Mekar di Tengah Belukar Kesulitan

September 23rd, 2010 § 1 comment

(berdasarkan 1 Petrus 3, diambil dari buku wepe “Kesuksesan yang Menjatuhkan”)

Hidup ini semakin sulit. Inilah realita yang kita alami sehari-hari. Setiap hari kita harus berjuang dengan lalu lintas yang makin macet, pekerjaan yang makin keras persaingannya, beban kebutuhan hidup keluarga yang makin membengkak. Gereja? Wah kadangkala justru pelayanan di gereja melahirkan banyak masalah dan konflik yang seperti duri tajam menusuk dan menyakitkan. Di luar kesulitan-kesulitan itu kita masih harus terbayang-bayang dengan risiko terjadinya bencana alam, tertular penyakit-penyakit yang makin ganas, dan juga bahaya kejahatan yang makin variatif modusnya. Ibarat sebuah botol air, maka daya tampung dan daya tahan manusia dalam menghadapi kesulitan itu ada batasnya. Stres dan gangguan kejiwaan menjadi sahabat yang makin akrab dengan kehidupan manusia masa kini.

Kadangka juga ada orang-orang yang menyangkali realita sulitnya hidup ini. Kata-kata mereka senantiasa indah dan berbunga-bunga. Kadang-kadang juga dibungkus dengan kata-kata rohani, seolah-olah mengesankan iman yang kuat. “Tidak ada masalah di sini, yang ada hanya kesempatan. Tidak ada yang mustahil bagi anak-anak Tuhan,” mungkin begitu kata mereka. Tentu, menyemangati orang lain untuk menjadi tangguh adalah pekerjaan yang mulia. Tetapi, tentu saja tidak boleh menyemangati orang dengan menutupi realita yang sebenarnya. Ibarat orang sakit kanker di kepalanya, kita tidak boleh menyemangatinya dengan berkata, “Tenang, hanya sakit kepala biasa. Pasti akan sembuh.” Masalahnya sekarang adalah bagaimana supaya kita tetap tegar di masa sukar?  Firman Tuhan memaparkan tiga langkah untuk menang atas kesulitan hidup.

Langkah pertama untuk menang atas kesulitan hidup adalah mengakui bahwa saat ini kita berada di masa sukar.

Tidak menyangkali, tidak menutup-nutupi kenyataan betapa sukarnya hidup ini. Rasul Petrus dalam suratnya yang pertama justru berbicara dengan lugas tentang penderitaan-penderitaan yang akan terjadi di dalam kehidupan umat Tuhan. Kepada umat Tuhan yang terpaksa tersebar karena penganiayaan, Rasul Petrus menyadari betapa keras dan sulitnya hidup mereka. Umat Tuhan saat itu mengalami kesulitan untuk menggapai hidup yang sejahtera karena mereka adalah pendatang yang terpaksa berkelana dengan bekal yang terbatas. Bukan hanya itu, mereka juga harus menanggung beban penderitaan tambahan karena identitas mereka sebagai umat Tuhan. Terhadap kenyataan seperti ini, Rasul Petrus tidak menyalahkan mereka. Ia tidak mendakwa umat yang mengalami kesulitan itu sebagai orang yang telah berbuat dosa besar, atau kekurangan iman. Rasul Petrus bahkan mengatakan, “… sekalipun kamu harus menderita juga karena kebenaran, kamu akan berbahagia … ” (1 Petrus 3:14a). Terimalah kenyataan bahwa kehidupan ini makin lama makin terasa sukar dengan meningkatnya kebutuhan hidup. Jangan membanding-bandingkan dengan masa lalu yang lebih baik apabila pembandingan tersebut hanya akan menambah beban hidup kita pada masa kini.

Langkah kedua untuk menang atas kesulitan hidup adalah mengevaluasi dan memperbaiki bagaimana cara kita menjalani hidup ini.

Setidaknya ada tiga faktor yang menyebabkan hidup ini menjadi sulit. Faktor pertama, penderitaan kosmis yang dialami oleh semua manusia di dunia karena kejatuhan manusia pertama di dalam dosa. Kitab kejadian mengisahkan akibat kejatuhan Adam dan Hawa maka tanah pun menjadi terkutuk dan menghasilkan semak dan rumput duri (Kejadian 3:18). Dalam perkembangan sejarah selanjutnya justru manusia memperparah lingkungannya melalui penggundulan hutan dan pencemaran lingkungan. Semua hal ini menciptakan penderitaan kosmis yang menimpa semua manusia di dunia, termasuk orang percaya. Misalnya, banjir tentu akan menggenangi rumah-rumah tanpa pernah bisa membedakan maka rumah umat Tuhan dan bukan. Gereja pun bisa kebanjiran. Ini adalah ciri penderitaan kosmis menimpa siapa saja dan kapan saja. Oleh karena itu, kesulitan hidup akibat penderitaan kosmis tidak dapat terhindakan secara total dan hanya dapat diterima dengan hati yang tabah.

Faktor yang kedua yang menyebabkan hidup menjadi sulit adalah penderitaan akibat perilaku orang lain. Rasul Petrus menuliskan, “… Dan siapakah yang akan berbuat jahat terhadap kamu, jika kamu rajin berbuat baik? Tetapi sekalipun kamu harus menderita juga …” (1 Petrus 3:13-14). Tersirat di sini adanya kemungkinan kita sudah menjalani hidup ini dengan baik, tetapi ada orang-orang tertentu yang berbuat jahat terhadap kita. Misalnya, ada orang yang menipu usaha kita sehingga menimbulkan kesulitan. Begitu juga penderitaan yang harus kita tanggung karena kita adalah umat Tuhan. Terhadap umat yang harus menanggung penderitaan karena nama Tuhan, rasul Petrus memberi nasihat, “… jika ia menderita sebagai orang Kristen, maka janganlah ia malu, melainkan hendaklah ia memuliakan Allah …” (1 Petrus  4:16). Penderitaan akibat perilaku orang lain kadangkala dapat kita hindarkan dengan pola hidup yang hati-hati dan cermat. Sikap hati-hati dan cermat akan meloloskan kita dari penipuan orang atau menjadi korban kejahatan. Tetapi, kadangkala kita juga tidak dapat menghindarkan diri dari penderitaan akibat perilaku orang lain. Misalnya, kecerobohan orang lain menyebabkan kita terluka karena kecelakaan lalu lintas, atau juga kecelakaan di tempat kerja.

Faktor ketiga yang menyebabkan hidup ini menjadi sulit adalah penderitaan akibat kesalahan kita sendiri. Setiap kesalahan tentu mempunyai konsekuensinya. Tidak jarang konsekuensi dari kesalahan kita sendiri menjatuhkan diri kita pada jurang penderitaan hidup. Rasul Petrus pernah menulis, “Janganlah ada di antara kamu yang harus menderita sebagai pembunuh atau pencuri atau penjahat atau pengacau.” (1 Petrus 4:15). Kesulitan hidup ini sudah terlampau banyak dan jangan ditambahi dengan kesulitan yang tidak perlu: kesulitan yang lahir akibat kesalahan diri kita sendiri.

Apakah Anda saat ini sedang mengalami masa sulit? Coba Anda mengambil waktu sejenak untuk mengevaluasi hidup Anda. Apakah masa sulit ini akibat penderitaan kosmis? Akibat perilaku orang lain? Atau sebenarnya akibat kesalahan Anda sendiri? Kalau ternyata kesulitan ini adalah akibat kesalahan Anda, perbaikilah pola hidup Anda. Terimalah tanggung jawab atas kesalahan Anda dan mulailah menjalani hidup dengan lebih bertanggung jawab. Anda akan menjadi lebih tegar pada masa sukar.

Langkah ketiga untuk menang atas kesulitan hidup adalah mengembangkan hubungan yang akrab dan hangat dengan Allah.

Rasul Petrus menegaskan hal ini dalam 1 Petrus 5:10,  “Dan Allah, sumber segala kasih karunia yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaan-Nya yang kekal, akan memperlengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu …” Ternyata Allah tidak berpangku tangan ketika kita harus melewati masa-masa yang sulit dalam kehidupan ini. Allah terus bekerja di dalam diri kita. Rasul Petrus menegaskan hal ini dengan menggunakan empat kata: memperlengkapi, meneguhkan, menguatkan, dan mengokohkan. Ini berarti Allah memandang serius kesulitan hidup yang kita jalani. Allah ingin akan kita menjadi tegar di masa sukar. Tetapi, bagaimana kita dapat merasakan pekerjaan Tuhan yang memberikan topangan dan kekuatan itu? Tentu hanya melalui hubungan yang akrab dan hangat dengan Allah. Kita dapat memiliki hubungan yang akrab dan hangat dengan Allah melalui doa, pujian, pembacaan dan melakukan firman Tuhan. Bukan sekadar rutinitas, tetapi muncul dari hati yang mencintai Allah. Semakin kita membina hubungan yang akrab dan hangat dengan Allah, maka semakin tegar pulalah kita pada masa yang sukar ini.


§ One Response to Mekar di Tengah Belukar Kesulitan

Leave a Reply

Your email address will not be published.

What's this?

You are currently reading Mekar di Tengah Belukar Kesulitan at Wahyu 'wepe' Pramudya's blog.

meta

Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome.