Seperti Bapa Sayang Anaknya

September 29th, 2010 § 1 comment

Sewaktu saya kecil, banyak ayam yang berkeliaran di sekitar rumah saya. Maklum, saya tinggal di kompleks perumahan yang padat (baca : kampung) dengan segala jenis manusia di dalamnya. Menjelang lebaran, hampir dipastikan ayam-ayam itu meregang nyawa di tangan manusia yang lapar akan lontong dan opor. Sewaktu menginjak usia remaja, saya baru tahu ada jenis ayam yang lain. Ayam kampus orang menyebutnya. Ayam yang entah bagaimana kok diijinkan berkeliaran di kampus. Beberapa waktu yang lalu malah saya baru tahu ada jenis spesies ayam baru : grey chicken alias ayam abu-abu. Saya kok ya baru tahu ada ayam yang warnanya abu-abu.
***

Pagi ini, saya berkeliling mencari ayam. Bukan ayam kampus apalagi ayam abu-abu. Ayam kampung yang saya cari. Saya mengendarai motor bersama dengan Alden untuk mencari ayam itu. Ini gara-gara Alden ingin melihat angsa di dekat sekolah Vanda, dan saya tidak menyetujuinya karena Alden tidak membawa sandal. Kalau Alden tidak membawa sandal, berarti saya harus menggendongnya. Duh … mana kuat menggendong sedemikian lama? Nah saya janji pada Alden,” Nanti saja, kita naik motor dan lihat ayam!” Alden mengangguk setuju.

Alden duduk di depan, dan saya mulai mengendarai motor keliling di sekitar rumah untuk mencari ayam. Duh … baru sadar kalau di perumahan elit tidak ada yang pelihara ayam. 10 menit, belum ketemu ayam juga. 20 menit belum ketemu juga. 30 menit, saya bujuk Alden untuk pulang, tapi Alden malah bilang,” Mau lihat ayam dulu! 40 menit, saya mendengar ayam berkokok. Segera saya memacu kendaraan, eh … ayamnya ternyata di seberang sungai. 50 menit? Nyasar entah di mana. Dan sepanjang perjalanan itu Alden terus menerus ngoceh : ayam … di mana ya? ayam rumahmu di mana? Nah lho, kalau ayam punya rumah, itu ayam apaan coba?

Karena saya sudah berjanji untuk mengajak Alden melihat ayam, maka saya terus berkeliling walau sudah agak capek bawa motor. Dan …. syukurlah. Saya mendengar suara ayam. Bukan ayam kampus atau ayam abu-abu, tapi ayam kate. Duh … pingin dah langsung bersyukur dan bersujud mengucap syukur. Alden memandang ayam-ayam kate itu dengan takjub. Ada kegembiraan yang terpancar dari sorot matanya. Ada kepuasan di hati saya. Saya telah berjanji dan berjuang memenuhi janji saya.

***

Kalau saya, seorang bapak yang tidak sempurna, terus berjuang keras dan tidak mengenal lelah untuk memenuhi janji pada anak saya; apakah bapa yang surgawi itu tidak akan melakukan hal yang sama bagi anak-anak-Nya?  Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia.  Mazmur 103:13


§ One Response to Seperti Bapa Sayang Anaknya

Leave a Reply

Your email address will not be published.

What's this?

You are currently reading Seperti Bapa Sayang Anaknya at Wahyu 'wepe' Pramudya's blog.

meta

Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome.