Waktu untuk Segala Sesuatu *

January 1st, 2015 § 0 comments § permalink

jam pelbagaiRabu, 31 Desember 2014, dari pagi hingga sore hari saya ada di bandara Juanda Surabaya. Saya hadir sebagai bagian dari relawan kemanusiaan di tengah keluarga yang berduka karena orang-orang yang mereka kasihi belum jelas nasibnya terkait dengan penerbangan Air Asia QZ 8501.  Saya berbincang dengan keluarga-keluarga yang tengah berduka, relawan kemanusiaan lain dan media (lokal maupun internasional) tentang peristiwa yang memprihatinkan ini.

  1. Ada satu kesimpulan umum dari semua percakapan itu : rancangan manusia untuk mengalami sukacita bisa berubah menjadi kepergian untuk selama-lamanya. Manusia bisa saja merencanakan dengan begitu seksama, namun kehidupan senantiasa menghadirkan kejutan-kejutan tertentu.
  1. Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal (Pkh 3:2) demikianlah pengkhotbah membuka rangkaian penjelasan pengalaman kehidupan manusia. Ada 14 set (alias 7 x2) kontras kehidupan manusia (lahir vs mati, menanam vs mencabut, membunuh vs menyembuhkan dll) sebagai gambaran yang paripurna tentang apa yang dapat terjadi dalam kehidupan ini.
  1. Berita pengkhotbah sangat gamblang : kehidupan bergerak dari satu kutub peristiwa yang menyenangkan ke peristiwa yang menyedihkan; demikian pula sebaliknya.

Konsekuensinya : jika Anda saat ini sedang berada dalam saat-saat yang menyedihkan, bersabarlah karena sukacita akan segera mewarnai kehidupan Anda.  Tak ada airmata yang abadi.

Demikian juga, ketika saat ini kita bisa tertawa bersama, ingatlah bahwa saat untuk menangis barangkali sudah menanti di depan mata.  Tak ada suatu pengalaman kehidupan, baik atau buruk, yang bertahan selamanya.  Bersiaplah!

  1. Di dalam perjalanan kehidupan dari satu kutub ke kutub lain, ada sesuatu yang tak nampak di mata manusia, yakni : pekerjaan tangan Tuhan di dalam kehidupan ini. Tentang ini pengkhotbah berkata: Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir (Pkh 3:11).
  1. Penegasan pengkhotbah ini mempunyai dua sisi : pertama, ada jaminan bahwa tangan Tuhan bekerja di tengah perjalanan hidup manusia dari satu kutub ke kutub lain. Itu sebabnya ditegaskan : Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya.  Sebuah hal yang menggembirakan hati kita.  Kita tak pernah sendiri, Allah senantiasa menyertai.

Namun, sisi yang sebaliknya juga nyata : tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.  Konsekuensinya jelas : kita tak selalu bisa memahami apa Allah kerjakan di dalam dunia ini.  Ada tangan Tuhan yang bekerja, namun tak selalu dapat kita pahami apa yang sedang dilakukan-Nya.

Konsekuensinya : kita tak selalu punya jawaban untuk pertanyaan seperti:  “Tuhan, mengapa Engkau mengijinkan hal ini terjadi!” Di dalam ketidaktahuan lebih baik berdiam diri.

  1. Nah, ada dua hal yang sudah kita pelajari dari kitab pengkhotbah : pertama, hidup manusia bergerak dari satu kutub ke kutub lain; kedua, ada tangan Tuhan yang bekerja, namun tak kita pahami pekerjaan-Nya. Maka  bagaimana seharusnya kita menjalani kehidupan ini?
  1. Nasihat Pengkotbah terdapat dalam ayat 12-13 “Aku tahu bahwa untuk mereka tak ada yang lebih baik dari pada bersuka-suka dan menikmati kesenangan dalam hidup mereka. Dan bahwa setiap orang dapat makan, minum dan menikmati kesenangan dalam segala jerih payahnya, itu juga adalah pemberian Allah.”

Pengkhotbah mengajak kita untuk menikmati apa yang masih kita bisa nikmati (makan, minum dan kesenangan lain), sambil mengingat bahwa  kesempatan untuk menikmati kesenangan hidup adalah pemberian Allah.  Sama seperti sebuah pepatah dalam bahasa Inggris : Yesterday is history, tomorrow is a mystery. Today? Today is a gift. That’s why we call it the present.

  1. Selamat menjalani tahun yang baru.
  • Selamat menjalani kehidupan dari satu kutub ke kutub lain.
  • Selamat mengimani bahwa tangan Allah terus menyertai, walau tak selalu dapat kita pahami.
  • Selamat menikmati hari ini sebagai pemberian dari Allah

 

*Khotbah Tahun Baru 1 Januari 2015; berdasarkan Pengkhotbah 3:1-13

Tuhan Beserta Kita, Untuk Apa?

December 25th, 2014 § 1 comment § permalink

immanuel-god-with-us-large-bannerDalam drama kelahiran Yesus Kristus yang dipentaskan pada hampir setiap Natal, kita selalu melihat bahwa drama itu berakhir dengan bahagia. Maria, Yusuf dan bayi Yesus dikunjungi oleh para gembala dan orang-orang majus dalam suasana yang mengharukan dan membahagiakan. Sebuah adegan yang sulit dipertangungjawabkan data biblikalnya mengingat orang-orang majus sebenarnya datang bukan di malam kelahiran Yesus, tetapi dua tahun kemudian. Namun, apa yang terjadi sesudah malam yang mengharukan dan membahagiakan itu? Kita tidak pernah menyaksikan sebuah drama yang mementaskan hal itu.

Kita sering kali berpikir bahwa setelah malam kelahiran Yesus Kristus, semuanya telah selesai. Semuanya hidup bahagia dan sejahtera. Demikian pula dengan Yesus, Maria, dan Yusuf. Kehadiran Yesus telah menyebabkan hidup keluarga ini berbahagia. Jika kita berpikir demikian, kita salah duga. Salah duga yang fatal.

Setelah kunjungan orang-orang majus yang kira-kira terjadi setelah Yesus berusia dua tahun, keluarga Yesus harus menyingkir ke Mesir. Mengapa? Karena Herodes hendak membinasakan Yesus. Bayangkan bagaimana perasaan Yusuf dan Maria. Mereka pernah tersia-sia tidak mendapatkan tempat untuk beristirahat dan melahirkan bayi mereka, dan kini mereka harus melarikan diri ke Mesir. Tinggal dan menjadi pendatang di negara orang lain. Apakah hal ini menyenangkan? Tentu saja tidak enak harus hidup sebagai pengungsi.

Beberapa waktu kemudian, setelah Herodes mati, mereka harus kembali ke Israel. Tentunya ini bukan suatu perjalanan hidup yang mudah yang harus dijalani oleh Yesus di usianya yang masih belia. Apa yang dapat kita pelajari dari kisah ini untuk kehidupan kita di masa kini?

 

Tidak Bebas dari Pergumulan dan Kesulitan

Pertama, hidup bersama Yesus tidak berarti bebas dari kesulitan dan pergumulan. Inilah realitas yang dijalani oleh Maria dan Yusuf, bukan? Kehadiran Yesus di tengah mereka tidak menyebabkan hidup mereka lancar dan tenang. Sebaliknya, karena kesediaan Maria dan Yusuf untuk melangkah dalam rencana Allah, hidup mereka menjadi tidak nyaman. Mereka terpaksa harus hidup berpindah-pindah. Mengapa? Justru karena Yesus ada dan hidup di tengah mereka.

Jika kita dapat berteman dengan siapa saja, maka siapa yang kita pilih untuk berteman? Orang yang menguntungkan kita, bukan? Orang yang bisa memberikan kepada kita proyek? Orang yang berjabatan tinggi. Untuk apa? Untuk membuat hidup kita lebih baik dan nyaman. Dan ini manusiawi sekali, bukan? Sama sekali tidak salah. Ini hanya menunjukkan betapa kita sangat ingin hidup kita menjadi mudah.

Akan tetapi, jika kita ingin mengenal Yesus dengan motif supaya hidup kita menjadi lebih mudah dan lebih enak, maka kita mempunyai masalah. Kita akan kecewa sebab berteman dengan Yesus Kristus dan mengenal-Nya tidak berarti hidup ini menjadi lebih mudah. Ketika kita hidup dan mengenal Yesus tidak berarti kita akan terlepas dari penyakit, kegagalan, dan bahkan kemalangan yang bisa terjadi tiba-tiba.

Jika Firman Tuhan [Yesus] yang menjadi manusia saja harus menghadapi banyak kesulitan dan pergumulan, mengapa kita berharap yang lebih mudah? Jika bayi Yesus sejak kecil harus berhadapan dengan bahaya dan ancaman, mengapa kita ingin lebih dari Yesus?

 

Mengalami Tuntunan Tuhan di Tengah Pergumulan dan Kesulitan

Kedua, hidup dan mengenal Yesus berarti mengalami tuntunan Tuhan di tengah kesulitan hidup. Hal inilah yang dialami oleh Yusuf dan Maria. Karena kehadiran Yesus, hidup mereka berada di dalam bahaya. Karena kehadiran Yesus, mereka harus berpindah-pindah dan kehilangan kenyamanan. Namun, di tengah pergumulan itu tetap ada kehadiran Tuhan yang menguatkan, bukan?

Dua kali dikisahkan tentang bagaimana malaikat Tuhan menjadi alat Tuhan untuk berbicara kepada Yusuf di dalam mimpinya. Di tengah kesulitan itu, ada firman Tuhan. Ada petunjuk dari Tuhan yang mengarahkan hidup mereka.

Inilah yang dapat kita harapkan sebagai orang yang mengenal Yesus Kristus. Ada tuntunan firman Tuhan atas hidup kita. Ada tuntunan firman Tuhan yang mengarahkan langkah kaki kita.

Orang sering kali berkata, “Coba seandainya Tuhan berbicara langsung kepada saya, saya pasti lebih gampang untuk menaati-Nya. Sayangnya, Tuhan tidak pernah bicara langsung, atau lewat mimpi, atau penglihatan kepada saya. Dan saya sudah berdoa meminta Tuhan berbicara kepada saya. Tapi kok Tuhan hanya diam?”

Jika Yesus Kristus adalah Firman yang menjadi daging, maka Alkitab adalah firman yang tertulis. Di dalam 2 Timotius 3:16 dinyatakan bahwa segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermafaat untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan, dan mendidik orang dalam kebenaran. Apa artinya ini? Bukankah firman Tuhan diberikan untuk menuntun kita di dalam kesulitan hidup ini? Melalui firman Tuhan, kita tahu apa yang harus kita lakukan, ke mana kita harus mengarahkan hidup ini. Bukankah ini yang terpenting dalam hidup kita?

Sekali kita memutuskan untuk mengikutsertakan Kristus di dalam hidup kita, maka kita tahu itu tidak berarti kemudahan hidup. Kita masih terus harus hidup dan bergumul seperti manusia lainnya. Perbedaannya hanyalah jika Kristus hidup di dalam diri kita, ada tuntunan firman Tuhan di tengah kesulitan dan kesesakan kita. Imanuel, Tuhan beserta kita. Beserta untuk apa? Beserta untuk menghadapi sakit penyakit, kesulitan, kedukaan, dan bahkan air mata kita.

 

Kubur-kubur Terbuka dan Mayat-mayat Berkeliaran

December 1st, 2014 § 0 comments § permalink

walking deadSaya yakin kita sangat familiar dengan kisah penderitaan, kematian dan kebangkitan Yesus Kristus.  Kita berulangkali membacanya di kitab suci, menyaksikan drama atau malah film tentang hal ini.  Sejauh yang saya tahu, ada satu bagian dari rangkaian kisah penderitaan, kematian dan kebangkitan Yesus Kristus yang jarang sekali dikhotbahkan atau dikisahkan dalam drama atau film.  Anda bisa menebak bagian mana yang saya maksudkan?

Sila memperhatikan Matius 27: 52-53!  Anda tidak mengingatnya?  Baiklah, inilah bunyinya :

  • 52 dan kuburan-kuburan terbuka dan banyak orang kudus yang telah meninggal bangkit.
  • 53 Dan sesudah kebangkitan Yesus, merekapun keluar dari kubur, lalu masuk ke kota kudus dan menampakkan diri kepada banyak orang.

Nah, pernahkah Anda mendengarkan khotbah yang secara spesifik membahas ayat-ayat di atas? Pernahkah Anda melihat drama sekolah minggu di mana dua ayat tadi diperagakan?  Jika pernah, apakah Anda ingat siapa yang kebagian peran sebagai mayat-mayat yang bangkit itu?  Saya yakin Anda juga tidak pernah menyaksikan film yang menggambarkan adegan mayat-mayat yang bangkit kembali itu, selain di film-film sejenis Walking Dead–saya pinjam gambarnya di tulisan ini–yang sudah berlangsung sampai season ke-5 (?)

Menurut para ahli Alkitab, Matius 27:52-53 adalah salah satu bagian yang paling sulit ditafsirkan dalam Perjanjian Baru.   Ada begitu banyak perbedaan pendapat dan perdebatan yang berlangsung hingga kini.   Malah, bagi sebagian orang, corak penafsiran terhadap Matius 27:52-53 akan menjadi semacam penentu apakah pemahaman seseorang terhadap Alkitab masih konservatif atau cenderung progressif?

Ketika saya mempelajari bagian ini untuk kelas pemahaman Alkitab di GKI Ngagel, saya menemukan ada beberapa tafsiran yang malah melewatkan bagian ini begitu saja alias tidak membahasnya.  Ada buku-buku yang membahas bagian ini dalam 2-3 kalimat ringkas yang tak terlalu jelas apa artinya.  Syukurlah ada beberapa tafsiran lain yang membahas bagian ini dengan lebih spesifik.  Salah satu pokok diskusi dan perdebatan menyangkut bagian ini adalah : apakah kisah kubur terbuka dan orang kudus yang dibangkitkan ini adalah catatan historis?  Jika ya, mengapa hanya penulis Injil Matius yang menuliskannya padahal ini juga merupakan dampak penting dari kebangkitan Yesus Kristus?

Nah, saya menemukan setidaknya ada empat corak penafsiran untuk memahami bagian yang sulit ini.

  • Pertama, para ahli yang melihat peristiwa ini sebagai sebuah legenda lisan, dipercakapkan dari mulut ke mulut, dan dicatat oleh penulis Injil Matius untuk menggambarkan betapa dahsyatnya kuasa kematian dan tentu saja kebangkitan Yesus Kristus. Menurut pendapat ini, penulis Injil Matius bukan saja menuliskan fakta sejarah seputar kehidupan Yesus Kristus, namun juga bagaimana keberadaan Yesus Kristus itu dipercakapkan pada zamannya.  Bukankah selalu ada banyak percakapan dan kisah di seputar orang yang terkenal?  Demikianlah kisah tentang kubur kosong dan mayat yang bangkit lahir dari percakapan orang-orang, tepatnya para pengikut Yesus Kristus untuk mengungkapkan betapa hebatnya kuasa kebangkitan Yesus Kristus itu.

 

  • Kedua, para ahli yang melihat catatan munculnya orang-orang yang dibangkitkan ini sebagai penggambaran puitis dan apokaliptis yang menegaskan dampak meninggalnya Yesus Kristus dan penghakiman yang akan terjadi atas orang yang hidup dan mati di akhir zaman. Menurut pendapat ini, Yesus Kristus datang untuk menggenapi nubuatan tentang diri-Nya, termasuk dalam kematian dan kebangkitan-Nya. Nah, penulis Injil Matius kemudian menyisipkan penggambaran puitis dan apokaliptis ini di tengah rangkaian fakta historis kematian dan kebangkitan Yesus Kristus.

 

  • Ketiga, para ahli yang melihat catatan munculnya orang-orang yang dibangkitkan ini sebagai peristiwa yang secara historis terjadi di Yerusalem. Menurut pandangan ini, peristiwa kubur terbuka dan orang mati dibangkitkan benar-benar terjadi di Yerusalem.  Nah, tentu kita bisa membayangkan kehebohan kota Yerusalem ketika orang-orang Kudus yang sudah meninggal itu bangkit dan muncul kembali.  Namun sayangnya tidak tercatat peristiwa yang menghebohkan ini baik di catatan sejarah yang bersifat umum, ataupun dalam catatan Injil dan surat-surat dalam Perjanjian Baru.  Demikian juga tidak ada catatan lebih lanjut tentang nasib orang-orang Kudus yang telah dibangkitkan ini dalam Injil Matius dan bagian Alkitab yang lain.

 

  • Keempat, para ahli yang melihat peristiwa ini sebagai catatan historis atas realitas rohani atau spiritual, yakni orang-orang yang dibangkitkan itu menampakkan diri di Kota Kudus yang kekal, yakni Yerusalem Baru. Para penafsir ini mendasarkan argumentasinya salah satunya berdasarkan kata yang diterjemahkan sebagai kota kudus.  Menurut mereka kota kudus ini bukanlah Yerusalem pada waktu itu, tetapi merujuk pada Kota Kudus yang kekal.  Mereka menyakini penulis Injil Matius dapat saja menuliskan Yerusalem jika yang dimaksudkannya adalah kota Yerusalem pada waktu itu.  Realitanya penulis Injil Matius memilih kata Kota Kudus.

 

Nah, inilah hasil survei sederhana terhadap beberapa tafsiran yang membahas salah satu bagian sulit dalam Perjanjian Baru ini. Mana yang Anda setujui?  Tidak ada?  Silakan membuat tafsiran Anda sendiri dan jangan lupa memberikan informasi ke saya sebagai bahan update tulisan ini.

 

Tak Sia-sia

November 19th, 2014 § 0 comments § permalink

rendaIni bukanlah hari yang menyenangkan bagi saya.  Dalam perjalanan kunjungan ke rumah sakit, setelah menjemput Clay dari sekolahnya, saya merasa ada yang tidak beres dengan sistem rem mobil.  Dua kali saya nyaris menabrak mobil di depan, karena rem yang ternyata tak bekerja maksimal.  Satu kali nyaris ditabrak dari belakang karena terlalu mendadak berhenti, juga diakibatkan oleh fungsi rem mobil yang tak terduga.  Kadang terlalu pakem, kadang malah sangat kurang pakem. Inkonsistensi yang membingungkan dan juga membahayakan.  Syukurlah kondisi rem seperti ini tak terjadi ketika saya sedang melaju di jalan tol, apalagi saat saya memacu kendaraan di bahu jalan mendahului truk-truk yang berjalan lambat memenuhi lajur yang ada; juga tak terjadi ketika saya tengah turun naik menuju ke tempat retret di pegunungan Tretes atau Trawas.

Untunglah tempat service resmi mobil itu nyaris bersebelahan dengan rumah sakit tujuan saya.  Untunglah juga saya mengenal pimpinan di tempat service resmi itu.  Untunglah pula antrian service mobil sepi siang itu.  Ah, tiga kali untung bukanlah kebetulan bukan?  Saya pun mendaftarkan mobil itu untuk menjalani pemeriksaan dengan hati yang tulus iklas karena biayanya ditanggung penuh gereja; namanya juga mobil inventaris gereja.  Saya pun berjalan kaki menuju ke rumah sakit dengan membawa serta Clay.

Setelah melakukan kunjungan dan menikmati makan siang di rumah sakit, maka saya pun menunggu taksi di depan rumah sakit baru itu.  Nah, kali ini saya kurang beruntung.  Hampir 25 menit tak satupun taksi lewat di depan kami.  Semua taksi yang lewat sudah terisi sopir dan penumpang.  Saya pindah ke lajur jalan satunya lagi, dan …  selama 15 menit nasib kami tak berubah.  Kepanasan, berkeringat dan bertanya-tanya,”Salah saya apa coba? Masak menunggu taksi lebih dari 40 menit dan tak ada satupun yang sudi mengangkut kami. Coba, apa salah saya? Katakan!”  (maaf, agak lebay,emosi naik seiring harga bbm)  Sampai kemudian, Clay memberikan usul,” Papa telpon saja taksinya!” Usul yang cerdas!  Anak yang cerdas! Papanya pasti juga lebih cerdas!   Ajaib, kurang dari 5 menit setelah telpon, ada tiga taksi yang mendekat. Nah, bingung khan mesti naik yang mana?

Setelah membawa pulang Clay yang nyaris tertidur di taksi, saya segera melanjutkan perjalanan ke sebuah toko buku untuk mengambil contoh hasil cetakan kedua buku best seller saya (promosi mode on)  Ah, sayangnya hasil cetaknya buruk, dan petugasnya pun berkata,”  Nanti, kami coba lagi ya pak. Jumat atau Sabtu nanti silakan ambil.”  Lha, tahu kalau hasilnya buruk mengapa tidak memberi tahu saya via sms atau telepon?  “Saya sudah mencoba menghubungi nomor hape bapak, tapi tidak ada jawaban,” kilah petugasnya.  Padahal tentu saja nomor hape saya on terus walau dalam silent mode seperti biasa.

Untuk kedua kali saya menunggu taksi.  Kali ini di sebuah jalan yang dalam semenit bisa ada lebih dari 5 taksi yang lewat.  Namun, takdir berkata lain.  Dalam 15 menit tak ada satupun taksi yang belum berpenumpang.  Semua sudah berpenumpang dan tentu saja ada sopirnya.  Hingga sebuah taksi dengan jendela terbuka lewat seperti adegan slow motion dalam sebuah film.  Tak jelas itu taksi apa, namun yang jelas mobilnya sudah tua.  Saya pun masuk dan duduk.  “Tutup jendelanya,” perintah sopir taksi itu. Ya Tuhan, ternyata masih ada juga taksi dengan model jendela engkol alias bukan otomatis.   Saya pun menutup jendela, sementara sopir taksi membiarkan jendelanya tetap terbuka.  Saya pun menunduk dan berdoa,” Ya, Tuhan jangan ampuni dia karena dia tahu apa yang dia perbuat.

Saya pun menyebutkan alamat rumah, dan …. terdengarlah jawaban,” Saya tidak tahu pak.  Tolong saya diberitahu lewat mana. Saya masih baru.”  OMG! Saya jelas tidak beruntung.  Taksi butut, AM alias angin mbrobos dan bukan AC, plus sopir yang tak tahu membedakan tangan kanan dan tangan kiri.

Entah mengapa, saya pun membuka percakapan lebih lanjut dengan sopir taksi itu,” Darimana asalnya pak?”  Sebuah pertanyaan pendek yang berbuntut jawaban yang panjang.  Benar-benar kisah yang panjang yang berselang-seling dengan perintah belok kanan atau kiri dari saya.  Ringkasnya, sopir yang tak muda itu sedang melarikan diri dari kotanya karena sebuah masalah.  Ia baru enam hari tiba di Surabaya.  Dibantu seorang temannya, ia mencari nafkah sebuah taksi yang tua yang tak jelas apa merknya.  Tidur di dalam mobil taksi untuk menghemat biaya, mengelilingi Surabaya dengan taksi tua, mengalami kerugian dua ratus ribu pada dua hari pertama, dan baru sadar mengapa orang enggan menumpang taksinya.

Saya pun memberikan beberapa opsi menanggapi masalah yang harus dihadapi soal taksi itu di kota asalnya.  Saya tak tahu mengapa, hanya merasa harus terus berbicara.  Di akhir percakapan itu, sopir taksi itu menoleh menatap saya, ketika lampu merah menyala.  Seperti orang yang berjalan dalam kegelapan dan tiba-tiba berjumpa dengan cahaya obor begitulah sorotnya matanya.  “Terima kasih pak, terima kasih.  Saya beruntung hari ini. Ini jawaban yang saya cari.  Saya akan segera pulang ke kota asal saya,” tuturnya.  Saya pun turun dari taksinya, mengeluarkan sejumlah uang sedikit lebih banyak dari argo yang tertera.

Ah, hari ini memang mungkin buruk bagi saya, tapi ini hari keberuntungan sopir taksi itu.

Tak ada masalah,kesusahan apalagi penderitaan yang sia-sia ditangan-Nya.  IA sanggup menggunakan masalah, kesusahan, apalagi penderitaan kita sebagai sarana pemeliharaan-Nya bagi orang lain.

 

wepe *

*yang mesti seminggu menunggu mobil di bengkel; menerima pinjaman mobil apalagi persembahan mobil :)

 

Lewat Tawa dan Air Mata

October 28th, 2014 § 0 comments § permalink

tawa dan air mataSabtu lalu, ketika dalam perjalanan KA Ekonomi Surabaya-Malang, saya teringat belasan tahun yang lalu ketika memutuskan untuk mendaftar ke SAAT-Malang. Gereja asal saya pada waktu itu tak memberikan dukungan, bahkan surat keterangan keanggotaan gereja pun tak saya dapatkan. Ketika saya menghadap seorang pimpinan gereja waktu itu, beliau menegaskan kalau saya masuk ke SAAT Malang itu berarti saya harus mencari gereja yang lain. Saya merasa terusir secara halus. Saya meninggalkan ruangan pertemuan itu dengan air mata yang menggenang. Tak mengerti mengapa ada begitu banyak masalah ketika menyerahkan diri menjadi hamba Tuhan penuh waktu. Ketika saya menjadi mahasiswa SAAT Malang, mengembaralah saya ke gereja-gereja di kota Malang untuk beribadah, salah satunya yang kemudian bernama GBI Diaspora Sejahtera. Gereja yang saya layani hari MInggu kemarin.

Pada tahun pertama studi di SAAT, keluarga saya kemudian memutuskan untuk bergereja di Gki Beringin Semarang, karena tak merasa nyaman lagi di gereja yang lama. Pada titik inilah, saya gamang. Apakah saya akan mengikuti keluarga menjadi anggota GKI Beringin atau menjadi anggota gereja yang lain? Saya tak ingat pasti mengapa saya memutuskan untuk turut beserta keluarga menjadi anggota GKI Beringin Semarang. Apakah keputusan ini tepat? Biarlah waktu yang membuktikannya. Mungkin, bila waktu itu saya memutuskan untuk menjadi anggota gereja lain, maka tak mungkinlah saya kini melayani di GKI Ngagel.

Ya, Tuhan bisa memimpin hidup kita lewat duka ataupun suka. Tuhan bisa memimpin hidup kita melalui air mata atau tawa.

Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome.