(Bukan) Bebi Lussyen

September 16th, 2010 § 0 comments

Memberi nama seorang anak adalah perkara yang gampang-gampang sulit. Gampang karena ada banyak pilihan. Sulit karena seringkali ada perbedaan pendapat antara papa-mama anak tersebut. Apalagi kalau pihak keluarga juga turut serta memberikan sumbangan nama. Hampir 4 tahun yang lalu, berbulan-bulan kami berpikir tentang nama anak kami yang pertama. Akhirnya, kami mantap memilih nama Benedict Alden. Pramudya ditambahkan sebagai nama keluarga, yang saya ingin mulai dari anak-anak saya sendiri. Benedict Alden, kombinasi nama yang menurut kami jarang ditemukan. Saya sudah googling dan jarang sekali menemukan nama seperti itu. Tidak lebih dari seminggu kami mendengar kabar yang mengejutkan. Ada anak yang mempunyai nama yang sama : Benedict Alden. Lahir beberapa hari setelah anak kami, dan tinggal hanya selisih beberapa gang dari pastori kami. Syukurlah, masih ada Pramudya nya yang memberi perbedaan.

Ketika Vanda hamil anak yang kedua, sampai beberapa bulan kami masih belum tahu apa jenis kelamin bayinya. Kami menyiapkan nama perempuan, karena dokter sempat mempunyai dugaan anak itu perempuan. Ternyata sekitar bulan ketujuh lebih, dokter memastikan anak kami laki-laki. Sejak saat itu percakapan tentang pencarian nama makin intensif terjadi antara saya dan Vanda. Perjanjian kami sejak pernikahan adalah kalau anak laki-laki maka Vanda yang akan memilihkan nama, dan saya tinggal menyetujuinya. Toh ternyata tinggal menyetujui itu juga tidak mudah. Ada beberapa nama yang Vanda usulkan yang saya belum bisa menerimanya. Akhirnya saya mengusulkan nama depan : CLAY. Mengapa Clay? Entah mengapa gambaran tentang sang penjunan dan tanah liatnya begitu menarik perhatian saya. Lima tahun yang lalu itulah tema penahbisan pendeta saya : Di Tangan Sang Penjunan. Lagu favorit saya? Tentu saja In The Potter’s Hand yang dinyanyikan Darlene Zchech dari Hillsong, yang entah beberapa kali dinyanyikan Efrata Choir di gereja kami. Mengapa Clay? Saya melihat perjalanan hidup saya sebagai sebuah proses di mana Tuhan membentuk tanah liat itu untuk menjadi bejana-Nya. Saya rindu Clay, anak kami, kelak bisa menjalani kehidupannya dengan hati yang lembut dan mudah dibentuk-Nya, seperti tanah liat di tangan sang penjunan.

Kalau Clay berasal dari bahasa Inggeris, maka AZAREL diambil dari bahasa Ibrani. Azarel mempunyai arti ditolong oleh Allah. Vanda memilih nama ini karena menyadari betapa sulitnya menjalani masa kehamilan anak kedua ini. Selama beberapa bulan, Vanda tidak bisa makan apapun. Apapun yang dimakannya, pasti akan muntah. Beberapa kali saya menemukan di malam hari, Vanda menangis karena merasa percuma saja makan kalau kemudian dimuntahkan lagi. Tiap kali Vanda bersedih, maka anak yang di kandungan seperti menendang-nendang, seolah-olah ingin memberikan penghiburannya. Toh, pertolongan Tuhan itu nyata. Akhirnya Vanda menemukan makanan yang bisa dimakannya tanpa dimuntahkan kembali. Makanan itu bukan rica-rica khas Manado, daerah asal Vanda, tetapi justru makan yang selama ini tidak disukainya : gudeg Yogya. Maka berburulah saya mencari gudeg Yogya di Surabaya. Berkat bantuan rekan-rekan yang menanggapi status saya di fb, saya menemukan gudeg yang kemudian disantap tiga kali sehari hari selama kurang lebih selama seminggu oleh Vanda. Vanda yang seumur-umur tidak menyukai gudeg menjadi penyuka gudeg. PRAMUDYA? Ya, Anda tentu tahu darimana nama ini.

Pertolongan Tuhan juga kami rasakan ketika proses kelahiran terjadi. Setelah menanti sampai batas waktu yang ditentukan oleh dokter, ternyata anak kami yang kedua ini belum juga lahir. Beberapa kali Vanda merasakan sakit seperti hendak waktunya melahirkan, tetapi toh anak ini belum lahir juga. Dokter mengusulkan agar dilakukan operasi Caesar seperti anak yang pertama dulu. Dokter menetapkan batas waktunya yakni 27 Juni. Kami menyetujui usulan ini. Bukan kebetulan kalau 27 Juni adalah hari pertunangan dan pernikahan saya dan Vanda. Pada Minggu pagi,27 Juni, di ulang tahun pernikahan kami yang kelima, pukul 06.33 keluarlah Clay Azarel Pramudya dengan berat 3,2 kg dan panjang 50 cm. Setelah operasi Vanda bercerita bahwa posisi Clay ternyata melintang di perutnya, itulah sebabnya ia tidak bisa keluar dengan cara yang normal. Ditambah lagi dengan panggul Vanda yang sempit alias tidak memungkinkan melahirkan secara normal. Syukur pada Tuhan bahwa keputusan untuk Caesar tersebut tepat.

Oh ya, lalu bagaimana dengan nama Bebi Lussyen itu? Nama itulah yang diusulkan oleh Alden kepada kami. Dulu, ketika kami sempat menduga anak kedua ini perempuan, Alden mengusulkan nama Bunga Citra Safari. Ya betul, bukan Bunga Citra Lestari, tetapi Bunga Citra Safari. “Bunga itu cantik. Citra itu yang kayak di TV (maksudnya iklan pelembab kulit Citra), dan Safari itu kayak Taman Safari,” begitu jelas Alden. Setelah kami jelaskan bahwa adiknya laki-laki, maka Alden pun mengusulkan nama lain. “Bebi Lussyen aja,” teriak Alden. Bebi Lussyen, tentu yang dimaksud Alden adalah pelafalannya untuk Baby Lotion. Entah darimana Alden pernah mendengarkan barang ini disebut namanya. Sampai sekarang, kalau Anda bertanya kepada Alden tentang nama adiknya, maka dengan mantap ia akan menjawab,”Bebi Lussyen.”

Rekan dan sahabat, terima kasih untuk perhatian, bantuan dan dukungan doa bagi kami. Pergumulan kami belum berhenti. Vanda masih harus menjalani pemulihan dari operasi, sementara kami belum mempunyai pembantu yang tinggal di rumah. Kami bersyukur untuk mbak Yati yang membantu kami dari pagi sampai dengan siang untuk membereskan rumah. Syukurlah dalam masa pemulihan Vanda ini, mama mertua tinggal bersama dengan kami sehingga Clay dapat ditangani dengan baik. Terus dukung kami dalam doa Anda. Terima kasih.

Wepe, Vanda, Alden dan Bebi Lussyen, eh Clay


Leave a Reply

Your email address will not be published.

What's this?

You are currently reading (Bukan) Bebi Lussyen at Wahyu 'wepe' Pramudya's blog.

meta

Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome.