Perspektif Hidup: Pengkhotbah dan Yesus Kristus

September 25th, 2010 § 1 comment

(Berdasarkan Pengkhotbah 8:14,17; Matius 10 : 16; diambil dari buku wepe “Saat Badai Menerpa”)

Di balik tindakan-tindakan manusia senantiasa terdapat keyakinan-keyakinan dasar yang me­la­tar­belakanginya. Keyakinan-keyakinan dasar itulah yang mendorong orang untuk melakukan atau ti­dak melakukan sesuatu. Ada contoh yang sederhana mengenai hal ini. Setahun yang lalu ketika saya baru sampai di Surabaya, Jawa Timur, saya bertanya kepada banyak orang, di manakah tempat yang terdekat bagi saya untuk membeli barang-barang kebutuhan rumah tangga sehari-hari. Dari 10 orang yang saya tanya, 9 orang mengatakan bahwa tempat yang terdekat adalah Toko B. Kemudian saya bertanya lagi adakah tempat lain selain Toko B. Keluarlah beberapa nama lain: A, H, dan T. Akan tetapi, rata-rata orang-orang itu menganjurkan saya untuk pergi ke Toko B, dengan alasan toko itu lebih murah dibandingkan dengan toko-toko yang lain. Begitu membekasnya perkataan orang-orang tersebut sehingga tiap kali saya terpaksa berbelanja di Toko A, H, atau T, saya merasa sedikit menyesal karena harus keluar uang lebih banyak. Saya terus berpikir bahwa Toko B lebih murah. Pada akhirnya, saya sering berbelanja ke Toko B.

Di dalam kehidupan ini, mulai dari hal yang sederhana, seperti berbelanja, pilihan kita di­ten­tukan oleh keyakinan-keyakinan mendasar kita. Dari manakah kita mendapatkan kepercayaan-ke­per­ca­yaan dasar itu? Kita mendapatkannya dari orang lain dan dari pengalaman diri sendiri. Jadi, di balik setiap tindakan selalu ada keyakinan-keyakinan dasar yang membentuknya. Karena itu, amatlah penting bagi kita sebagai orang Kristen untuk mengingat bahwa bukan hanya perbuatan kita atau apa yang kita lakukan sepanjang tahun ini yang perlu kita perhatikan, tetapi juga keyakinan-keyakinan apa yang ada di balik tindakan kita.

Ketika sesorang melakukan suatu tindakan, kita dengan mudahnya menilai, “Oh, ia itu begitu, ka­rena ia memang seperti itu.” Atau, “Oh, ia itu begini karena nenek moyangnya juga kayak begitu.” Namun, kita lupa memberikan penilaian kepada sesuatu yang lebih dasar: mengapa ia melakukan tindakan itu? Keyakinan-keyakinan seperti apa yang mendorong perbuatan itu?

Pada kesempatan ini, saya ingin mengajak kita semua untuk melihat dan menguji apakah keyakinan dasar atau perspektif dasar kita tentang kehidupan ini selaras dengan apa yang diajarkan Tuhan melalui firman-Nya? Kita yang mengaku sebagai orang Kristen perlu memeriksa bukan saja apakah perbuatan kita selaras dengan firman-Nya, tetapi juga apakah keyakinan-keyakinan dasar kita tentang kehidupan sesuai dengan firman-Nya? Ibarat kelompok paduan suara yang melantunkan nyanyian, maka kita berbicara terlebih dahulu tentang nada dasarnya. Pas atau tidak nada dasarnya? Kalau terlalu tinggi nanti mencekik leher, kalau terlalu rendah pun sulit bernyanyi. Nah, apakah perspektif kita tentang kehidupan telah pas dengan firman Tuhan?

Untuk mengupas itu, kita akan belajar dari dua orang mengenai perspektif hidup ini. Yang pertama, kita belajar dari seseorang yang bernama Pengkhotbah. Pengkhotbah adalah seorang yang guru yang dalam bahasa Ibrani-nya disebut dengan qohelet atau pengajar hikmat. Ia adalah orang yang mengamati dunia di sekelilingnya dan kemudian mengajarkannya. Di dalam Pengkhotbah ayat 14, ia mengatakan bahwa ada suatu kesia-siaan yang terjadi di atas bumi. Ada orang benar yang menerima ganjaran yang seharusnya layak diterima oleh orang fasik. Ada orang-orang fasik yang menerima pahala yang layak untuk perbuatan orang-orang benar. Ia menemukan ada orang yang baik ternyata mendapat musibah. Meskipun demikian, ada juga orang jahat yang mendapatkan kesuksesan. Ada orang yang melakukan banyak hal yang menyimpang jauh dari kehendak dan tuntunan Tuhan, tetapi ternyata bisnisnya membumbung tinggi. Sebaliknya, ada orang yang sudah berhati-hati menjaga hidupnya dan perilakunya, namun tertimpa kena kemalangan juga.

Pengkhotbah melihat secara jujur bahwa ada hal-hal di dalam kehidupan ini yang memang sering kali terbalik-balik. Ada hal-hal yang memang terjadi tidak sesuai dengan harapan kita. Bukankah ketika melakukan hal yang baik, kita berharap menerima sesuatu yang baik dari orang lain? Bukankah ketika berusaha taat kepada Tuhan, kita sadar bahwa sebenarnya kita juga mengharapkan berkat Tuhan sebagai ganjarannya? Tetapi kadang kala yang terjadi justru bukan itu.

Saya sangat bersyukur karena Pengkhotbah adalah orang yang jujur. Ia mengamati dunia ini dengan cermat dan kemudian berkata bahwa apa yang terjadi di dalam dunia ini memang menunjukkan bahwa dunia dan kehidupan ini tidaklah adil. Jadi perspektif pertama yang ditawarkan oleh Pengkhotbah kepada kita adalah sesuatu yang sangat realistis, yaitu bahwa kehidupan di dalam dunia ini bukanlah kehidupan yang adil. Di dalam dunia ini banyak kemalangan yang terjadi atas orang benar. Dalam hal ini Pengkhotbah bersikap jujur dan ia tidak hendak menipu kita dengan pandangannya yang seolah-olah semuanya baik-baik saja. Ia bersikap jujur terhadap realita hidup ini. Ia tidak mencoba menyembunyikannya; ia tidak mencoba memolesnya supaya kelihatan indah, tetapi ia mengatakan bahwa kehidupan ini tidaklah adil.

Apakah sebabnya kita diperhadapkan pada kejujuran seorang penulis Alkitab yang seperti ini? Bukankah kita lebih suka memoles segala sesuatu supaya menjadi lebih indah? Itu memang kebiasaan dan kebudayaan kita. Suka memoles segala sesuatu supaya lebih indah, tentunya tidak salah. Tetapi ada hal yang krusial di balik kebiasaan kita yang selalu berkata “semuanya OK” kepada diri kita sendiri dan kepada orang lain ketika melihat kenyataan hidup yang tidak menyenangkan dan memang pahit ini. Pengkhotbah dengan sangat jujur dan realistis berkata bahwa dunia ini memang sudah terputar balik. Orang jahat mendapatkan apa yang layak diterima oleh orang benar dan orang benar mendapatkan apa yang layak diterima oleh orang jahat. Pengkhotbah bersikap jujur dengan perspektif ini karena ia tahu bahwa dengan kejujuran dan dengan keberanian menyampaikan apa yang terjadi, kita akan siap menghadapi realita. Jika kita melihat ketidaknyamanan dan kepahitan hidup ini dan menyembunyikannya, maka kita tidak akan pernah siap menghadapinya. Inilah bahaya yang terbesar dalam hidup manusia: mendustai diri sendiri.

Suatu kali saya naik mobil menuju Malang. Ketika melewati Pujon di daerah Batu, jalan mulai berkelok-kelok dan ketika itu hujan rintik-rintik. Pada saat jalan berkelok-kelok itu, sopir berulang kali menghentikan mobilnya, lalu keluar sebentar dari mobil, berteduh sambil meregang-regangkan badan, kemudian masuk lagi ke dalam mobil. Namun, setiap 10-15 menit kemudian, ia melakukan hal itu lagi di tengah cuaca yang masih hujan itu. Karena saya duduk paling depan, saya memiliki keleluasaan bertanya kepadanya mengapa ia menghentikan mobil dan keluar setiap 10-15 menit. Mula-mula ia mengatakan bahwa ia melakukannya hanya untuk iseng saja. Tetapi setelah saya desak, akhirnya ia mengaku bahwa sebenarnya ia melakukannya untuk mengusir kantuk. Ia membasahi dirinya dengan air hujan supaya segar. Kemudian ia bertanya apakah saya bisa mengemudikan mobil dan apakah saya bisa menggantikan ia. Saya bisa mengemudi mobil, tetapi saya menolak mengambil alih tugasnya karena saya tidak mengenal jalan-jalan di sana lagipula saat itu malam hari. Kemudian ada penumpang lain yang bersedia menggantikan tugas sopir itu setelah mengetahui bahwa sopir itu mengantuk. Bayangkan jika sopir ini tidak mengakui bahwa ia mengantuk dan mengatakan bahwa semuanya baik-baik! Mungkin dalam waktu yang tidak terlalu lama mobil yang kami tumpangi sudah menabrak atau malah masuk jurang. Akan tetapi, karena ia menyampaikan masalahnya secara jujur, maka kami bisa menyiapkan diri dan ternyata terdapat seorang sukarelawan yang bisa menolong supaya kendaraan kami bisa berjalan dengan baik.

Saya melihat kejujuran Pengkhotbah justru menyelamatkan kita dari “kecelakaan” di dalam hidup ini. Ketika mengatakan bahwa dunia ini tidak adil, ia sedang mengajak para pembacanya agar jangan pernah mengharapkan untuk diperlakukan secara adil di dunia ini. Ia mengajak kita untuk jangan pernah menantikan bahwa keadilan itu adalah sesuatu yang diberikan dengan begitu saja kepada kita. Jangan kita hidup dalam keyakinan dasar bahwa jika kamu berbuat baik maka kamu akan menuai yang baik. Pengkhotbah menjungkirbalikkan semua asumsi itu dengan berkata bahwa kehidupan ini memang tidaklah adil.

Apakah ia ingin membuat kita kecewa atau takut? Bukan! Untuk membuat kita siap. Betapa konyolnya kita jika sebenarnya Alkitab sudah memberikan kita sebuah perspektif yang jujur bahwa dunia ini memang tidak adil, tetapi kemudian kita selalu mengharapkan keadilan terjadi dalam hidup kita. Kemudian, ketika ada orang yang melukai kita, kita menjadi bingung, “Lho, saya kan sudah bersikap baik kepadanya, kenapa kok ia melukai saya?”

Pengkhotbah mengajak kita agar menilai hidup ini dengan adil dan jujur. Kehidupan ini memang bukanlah kehidupan yang jujur, dan Pengkhotbah mengetahui hal ini, seperti yang dituliskan dalam dalam ayat 17 bahwa di tengah ketidakjujuran dan ketidakadilan di dalam kehidupan ini, orang baik bisa mendapatkan malapetaka dan bisa mendapatkan musibah. Namun, Pengkhotbah sadar bahwa di tengah-tengah semuanya itu ada tangan Tuhan. Ia mengakui realita ini: dunia ini tidak adil, tetapi jangan lupa Tuhan belum angkat tangan. Tuhan bukannya angkat tangan lalu berkata, “Ya terserahlah…”. Tidak! Tangan-Nya masih memegang kendali.

Janganlah mata kita hanya memandang perilaku yang tidak menyenangkan, tetapi biarlah mata kita menembus apa yang ada di balik Matahari. Biarlah mata kita menembus ke atas untuk melihat bahwa di dalam ketidakadilan ini masih ada tangan Tuhan yang memegang kendali. Apa yang bisa membuat kita bertahan di dalam hidup ini, selain keyakinan bahwa di tengah segala hal yang kita alami, di tengah keadaan yang paling tidak menyenangkan sekalipun, di situ ada tangan Tuhan yang sedang mengerjakan sesuatu di dalam hidupmu. Termasuk ketika ada seseorang yang melukai hati kita, termasuk ketika seseorang menghancurkan diri kita, termasuk ketika seseorang merampas impian kita, di situlah ada tangan Tuhan yang terus dan sedang bekerja.

Ke manakah kita hendak bersandar dari tahun ke tahun? Tidak ada hal yang pasti hari-hari ini. Satu-satunya hal yang pasti adalah ketidakpastian itu sendiri. Situasi politik dan ekonomi terus-menerus bergejolak. Ke manakah kita akan lari? Ke manakah kita akan menemukan keteduhan? Tidak ada jawaban yang lain, kecuali di dalam Tuhan.

Yang kedua, kita akan melihat perspektif seseorang yang namanya sangat kita kenal, yaitu Yesus Kristus. Jika perspektif Pengkhotbah mengatakan bahwa memang kehidupan ini tidak adil, namun ada tangan Tuhan di situ, Yesus Kristus melihat hidup selangkah lebih maju lagi. Yesus berkata kepada murid-murid-Nya di dalam Matius 10, “Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itulah hendaknya kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.” Tuhan Yesus bersikap sangat jujur ketika Ia mengatakan hal ini di hadapan pengikut-Nya. Ia tidak mengatakan janji-janji kosong tentang keberhasilan dan berkat yang terus-menerus kalau kita mau mengikuti-Nya. Yesus justru berkata, “Aku mengutus kamu sama seperti domba ke tengah-tengah serigala.” Apa yang dimaksudkan-Nya? Tuhan Yesus tidak ingin murid-murid-Nya melarikan diri dari dunia: “Aduh dunia ini begitu susah, ya … saya berdagang, ditipu; saya married, eh … ketipu juga! Ya, sudahlah saya pergi saja meninggalkan dunia; tinggal di sebuah gunung dan tidak berteman dengan siapa pun kecuali binatang-binatang dan saya merasa akan damai sejahtera di sana.” Tuhan Yesus tidak mau murid-murid-Nya melarikan diri dari dunia seperti itu. Tuhan Yesus pun tidak mau murid-murid-Nya cuma kumpul sambil berkata, “Hati-hati! Kita sebaiknya berkumpul dengan orang-orang yang sama dengan kita. Kita harus berkumpul dengan sesama orang Kristen saja. Kalau dengan orang lain, wah, hati-hati! Mereka itu serigala, sedangkan kita ini domba semua. Maka jadilah: teman kita Kristen semua, pegawai kita Kristen semua, pembantu kita Kristen semua, bahkan kalau anjing kita pun juga Kristen.

Tuhan Yesus tidak mau kita sekalian membentuk satu komunitas dan hidup dalam satu komunitas tersebut kemudian kita berkata, “Ya, inilah tempat domba, aman dari serigala.” Tuhan Yesus berkata memang kehidupan ini tidak nyaman, tetapi Ia berkata, “Aku mengutus kamu”, yang artinya Ia memang menempatkan kita di dalam dunia yang seperti ini. Jadi tidak ada alasan bagi kita untuk melarikan diri dan merasa jenuh terhadap hidup ini dan berkata, “Oh Tuhan, panggil saja saya pulang ke surga! Cepat Tuhan, panggil saya pulang!” Bukankah begitu doa kita ketika kesesakan itu melanda hidup kita? Begitu lelahkah dan begitu parahkah kita dengan kehidupan sehingga menyerah seperti itu? Tuhan Yesus berkata, “Aku mengutus kamu.” Ia menempatkan kita dan memasukkan kita ke dalam suasana yang sama seperti domba di tengah serigala. Ia tidak mempermanis dan memoles kenyataan ini dengan berkata, “Aku mengutus kamu seperti harimau ke tengah kelinci.”

Yesus berkata bahwa pengutusan ini berisiko dan berat. Karena berat, maka supaya kita bisa bertahan, Tuhan Yesus memberikan rumus, “Hendaklah kamu cerdik seperti ular.” Cerdik, bukan licik. Ada perbedaan antara cerdik dan licik. Kita disebut cerdik ketika kita bisa melindungi diri dari ancaman yang datang kepada diri kita. Tetapi, kita dikatakan licik jika kita merugikan orang lain untuk keuntungan kita. Cerdik itu melakukan segala daya upaya yang halal untuk melindungi diri sendiri, untuk membuat bertahan, tetapi licik berarti memanfaatkan segala situasi apa pun, termasuk merugikan orang lain demi kepuasan diri sendiri.

Ular digambarkan sebagai binatang yang amat cerdik. Jadi, Tuhan Yesus tidak ingin orang Kristen menjadi orang bego dan kalahan sehingga dianiaya dan dipukuli juga merasa tidak berkeberatan. Tuhan Yesus ingin kita cerdik karena kita ini berhadapan dengan serigala. Walaupun demikian, janganlah lupa juga, Tuhan Yesus mengatakan,  kita mesti bersikap tulus dan bukan bulus! Ada perbedaan yang esensial antara tulus dan bulus. Kalau bulus itu banyak akal, tetapi Yesus ingin kita tulus, arti terjemahan lainnya adalah “tanpa kesalahan”. Jadi rumus dari Tuhan Yesus adalah cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.

Kita mesti cerdik di dunia ini karena kita tahu dunia ini adalah dunia yang tidak adil dan di luar sana ada orang-orang yang berpotensi mencelakakan kita. Tanpa kecerdikan kita akan mati konyol. Akan tetapi, dengan kecerdikan kita tidak akan kalah di dalam kehidupan ini dan kita tidak mudah ditipu dan dibohongi orang. Saya sudah beberapa kali dibohongi orang karena mungkin saya hamba Tuhan dan dianggap tidak memiliki prasangka buruk terhadap orang lain. Ada yang mengaku kehilangan seluruh isi dompetnya dan minta diizinkan meminjam uang serta berjanji mengembalikan. Di satu sisi hati saya merasa ragu-ragu, tetapi di sisi yang lain saya juga merasa kasihan. Saya terjebak antara “memberi” atau “tidak memberi”. Akhirnya saya memilih untuk memberi dan ternyata melayanglah sejumlahnya uang yang nilainya cukup besar dan uang itu tidak pernah kembali lagi.

Jadi, Tuhan Yesus ingin kita cerdik supaya, kita tidak mudah dibodohi. Yang kedua, Tuhan Yesus ingin kita cerdik, supaya kita bisa eksis dan bertahan di tengah dunia yang tidak adil seperti ini. Namun, Tuhan Yesus juga menyiratkan perkataan, ”Hendaklah kamu tulus seperti merpati supaya kamu tidak menjadi serigala” Ini penting karena Tuhan Yesus ingin kita memiliki ketulusan di dalam hati agar kita terhindar dari menjadikan diri kita serigala juga. Kita tahu seperti apa nasib domba di tengah serigala. Hidup kita menjadi begitu susahnya dan begitu beratnya. Bisa jadi kita terus berjuang untuk bersikap cerdik sehingga lama-lama ketulusan pun sirna. Akibatnya, jadilah kita serigala berbulu domba! Memang benar kita orang Kristen! Memang benar kita pergi ke gereja dan mengenakan bulu domba, tetapi sebenarnya perilaku hidup kita sama seperti serigala dan sama sekali tidak mencerminkan ketulusan.

Pengutusan ini memang berat. Menghadapi realita hidup yang susah dan tidak adil saja, kita sudah merasa berat, apalagi diutus untuk berkarya di tengah-tengah kehidupan yang seperti itu. Akan tetapi, inilah pengutusan. Inilah panggilan. Pengutusan atau panggilan itu tidak bisa ditawar-tawar! Pengutusan serta panggilan itu hanya bisa diterima dan dilakukan, dan Tuhan Yesus pun sudah memberikan rumusnya.

Kita merasa sulit hidup sebagai domba di tengah serigala dan di tengah tidak adilnya dunia ini. Kita mengalami kesulitan mengubah serigala menjadi domba. Namun, betapapun sulitnya, setidaknya yang perlu dijaga adalah bagaimana diri kita tidak ikut-ikutan menjadi serigala juga. Itu saja sudah cukup; tidak usah berpikir bagaimana caranya supaya serigala bisa menjadi domba. Tidak usah berpikir bagaimana caranya menantang dan mengalahkan serigala. Setidaknya pertahankan diri agar tidak ikut-ikutan menjadi serigala. Supaya seperti yang Yesus katakan, yaitu kita adalah (tetap) domba di tengah serigala.

Sekarang kita sudah menemukan dua perspektif. Yang pertama, Pengkhotbah mengatakan dunia ini tidak adil tetapi ada tangan Tuhan yang terus berkarya dan terus menopang kita. Yang kedua, Yesus berkata bahwa kita diutus ke dalam dunia ini sama seperti domba ke tengah serigala. Pertanyaan yang perlu kita renungkan adalah kecewakah kita dengan hidup kita? Kecewakah kita dengan apa yang kita alami? Kecewakah kita jika pekerjaan tidak menghasilkan sebagaimana yang kita inginkan, keluarga tidak berfungsi sebagaimana yang kita harapkan, kehidupan tidak semanis yang kita pikirkan dan inginkan? Secara jujur dan terus terang, kita boleh mengakui bahwa kita kecewa dan layak terluka ketika itu datang kepada kita. Kita layak kecewa karena menerima apa yang tidak seharusnya kita terima. Namun, ketahuilah bahwa di dalam semua kepedihan dan kepahitan serta kekecewaan hidup ada tangan Tuhan yang masih terus berkarya dan yang tidak pernah kehilangan kendali, bahkan pada saat kita tidak melihatnya sekalipun. Di dalam semua kedukaan, kepahitan dan kekecewaan kita, pandanglah melalui mata iman bahwa ada tangan Tuhan yang terus berkarya di dalam hidup kita.

Hari demi hari berlalu. Bagaimanakah kita menjalani hari-hari kita sebagai keluarga, sebagai usahawan, sebagai pekerja, atau sebagai seorang pensiunan? Apakah kita sudah menjalankan tugas pengutusan ini? Di tengah medan pengutusan ini, apakah kita tetap adalah domba? Ataukah jangan-jangan perilaku kita sudah lebih mirip serigala? Tidak mudah bagi kita mengubah orang lain atau mengubah dunia ini. Mari kita juga terus mengingat-ingat untuk menjaga diri kita agar tidak semakin mirip serigala, sebaliknya tetaplah berjuanglah untuk tetap menjadi domba! Domba di tengah serigala.


Tagged , , , , , , , , ,

§ One Response to Perspektif Hidup: Pengkhotbah dan Yesus Kristus

Leave a Reply

Your email address will not be published.

What's this?

You are currently reading Perspektif Hidup: Pengkhotbah dan Yesus Kristus at Wahyu 'wepe' Pramudya's blog.

meta

Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome.