. Dengan cemas menatap seorang wanita telanjang sambil membayangkan bahwa kesepiannya akan terhalau lewat pergaulan seperti itu.

setujukah Anda dengan pengamatan Nouwen itu?

Dosa Pribadi?

September 7th, 2010 § 0 comments § permalink

Problem tentang dosa diselesaikan dalam gereja.  Orang Kristen yang berjuang melawan daging, dunia dan Iblis tidak berjuang sendirian, bahkan dalam kasus dosa pribadi sekalipun.  Ia berjuang sebagai anggota balatentara Tuhan, gereja yang militan dan di dalam gerejalah setiap kita menemukan sumber-sumber bantuan untuk berjuang dengan baik….
Sebaliknya, setiap dosa yang dilakukan, sekalipun bersifat sangat pribadi, bukan sekedar dosa saya menentang Allah, melainkan juga dosa saya menentang gereja.  Seseorang yang melawan infeksi terkena infeksi sebagai anggota tubuh.  Bagi orang Kristen, tidak ada dosa yang bersifat pribadi semata-mata.
Simon Chan dalam Spiritual Theology

Where Am I?

You are currently browsing the Kutipan Wepe category at Wahyu 'wepe' Pramudya's blog.

Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome.