Normal

February 11th, 2013 § 0 comments

normal1Semua mulai dengan rintihan Alden pada dini hari seminggu yang lalu.  Ia mengeluhkan telinga sebelah kanannya sakit,” Ada bubble nya, Pa.”  Segera saya mengajak Alden ke kamar mandi, menuangkan air hangat ke telinga dan memintanya untuk menggelengkan kepala agar air itu keluar kembali.  Hal yang biasa saya lakukan ketika anak-anak mengeluh ada gelembung air di telinganya. Saya berharap hal itu menyelesaikan masalah yang ada. Ternyata tidak!

Pagi itu adalah permulaan dari rangkaian peristiwa yang membawa tanya dan gelisah. Panas yang tak kunjung turun, rasa sakit di telinga, badan yang terlihat lemah dan pucat.  Dari satu dokter THT ke dokter THT yang lain.  Dari satu apotik ke apotik yang lain.  Dari pemeriksaan darah di tengah malam hingga di tengah hari. Dari satu terapi ke terapi yang lain. Dari kepanikan karena Alden menggigil yang membuat saya tancap gas ke UGD dini hari itu, hingga kepanikan karena panas itu muncul kembali ketika saya harus terbang ke Jakarta.  Semua peristiwa itu tidak terjadi dalam hari-hari yang tanpa acara dan agenda.  Saya harus melayani beberapa kedukaan, termasuk di luar kota, sementara Vanda harus mengajar seperti biasa.  Tak pelak lagi, Vanda harus mengurus ijin untuk pulang lebih awal, sementara saya harus membatalkan pelayanan di Jakarta yang telah terjadwal setahun yang lalu.

***

“Lho, Bapak ada di sini.  Ada apa?” tanya seseorang di tengah malam itu.  Saya sedang duduk menanti hasil pemeriksaan laboratorium yang harus saya ambil di bagian UGD rumah sakit.  Setelah memberikan penjelasan ringkas, saya pun balik bertanya,” Kalau Bapak sendiri mengapa di tempat ini.” Pria itu terlihat tenang di ruang UGD yang biasanya menggelisahkan banyak orang itu. “Saya mengantarkan saudara saya. Kalau sakitnya kambuh, ya harus ke rumah sakit jam berapa pun,” tuturnya.  Tak ada keinginan saya untuk bertanya lebih detil, karena apa gunanya memuaskan rasa ingin tahu di tengah derita yang ada. “Ini sudah tahunan sakit begini kok, Pak.  Sudah semacam menjadi rutinitas yang berulang kapan saja,” jelas pria itu kembali.

“Sus, ini tangan saya sakit lagi,” kata seorang perempuan sambil memasuki ruang terapi.  “Lho, setelah liburan ke Bali kok malah sakit,” jawab ramah suster yang ada.  “Ya engga tahu, tiba tiba sakit lagi,” jawab wanita itu.  Sepertinya mereka berdua sudah mengenal begitu lama. Setelah mereka memasuki ruang terapi, suster yang menjaga di bagian administrasi berkomentar pendek,”  Sudah bertahun-tahun  Ia harus terapi seminggu dua kali, semoga segera pulih.”  Dua kali seminggu selama bertahun tahun?  Tak terbayangkan oleh saya yang baru empat kali mengantar dan menunggu Alden untuk terapi.

“Lho, Pak Wepe. Ada acara apa Pak di rumah sakit?” sapa ramah seorang pria di tempat parkir.  “Biasa Pak, mau besuk beberapa anggota jemaat,” jawab saya sambil mengulurkan tangan.  “Bapak sendiri dalam rangka apa?  Siapa yang sakit?” tanya saya.  “Oh …. biasa, Pak. Mau cuci darah dulu. Seminggu dua kali,” jawabnya sambil mengunci mobilnya.  Cuci darah?  Biasa? Dua kata yang tak bisa bersanding dalam pikiran saya.  Mengantarkan Alden dua kali periksa darah saja sudah cukup menggentarkan hati saya. “Sudah tahunan kok, Pak Wepe.  Kalau lemes, ya biasanya pas jadwal cuci darah.  Habis itu ya kerja lagi. Cari duit lagi,” katanya sambil mempercepat langkah dan melambaikan tangan.  Saya baru tahu ternyata orang yang selama ini saya kenal cukup aktif di gerejanya harus bergumul dengan cuci darah.

***

Everybody’s normal till you get to know them, begitu judul buku John Ortberg yang saya baca tengah malam tadi.  Ortberg bertutur bahwa pada umumnya hidup orang[-]orang terlihat baik-baik saja, tetapi bila kita mengenalnya lebih dalam barulah kita memahami bahwa ada hal-hal yang tak biasa atau tak normal di dalam hidup orang-orang itu.  Alkitab pun tak menyembunyikan hal-hal tak biasa atau tak normal itu.  Abraham yang tidur dengan pembatunya, Lot yang menawarkan anak perempuannya pada massa yang berhimpun di depan rumahnya, Ruben yang tidur bersama gundik ayahnya, adalah sedikit contoh hal-hal yang tak normal ketika kita melihat lebih dekat.

Seminggu ini, ketika bergumul dengan rasa sakit Alden, saya berjumpa lebih dekat lagi dengan hidup beberapa orang.  Ternyata mereka pun juga bergumul dengan hal-hal tertentu dalam kehidupan.  Pergumulan yang seringkali tak terlihat di mata orang lain.  Masalah yang tersembunyi di balik aktivitas pekerjaan dan pelayanan sehari-hari.  Ketika kita merasa bahwa hidup orang lain terlihat baik-baik saja alias normal, maka itu berarti kita belum melihat lebih dekat.

Ya, tidak ada hidup yang normal dalam arti lepas dari penderitaan dan masalah.  Hidup yang normal adalah hidup bersama dengan penderitaan dan masalah.


Leave a Reply

Your email address will not be published.

What's this?

You are currently reading Normal at Wahyu 'wepe' Pramudya's blog.

meta

Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome.