Mama

December 18th, 2013 § 2 comments

hatiDi suatu pagi, ia melangkahkan kaki masuk ke ruang kerja saya, dengan pakaian rapi dan santun seperti hendak pergi bekerja. Ia lalu duduk berhadapan dengan saya. Parasnya cantik, walau hanya tersentuh polesan make up yang sederhana. Hmm… bukankah kecantikan itu memang tak membutuhkan topeng dalam bentuk polesan make up yang tebal?

Dengan mug berisi kopi di tangan, saya membuka percakapan pagi itu, “Ada yang bisa saya bantu?”

Sekilas muncul kerut di keningnya, namun langsung lenyap begitu senyum manisnya terbit.”Pak Wepe, saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Saya sedang bingung. Sebentar lagi saya akan menikah, tapi… “ Ia berhenti bicara, mengeluarkan tissue, dan menyeka air matanya yang mendadak turun seperti gerimis di hari itu.

Saya menikmati satu tegukan kopi, sembari menanti dalam hening pagi. Sekilas di pikiran saya bermunculan inventaris masalah orang yang akan menikah.  Ada yang baru mengetahui bahwa pasangannya ternyata sudah mempunyai keluarga, selingkuh, menderita penyakit tertentu, atau malah adalah pecinta sejenis. Masalah-masalah klise, namun pastilah terasa menyesakkan bagi mereka yang mengalaminya.

“Saya tinggal di rumah bersama dengan papa mama saya. Keduanya mempunyai usaha sendiri.  Sangat sibuk dengan pelbagai aktivitas bisnis, sehingga sejak kecil kami, anak-anak papa-mama, diasuh oleh seorang pembantu rumah tangga yang bisu dan tuli. Ada beberapa pembantu yang lain, tetapi pembantu bisu dan tuli itulah yang memandikan, memberi kami makan dan menemani kami ke sekolah,” tutur perempuan itu dengan mata yang menerawang, mencoba mengingat perjalanan hidup.

Rangkaian pemaparan yang biasa saya dengarkan, namun tetap menyisakan tanya ke mana arah dari percakapan ini.

“Pergumulan saya mungkin terasa sederhana bagi orang lain Pak Wepe, tapi tentu saja tak sesederhana itu bagi saya,” kembali kerut muncul di dahinya.

“Saya yakin itu tak sederhana.  Sebab jika itu adalah pergumulan sederhana, pasti Anda tak akan rela menunggu giliran jadwal konseling dengan saya selama seminggu lebih,” tutur saya untuk mendorongnya berbicara.

Hening sejenak di pagi yang masih sepi itu.  Hembusan angin dari AC makin terasa.  “Apakah kalau saya menikah nanti, maka orang tua saya harus duduk di depan baik di gereja maupun di tempat acara?” tanyanya.

“Saya tidak tahu bagaimana aturan yang berlaku di gereja Anda, tetapi di gereja kami itu adalah hal yang biasa saja. Orangtua pada umumnya akan hadir, duduk di bangku paling depan, baik di gereja maupun di tempat jamuan makan. Apakah ada pergumulan tertentu yang membuat orangtua Anda tidak bisa seperti itu? Ada masalah dengan kesehatan, sehingga mereka tidak dapat hadir? Atau jangan-jangan mereka tidak setuju dengan pernikahan Anda?”  Saya sengaja melontarkan beberapa dugaan sekaligus untuk menentukan arah percakapan.

***

“Dua minggu yang lalu, mama memanggil saya. Ia berbicara banyak hal pada saya. Mungkin ia ingin memberikan bekal-bekal pernikahan. Di ujung percakapan itu, mama…..,” tiba-tiba ia terisak dan tak mampu membendung lagi air matanya. Saya menyodorkan kotak tissue di ruang kerja.  Kotak tissue yang menjadi saksi setia betapa air mata akrab dengan derita dan bahagia.

Hening kembali menyapa ruangan kerja. Ada jeda yang tak nyaman bagi saya, tetapi nampaknya perlu bagi perempuan itu untuk menuntaskan tangisnya.

“Mama bilang…. saya bukan anak kandungnya,” katanya setelah menghela nafas panjang.

“Oh ya, jadi siapa papa-mama kandung Anda? Apakah mama Anda mengatakannya?” tanya saya.

“Ya, mama saya mengatakannya. Orang yang selama ini saya sebut papa adalah benar papa kandung saya, beliau sudah meninggal dunia, sedangkan mama kandung saya adalah….” tangisnya pecah kembali.

Keheningan yang kembali menyapa dengan tanya yang tak terjawab.

“Mama kandung saya sebenarnya adalah pembantu bisu tuli yang selama ini mengasuh saya. Saya adalah buah hasil pemerkosaan papa terhadap pembantu itu,” tuturnya sambil menundukkan kepalanya.

Astaga.  Saya tak bisa menyembunyikan keterkejutan saya lagi. “Apakah Anda sudah melakukan konfirmasi kisah ini kepada pembantu eh … orang yang disebut sebagai mama kandung Anda?” tanya saya segera.

“Beberapa hari yang lalu, saya mengajak pembantu itu duduk bersama.  Saya menuliskan beberapa kata di selembar kertas, yang intinya menanyakan apakah saya memang adalah anaknya, dan apakah betul almarhum papa memerkosanya dua puluhan tahun yang lalu,” jawab perempuan itu.

“Apa jawabnya?” tanya saya segera ingin tahu.

“Ia tak menjawab apapun, karena bisu dan tuli. Segera sesudah ia membaca tulisan saya, ia memeluk saya dan menangis histeris. Mengertilah saya bahwa saya adalah anak kandungnya. Pantas saja selama ini saya diperlakukan istimewa olehnya. Saudara saya yang lain kerap tak dipedulikannya, tetapi saya selalu dilayaninya. Saudara-saudara yang lain dimarahinya, walau dengan kata-katanya tak jelas, tetapi jarang sekali ia marah pada saya,” jelas perempuan itu.

“Dengan tulisan tangan yang jelek, mama kandung saya menulis bahwa sebenarnya ia dipaksa untuk menggugurkan kandungannya oleh papa dan orang yang selama ini saya sebut sebagai mama. Ia menolak untuk menggugurkan saya.  Obat-obatan itu tak pernah ditelannya, ia juga lari ketika dibawa ke sebuah tempat untuk menggugurkan saya. Ia bersikeras untuk membesarkan saya dan melahirkan saya.  Ia pasti sangat mencintai saya,” lanjut perempuan itu.

“Jadi, siapa pak yang seharusnya duduk di bangku depan gereja atau di tempat acara? Siapa yang kepadanya saya akan memeluk dan mengucapkan terima kasih?  Mama yang selama ini membesarkan saya pun sudah rela seandainya mama kandung saya yang duduk di bangku terdepan?” tanyanya.

Saya menghela nafas panjang sambil mencoba menemukan kata-kata yang tepat. “Anda punya dua mama;mama kandung dan mama yang membesarkan Anda. Dua-duanya mencintai Anda dengan caranya masing-masing. Sebaiknya, kalau saya boleh memberi saran, kepada keduanyalah rasa hormat dan terima kasih layak diberikan. Keduanya layak duduk di depan, bersama-sama.”

***

Beberapa bulan kemudian, melalui Facebook, saya menerima kiriman gambar pernikahan perempuan itu. Ada dua perempuan dewasa yang duduk di sampingnya. Mama kandungnya, dan mama yang membesarkannya. Perempuan-perempuan tangguh di tengah hidup yang seringkali tak menghamparkan pilihan lain.

***

Ada perempuan yang mendapatkan kesempatan untuk melahirkan anak dari rahimnya.  Ada perempuan yang tak mendapatkan kesempatan seperti itu.  Perempuan yang mendapatkan kesempatan melahirkan anak dari rahimnya mempunyai waktu sembilan bulan lebih untuk mengolah rasa agar anak itu juga lahir dari hatinya.  Apa sebutan bagi seorang perempuan yang melahirkan anak dari rahim dan hatinya?  Mama!

Perempuan yang tak berkesempatan melahirkan anak dari rahimnya, tetap masih bisa melahirkan seorang anak dari hatinya.   Apa sebutan bagi seorang perempuan yang tak berkesempatan melahirkan anak dari rahimnya, namun telah melahirkan anak dari hatinya?  Mama!

 

*@pdtwepe menulis kisah nyata seorang rekan ini dalam rangka menyambut Hari Ibu tahun 2013.


Tagged , , , , , , ,

§ 2 Responses to Mama"

Leave a Reply

Your email address will not be published.

What's this?

You are currently reading Mama at Wahyu 'wepe' Pramudya's blog.

meta

Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome.