Mendekat Kepada Allah

January 12th, 2011 § 0 comments

Beberapa waktu yang lalu saya mencari dompet saya sebelum berangkat ke gereja.  Saya mencoba mencarinya,  namun tidak ditemukan.  Hampir setengah hari mencari, namun tidak ketemu. “Hilangnya di mana pak?” tanya pembantu saya.  “Kalau bapak tahu di mana hilangnya, ya pasti sudah ketemu,” jawab isteri saya.  Kami pun tertawa. Lelah mencari, saya memutuskan untuk tidur sejenak karena malam harinya saya telah mempunyai janji konseling dan memimpin doa malam.  Tidak ada doa yang terucap, namun hanya sebuah curahan hati saja di hadapan Tuhan,”Minggu ini jadwal pelayanan padat.  Masak sih harus ditambah dengan mengurus ktp, dua sim, kartu atm, kartu kredit dan kartu-kartu yang lain.”

Saya berangkat ke gereja dan melakukan konseling.  HP pun saya silent.  Tiba-tiba ruang pendeta diketuk oleh seorang penatua.  “Vanda bilang ada orang yang menemukan dompetmu.”  Segera saya telpon ke rumah dan ternyata benar ada seorang petugas kebersihan yang menemukan dompet saya.  Uang tentu saja telah hilang, namun seluruh kartu penting masih ada.  Akhir yang indah bukan?  Plus tiba-tiba saja ada orang yang tidak saya kenal sebelumnya menitipkan uang persembahan kasih yang jumlahnya kurang lebih sama dengan yang hilang.  Luar biasa bukan?

Hidup Tak Selalu Indah

Sayangnya tidak semua kesulitan di dalam hidup ini, juga hidup saya, berakhir seindah itu.  Ada saat-saat di mana kita berdoa memohon sesuatu dari Tuhan, eh sampai sekarang belum ada jawaban dari Tuhan.  Padahal toh yang kita minta adalah hal yang baik : perubahan sikap anggota keluarga kita, pekerjaan yang lebih baik, pasangan hidup, rejeki untuk hidup sehari-hari dan juga kesembuhan dari penyakit.  Apakah ada yang salah dengan permintaan kita ini?  Tidak ada bukan! Lalu apa sulitnya bagi Tuhan untuk mengabulkan hal-hal yang baik seperti ini? Sebuah pertanyaan besar tersimpan di hati kita.

Tanya di dalam diri kita makin bertambah tatkala kita memperhatikan dunia di sekitar kita.  Kita melihat rekan-rekan kita yang mengalami keberhasilan di dalam pekerjaan dan kebahagiaan dalam keluarga.  Tubuh mereka pun sehat, terbebas dari segala penyakit.  Harta melimpah yang membuat mereka bisa menikmati segala yang terbaik di dalam dunia ini.  Padahal kita tahu benar bagaimana mereka menjalani kehidupan ini.  Bukan hanya tidak mengenal Tuhan, mereka juga melanggar tatanan moral yang ada di masyarakat.  Mereka jahat terhadap manusia lain, pintar memutarbalikan keadilan, dan tidak pernah tertangkap oleh aparat yang berwenang.  Tanya yang menggema di hati : mengapa Tuhan membiarkan hal seperti ini terjadi?  Apa sulitnya bagi Tuhan untuk menghukum mereka?  Mengapa Tuhan tidak melakukannya?

Mengapa Orang Benar Menderita?

Asaf, penulis Mazmur 73 ini, mempunyai pertanyaan yang sama dengan kita.   Mengapa orang-orang jahat mengalami kemujuran?  Tubuh mereka sehat, tidak terkena penyakit.  Mereka lepas dari segala kesulitan dan penyakit yang menimpa manusia lain.  Mereka menjadi sombong dengan segala macam kejahatannya.  Bahkan mereka berani membual di hadapan langit dan tidak ada yang terjadi pada diri mereka.  Kalau orang jahat mengalami kemujuran dan segala yang terbaik di dalam hidup ini,  Asaf merasa bahwa kesalehannya menjadi sia-sia.  Bahkan, Asaf yang menjaga hidupnya bersih pun tidak luput dari kesulitan dan tulah.  Perhatikan perkataan Asaf,”  Sia-sia sama sekali aku mempertahankan hati yang bersih, dan membasuh tanganku, tanda tak bersalah.  Namun sepanjang hari aku kena tulah, dan kena hukum setiap pagi.”

Kalau begitu, pikir Asaf, lalu mengapa tidak ikut-ikutan menjadi jahat sekalian saja.  Kalau orang benar malah menderita, sedangkan orang jahat menikmati kebahagiaan lalau mengapa tidak ikut menjadi jahat sekalian saja.  Ayat yang ketiga mengungkapkan hal ini : “Sebab aku cemburu kepada pembual-pembual, kalau aku melihat kemujuran orang-orang fasik.” (Mazmur 73:3)

Tidak ada yang lebih menggoda kita untuk melakukan hal yang jahat, selain melihat kejahatan itu membuahkan hasil yang diharapkan dan pelakunya tidak tertangkap.  Atau kalau pun tertangkap toh dengan hasil kejahatan yang ada, semua bisa diatur.  Mau keluar masuk rumah tahanan sampai 68 kali bisa.  Mau nonton tenis ke Bali juga bisa.  Tentu saja, jangan lupa pakai wig   Gemas sekali bukan kita melihatnya?

Bagaimana juga dengan mereka yang telah membunuh Munir misalnya?  Melenggang tak terungkap bukan?  Bagaimana dengan kasus penghilangan aktivis di Orde Baru, seperti Wiji Thukul misalnya?  Bagaimana dengan kasus keteledoran eksplorasi minyak yang disulap menjadi bencana alam?  Bagaimana dengan ….  Silakan Anda mengisi sendirilah.  Daftarnya bisa menjadi panjang bukan?  Rasa putus asas kita juga makin panjang.  Dan … ada godaan besar untuk berhenti melakukan yang baik, dan turut melakukan yang jahat bukan?

Dalam sebuah perjalanan dari Bandara Soekarno Hatta menuju ke gereja, kami melewati jalan tol.  Antrian begitu padat, dan satu-dua mobil mulai mengambil bahu jalan.  Ketika melihat kejadian itu, sang sopir langsung nyeletuk,”  Bakal ketangkep polisi tuh.  Polisi di sini keras.  Siap-siap aje!  Kita sih sabar aja ya pak, yang penting kita tidak ngelanggar.  Kita yang bener.”  Beberapa menit berlalu, beberapa mobil di belakang kami pun melesat mengambil bahu jalan.  Makin lama makin banyak. “Panen deh polisinya,” kata pak sopir sambil tertawa.  “Masih sabar untuk menunggu khan pak?” tanyanya.  Saya hanya tersenyum saja.  Hampir dua puluh menit nyaris tidak bergerak. Sopir mobil gereja pun bertanya,”  Pak, emang di depan tidak ada polisi?”  Saya yang duduk di sebelah kiri mengarahkan pandangan ke depan,” Ada tuh pak. Tapi semua yang tadi lewat dibiarin aja. “Kalau gitu, sekalian aja mobil ini.  Kalau nanti kita yang ketangkep, kita bilang aja kenapa yang tadi dibiarin saja,” kata sang sopir sambil membanting stir ke kiri

Ketika apa yang salah tidak mendapatkan hukuman yang seharusnya, sementara yang benar malah sengsara, tidakah kita tergoda juga untuk melakukan yang salah juga?  Asaf yang mengamati kenyataan yang serupa ini, jujur mengaku, “Tetapi aku, sedikit lagi maka kakiku terpeleset, nyaris aku tergelincir.

Sebab aku cemburu kepada pembual-pembual, kalau aku melihat kemujuran orang-orang fasik …” (Mazmur 73:1-2).

Perspektif yang Berubah

Lalu, apa yang terjadi pada Asaf selanjutnya?  Apakah ia ikut-ikutan melakukan yang jahat?  Simak penuturannya,” … sampai aku masuk ke dalam tempat kudus Allah, dan memperhatikan kesudahan mereka.  Sesungguhnya di tempat-tempat licin Kautaruh mereka, Kaujatuhkan mereka sehingga hancur. Betapa binasa mereka dalam sekejap mata, lenyap, habis oleh karena kedahsyatan!” (Mazmur  73:17-19).

Belum berakhir!  Itulah pemandangan yang dilihat oleh Asaf ketika ia masuk ke tempat kudus Allah.  Frasa tempat kudus Allah berarti tempat di mana Allah bertahta dalam kekudusan dan kemuliaan.

Dari sudut pandang Allah nampaknya kejayaan orang fasik itu tidak akan bertahan selama-lamanya.  Asaf melihat orang-orang itu seperti di taruh di tempat-tempat licin.  Hanya menunggu waktu untuk jatuh.  Kejahatan itu walaupun nampak perkasa menyimpan benih-benih kehancurannya sendiri.

Sejarah telah menjadi saksi betapa orang-orang yang jahat, berkuasa seolah-olah tanpa batas dan durasi waktu, namun toh jatuh juga.  Adolf Hitler yang begitu digdaya pun akhirnya bunuh diri ketika mendengar kabar kekalahan pasukannya.  Begitu pula dengan Stalin, Polpot, Mussolini dll.  Tuhan tidak hanya berurusan dengan kejahatan yang besar-besar saja.  Tetapi, di dalam setiap kejahatan, besar atau kecil, tersimpan benih kehancurannya sendiri.  Dan kadangkala yang Tuhan lakukan adalah membiarkan pelaku kejahatan itu terjebak oleh keinginannya sendiri.

Harian Kompas, 16 Januari 2010 mengisahkan tentang seorang pria pemalsu uang yang tertangkap polisi di Kuala Lumpur.  Uniknya, pria ini tertangkap setelah memberikan tip selembar uang 500 dollar AS (senilai 4,6 juta) kepada pelayan hotel.  Pelayan hotel yang merasa beruntung ini segera menukarkan selembar uang tersebut.  Petugas penukar uang segera memanggil polisi untuk menangkap sang pemberi tip.  Mengapa?  Karena pecahan tertinggi dalam dollar AS adalah 100 bukan 500.  Polisi menemukan uang palsu senilai 66 juta dollar AS.

“Dosa orang jahat bagaikan perangkap yang menjerat orang itu sendiri,” demikianlah peringatan penulis Kitab Amsal dalam pasal 5 ayat 22 versi Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS).  Apa yang dilakukan oleh Asaf ketika menantikan kejahatan itu akhirnya tumbang? Ia sadar kalau berdiam diri saja, ia bisa tergerus oleh keinginan untuk melakukan kejahatan yang sama. Ia pun sadar kemampuannya untuk mengubah orang lain tidaklah besar.  Apa yang dilakukan oleh Asaf?

Asaf memilih untuk,” Tetapi aku tetap di dekat-Mu; Engkau memegang tangan kananku.  Dengan nasihat-Mu Engkau menuntun aku …” (Mazmur 73:23-24).  Ia memilih untuk berada di dekat Tuhan, dan merasakan tangan Tuhan memegang tangannya.  Gambaran yang mungkin terasa abstrak, tetapi dipertegas dengan kalimat selanjutnya :  Dengan nasihat-Mu Engkau menuntun aku.  Dekat dengan Tuhan berarti memilih untuk mendengarkan sabda-Nya.

Dekat dengan Tuhan berarti membiarkan hidup dituntun oleh sabda-Nya, dan bukan oleh apa yang nampak di depan mata kita.  Seperti yang pernah dikatakan oleh Habakuk,” Tetapi orang benar akan hidup oleh percayanya.”

Inilah kekuatan kita untuk bertahan di tengah masyarakat yang karut-marut.  Ketika kejahatan nampak perkasa, ingatlah bahwa ia tak kan bertahan lama.  Sementara itu, marilah kita dekat dengan Tuhan dengan membiarkan firman-Nya menuntun kehidupan kita memasuki tahun yang baru.


Tagged , , , , , , ,

Leave a Reply

Your email address will not be published.

What's this?

You are currently reading Mendekat Kepada Allah at Wahyu 'wepe' Pramudya's blog.

meta

Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome.