Tak Sia-sia

November 19th, 2014 § 0 comments

rendaIni bukanlah hari yang menyenangkan bagi saya.  Dalam perjalanan kunjungan ke rumah sakit, setelah menjemput Clay dari sekolahnya, saya merasa ada yang tidak beres dengan sistem rem mobil.  Dua kali saya nyaris menabrak mobil di depan, karena rem yang ternyata tak bekerja maksimal.  Satu kali nyaris ditabrak dari belakang karena terlalu mendadak berhenti, juga diakibatkan oleh fungsi rem mobil yang tak terduga.  Kadang terlalu pakem, kadang malah sangat kurang pakem. Inkonsistensi yang membingungkan dan juga membahayakan.  Syukurlah kondisi rem seperti ini tak terjadi ketika saya sedang melaju di jalan tol, apalagi saat saya memacu kendaraan di bahu jalan mendahului truk-truk yang berjalan lambat memenuhi lajur yang ada; juga tak terjadi ketika saya tengah turun naik menuju ke tempat retret di pegunungan Tretes atau Trawas.

Untunglah tempat service resmi mobil itu nyaris bersebelahan dengan rumah sakit tujuan saya.  Untunglah juga saya mengenal pimpinan di tempat service resmi itu.  Untunglah pula antrian service mobil sepi siang itu.  Ah, tiga kali untung bukanlah kebetulan bukan?  Saya pun mendaftarkan mobil itu untuk menjalani pemeriksaan dengan hati yang tulus iklas karena biayanya ditanggung penuh gereja; namanya juga mobil inventaris gereja.  Saya pun berjalan kaki menuju ke rumah sakit dengan membawa serta Clay.

Setelah melakukan kunjungan dan menikmati makan siang di rumah sakit, maka saya pun menunggu taksi di depan rumah sakit baru itu.  Nah, kali ini saya kurang beruntung.  Hampir 25 menit tak satupun taksi lewat di depan kami.  Semua taksi yang lewat sudah terisi sopir dan penumpang.  Saya pindah ke lajur jalan satunya lagi, dan …  selama 15 menit nasib kami tak berubah.  Kepanasan, berkeringat dan bertanya-tanya,”Salah saya apa coba? Masak menunggu taksi lebih dari 40 menit dan tak ada satupun yang sudi mengangkut kami. Coba, apa salah saya? Katakan!”  (maaf, agak lebay,emosi naik seiring harga bbm)  Sampai kemudian, Clay memberikan usul,” Papa telpon saja taksinya!” Usul yang cerdas!  Anak yang cerdas! Papanya pasti juga lebih cerdas!   Ajaib, kurang dari 5 menit setelah telpon, ada tiga taksi yang mendekat. Nah, bingung khan mesti naik yang mana?

Setelah membawa pulang Clay yang nyaris tertidur di taksi, saya segera melanjutkan perjalanan ke sebuah toko buku untuk mengambil contoh hasil cetakan kedua buku best seller saya (promosi mode on)  Ah, sayangnya hasil cetaknya buruk, dan petugasnya pun berkata,”  Nanti, kami coba lagi ya pak. Jumat atau Sabtu nanti silakan ambil.”  Lha, tahu kalau hasilnya buruk mengapa tidak memberi tahu saya via sms atau telepon?  “Saya sudah mencoba menghubungi nomor hape bapak, tapi tidak ada jawaban,” kilah petugasnya.  Padahal tentu saja nomor hape saya on terus walau dalam silent mode seperti biasa.

Untuk kedua kali saya menunggu taksi.  Kali ini di sebuah jalan yang dalam semenit bisa ada lebih dari 5 taksi yang lewat.  Namun, takdir berkata lain.  Dalam 15 menit tak ada satupun taksi yang belum berpenumpang.  Semua sudah berpenumpang dan tentu saja ada sopirnya.  Hingga sebuah taksi dengan jendela terbuka lewat seperti adegan slow motion dalam sebuah film.  Tak jelas itu taksi apa, namun yang jelas mobilnya sudah tua.  Saya pun masuk dan duduk.  “Tutup jendelanya,” perintah sopir taksi itu. Ya Tuhan, ternyata masih ada juga taksi dengan model jendela engkol alias bukan otomatis.   Saya pun menutup jendela, sementara sopir taksi membiarkan jendelanya tetap terbuka.  Saya pun menunduk dan berdoa,” Ya, Tuhan jangan ampuni dia karena dia tahu apa yang dia perbuat.

Saya pun menyebutkan alamat rumah, dan …. terdengarlah jawaban,” Saya tidak tahu pak.  Tolong saya diberitahu lewat mana. Saya masih baru.”  OMG! Saya jelas tidak beruntung.  Taksi butut, AM alias angin mbrobos dan bukan AC, plus sopir yang tak tahu membedakan tangan kanan dan tangan kiri.

Entah mengapa, saya pun membuka percakapan lebih lanjut dengan sopir taksi itu,” Darimana asalnya pak?”  Sebuah pertanyaan pendek yang berbuntut jawaban yang panjang.  Benar-benar kisah yang panjang yang berselang-seling dengan perintah belok kanan atau kiri dari saya.  Ringkasnya, sopir yang tak muda itu sedang melarikan diri dari kotanya karena sebuah masalah.  Ia baru enam hari tiba di Surabaya.  Dibantu seorang temannya, ia mencari nafkah sebuah taksi yang tua yang tak jelas apa merknya.  Tidur di dalam mobil taksi untuk menghemat biaya, mengelilingi Surabaya dengan taksi tua, mengalami kerugian dua ratus ribu pada dua hari pertama, dan baru sadar mengapa orang enggan menumpang taksinya.

Saya pun memberikan beberapa opsi menanggapi masalah yang harus dihadapi soal taksi itu di kota asalnya.  Saya tak tahu mengapa, hanya merasa harus terus berbicara.  Di akhir percakapan itu, sopir taksi itu menoleh menatap saya, ketika lampu merah menyala.  Seperti orang yang berjalan dalam kegelapan dan tiba-tiba berjumpa dengan cahaya obor begitulah sorotnya matanya.  “Terima kasih pak, terima kasih.  Saya beruntung hari ini. Ini jawaban yang saya cari.  Saya akan segera pulang ke kota asal saya,” tuturnya.  Saya pun turun dari taksinya, mengeluarkan sejumlah uang sedikit lebih banyak dari argo yang tertera.

Ah, hari ini memang mungkin buruk bagi saya, tapi ini hari keberuntungan sopir taksi itu.

Tak ada masalah,kesusahan apalagi penderitaan yang sia-sia ditangan-Nya.  IA sanggup menggunakan masalah, kesusahan, apalagi penderitaan kita sebagai sarana pemeliharaan-Nya bagi orang lain.

 

wepe *

*yang mesti seminggu menunggu mobil di bengkel; menerima pinjaman mobil apalagi persembahan mobil 🙂

 


Leave a Reply

Your email address will not be published.

What's this?

You are currently reading Tak Sia-sia at Wahyu 'wepe' Pramudya's blog.

meta

Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome.