Studi Lanjut

June 30th, 2013 § 2 comments

 

buku“Mas, fotokopi gambarnya tidak bisa hitam seperti aslinya ya, hemat tinta,” begitu tutur ramah mbak penjaga perpustakaan.  Saya mengerti, di perpustakaan seminari ini biasanya mahasiswa hanya memfotokopi bahan-bahan untuk membuat makalah yang tentu saja sama sekali tak bergambar yang membuat boros tinta fotokopi.  Permintaan saya untuk melakukan fotokopi lembar yang ada gambarnya memang terasa tak biasa.

“Mas Wahyu, kenapa sih fotokopi gambar-gambar iklan sekolah teologi di luar negeri?” tanya mbak penjaga perpustakaan suatu kali.  Saya hanya tersenyum tanpa sepatah kata pun.

Ya, saya sering memfotokopi gambar-gambar iklan sekolah teologi yang saya temukan misalnya di Christianity Today ataupun majalah Kristen lainnya.  Saya mulai mengenal nama Fuller Theological Seminary, Trinity Evangelical Divinity Schools, Dallas Theological Seminary, Reformed Theological Seminary, dan beberapa sekolah lain yang terhisab dalam kelompok Evangelical.  Hasil fotokopi itu saya tempelkan di depan meja belajar saya di kamar asrama.  Saya belajar sambil membayangkan suatu kali akan belajar di salah satu sekolah teologi ternama itu.  Saya tentu tak punya bekal finansial memadai, tetapi saya juga mendengar bahwa beberapa sekolah menyediakan beasiswa.  Tekad saya membulat sejak semester ketiga di seminari itu. Ya, saya harus sekolah sampai dengan jenjang doktoral di salah satu sekolah itu.

***

Selesai dari seminari itu, entah mengapa beberapa gereja justru menawarkan pelayanan sebagai pendeta.  Sungguh, saya tak merasa terpanggil untuk menjadi seorang pendeta.  Saya menikmati belajar dan mengajar, dan bukan menggembalakan jemaat.  Dalam rangka menghindar dari beberapa tawaran itu, saya memutuskan untuk melanjutkan studi magister di sebuah sekolah teologi di Semarang.  Hasilnya?  Tak mengecewakan tentunya, bahkan saya mendapatkan penghargaan sebagai salah satu lulusan terbaik dengan indeks prestasi yang nyaris sempurna.  Makin yakinlah saya bahwa mengajar adalah panggilan pelayanan saya, seperti juga menjadi dosen adalah panggilan hidup ayah dan kakak.

Eh, ternyata tetap saja panggilan dari beberapa gereja untuk menjadi pendeta berdatangan.  Saya menyerah.  Saya mempertimbangkan untuk memasuki pelayanan di gereja, dengan catatan saya tak bersedia menjadi pendeta tetapi menangani masalah pengajaran atau pendidikan teologi bagi warga gereja. Akhirnya … yah Anda tentu tahu bahwa saya menjadi seorang pendeta.  Apakah menjadi seorang pendeta mengaburkan harapan saya untuk studi lanjut sampai jenjang akademis tertinggi? Anda bisa menemukan jawabannya di artikel berjudul : Di Tangan Sang Penjunan.  Artikel itu saya tuliskan untuk buku penahbisan pendeta.  Di bagian akhir tulisan itu, saya mengungkapkan harapan bahwa suatu saat saya akan melanjutnya studi, syukur-syukur di luar negeri.

Impian studi lanjut itu tetap hidup di sepanjang pelayanan saya sebagai pendeta.

***

“Secara pribadi, selain secara kelembagaan, saya akan mendukung pak pendeta untuk studi lanjut.  Pak pendeta boleh melanjutkan studi di manapun juga di luar negeri, saya akan memberikan dukungan finansial penuh. ” ucap pria itu tegas sambil menatap mata saya.  Pria itu bukan sekedar berjanji, saya tahu pasti ia punya kapasitas yang lebih dari memadai untuk menggenapi janjinya.  Namanya terbilang di antara salah satu dari lima puluh orang terkaya di Indonesia.

Ya, inilah yang saya nantikan.  Impian saya puluhan tahun lalu mendekati kenyataan.  Malam itu, saya kembali ke hotel pada pk 23.30 dan sama sekali tak dapat tertidur, seperti seorang anak yang begadang karena tak sabar menantikan pagi menjelang, saat ayahnya pulang membawa kado ulang tahunnya.

Ya, saya bersukacita tetapi sekaligus bergumul.  Impian saya ada di depan mata, tetapi bukan tanpa syarat.  Pria itu mengharapkan saya untuk melayani di gerejanya.  Bukan syarat yang mudah, tetapi impian itu juga terlalu indah untuk dilepas begitu saja.  Saya membutuhkan waktu untuk berpikir dan berdoa.  Berapa lama?  Setahun!  Akhirnya … saya memutuskan untuk melepaskan impian itu. Sedih dan berat tentu saja, tetapi saya sangat menyakini bahwa belum saatnya saya pergi meninggalkan gereja yang selama ini saya layani.

***

Ketika hati terbelah antara melayani di gereja dan meneruskan studi, akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan studi pada tingkat doktoral di Indonesia saja.  Saya mengubur dalam-dalam impian studi di luar negeri, karena sejauh ini saya semakin menemukan kecintaan untuk melayani sebagai pendeta jemaat.  Keinginan untuk mengajar di seminari berganti dengan kecintaan terhadap pelayanan firman dan pelatihan di pelbagai tempat di Indonesia hingga keluar negeri.  Saya masih berminat untuk studi, bukan dengan tujuan mengajar di seminari, tetapi untuk memperlengkapi diri.

“Ya, kami bisa memberikan Anda rekomendasi untuk melanjutkan studi lanjut pada tingkat doktoral,” begitu tutur seorang rekan pendeta yang mengurusi bidang kependetaan di sinode kami, setelah saya melakukan presentasi dan kami bertanya jawab. Setelah itu kami berbincang tentang prospek pelayanan setelah saya nantinya menyelesaikan studi doktoral itu.  Saya bersyukur untuk keputusan itu.  Selama 6 bulan terakhir, setelah berkonsultasi dengan seorang dosen teologi, saya memutuskan untuk studi lanjut pada bidang yang relatif baru di Indonesia.  Buku-buku akademis telah saya beli dan baca, puluhan artikel di jurnal telah terkumpulkan, sementara proposal studi doktoral sudah mendekati tahap akhir penyelesaian.

Pada akhirnya, impian saya segera menjadi kenyataan.  Tak seperti bayangan awal, tetapi inilah yang terbaik yang terbuka jalannya bagi saya.

***

“Kami telah mengadakan observasi terhadap anak bapak.  Kemampuan motorik halus dan kasar baik, sesuai dengan perkembangan umurnya.  Hanya saja kemampuan berbicaranya terlambat.  Usia Clay kini 35 bulan, sedangkan kemampuan bicaranya setara dengan anak 15 bulan,” begitu tutur seorang suster di sebuah klinik tumbuh kembang anak.  Hasil observasi itu menjawab pertanyaan Saya dan Vanda selama ini.  Clay bertumbuh sehat dan aktif, tetapi tak banyak bicara.  Clay baru bisa mengucapakan : papa, mama, koko, keluar, dan mam-mam alias makan.  Vanda yang merasa gelisah meminta saya untuk membawa ke klinik tumbuh kembang anak.  Setelah berkonsultasi dengan banyak ahli di beberapa tempat, pencarian kami berujung pada hasil observasi tersebut.  Sebelumnya, kami telah mendapatkan hasil diagnosis yang kurang lebih sama, tetapi kini hasilnya begitu gamblang.  Proses terapi menjelang di depan mata.

Dilema datang walau tak diundang.  Rencana awal untuk studi di luar kota pada senin sd jumat, dan kembali ke Surabaya pada Sabtu sd Minggu kini menjadi terasa begitu berat.  Rasanya tak mungkin meninggalkan Vanda seorang diri untuk mengurus Alden dan terapi rutin bagi Clay.  Tak mudah untuk mengambil keputusan dalam dilema ini.  Untuk kedua kalinya, impian ada di depan mata, tapi pergumulan yang tak pernah diundang itu datang.  Beberapa orang menganggap wajar dan biasa keterlambatan bicara pada seorang anak, toh nanti akan bisa dengan sendirinya.  Tentu, saya berharap Clay bisa mengejar ketertinggalannya.  Tapi membiarkan begitu saja, tanpa penanganan, saya tak tega melakukannya.

***

Saya ingin menyampaikan perkembangan terakhir terkait dengan rencana studi lanjut.  Pada saat ini, saya memutuskan untuk menunda rencana studi  terkait dengan kondisi tumbuh kembang anak  kedua yang tak berjalan dengan optimal.  Kebutuhan anak untuk mendapatkan terapi secara rutin menuntut konsentrasi dan pendampingan dari saya dan istri, sehingga studi lanjut untuk sementara ini belum memungkinkan.”  Demikianlah kutipan salah satu bagian dari surat yang saya kirimkan ke sinode gereja kami.

Ya, untuk kedua kalinya, impian itu sirna.  Sedih tentu saja, tetapi apa artinya saya mampu menyelesaikan studi doktoral, sementara anak saya tak lancar berbicara?

***

Hidup itu seperti berjalan di selasar mall.  Kita berjalan dan mengamati toko-toko dengan harapan menemukan sesuatu yang kita cari, tetapi ada kalanya kita tak mendapatkan apapun.  Kadangkala kita malah menemukan sesuatu yang tak pernah kita harapkan. Tak pernah kita harapkan tentu saja bukan berarti tak berarti bagi kita.  Terbuka kemungkinan sesuatu yang tak pernah kita harapkan  adalah hal yang sunguh-sungguh memiliki arti.

 


§ 2 Responses to Studi Lanjut"

  • Subhakti says:

    ” You can’t always get what you want” judul lagu dari The Rolling Stone salah satu yg mengingatkan ku manakala ada harapan yg kandas, cita2 yg tersandung, kerikil2 yg menghambat dan semua yg aku ingini berantakan. Tapi aku menyaksikan dan mengalami Tangan Tuhan selalu terulur tepat pada waktunya. Dan kehendakNya membawaku damai sejahtera bukan keterpurukan.

  • Rizal says:

    Artikel yang lembut. Yuk kunjungi website kami

Leave a Reply

Your email address will not be published.

What's this?

You are currently reading Studi Lanjut at Wahyu 'wepe' Pramudya's blog.

meta

Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome.