Bapa Tahu yang Terbaik

October 6th, 2010 § 0 comments

“Loh … kok masih di sini!” protes Alden ( saat itu 2,5 th) ketika ia membuka matanya, bangun dari tidurnya. “Alden mau pergi main. Naik mobil. Bukan di sini!,” teriaknya. Sesudah bangun itu, Alden menunjukkan kemarahan terutama kepada saya. Protesnya disampaikan sambil memukul-mukul tubuh saya. Saya mencoba menjelaskan kepada Alden bahwa mengapa kami membatalkan rencana ke taman, tapi ia tetap saja menunjukkan kemarahannya.

Siang hari itu, kami memutuskan untuk mengajak Alden jalan-jalan ke sebuah taman. Seperti biasanya, Alden sangat antusias. Ia memilih sendiri bajunya dari lemari. Mengenakan baju itu sebisanya, mencari sandalnya. Siap untuk berangkat bahkan ketika kami belum berganti baju. Alden memang selalu antusias kalau diajak jalan-jalan. Persis sama dengan mamanya.

Di awal perjalanan, Alden masih dengan semangat bercerita tentang apa saja yang dilihatnya. Sampai … suatu saat kami tidak lagi mendengark suaranya. Alden tertidur bahkan ketika belum separo jalan menuju taman. Dan … anak itu mendengkur halus, kayak papa-mamanya. Mendengkur kalau tidur maksudnya, suaranya sih jelas berbeda volumenya. “Alden tidur, tidak usah ke taman, ia perlu istirahat, beli susu saja,” kata Vanda. Saya mengangguk setuju. Kami pun membeli susu dan kemudian pulang.

Kami memutuskan untuk pulang, bukan karena kami tidak ingin Alden bermain di taman itu. Kami bukan hendak merampas sukacita Alden. Kami sangat mengenal perilaku dan kebutuhan Alden. Kami memutuskan pulang karena Alden lelah dan sudah tertidur. Main di taman tentu bukan gagasan yang tepat di tengah kelelahan Alden. Kami meletakkan Alden di tempat tidur. Ia tertidur dengan nyenyak, sampai kemudian bangun dengan kemarahan seperti itu.  Di tengah keterbatasan kami sebagai orangtua, kami tahu yang terbaik untuk Alden. Walau bukan hal yang mudah ternyata bagi Alden untuk menerima keputusan kami.

Tidak mudah bagi kita untuk menerima rencana atau keinginan yang tidak menjadi kenyataan. Apalagi ketika kita begitu menginginkannya, serius berdoa dan mempersiapkan diri sepenuh hati untuk mewujudkan rencana itu. Maka Tuhanlah yang menjadi sasaran kemarahan dan protes kita. “Mengapa kondisi saya masih seperti ini? Mengapa keinginan saya tidak menjadi kenyataan? Mengapa Tuhan tidak membuat usaha saya berhasil?” begitu bunyi rentetan protes kita.

Mungkin … dalam keadaan seperti ini kita perlu belajar untuk percaya dan berserah: Bapa mengenal kita dengan sempurna. Bapa tahu yang terbaik!


Tagged , , , , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published.

What's this?

You are currently reading Bapa Tahu yang Terbaik at Wahyu 'wepe' Pramudya's blog.

meta

Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome.