Kunci Perubahan

January 26th, 2015 § 0 comments § permalink

kunci-perubahan3Setiap kali saya pulang dari gereja menuju pastori, saya harus melewati perempatan itu.  Setiap kali pula, entah untuk keberapa ratus kalinya, saya selalu mengambil jalur paling kiri dan kemudian berjalan lurus.  Padahal jelas-jelas tertera, jalur paling kiri diperuntukkan bagi kendaraan yang akan berbelok ke kiri. Mengapa saya melanggar peraturan lalu lintas?  Sederhana saja alasannya : jalur yang tengah penuh dengan antrian mobil.  Jika saya mengambil jalur yang tengah, maka saya harus menunggu beberapa belas mobil di depan melaju lebih dulu.  Dengan mengambil jalur kiri, saya mengurangi antrian jalur tengah dan tidak mengganggu siapapun karena jalur kiri toh juga bergerak mengikuti lampu pengatur lalu lintas.

“Kak, kita seharusnya ambil jalur tengah, mengapa kakak ambil jalur kiri. Ini khan melanggar peraturan lalu lintas,” protes seorang remaja anggota gereja kami.   Tak terbilang berapa kali anggota jemaat, teman dan bahkan istri mengingatkan saya tentang pelanggaran lalu lintas ini.  Saya hanya berdiam diri atau malah tertawa.  Tak menjawab, tetapi juga tak berubah.  Tahu hal itu salah, tetapi terus saja melakukannya.  Mengapa?  Saya sudah terlanjur nyaman dengan hal itu.  Bagaimana kalau harus berurusan dengan polisi?  Tilang?  Ah, saya tidak takut.

***

Suatu siang saya bergegas pulang menuju pastori.  Seperti biasanya, mobil melaju melalui perempatan jalan itu.  Saya tentu saja mengambil jalur paling kiri, seperti biasa, untuk kemudian melaju lurus ke depan.  Setelah melewati perempatan itu, dari kaca spion saya melihat sebuah mobil polisi bergerak cepat dari jalur tengah.  Saya memperlambat dan menggerakkan mobil ke kiri untuk memberikan kesempatan bagi mobil polisi itu melaju.  Eh … ternyata mobil itu berhenti tepat di depan saya.  Seorang polisi segera turun dan menghampiri saya.

“Tahu apa kesalahan bapak?”  tanya polisi itu setelah memberikan sapaannya.

“Saya tidak tahu, Pak,” jawab saya.  Tentu saja sebenarnya saya tahu apa kesalahan saya.

“Jalur paling kiri seharusnya digunakan untuk belok kiri, Pak, dan bukan lurus.  Tolong  perlihatkan SIM dan STNK,”  ujar polisi itu tegas.

Saya pun mengulurkan SIM kepada petugas itu.  Sejenak ia membacanya.  Kemudian saya juga mengulurkan STNK.  Ua mengamati STNK itu.

“Oh, jadi, ini mobil milik Gereja Kristen Indonesia yang di ujung jalan itu,” tanya polisi itu sambil menunjuk ke arah gereja.

“Betul, Pak” jawab saya ringkas

“Bapak pastor atau pendeta gereja itu?,” selidiknya

“Ya, Pak.  Saya pendeta di GKI Ngagel,” jawab saya.

Ia pun melipat kembali STNK, menyatukannya dengan SIM, dan mengulurkannya ke saya.  Saya menerimanya dengan penuh rasa heran.

“Bapak silakan melanjutkan perjalanan.  Oh ya,Bapak khan pendeta, tokoh masyarakat, mohon bantuannya ya, Pak, jadi contoh yang baik dalam berlalu lintas,” tegas polisi itu.

Deg. Betapa malunya saya.  Perkataan polisi itu terdengar seperti Tuhan Yesus yang berkata,”  Pergilah dan jangan berbuat dosa lagi.” Ia telah mengingatkan saya tentang jati diri dan perilaku yang seharusnya terjadi.  Saya bersalah dan layak mendapatkan hukuman, tapi polisi justru memberikan ampun.  Ada semacam rasa tak pantas menerima ampun itu.  Ada harapan untuk perilaku yang lebih baik melalui pengampunan itu.

Esok hari, ketika saya melewati perempatan itu, dengan sukarela dan sukacita saya mengantri di jalur tengah.  Begitu pula hari-hari selanjutnya.

***

Tidak ada kekuatan yang lebih besar untuk mengubah perilaku dan juga hidup seseorang selain pengampunan.  Hukuman bisa memaksa orang untuk taat, tetapi ketaatan yang lahir dari keterpaksaan, apa artinya?

Hanya pengampunan yang mampu mengubah hati seseorang sehingga lahir ketaatan yang tulus.  Pengampunan sesungguhnya adalah pemberian harapan.  Harapan yang kita butuhkan di tengah jatuh bangun perjuangan untuk menjadi sosok yang lebih baik.  Pengampunan adalah kunci perubahan.

 

 

*catatan akhir : beberapa waktu yang lalu ada peraturan baru yang berlaku : jalur paling kiri dapat digunakan bukan saja untuk kendaraan yang akan belok ke kiri, tetapi juga kendaraan yang ingin berjalan lurus ke depan.

Tiga Kuliah Kepemimpinan Bu Risma di Tragedi AirAsia QZ 8501

January 2nd, 2015 § 3 comments § permalink

Rabu, 31 Desember 2014, saya bergegas menuju Bandara Internasional Juanda untuk menemui keluarga-keluarga korban AirAsia QZ 8501.  Saya mengenal sebagian korban dan keluarga. Kurang lebih pukul 9.30 saya sudah berdiri di depan crisis center dan mengarahkan pandangan untuk mencari wajah-wajah yang saya kenal.  Ah, saya melihat beberapa wajah yang saya kenal.  Saya pun menyapa, berbicara dan berdoa bersama keluarga korban.

Di tengah kesibukan mengenali dan berbicara dengan keluarga korban, saya memperhatikan hiruk pikuk pekerja media, baik dari dalam maupun luar negeri.  Tiba-tiba, mereka bergerak menuju ke arah saya.  Ternyata di belakang saya ada sosok yang terkenal di Surabaya.  Namanya Tri Rismaharini atau lebih dikenal dengan sebutannya : Bu Risma, walikota Surabaya yang tersohor itu.  Segera saya arahkan kamera kepada beliau yang tengah menjelaskan penanganan warga Surabaya yang menjadi korban AirAsia.  Perhatian saya tertuju pada sepatu yang Bu Risma kenakan.  Sila Anda melihatnya sendiri!

sepatuNah, Anda sudah memperhatikan sepatu Bu Risma bukan?  Apakah menurut Anda sepatu itu sesuai dengan busana yang dikenakan beliau?  Apalagi beliau adalah seorang walikota.  Namun, ya begitulah Bu Risma.  Bagi beliau yang terpenting adalah sepatu sports itu menunjang mobilitasnya untuk melayani korban.   Dari pagi hari hingga sore hari, saya menjadi saksi mata betapa Bu Risma terus berjalan ke luar masuk ruangan crisis center, memberikan keterangan pada media dan menemui banyak pihak.  Inilah kuliah kepemimpinan Bu Risma yang pertama : pemimpin lebih mengedepankan peran daripada penampilan.  Apa gunanya punya pejabat alias pemimpin publik yang terlalu memperhatikan penampilan sehingga mengorbankan mobilitasnya untuk melayani? Btw, sepatunya bagus lho bu.

***

Sebagai seorang yang seringkali harus berdiri dan memimpin ibadah kedukaan, saya mengerti betapa sulitnya memilih kata-kata yang pas bagi keluarga yang berduka.  Tentu saja mudah hanya untuk berbicara kata-kata penghiburan yang bersifat umum, namun yang seperti ini tentu saja tak akan menyentuh hati.  Pergumulannya adalah bagaimana menempatkan diri dalam posisi keluarga korban, sekaligus sebagai rekan yang memberi kekuatan.  Ini tidak mudah.

Saya mencoba mengingat apa yang disampaikan Bu Risma kepada keluarga korban di Crisis Center.  Dengan logat khas Surabaya, kurang lebih beliau berkata,”  Hari ini giliran keluarga bapak dan ibu.  Besok bisa jadi giliran saya.  Kita tidak pernah tahu.  Hidup ini milik Allah.”   Ah, saya tertegun mendengar perkataan ini.  Bu Risma menguatkan keluarga korban dengan kalimat-kalimat yang langsung nyambung di hati.   Menaruh empati, sekaligus menguatkan hati.  Inilah kuliah kepemimpinan Bu Risma yang kedua : pemimpin itu lebih mengedepankan komunikasi yang nyambung di hati daripada basa-basi.

***

Siang hari itu, saya beristirahat dari kegiatan pendampingan keluarga korban, sambil berdiri dan menikmati kopi yang tersedia di salah satu sudut, saya mendengar seorang perempuan berkata,”  Aku bukannya ga mau bantu lho mas. Aku gak pegang datane warga luar Surabaya.  Aku wis kontak walikota karo bupatine njaluk data wargane.”  Bu Risma ternyata sedang berbicara kepada media tentang penanganan korban yang berasal dari luar Surabaya.  Beberapa saat sebelumnya, saya melihat dan mendengar sendiri beliau menelpon seorang kepala daerah dan meminta data korban yang berasal dari daerahnya.  Cepat dan lugas. Coba bayangkan seandainya dalam situasi krisis masih harus menempuh jalan birokrasi yang penuh liku itu.  Inilah kuliah kepemimpinan Bu Risma yang ketiga : dalam situasi krisis, pemimpin lebih mengedepankan komunikasi informal daripada birokrasi.

***

romoSaya, Pendeta Setyahadi dan Romo Didik dari Keuskupan Surabaya sedang berdiri bersama di dekat Crisis Center.  Kira-kira pukul 14.00,  Bu Risma lewat dan memperhatikan kami dan langsung meminta,”  Tolong dilanjutkan ya pendampingan rohaniwan untuk keluarga korban. Bapak-bapak sudah makan atau belum?”  Sebuah pertanyaan sederhana yang mengkomunikasian kepedulian.  Sebuah pertanyaan yang hanya kami balas sambil berpandangan dan tersenyum.  Malu untuk mengatakan kami belum makan siang, karena kami duga Bu Risma juga belum sempat makan.

Terima kasih Bu Risma untuk kuliah kepemimpinan di akhir tahun 2014.  Semoga kelak Tuhan membawa ibu memimpin negeri ini.

 

 

Waktu untuk Segala Sesuatu *

January 1st, 2015 § 0 comments § permalink

jam pelbagaiRabu, 31 Desember 2014, dari pagi hingga sore hari saya ada di bandara Juanda Surabaya. Saya hadir sebagai bagian dari relawan kemanusiaan di tengah keluarga yang berduka karena orang-orang yang mereka kasihi belum jelas nasibnya terkait dengan penerbangan Air Asia QZ 8501.  Saya berbincang dengan keluarga-keluarga yang tengah berduka, relawan kemanusiaan lain dan media (lokal maupun internasional) tentang peristiwa yang memprihatinkan ini.

  1. Ada satu kesimpulan umum dari semua percakapan itu : rancangan manusia untuk mengalami sukacita bisa berubah menjadi kepergian untuk selama-lamanya. Manusia bisa saja merencanakan dengan begitu seksama, namun kehidupan senantiasa menghadirkan kejutan-kejutan tertentu.
  1. Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal (Pkh 3:2) demikianlah pengkhotbah membuka rangkaian penjelasan pengalaman kehidupan manusia. Ada 14 set (alias 7 x2) kontras kehidupan manusia (lahir vs mati, menanam vs mencabut, membunuh vs menyembuhkan dll) sebagai gambaran yang paripurna tentang apa yang dapat terjadi dalam kehidupan ini.
  1. Berita pengkhotbah sangat gamblang : kehidupan bergerak dari satu kutub peristiwa yang menyenangkan ke peristiwa yang menyedihkan; demikian pula sebaliknya.

Konsekuensinya : jika Anda saat ini sedang berada dalam saat-saat yang menyedihkan, bersabarlah karena sukacita akan segera mewarnai kehidupan Anda.  Tak ada airmata yang abadi.

Demikian juga, ketika saat ini kita bisa tertawa bersama, ingatlah bahwa saat untuk menangis barangkali sudah menanti di depan mata.  Tak ada suatu pengalaman kehidupan, baik atau buruk, yang bertahan selamanya.  Bersiaplah!

  1. Di dalam perjalanan kehidupan dari satu kutub ke kutub lain, ada sesuatu yang tak nampak di mata manusia, yakni : pekerjaan tangan Tuhan di dalam kehidupan ini. Tentang ini pengkhotbah berkata: Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir (Pkh 3:11).
  1. Penegasan pengkhotbah ini mempunyai dua sisi : pertama, ada jaminan bahwa tangan Tuhan bekerja di tengah perjalanan hidup manusia dari satu kutub ke kutub lain. Itu sebabnya ditegaskan : Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya.  Sebuah hal yang menggembirakan hati kita.  Kita tak pernah sendiri, Allah senantiasa menyertai.

Namun, sisi yang sebaliknya juga nyata : tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.  Konsekuensinya jelas : kita tak selalu bisa memahami apa Allah kerjakan di dalam dunia ini.  Ada tangan Tuhan yang bekerja, namun tak selalu dapat kita pahami apa yang sedang dilakukan-Nya.

Konsekuensinya : kita tak selalu punya jawaban untuk pertanyaan seperti:  “Tuhan, mengapa Engkau mengijinkan hal ini terjadi!” Di dalam ketidaktahuan lebih baik berdiam diri.

  1. Nah, ada dua hal yang sudah kita pelajari dari kitab pengkhotbah : pertama, hidup manusia bergerak dari satu kutub ke kutub lain; kedua, ada tangan Tuhan yang bekerja, namun tak kita pahami pekerjaan-Nya. Maka  bagaimana seharusnya kita menjalani kehidupan ini?
  1. Nasihat Pengkotbah terdapat dalam ayat 12-13 “Aku tahu bahwa untuk mereka tak ada yang lebih baik dari pada bersuka-suka dan menikmati kesenangan dalam hidup mereka. Dan bahwa setiap orang dapat makan, minum dan menikmati kesenangan dalam segala jerih payahnya, itu juga adalah pemberian Allah.”

Pengkhotbah mengajak kita untuk menikmati apa yang masih kita bisa nikmati (makan, minum dan kesenangan lain), sambil mengingat bahwa  kesempatan untuk menikmati kesenangan hidup adalah pemberian Allah.  Sama seperti sebuah pepatah dalam bahasa Inggris : Yesterday is history, tomorrow is a mystery. Today? Today is a gift. That’s why we call it the present.

  1. Selamat menjalani tahun yang baru.
  • Selamat menjalani kehidupan dari satu kutub ke kutub lain.
  • Selamat mengimani bahwa tangan Allah terus menyertai, walau tak selalu dapat kita pahami.
  • Selamat menikmati hari ini sebagai pemberian dari Allah

 

*Khotbah Tahun Baru 1 Januari 2015; berdasarkan Pengkhotbah 3:1-13

Tuhan Beserta Kita, Untuk Apa?

December 25th, 2014 § 1 comment § permalink

immanuel-god-with-us-large-bannerDalam drama kelahiran Yesus Kristus yang dipentaskan pada hampir setiap Natal, kita selalu melihat bahwa drama itu berakhir dengan bahagia. Maria, Yusuf dan bayi Yesus dikunjungi oleh para gembala dan orang-orang majus dalam suasana yang mengharukan dan membahagiakan. Sebuah adegan yang sulit dipertangungjawabkan data biblikalnya mengingat orang-orang majus sebenarnya datang bukan di malam kelahiran Yesus, tetapi dua tahun kemudian. Namun, apa yang terjadi sesudah malam yang mengharukan dan membahagiakan itu? Kita tidak pernah menyaksikan sebuah drama yang mementaskan hal itu.

Kita sering kali berpikir bahwa setelah malam kelahiran Yesus Kristus, semuanya telah selesai. Semuanya hidup bahagia dan sejahtera. Demikian pula dengan Yesus, Maria, dan Yusuf. Kehadiran Yesus telah menyebabkan hidup keluarga ini berbahagia. Jika kita berpikir demikian, kita salah duga. Salah duga yang fatal.

Setelah kunjungan orang-orang majus yang kira-kira terjadi setelah Yesus berusia dua tahun, keluarga Yesus harus menyingkir ke Mesir. Mengapa? Karena Herodes hendak membinasakan Yesus. Bayangkan bagaimana perasaan Yusuf dan Maria. Mereka pernah tersia-sia tidak mendapatkan tempat untuk beristirahat dan melahirkan bayi mereka, dan kini mereka harus melarikan diri ke Mesir. Tinggal dan menjadi pendatang di negara orang lain. Apakah hal ini menyenangkan? Tentu saja tidak enak harus hidup sebagai pengungsi.

Beberapa waktu kemudian, setelah Herodes mati, mereka harus kembali ke Israel. Tentunya ini bukan suatu perjalanan hidup yang mudah yang harus dijalani oleh Yesus di usianya yang masih belia. Apa yang dapat kita pelajari dari kisah ini untuk kehidupan kita di masa kini?

 

Tidak Bebas dari Pergumulan dan Kesulitan

Pertama, hidup bersama Yesus tidak berarti bebas dari kesulitan dan pergumulan. Inilah realitas yang dijalani oleh Maria dan Yusuf, bukan? Kehadiran Yesus di tengah mereka tidak menyebabkan hidup mereka lancar dan tenang. Sebaliknya, karena kesediaan Maria dan Yusuf untuk melangkah dalam rencana Allah, hidup mereka menjadi tidak nyaman. Mereka terpaksa harus hidup berpindah-pindah. Mengapa? Justru karena Yesus ada dan hidup di tengah mereka.

Jika kita dapat berteman dengan siapa saja, maka siapa yang kita pilih untuk berteman? Orang yang menguntungkan kita, bukan? Orang yang bisa memberikan kepada kita proyek? Orang yang berjabatan tinggi. Untuk apa? Untuk membuat hidup kita lebih baik dan nyaman. Dan ini manusiawi sekali, bukan? Sama sekali tidak salah. Ini hanya menunjukkan betapa kita sangat ingin hidup kita menjadi mudah.

Akan tetapi, jika kita ingin mengenal Yesus dengan motif supaya hidup kita menjadi lebih mudah dan lebih enak, maka kita mempunyai masalah. Kita akan kecewa sebab berteman dengan Yesus Kristus dan mengenal-Nya tidak berarti hidup ini menjadi lebih mudah. Ketika kita hidup dan mengenal Yesus tidak berarti kita akan terlepas dari penyakit, kegagalan, dan bahkan kemalangan yang bisa terjadi tiba-tiba.

Jika Firman Tuhan [Yesus] yang menjadi manusia saja harus menghadapi banyak kesulitan dan pergumulan, mengapa kita berharap yang lebih mudah? Jika bayi Yesus sejak kecil harus berhadapan dengan bahaya dan ancaman, mengapa kita ingin lebih dari Yesus?

 

Mengalami Tuntunan Tuhan di Tengah Pergumulan dan Kesulitan

Kedua, hidup dan mengenal Yesus berarti mengalami tuntunan Tuhan di tengah kesulitan hidup. Hal inilah yang dialami oleh Yusuf dan Maria. Karena kehadiran Yesus, hidup mereka berada di dalam bahaya. Karena kehadiran Yesus, mereka harus berpindah-pindah dan kehilangan kenyamanan. Namun, di tengah pergumulan itu tetap ada kehadiran Tuhan yang menguatkan, bukan?

Dua kali dikisahkan tentang bagaimana malaikat Tuhan menjadi alat Tuhan untuk berbicara kepada Yusuf di dalam mimpinya. Di tengah kesulitan itu, ada firman Tuhan. Ada petunjuk dari Tuhan yang mengarahkan hidup mereka.

Inilah yang dapat kita harapkan sebagai orang yang mengenal Yesus Kristus. Ada tuntunan firman Tuhan atas hidup kita. Ada tuntunan firman Tuhan yang mengarahkan langkah kaki kita.

Orang sering kali berkata, “Coba seandainya Tuhan berbicara langsung kepada saya, saya pasti lebih gampang untuk menaati-Nya. Sayangnya, Tuhan tidak pernah bicara langsung, atau lewat mimpi, atau penglihatan kepada saya. Dan saya sudah berdoa meminta Tuhan berbicara kepada saya. Tapi kok Tuhan hanya diam?”

Jika Yesus Kristus adalah Firman yang menjadi daging, maka Alkitab adalah firman yang tertulis. Di dalam 2 Timotius 3:16 dinyatakan bahwa segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermafaat untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan, dan mendidik orang dalam kebenaran. Apa artinya ini? Bukankah firman Tuhan diberikan untuk menuntun kita di dalam kesulitan hidup ini? Melalui firman Tuhan, kita tahu apa yang harus kita lakukan, ke mana kita harus mengarahkan hidup ini. Bukankah ini yang terpenting dalam hidup kita?

Sekali kita memutuskan untuk mengikutsertakan Kristus di dalam hidup kita, maka kita tahu itu tidak berarti kemudahan hidup. Kita masih terus harus hidup dan bergumul seperti manusia lainnya. Perbedaannya hanyalah jika Kristus hidup di dalam diri kita, ada tuntunan firman Tuhan di tengah kesulitan dan kesesakan kita. Imanuel, Tuhan beserta kita. Beserta untuk apa? Beserta untuk menghadapi sakit penyakit, kesulitan, kedukaan, dan bahkan air mata kita.

 

Kubur-kubur Terbuka dan Mayat-mayat Berkeliaran

December 1st, 2014 § 0 comments § permalink

walking deadSaya yakin kita sangat familiar dengan kisah penderitaan, kematian dan kebangkitan Yesus Kristus.  Kita berulangkali membacanya di kitab suci, menyaksikan drama atau malah film tentang hal ini.  Sejauh yang saya tahu, ada satu bagian dari rangkaian kisah penderitaan, kematian dan kebangkitan Yesus Kristus yang jarang sekali dikhotbahkan atau dikisahkan dalam drama atau film.  Anda bisa menebak bagian mana yang saya maksudkan?

Sila memperhatikan Matius 27: 52-53!  Anda tidak mengingatnya?  Baiklah, inilah bunyinya :

  • 52 dan kuburan-kuburan terbuka dan banyak orang kudus yang telah meninggal bangkit.
  • 53 Dan sesudah kebangkitan Yesus, merekapun keluar dari kubur, lalu masuk ke kota kudus dan menampakkan diri kepada banyak orang.

Nah, pernahkah Anda mendengarkan khotbah yang secara spesifik membahas ayat-ayat di atas? Pernahkah Anda melihat drama sekolah minggu di mana dua ayat tadi diperagakan?  Jika pernah, apakah Anda ingat siapa yang kebagian peran sebagai mayat-mayat yang bangkit itu?  Saya yakin Anda juga tidak pernah menyaksikan film yang menggambarkan adegan mayat-mayat yang bangkit kembali itu, selain di film-film sejenis Walking Dead–saya pinjam gambarnya di tulisan ini–yang sudah berlangsung sampai season ke-5 (?)

Menurut para ahli Alkitab, Matius 27:52-53 adalah salah satu bagian yang paling sulit ditafsirkan dalam Perjanjian Baru.   Ada begitu banyak perbedaan pendapat dan perdebatan yang berlangsung hingga kini.   Malah, bagi sebagian orang, corak penafsiran terhadap Matius 27:52-53 akan menjadi semacam penentu apakah pemahaman seseorang terhadap Alkitab masih konservatif atau cenderung progressif?

Ketika saya mempelajari bagian ini untuk kelas pemahaman Alkitab di GKI Ngagel, saya menemukan ada beberapa tafsiran yang malah melewatkan bagian ini begitu saja alias tidak membahasnya.  Ada buku-buku yang membahas bagian ini dalam 2-3 kalimat ringkas yang tak terlalu jelas apa artinya.  Syukurlah ada beberapa tafsiran lain yang membahas bagian ini dengan lebih spesifik.  Salah satu pokok diskusi dan perdebatan menyangkut bagian ini adalah : apakah kisah kubur terbuka dan orang kudus yang dibangkitkan ini adalah catatan historis?  Jika ya, mengapa hanya penulis Injil Matius yang menuliskannya padahal ini juga merupakan dampak penting dari kebangkitan Yesus Kristus?

Nah, saya menemukan setidaknya ada empat corak penafsiran untuk memahami bagian yang sulit ini.

  • Pertama, para ahli yang melihat peristiwa ini sebagai sebuah legenda lisan, dipercakapkan dari mulut ke mulut, dan dicatat oleh penulis Injil Matius untuk menggambarkan betapa dahsyatnya kuasa kematian dan tentu saja kebangkitan Yesus Kristus. Menurut pendapat ini, penulis Injil Matius bukan saja menuliskan fakta sejarah seputar kehidupan Yesus Kristus, namun juga bagaimana keberadaan Yesus Kristus itu dipercakapkan pada zamannya.  Bukankah selalu ada banyak percakapan dan kisah di seputar orang yang terkenal?  Demikianlah kisah tentang kubur kosong dan mayat yang bangkit lahir dari percakapan orang-orang, tepatnya para pengikut Yesus Kristus untuk mengungkapkan betapa hebatnya kuasa kebangkitan Yesus Kristus itu.

 

  • Kedua, para ahli yang melihat catatan munculnya orang-orang yang dibangkitkan ini sebagai penggambaran puitis dan apokaliptis yang menegaskan dampak meninggalnya Yesus Kristus dan penghakiman yang akan terjadi atas orang yang hidup dan mati di akhir zaman. Menurut pendapat ini, Yesus Kristus datang untuk menggenapi nubuatan tentang diri-Nya, termasuk dalam kematian dan kebangkitan-Nya. Nah, penulis Injil Matius kemudian menyisipkan penggambaran puitis dan apokaliptis ini di tengah rangkaian fakta historis kematian dan kebangkitan Yesus Kristus.

 

  • Ketiga, para ahli yang melihat catatan munculnya orang-orang yang dibangkitkan ini sebagai peristiwa yang secara historis terjadi di Yerusalem. Menurut pandangan ini, peristiwa kubur terbuka dan orang mati dibangkitkan benar-benar terjadi di Yerusalem.  Nah, tentu kita bisa membayangkan kehebohan kota Yerusalem ketika orang-orang Kudus yang sudah meninggal itu bangkit dan muncul kembali.  Namun sayangnya tidak tercatat peristiwa yang menghebohkan ini baik di catatan sejarah yang bersifat umum, ataupun dalam catatan Injil dan surat-surat dalam Perjanjian Baru.  Demikian juga tidak ada catatan lebih lanjut tentang nasib orang-orang Kudus yang telah dibangkitkan ini dalam Injil Matius dan bagian Alkitab yang lain.

 

  • Keempat, para ahli yang melihat peristiwa ini sebagai catatan historis atas realitas rohani atau spiritual, yakni orang-orang yang dibangkitkan itu menampakkan diri di Kota Kudus yang kekal, yakni Yerusalem Baru. Para penafsir ini mendasarkan argumentasinya salah satunya berdasarkan kata yang diterjemahkan sebagai kota kudus.  Menurut mereka kota kudus ini bukanlah Yerusalem pada waktu itu, tetapi merujuk pada Kota Kudus yang kekal.  Mereka menyakini penulis Injil Matius dapat saja menuliskan Yerusalem jika yang dimaksudkannya adalah kota Yerusalem pada waktu itu.  Realitanya penulis Injil Matius memilih kata Kota Kudus.

 

Nah, inilah hasil survei sederhana terhadap beberapa tafsiran yang membahas salah satu bagian sulit dalam Perjanjian Baru ini. Mana yang Anda setujui?  Tidak ada?  Silakan membuat tafsiran Anda sendiri dan jangan lupa memberikan informasi ke saya sebagai bahan update tulisan ini.

 

Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome.