Tiga Puluh Empat

September 16th, 2010 § 0 comments

Tiga puluh empat tahun, inilah usiaku hari ini. Walau tidak pernah terlalu bisa menikmati perayaan ulang tahun, tapi aku bersyukur untuk kasih dan perhatian dari rekan dan kerabat. Tentu aku tidak akan pernah bisa mengajak makan seluruh teman yang berkata,” Traktir dong!” Bukan saja karena keterbatasan finansial, tetapi juga pasti sulit mencari waktu dan tempat yang cocok untuk seluruh rekan, kerabat dan anggota jemaat. Terimalah catatan kecil ini sebagai sebuah “traktiran” untuk Anda.

Tiga puluh empat tahun lalu, aku lahir di Semarang dengan nama yang diberikan orangtuaku : Wahyu Pramudya. Entah mengapa di keluargaku, tiga anak laki-laki mempunyai nama yang inisialnya sama. Selain aku, ada Wisnu Prajogo kakak yang selisih lima tahun denganku. Ada adikku Widi Pramono. Anda bisa melihat semua nama depan diawali dengan huruf W dan Pra. Aku tidak terlalu tahu mengapa pola itu dipakai. Yang aku tahu di kemudian hari, nama Wahyu itu dipilih karena terinspirasi oleh nama seorang teman ayah yang waktu itu sedang menanjak naik bisnisnya. Nama adalah harapan. Nampaknya melalui nama itu, aku diharapkan menjadi seorang yang berhasil dalam bisnis (?). Realitanya? Kini saya seorang pendeta. Impian orangtua hancur dan rencana Tuhan nampaknya mulai dibangun di atas puing-puing kehancuran itu.

Tidak ada yang terlalu luar biasa terjadi dalam tiga puluh empat tahun itu. Malah kalau aku katakan tiga puluh empat tahun itu justru lebih banyak diwarnai dengan kegagalan impian-impian pribadiku. Mulai dengan gagal memasuki SMP paling favorit di semarang gara-gara nilai ebtanas yang tertukar. Gagal masuk ke SMA Taruna Nusantara yang prestisius di Semarang walau sudah berhasil menembus tes yang berlapis-lapis sampai tes yang paling akhir : tes fisik. Tes fisik itu memberikan vonis gagal, karena aku menderita buta warna. Ingin rasanya aku menjerit waktu itu,” Apa salahku? Apa salah impianku, sehingga semua kandas karena kesalahan orang-orang lain?” Nilai akhir yang tertukar tentu bukan kesalahanku. Menderita buta warna tentu juga bukan kesalahanku, tetapi sesuatu yang diwariskan dari keluargaku. Tapi mengapa harus aku? Mengapa bukan saudaraku yang lain? Ketika aku merasa orang-orang lain menghancurkan impianku, Tuhan nampaknya sedang memanfaatkan puing-puing kehancuran itu untuk menjadi fondasi bagi rencana-Nya.

Selepas menempuh pendidikan di SMA Kolese Loyola, langkah menapaki panggilan Tuhan untuk menjadi hamba-Nya pun tidak mudah. Walau aku merasa jelas mendengar panggilan-Nya ketika sekolah di sebuah SMP yang biasa-biasa saja itu, tetapi aku harus berjalan tertunduk sendirian dengan akhir mata yang menggenang. Orangtua yang nampaknya keberatan yang disertai dengan rasa takut di balik pertanyaan,” Nanti kamu makan apa kalau jadi pendeta?” Aku memahami keberatan mereka adalah wujud perhatian dan harapan. Gereja asalku yang terang-terangan “mengeluarkanku” hanya karena rencanaku menempuh studi di SAAT. Tindakan yang menyebabkan seluruh keluargaku akhirnya pindah ke GKI Beringin. Rekan-rekan di SMA yang sebagian besar menyesalkan langkahku karena dianggap aku sedang menyia-nyiakan masa depanku. Seorang sahabat dekat yang walaupun mendukung, namun tidak sepenuhnya bisa memahami mengapa aku harus pergi meninggalkan Semarang. Sungguh, tiap langkah adalah tetesan air mata. Air mata ketidakmengertian. “Mengapa panggilan mengikut Tuhan justeru diwarnai dengan perpisahan dengan orang-orang yang selama ini dekat denganku?” Rasa sesak di dada yang terus menyertai setiap langkahku.

Suatu hari dengan keputusasaan besar, aku melangkahkan kakiku lebih awal di chapel SAAT untuk doa malam. Di hadapan salib besar dengan latar belakang warna merah tua aku termenung. Tidak ada kata-kata yang terucap dari bibir, tetapi aku datang dengan pertanyaan besar,” Mengapa Engkau ijinkan semua terjadi justeru ketika aku mendengarkan panggilan-MU?” Tidak ada jawaban. Tidak ada suara dari surga, tidak ada mimpi atau penglihatan.

Pandanglah pada Yesus
Pandang wajah mulia-Nya
Isi dunia menjadi hampa
Oleh sinar kemuliaan-Nya

Lagu yang kami nyanyikan di malam doa itu. Entah mengapa, syair refreinnya begitu berbicara malam itu. Aku seperti melihat Yesus di atas kayu salib dan semua kesedihan itu menjadi sirna. IA taat dalam panggilan bapa-Nya. Bukan hanya air mata, tetapi darah-Nya pun tercurah. Aku tidak sendirian.

Di dalam kesendirianku, Tuhan menemukanku.


Leave a Reply

Your email address will not be published.

What's this?

You are currently reading Tiga Puluh Empat at Wahyu 'wepe' Pramudya's blog.

meta

Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome.