Tuhan, Ampunilah Anak-Mu

September 15th, 2010 § 0 comments

Bukan hal yang mudah bagi saya untuk menjelaskan konsep pelayanan kepada Alden (3 th). Sejak kecil ia biasa mendengar bahwa kalau papanya pergi, itu berarti ada pelayanan di gereja. Akhirnya, saya memilih untuk berkata,” Papa harus pergi bekerja dulu!” Saya pikir hal ini menuntaskan rasa ingin tahu Alden. Ternyata tidak. Alden bertanya,” Kenapa papa harus bekerja?” Segera saya berjuang untuk menemukan jawaban yang menyangkut kepentingan Alden. “Papa harus bekerja supaya dapat uang. Uang untuk beli susu Alden.” Jawaban yang biasanya mengakhiri pertanyaan Alden mengapa saya harus sering pergi di malam hari.

Tapi, sore hari itu ada yang berbeda. Ketika Alden melihat saya berganti baju, Alden mengulang pertanyaan yang sama,” Kenapa papa kok pergi?” “Papa harus bekerja,” sahut saya sambil mengenakan kemeja. “Papa harus bekerja supaya dapat uang,” lanjut saya, masih sambil mengancingkan kemeja saya. Alden terdiam, kemudian tangannya sibuk membuka laci. Saya sedang menyisir rambut ketika mendengar Alden memanggil saya,” Papa …” Saya pun menoleh ke arah Alden. Sambil mengulurkan tangan dengan tiga koin ratusan di telapak tangannya, Alden pun melanjutkan kalimatnya,” Ini uang Alden untuk papa. Papa tidak usah bekerja. Papa di rumah saja, main sama Alden.” Deg, saya terpana menatap anak saya itu. Ia sudah tahu apa yang paling diinginkannya. Bukan susu kesukaannya, tetapi kehadiran papanya.

Seberapa besar kerinduan saya akan kehadiran Bapa Surgawi di tengah kesibukan hidupku? Mengapa seringkali saya merasa cukup menikmati pemberian tangan-Nya, tanpa mencari wajah-Nya?

Tuhan, ampunilah anak-Mu.


Leave a Reply

Your email address will not be published.

What's this?

You are currently reading Tuhan, Ampunilah Anak-Mu at Wahyu 'wepe' Pramudya's blog.

meta

Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome.