Membeli Waktu

October 8th, 2010 § 1 comment

Bukan hal yang mudah bagi saya untuk menjelaskan konsep pelayanan kepada Alden  yang waktu itu baru berusia 3 tahun. Sejak kecil ia biasa mendengar bahwa kalau papanya pergi, itu berarti ada pelayanan di gereja.  Nampaknya Alden belum bisa memahami apa artinya pelayanan.  Saya rasa kata yang lebih mudah untuk dipahami Alden adalah bekerja.   Akhirnya, saya memilih untuk berkata,” Papa harus pergi bekerja dulu!” Saya pikir hal ini menuntaskan rasa ingin tahu Alden. Ternyata tidak. Alden bertanya,” Kenapa papa harus bekerja?” Segera saya berjuang untuk menemukan jawaban yang menyangkut kepentingan Alden. “Papa harus bekerja supaya dapat uang. Uang untuk beli susu Alden.” Jawaban ini  biasanya mengakhiri pertanyaan Alden mengapa saya harus sering pergi di malam hari.

Tapi, sore hari itu ada yang berbeda. Ketika Alden melihat saya berganti baju, Alden mengulang pertanyaan yang sama,” Kenapa papa kok pergi?” “Papa harus bekerja,” sahut saya sambil mengenakan kemeja. “Papa harus bekerja supaya dapat uang,” lanjut saya, masih sambil mengancingkan kemeja saya. Alden terdiam, kemudian tangannya sibuk membuka laci. Saya sedang menyisir rambut ketika mendengar Alden memanggil saya,” Papa …” Saya pun menoleh ke arah Alden. Sambil mengulurkan tangan dengan tiga koin ratusan di telapak tangannya, Alden pun melanjutkan kalimatnya,” Ini uang Alden untuk papa. Papa tidak usah bekerja. Papa di rumah saja, main sama Alden.” Deg … hancurlah hati saya.  Saya pun berjuang untuk menahan agar air mata tidak menetes.  Alden membeli waktu saya dengan tiga ratus perak itu, supaya saya bisa berhenti bekerja dan menemaninya main.

Seringkali kita mengatakan bahwa segala kesibukan pekerjaan adalah ungkapan kasih kita kepada anak.  Demi masa depan yang lebih baik bagi anak-anak.  Kita bekerja keras mencari uang.  Tentu saja hal ini wajar dan benar.  Namun, anak-anak membutuhkan lebih dari sekedar uang.  Anak-anak membutuhkan waktu dan  kehadiran kita.  Apakah di tengah kesibukan pekerjaan, kita masih menyediakan waktu dan diri kita bagi anak-anak kita?


Tagged , , , , , , , , , ,

§ One Response to Membeli Waktu

  • Alfred Monim says:

    Kisah yang menarik Yu. Saya juga pernah mengalami hal yang sama. Setiap kali saya sedang siap2 untuk pergi pelayanan, anak saya selalu bertanya: papa mau kemana? Lalu saya menjelaskannya bahwa papa mau pergi pelayanan. Karena ia sudah SD kelas satu waktu itu, ia mengerti. Dana mamanya selalu bantu menjelaskannya. Tetapi pada satu waktu, anak saya protes katanya: kenapa papa harus pergi-pergi terus untuk pelayanan. Apakah papa tidak punya waktu lagi untuk bermain dengan Caca dan ade?
    Mendengar ungkapan anak demikian, saya merasa sedih dan saya tahu inilah salah satu sikap protes mereka.

    Di satu kesempatan, anak saya (Carissa biasa dipanggil Caca) jatuh sakit. Ketika saya berdua dengannya di kamar. Caca memandang ke arah wajah saya dan berkata: saya sering mendengar papa berdoa untuk orang-orang sakit di gereja, apakah papa mau berdoa juga untuk saya? Mendengar pertanyaan ini, saya menjawabnya: iya nak Papa mau berdoa buat Caca.

    Anak-anak makin hari makin kritis. Tidak saja kritis tapi mereka juga membutuhkan perhatian dan kasih sayang kita. Mereka dapat melakukan apa saja demi merebut perhatian dan kasih sayang dari orangtuanya.

    Mungkin itu yang Alden lakukan. Ia rela melakukan/mengorbankan sesuatu yang ia miliki demi mendapatkan perhatian dan kasih sayang dari Papanya.

    Bila kita punya hari off, sebaiknya kita pergunakan itu dengan semaksimal bersama dengan mereka.

    G-d bless

Leave a Reply

Your email address will not be published.

What's this?

You are currently reading Membeli Waktu at Wahyu 'wepe' Pramudya's blog.

meta

Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome.