Saat Teduh bersama Youtube

August 20th, 2013 § 0 comments § permalink

youtubeBeberapa orang Kristen rutin melakukan saat teduh.  Saat teduh, yang biasanya dilakukan pagi hari, terdiri atas pembacaan Alkitab atau buku renungan, menyanyikan pujian dan doa.  Di era kemajuan tehnologi seperti saat ini, beberapa orang tidak lagi memegang Alkitab atau buku renungan, mereka cukup berbekal gadget yang berbasis Android, Blackberry, ataupun Apple.  Ada penyedia bahan renungan yang telah menyiapkan aplikasi bagi para pembacanya. Lebih praktis, tak lagi repot membawa Alkitab yang cukup tebal ataupun buku renungan yang dengan mudah terselip dan hilang.

Gadget, dengan segala dampaknya, telah menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup manusia masa kini.  Ritual manusia modern setiap pagi, begitu bangun pagi, adalah mencari gadgetnya. Salah satu akses yang seringkali kita lakukan adalah mengunjungi laman www.youtube.com.  Laman ini menyediakan jutaan video dan audio yang dapat kita nikmati.  Nah, mari kita gunakan gadget untuk mendukung pertumbuhan spiritualitas.  Mari kita gunakan gadget dan akses ke youtube untuk melakukan saat teduh.

Bagaimana cara bersaat teduh dengan menggunakan gadget dan akses ke youtube?

Pertama, mari kita membaca Alkitab dengan menggunakan youtube.  Ya, kita bisa membaca Alkitab dengan menggunakan youtube.  Tentu saja bukan membaca dalam arti mengamati huruf demi huruf di layar kita, tetapi mendengarkan Alkitab berbicara kepada kita.  Kita barangkali sudah begitu terbiasa membaca Alkitab sehingga tak lagi merasakan ada “getaran” tersendiri. Bukanlah catatan Alkitab menegaskan pentingnya mendengarkan firman Tuhan?  Mendengarkan ayat terakhir kitab Wahyu dibacakan seperti ini : http://www.youtube.com/watch?v=ITzTK8EhUsM sungguh menggetarkan hati.  Saya merasa seolah-olah berdiri di hadapan Tuhan Yesus yang sedang bersabda.

Di youtube terdapat banyak rekaman audio dan video pembacaan Alkitab.  Ada rekaman yang hanya dibacakan biasa tanpa iringan musk, istilah tehnisnya adalah pure reading, seperti misalnya pembacaan Amsal berikut ini : http://www.youtube.com/watch?v=FFXV304-P5s Ada pula yang disebut sebagai dramatized reading, alias pembacaan ala drama dengan suara beberapa orang ydan iringan musik yang mendukung.  Saya sangat menikmati model pembacaan dramatized reading ini, karena membangkitkan imaginasi dan tidak membosankan.  Sila perhatikan dramatized reading dari kitab Kisah Para Rasul berikut ini http://www.youtube.com/watch?v=ooZAqB8BPC4 Oh, ya mayoritas rekaman video dan audio yang ada di youtube berbahasa Inggris dengan pelbagai versi terjemahan Alkitab. Sayangnya belum banyak rekaman pembacaan Alkitab dalam bahasa Indonesia, baik yang pure reading maupun yang dramatized reading.

Silakan merasakan dan mengalami membaca Alkitab melalui youtube. Oh ya, jangan lupa, tarif data tentu berlaku.

 

-bersambung ke bagian 2 : menggunakan youtube untuk memuji dan menyembah Tuhan-.

 

Easter Gift for Pastors

March 4th, 2013 § 0 comments § permalink

 

Sila klik untuk memperbesar gambar ….
gift for pastors (2)

Pre-order Tak Pernah Menyerah

February 19th, 2013 § 0 comments § permalink

Terima kasih untuk 800-an eks yang telah dipesan rekans selama masa pre order.  Atas permintaan rekans, saya perpanjang masa pre order sampai dengan akhir bulan februari. Sila klik untuk memperbesar gambar.

promo tak pernah menyerah

Sebuah Pertanyaan untuk Cinta

February 13th, 2013 § 0 comments § permalink

valentineAda cinta di antara seorang suami dengan wanita yang bukan isterinya. Ada cinta di antara seorang pria muda dengan wanita yang jauh lebih tua. Ada cinta di antara dua pria. Demikianlah sebagian potret tentang cinta di era postmodern seperti dituturkan oleh Seno Gumira Ajidarma-seorang cerpenis yang telah menerima banyak penghargaan. Seno memaparkan perjalanan cinta itu dalam kumpulan cerpennya yang berjudul “Sebuah Pertanyaan untuk Cinta” . Dalam penuturan Seno yang didasarkan atas pengamatan terhadap peristiwa sehari-hari, nampaknya kehadiran cinta tidak lagi dapat dibatasi oleh norma dan susila. Cinta menembus semua batas, meloncati segala rintangan, meloloskan dirinya dari jerat aturan. Siapa bisa menghalangi kekuatan cinta? Munculah kisah-kisah cinta-yang bagi sebagian orang-dinilai tidak pada tempatnya, seperti telah dipaparkan di atas.

 

Mencintai dan Dicintai : Sebuah Kebutuhan

Fenomena-fenomena yang digambarkan Seno, dalam pandangan saya, menunjukkan bahwa cinta nampaknya masih menjadi salah satu kebutuhan utama manusia. Zaman boleh berlalu, generasi bisa datang dan pergi, tehnologi boleh berkembang dengan pesat, tetapi manusia tetap membutuhkan cinta. Manusia perlu untuk mencintai dan dicintai. Dalam hirarki kebutuhan Maslow, kita akan menemukan bahwa kebutuhan untuk cinta adalah terletak pada tingkat setelah kebutuhan fisiologis dan rasa aman. Masalahnya, cinta yang seperti apakah yang sungguh-sungguh dibutuhkan oleh manusia? Sebagian orang terlanjur mengartikan cinta sebagai seks. Di mana ada cinta, di situ ada seks. Tidak mengherankan apabila hubungan seks dianggap sebagai perwujudan cinta. Tidak sedikit pertanyaan yang dilontarkan di ruang-ruang konsultasi bagi remaja dipelbagai media yang berisi kebingungan remaja putri akan “tuntutan” pacarnya. Seorang remaja putri dengan jujur bertanya kepada pengasuh kolom tersebut apakah memang benar bahwa cinta harus dibuktikan dalam hubungan seksual? Apakah cinta dalam pengertian seks inilah yang merupakan kebutuhan yang mendasar yang dibutuhkan oleh manusia? Apakah benar bahwa mereka yang tidak/belum pernah berhubungan seks tidak mengenal cinta yang sejati?

Suatu kali, usai memimpin sebuah kebaktian kebangunan rohani, seorang remaja putri meminta waktu untuk berbicara kepada saya secara pribadi. Ternyata dalam pembicaraan itu, remaja itu mengaku pada saya bahwa ia sedang hamil muda. Kehamilan ini tentu saja terjadi di luar pernikahan. Ia takut keluarganya mengetahui hal itu. Ia telah meminta pertanggungjawaban pacarnya, tetapi pacarnya hanya memberikan sejumlah kecil uang untuk pengguguran kandungan. Percaya atau tidak, remaja putri itu berbincang kepada saya bukan untuk menyesali secara mendalam kesalahannya. Tujuan utamanya datang kepada saya adalah untuk meminta bantuan sejumlah uang sehingga ia bisa menggugurkan kandungannya. Saya terbengong-bengong dan nyaris tidak percaya dengan apa yang saya dengar. Remaja putri itu terus mendesak saya untuk turut memberikan bantuan keuangan agar dia bisa menggugurkan kandungannya, dan dengan demikian kehamilannya tidak diketahui oleh orang lain, termasuk keluarganya. Akhirnya, pembicaraan kami berlangsung cukup lama. Di akhir pembicaraan itu ada banyak hal yang rumit dan kompleks yang tidak bisa diselesaikan begitu saja. Kepada remaja putri itu saya bertanya, “Setelah kejadian ini, apakah kamu masih mau pacaran dengan pacarmu yang sekarang?” Remaja itu menjawab,” Tidak. Ternyata dia hanya menginginkan tubuh saya dan bukan diri saya seutuhnya.” “Dulu saya merasa begitu dicintai dan diterima olehnya, ternyata saya hanya dimanfaatkan olehnya,” lanjut remaja putri itu.

Bertitik tolak dari kisah di atas, saya kembali disadarkan pada satu kenyataan sederhana yang seringkali terlupakan. Manusia butuh untuk dicintai dan bukan dimanfaatkan. Dicintai berarti diterima seutuhnya. Ya, berarti diterima sebagaimana adanya, lengkap dengan kelebihan dan kekurangan yang ada. Apabila cinta berarti adalah penerimaan seutuhnya tanpa syarat, maka mencintai bukanlah hal yang mudah. Kita dengan mudah bisa mencintai sesuatu yang baik dan menarik dari orang lain, tetapi untuk menerima yang buruk dan membosankan dari orang lain bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Akhirnya, yang terjadi dengan kita adalah mencoba menimbang-nimbang besar mana sisi menarik dan baik di dalam diri seseorang dengan sisi membosankan dan buruk yang ada di dalam diri orang itu. Lebih besar sisi menarik dan baik, maka cinta pun akan kita berikan, tetapi apabila ternyata sebaliknya, tentu cinta pun melayang. Ini yang biasa kita lakukan. Sangat manusiawi sekali. Kontradiksinya adalah kita memberikan cinta dalam pertimbangan seperti tersebut, tetapi kita merindukan diterima dan dikasihnya sebagai mana adanya kita secara utuh. Kita menjadi sangat kesal dan kecewa, apabila orang hanya bersedia menerima sisi baik kita, tetapi sama sekali tidak toleran terhadap kekurangan yang ada di dalam diri kita.

 

Cinta Tanpa Syarat : Kebutuhan Utama Kita

Kita membutuhkan cinta. Cinta dalam arti penerimaan secara utuh dan tanpa syarat. Kebutuhan cinta yang seperti ini muncul dari kesadaran bahwa diri kita tidaklah sempurna. Ada begitu banyak kelemahan dan keterbatasan, yang bahkan mungkin sudah tidak mungkin lagi untuk diubah. Di dalam kelemahan dan keterbatasan itulah, kita membutuhkan cinta yang memberikan penerimaan secara utuh dan tanpa syarat. Mungkinkah ada sebuah cinta tanpa syarat? Sebuah pertanyaan untuk cinta.

Dalam bahasa yang digunakan oleh Alkitab, cinta tanpa syarat itu disebut sebagai anugerah, kasih karunia atau grace dalam bahasa Inggeris. Kata tersebut seringkali dikaitkan dengan pribadi sang pemilik dan pemberi cinta yang tanpa syarat itu Pemberi atau pemilik itu adalah Allah sendiri, pencipta dan pemelihara hidup manusia. Saya rasa tidak ada kalimat yang lebih indah tentang cinta tanpa syarat itu selain yang pernah ditulis oleh Philp Yancey. Ia memberikan definisi yang indah tentang anugerah/grace. Ia menulis, “Grace means there is nothing you can do to make God loves you more. Grace means there is nothing you can do to make God loves you less.” Sebuah cinta yang tulus dan murni, yang terlepas dari kondisi apapun dari penerima kasih itu. Sebuah cinta tanpa syarat sama sekali. Sebuah cinta yang dirindukan oleh semua orang. Kabar baiknya adalah : semua orang layak untuk menerima anugerah Allah ini. Allah menyadari bahwa manusia membutuhkan cinta tanpa syarat, oleh karena itu Ia memberikannya. Rasul Paulus pernah menulis bukti cinta Allah yang tanpa syarat itu. Ia menulis, “But God commendeth his love toward us, in that, while we were yet sinners, Christ died for us“(Rom 5: 8; AV). Cinta tanpa syarat itu bukan hanya kata-kata tetapi nyata di dalam diri Yesus Kristus.

Tidak hanya di dalam kematian Yesus Kristus saja kita melihat cinta tanpa syarat, tetapi juga di dalam seluruh hidup Yesus Kristus. Ia senantiasa menerima dan mengasihi orang apa adanya. Ia menerima dan mengampuni seorang perempuan yang tertangkap basah sedang berzinah. Ia menerima dan mengasihi pemungut cukai yang telah memeras uang orang lain. Yesus Kristus menyadari bahwa tidak ada kekuatan yang lebih besar daripada kekuatan cinta tanpa syarat. Cinta tanpa syarat mempunyai kekuatan yang luar biasa untuk mendorong perubahan hidup seseorang. Zakheus, sang pemungut cukai itu berubah hidupnya setelah menerima cinta tanpa syarat dari Yesus Kristus.

Di bulan Februari ini, di tengah keramaian orang merayakan hari Valentine, pernahkah terpikir oleh kita bahwa cinta yang kita butuhkan adalah cinta yang tanpa syarat? Pernahkah kita memikirkan bahwa orang-orang yang kita cintai sebenarnya mengharapkan cinta tanpa syarat dari kita? Saya rasa kesanggupan kita untuk mencintai seseorang tanpa syarat, akan muncul ketika kita juga menemukan bahwa sebenarnya kita telah dicintai tanpa syarat oleh Yesus Kristus. Sudahkah kita mengalami cinta tanpa syarat dari Yesus Kristus itu? Sebuah cinta yang juga menyelamatkan kita dari kebinasan kekal. Apabila kita sudah menerimanya, maka rasa bersyukur karena keagungan cinta-Nya kepada kita, semestinya bisa membuat kita menyemai bibit-bibit cinta yang tanpa syarat itu kepada orang lain juga.

Berapa banyak orang di sekitar kita saat ini yang sebenarnya tengah merasa sunyi, sepi dan sendiri bahkan di hari Valentine ini? Sunyi, sepi, dan sendiri karena belum pernah berjumpa dengan cinta tanpa syarat dari Yesus Kristus? Mereka yang merasa lelah, kalah dan kecewa karena merasa telah dimanfaatkan dan bukannya dicintai. Jumpailah mereka, pantulkanlah cinta tanpa syarat yang telah Anda terima dari Yesus Kristus. Selamat Hari Valentine. Selamat meyemai cinta tanpa syarat.

Normal

February 11th, 2013 § 0 comments § permalink

normal1Semua mulai dengan rintihan Alden pada dini hari seminggu yang lalu.  Ia mengeluhkan telinga sebelah kanannya sakit,” Ada bubble nya, Pa.”  Segera saya mengajak Alden ke kamar mandi, menuangkan air hangat ke telinga dan memintanya untuk menggelengkan kepala agar air itu keluar kembali.  Hal yang biasa saya lakukan ketika anak-anak mengeluh ada gelembung air di telinganya. Saya berharap hal itu menyelesaikan masalah yang ada. Ternyata tidak!

Pagi itu adalah permulaan dari rangkaian peristiwa yang membawa tanya dan gelisah. Panas yang tak kunjung turun, rasa sakit di telinga, badan yang terlihat lemah dan pucat.  Dari satu dokter THT ke dokter THT yang lain.  Dari satu apotik ke apotik yang lain.  Dari pemeriksaan darah di tengah malam hingga di tengah hari. Dari satu terapi ke terapi yang lain. Dari kepanikan karena Alden menggigil yang membuat saya tancap gas ke UGD dini hari itu, hingga kepanikan karena panas itu muncul kembali ketika saya harus terbang ke Jakarta.  Semua peristiwa itu tidak terjadi dalam hari-hari yang tanpa acara dan agenda.  Saya harus melayani beberapa kedukaan, termasuk di luar kota, sementara Vanda harus mengajar seperti biasa.  Tak pelak lagi, Vanda harus mengurus ijin untuk pulang lebih awal, sementara saya harus membatalkan pelayanan di Jakarta yang telah terjadwal setahun yang lalu.

***

“Lho, Bapak ada di sini.  Ada apa?” tanya seseorang di tengah malam itu.  Saya sedang duduk menanti hasil pemeriksaan laboratorium yang harus saya ambil di bagian UGD rumah sakit.  Setelah memberikan penjelasan ringkas, saya pun balik bertanya,” Kalau Bapak sendiri mengapa di tempat ini.” Pria itu terlihat tenang di ruang UGD yang biasanya menggelisahkan banyak orang itu. “Saya mengantarkan saudara saya. Kalau sakitnya kambuh, ya harus ke rumah sakit jam berapa pun,” tuturnya.  Tak ada keinginan saya untuk bertanya lebih detil, karena apa gunanya memuaskan rasa ingin tahu di tengah derita yang ada. “Ini sudah tahunan sakit begini kok, Pak.  Sudah semacam menjadi rutinitas yang berulang kapan saja,” jelas pria itu kembali.

“Sus, ini tangan saya sakit lagi,” kata seorang perempuan sambil memasuki ruang terapi.  “Lho, setelah liburan ke Bali kok malah sakit,” jawab ramah suster yang ada.  “Ya engga tahu, tiba tiba sakit lagi,” jawab wanita itu.  Sepertinya mereka berdua sudah mengenal begitu lama. Setelah mereka memasuki ruang terapi, suster yang menjaga di bagian administrasi berkomentar pendek,”  Sudah bertahun-tahun  Ia harus terapi seminggu dua kali, semoga segera pulih.”  Dua kali seminggu selama bertahun tahun?  Tak terbayangkan oleh saya yang baru empat kali mengantar dan menunggu Alden untuk terapi.

“Lho, Pak Wepe. Ada acara apa Pak di rumah sakit?” sapa ramah seorang pria di tempat parkir.  “Biasa Pak, mau besuk beberapa anggota jemaat,” jawab saya sambil mengulurkan tangan.  “Bapak sendiri dalam rangka apa?  Siapa yang sakit?” tanya saya.  “Oh …. biasa, Pak. Mau cuci darah dulu. Seminggu dua kali,” jawabnya sambil mengunci mobilnya.  Cuci darah?  Biasa? Dua kata yang tak bisa bersanding dalam pikiran saya.  Mengantarkan Alden dua kali periksa darah saja sudah cukup menggentarkan hati saya. “Sudah tahunan kok, Pak Wepe.  Kalau lemes, ya biasanya pas jadwal cuci darah.  Habis itu ya kerja lagi. Cari duit lagi,” katanya sambil mempercepat langkah dan melambaikan tangan.  Saya baru tahu ternyata orang yang selama ini saya kenal cukup aktif di gerejanya harus bergumul dengan cuci darah.

***

Everybody’s normal till you get to know them, begitu judul buku John Ortberg yang saya baca tengah malam tadi.  Ortberg bertutur bahwa pada umumnya hidup orang[-]orang terlihat baik-baik saja, tetapi bila kita mengenalnya lebih dalam barulah kita memahami bahwa ada hal-hal yang tak biasa atau tak normal di dalam hidup orang-orang itu.  Alkitab pun tak menyembunyikan hal-hal tak biasa atau tak normal itu.  Abraham yang tidur dengan pembatunya, Lot yang menawarkan anak perempuannya pada massa yang berhimpun di depan rumahnya, Ruben yang tidur bersama gundik ayahnya, adalah sedikit contoh hal-hal yang tak normal ketika kita melihat lebih dekat.

Seminggu ini, ketika bergumul dengan rasa sakit Alden, saya berjumpa lebih dekat lagi dengan hidup beberapa orang.  Ternyata mereka pun juga bergumul dengan hal-hal tertentu dalam kehidupan.  Pergumulan yang seringkali tak terlihat di mata orang lain.  Masalah yang tersembunyi di balik aktivitas pekerjaan dan pelayanan sehari-hari.  Ketika kita merasa bahwa hidup orang lain terlihat baik-baik saja alias normal, maka itu berarti kita belum melihat lebih dekat.

Ya, tidak ada hidup yang normal dalam arti lepas dari penderitaan dan masalah.  Hidup yang normal adalah hidup bersama dengan penderitaan dan masalah.

Where Am I?

You are currently browsing the Uncategorized category at Wahyu 'wepe' Pramudya's blog.

Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome.