Tak Profesional

October 7th, 2014 § 0 comments

collar

Pagi itu, saya melangkahkan kaki masuk ke ruang ICU, tirainya baru saja dibuka beberapa detik yang lalu, sebagai tanda pengunjung boleh masuk. Sebagai pendeta yang telah melayani jemaat kurang lebih sepuluh tahun, tak terhitung berapa puluh atau ratus kali saya memasuki ruang ICU. Dingin. Sunyi, hanya terdengar bunyi alat atau mesin penopang kehidupan, dan sesekali isak tangis keluarga pasien. Para perawat yang sibuk berjalan kian kemari atau berkutat dengan kertas-kertas laporan. Wajah-wajah pasien lelah, seperti nyaris tak mampu lagi berharap.

Saya mengarahkan pandangan mencari tempat tidur orang yang akan saya kunjungi. Satu minggu lalu saya telah mengunjunginya. Namun kini nampaknya sudah berpindah tempat tidurnya. Tak ada banyak ranjang di dalam ruangan, sehingga dengan cepat saya dapat mengenali ranjang pasien itu. Ia nampak tertidur lelap dengan begitu banyak selang infus yang tertancap di tangan kanan. Satu selang memasuki hidungnya menjadi tanda bahwa untuk sementara waktu ia tak dapat minum atau makan. Wajahnya nampak lelah.

Perlahan-lahan pasien itu membuka mata, mencoba mengenali siapa yang mengunjunginya. Saya tersenyum dan menatap matanya. Ah, ia pun nampaknya mengenali saya dengan relatif cepat. Mulutnya bergerak-gerak, namun sayang hanya suara ah …ah…ah … yang tak jelas artinya. Saya memegang tangan kanannya, dan ia membalas genggaman itu. “Ah … masih cukup baik kondisinya,” batin saya. Saya bergerak ke sisi kiri tempat tidurnya. Saya genggam tangannya, dah ah … tidak ada respons. Tangan kirinya lemah. Begitu pula gelitikan kecil di telapak tangan kiri tak menghasilkan gerakan reflek. Yak, berarti ada masalah dengan bagian tubuh sebelah kiri.

Seminggu lalu, pasien itu masih nampak sehat. Ia masih bisa menikmati makanan dengan lahap, tatkala saya membantunya makan, karena penjaganya keluar sebentar. Masih bisa berbincang dengan santai dan lancar. Kini, semuanya berubah. Ia nampak lemah, tak mampu menelan makanan dan minuman. Tak lagi mampu berbicara dengan lancar. Goresan-goresan bolpoin di kertas pun tak terbaca oleh saya.

Beberapa kali saya harus melemparkan pandangan mata ke jendela. Saya tak tega melihat keadaannya. Beberapa kali saya berjuang menahan tetesan air mata dengan kepala tertunduk. Tak lama kemudian, datanglah seorang pria. Saya mengenalnya sebagai salah satu anak pasien itu. Pria berumur 40-an tahun itu menyentuh lembut, kemudian mengarahkan pandangan mata kepada ayahnya. Ayah yang hanya bisa menatap dengan lemah ke arahnya, sambil mencoba berkata-kata. Namun tak ada kata yang bisa dimengerti.

“Wis pa, mengko melu aku wae nang Yogya,” tutur pria itu dengan suara yang bergetar hebat, menahan tangis yang akhirnya tumpah juga. Saya pun tak sanggup lagi menahan air mata. Mendengar suara pria itu, tangis saya pecah. Terbayang dua minggu lalu, pasien itu mengutarakan pertimbangannya kepada saya untuk pindah ke Yogyakarta. Pasien itu, ya papa saya sendiri, mengutarakan rencananya untuk pindah rumah. Papa dan Mama sedang menyusun rencana untuk tinggal di dekat kakak saya, pria 40-an tahun itu. Dua minggu lalu, sebelum serangan stroke yang kedua mengambil sebagian besar kemampuannya bicara.

Di hadapan papa yang tergolek lemah, profesionalitas saya sebagai pendeta hancur berantakan. Saya tak mampu memberikan kata-kata nasihat sebagaimana yang biasa terjadi dalam setiap kunjungan pastoral. Saya tak mampu berbicara sebagai seorang pendeta kepadanya. Saya hanya bisa meneteskan air mata sambil membisikkan doa. Bukan doa bijak seorang pendeta. Hanya doa seorang anak yang merindukan kesembuhan papanya. Begitu emosional, tak lagi profesional. Namun, barangkali inilah yang ingin didengarnya dan oleh-Nya. Doa yang jujur. Apa adanya.

 

*Semoga segera sembuh papa! Semoga mama kuat mendampingi papa. Terima kasih sedalam-dalamnya untuk para sahabat dan kerabat yang telah menjadi penolong dalam perjuangan panjang ini.


Leave a Reply

Your email address will not be published.

What's this?

You are currently reading Tak Profesional at Wahyu 'wepe' Pramudya's blog.

meta

Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome.