Menyalakan Api di Tengah Gelapnya Penderitaaan

September 17th, 2010 § 1 comment § permalink

1. Suatu kali saya memperhatikan antrian panjang di tempat penjualan minyak tanah ketika program konversi ke gas itu tengah gencar dikampanyekan. Minyak tanah menjadi langka, dan itu sebabnya ada antrian yang panjang di tempat penjualan. Siang hari yang panas itu, antrian itu begitu panjang, hingga mengambil bagian jalan yang seharusnya digunakan untuk mobil. Dari mobil saya yang terhenti, saya melihat keramaian di antrian itu. Mereka yang ada di antrian itu saling berbicara satu dengan yang lain. Terlihat akrab, mungkin mereka saling mengenal. Tiba-tiba sebagian mulai berteriak-teriak meminta penjualan segera dimulai karena hari makin panas. Pintu pagar kios penjual minyak tanah itu dibuka dan orang-orang berebut bergerak ke depan. Mereka berlarian, menabrak dan menginjak anak-anak yang ikut antrian itu. Mulai terdengar teriakan, jeritan kesakitan dan beberapa orang tergeletak di pinggir jalan. Tidak ada yang peduli, semua sibuk berebut mendapatkan minyak tanah.

2. Kesulitan dan penderitaan hidup ternyata dapat membuat orang hanya memperhatikan dirinya sendiri. Kesulitan dan penderitaan hidup seringkali membutakan mata kita terhadap keberadaan orang lain.

• Ketika kita sedang menghadapi masalah di dalam keluarga, seringkali masalah itu membutakan mata kita terhadap keberadaan atau kesulitan orang lain. Kita berkata dalam diri kita,” Saya saja punya begitu banyak pergumulan dan masalah, mana sempat memperhatikan orang lain. Orang lain dong yang memperhatikan saya.”
• Ketika pekerjaan kita sedang sulit, tidak ada order atau transaksi di toko kita, maka kita akan cenderung terus memikirkan hal itu. Pertanyaan mengapa, apa yang kurang, kok sampai hal yang seperti ini terjadi memenuhi pikiran kita. Pikiran kita begitu penuh dengan hal-hal seperti itu, sehingga tidak ada ruang bukan untuk memikirkan orang lain.
• Ketika kita sedang bergumul dengan kesehatan , kita menderita sakit yang luar biasa, maka kita mengharapkan orang lain untuk menyatakan kasih kepada kita. Kita mengharapkan orang untuk memperhatikan kita. Jarang sekali ada yang malah bisa memperhatikan orang lain di tengah sakit dan penderitaannya.

3. Dari sudut pandang apa yang biasa terjadi di dalam kehidupan kita : kesulitan dan pergumulan hanya mengarahkan orang pada dirinya sendiri, maka perkataan Yesus Kristus ketiga yang diucapkan di atas kayu salib adalah sebuah perkecualian. Di atas kayu salib itu, Injil Yohanes mencatat “Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: “Ibu, inilah, anakmu!” Kemudian kata-Nya kepada murid-murid-Nya: “Inilah ibumu!” Dan sejak saat itu murid itu menerima dia di dalam rumahnya.”

4. Yesus ada di atas kayu salib, sebuah hukuman yang begitu memalukan dan memilukan sehingga hanya penjahat kelas kakap yang ada di atas sana. Yesus ada di kayu salib dengan kondisi tubuh yang tentu saja tidak prima karena semalamam di ping pong peradilan di sana sini dan mendapatkan penganiayaan yang menyebabkan darah mengalir dari tubuhnya. Begitu lemahnya kondisi tubuh Yesus, sehingga harus ada orang lain yang memanggul salib-Nya. Ya, Yesus dalam penderitaan yang berat. Biasanya orang-orang yang tergantung di atas kayu salib akan menjerit-jerit meminta tolong dan perhatian orang lain. Biasanya mereka yang ada di atas kayu salib akan melontarkan kata-kata cacian, kutukan dan ungkapan kemarahan.

5. Tapi mengapa itu tidak terlontar dari Yesus? Jangan kita berpikir karena Yesus adalah Allah yang menjadi manusia, maka ia tidak bisa menderita secara fisik dan psikologis. Ingat, Allah menjadi manusia yang sepenuhnya. Itu sebabnya ada darah yang mengalir dari tubuh-Nya. Itu sebabnya, semalam sebelumnya di Getsemani IA begitu merasa ketakutan membayangkan penderitaan salib itu.

6. Kalimat Yesus di atas kayu salib yang ditujukan kepada Maria dan murid yang dikasihi-Nya yakni Yohanes ,” Ibu, inilah anakmu. Inilah Ibumu” menunjukkan bagaimana kasih itu tetap memancar di tengah gelapnya penderitaan. Yesus masih memikirkan nasib ibu jasmani yang akan segera ditinggalkan-Nya. Ia menyerahkan ibu nya ke tangan pemeliharaan Yohanes, sang murid. Penderitaan itu tidak menyebabkan Yesus hanya berpikir tentang dirinya sendiri, tetapi di dalam penderitaan itu kasih Yesus nampak bagi orang lain. Penderitaan itu tidak menyebabkan Yesus hanya memikirkan diri-Nya sendiri, tapi IA pun memikirkan orang lain juga.

7. Dari kata-kata Yesus kita akan mendapati bagaimana Yesus tetap memperhatikan orang orang lain. Pilihan kata-Nya menunjukkan bagaimana Ia tetap melindungi ibunya. Ketika Ia menyerahkan Maria kepada Yohanes, Yesus berkata,” Ibu, inilah, anakmu! ” Kata yang diterjemahkan “ibu” sebenarnya berasal dari kata yang secara harafiah berarti wanita atu perempuan. Mengapa Yesus menyebut ibunya : wanita atau perempuan? Bukan karena tidak hormat, namun demi keselamatan ibunya. Yesus adalah terpidana mati yang sedang dieksekusi, dan tentara mengepung di sekitarnya. Jika tentara-tentara itu mendengar bahwa Yesus menyebut seseorang sebagai ibunya di situ, tidakkah Maria akan berada dalam bahaya yang besar? Menyadari bahaya seperti itulah yang menyebabkan murid-murid Yesus berdiri dari jauh karena takut .

8. Mengapa di dalam penderitaan itu, Yesus masih bisa memikirkan orang lain dan bukan hanya diri-Nya sendiri? Kita akan menemukan jawaban atas pertanyaan ini ketika kita menengok ke belakang dalam episode kehidupan Yesus. Sehari sebelumnya, melewati pergumulan yang begitu berat di Getsemani, pada akhirnya ia berkata,” Ya Bapa-Ku, jikalau sekiranya mungkin, biarlah cawan ini lalu dari pada-Ku, tetapi janganlah seperti yang Kukehendaki, melainkan seperti yang Engkau kehendaki.” Nah, inilah kuncinya. Yesus melihat penderitaan itu tidak lepas dari kehendak bapa-Nya. Kehendak Bapa bukan berarti Bapa tertawa-tawa di atas penderitaan Yesus. Kehendak Bapa dalam arti apa yang diijinkan Bapa untuk terjadi. Penderitaan itu bukanlah tanda ketidakhadiran Tuhan. Yesus menghayati bahkan di dalam penderitaan-Nya sekalipun ada kehendak Tuhan di dalamnya.

• JIka Allah hadir di dalam penderitaan-Nya, maka penderitaan itu tidak akan pernah sia-sia bukan?
• Jika Allah hadir di dalam penderitaan-Nya, maka penderitaan itu bukannya tak terkalahkan bukan?
• Jika Allah hadir di dalam penderitaan-Nya, maka tidak perlu lagi meratapi diri dan hanya memperhatikan diri sendiri bukan?

9. Keyakinan akan kehadiran Allah di tengah penderitaan akan memampukan kita untuk memancarkan kasih kepada orang lain bahkan di tengah penderitaan kita. Betul ada beragam penyebab mengapa kita mengalami pergumulan dan penderitaan. Ada karena kesalahan kita, kesalahan orang lain, bencana alam dll. Tetapi, menghayati bahwa Allah hadir di dalamnya akan memberikan kekuatan untuk bertahan dan bahkan memancarkan kasih kepada orang lain. Bukankah firman TUhan berkata : Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita. Sesungguhnya tidak ada penderitaan yang sanggup memisahkan kita dari kasih Allah bukan? Tentu bukan karena kekuatan kita, tetapi karena kekuatan kasih Allah.

10. Seorang gadis muda yang cantik dan energik pada suatu kali menemukan sebuah danau yang jernih. Ia segera meloncat untuk berenang. Malang tidak dapat ditolak. Danau itu tidak cukup dalam. Kepalanya membentuk keras dasar danau itu. Akibatnya gadis itu mengalami kelumpuhan di bagian leher ke bawah. Ia di rawat di rumah sakit selama dua tahun. Setelah itu, ia mengalami keputusasaan yang mendalam bahkan beberapa kali berpikir untuk bunuh diri. Namun, bagaimana ia bisa melakukannya? Ia tidak sanggup menggerakkan tangan dan kakinya. Satu-satunya yang dapat digerakkan adalah kepalanya. Dalam keputusasaan, rekan-rekannya mendorongnya untuk mempercayakan hidup pada Yesus. Perjumpaan yang mengubah kehidupannya. Ia tidak lagi mengurung dirinya sendiri, tapi mulai berkarya bagi orang lain. Ia melukis dengan menggunakan mulutnya, menulis puluhan buku dan mendirikan organisasi untuk menolong mereka yang cacat. Namanya Joni Earickson. Ia menikah dengan Ken Tada. Mereka berdua membangun lembaga pelayanan : Joni &Friends telah menolong jutaan orang cacat di seluruh dunia. Satu kalimat yang berasal dari karya tulis Joni Eareckson Tada yang menggambarkan perjalanan iman dan pelayanannya : sometimes God permit what he hate to accomplish what he loves. Tidak ada sesuatu pun yang lepas dari tangan kasih dan pemeliharaan-Nya, termasuk penderitaan dan pergumulan kita.

11. Pergumulan dan penderitaan bisa menyebabkan kita hanya memperhatikan kepentingan diri sendiri saja. Tapi, jika kita mampu menyakini kehadiran Allah di tengah pergumulan dan penderitaan itu, maka kita akan mampu untuk memancarkan kasih di tengah penderitaan, seperti Kristus. Kasih bagi orang lain yang juga sedang bergumul dengan penderitaan, bahkan kasih kepada mereka yang menyebabkan penderitaan kita.

12. Selamat menyalakan api kasih di tengah gelapnya penderitaan. Dengan keyakinan bahwa Tuhan tidak pernah melepaskan hidup kita dari tangan-Nya.

*) berdasarkan Yohanes 19:25-27

Berhenti Menunjuk, Mulailah Memeluk

September 16th, 2010 § 1 comment § permalink

1. “Salah siapa ini?” pernahkah Anda mengucapkan kalimat seperti ini. Bukan dengan keinginan mencari tahu saja, tetapi lebih besar pada keinginan untuk menyalahkan. Atau sedikit lebih halus kita mungkin berkata,” Siapa yang bertanggung jawab atas kejadian ini?” Perkataan-perkataan ini walaupun berbeda, esensinya sama bukan. Kita ingin menunjuk. Ketika kita menunjuk pada orang lain, kita juga ingin berkata bahwa masalahnya ada pada orang lain bukan pada diri kita. Menunjuk seringkali dilandasi dengan perasaan dan pemikiran bahwa kita lebih baik dari yang ditunjuk.

2. Menunjuk pada orang lain dengan dilandasi oleh perasaan dan pemikiran bahwa dirinya lebih baik dari orang yang ditunjuk, begitulah kurang lebih sikap beberapa orang yang datang kepada Yesus. Orang-orang ini datang kepada Yesus dengan kisah tentang orang-orang Galilea yang memberontak kepada Pilatus, sehingga Pilatus membantai mereka, dan membuat darah pemberontak itu bercampur dengan darah persembahan korban mereka. Sepertinya orang-orang yang datang kepada Yesus ini, bukan sekedar mengabarkan berita ini.

3. Dari jawaban Yesus,” Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya daripada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu?” Kita tahu bahwa orang-orang itu datang kepada Yesus dengan sikap menunjuk pada orang-orang yang nasibnya buruk. Seolah-olah mereka berkata pada Yesus,” Mereka mengalami nasib yang buruk karena dosa mereka sendiri, dan kami lebih baik dari orang-orang itu.”

4. Yesus mengecam sikap menunjuk pada orang lain, yang disertai sikap seolah-olah lebih baik. Dari jawaban Yesus itu kita memahami bahwa bagi Yesus tidak ada hubungan antara cara kematian seseorang yang tragis dengan dosa. Itu sebabnya, Yesus juga memberikan sebuah contoh yang lain,” … sangkamu kedelapan belas orang, yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya dari pada kesalahan semua orang lain yang diam di Yerusalem?” Kematian akibat bencana alam atas diri seseorang itu bukan indikasi bahwa orang itu lebih berdosa pada orang lain. Tidak, mereka mati dengan cara yang tragis bukan karena lebih berdosa dari orang lain. Semua orang telah berbuat dosa. Tidak ada korelasi antara nasib buruk seseorang dan dosanya.

5. Yesus menolak pemikiran seperti ini. Bagi Yesus, semua manusia sama telah berbuat dosa. Tidak ada yang lebih baik dari yang lain. Oleh sebab itu, Yesus mengecam tindakan menunjuk pada nasib orang lain, seolah-olah mereka mengalami itu pasti karena dosa mereka. Yesus mengecam tindakan menunjuk pada orang lain, yang disertai dengan sikap saya tidak mengalami hal itu karena saya lebih baik dari mereka.

6. Pada titik inilah, kita harus berhenti sejenak dan merenungkan perkataan Yesus. Seringkali kita menunjuk pada nasib buruk orang lain dan mengaitkannya langsung dengan dosa. Sebagai seorang pendeta, seringkali saya mendengarkan kalimat-kalimat pertanyaan seperti ini. Kalimat-kalimat yang penuh dengan tanda tanya, namun terbersit pula nada penghakiman :
• “Keluarga itu giat melayani Tuhan lho pak. Mengapa anaknya ditimpa penyakit yang sedemikian fatalnya sampai meninggal. Jangan-jangan ada dosa yang tersembunyi, yang kita tidak tahu.”
• “Sekilas keluarga itu terlihat begitu aktifnya di gereja, tapi mengapa perusahaan keluarga mereka mengalami kesulitan keuangan dan akhirnya bangkrut. Pasti ini adalah teguran Tuhan atas dosa dan kesalahan keluarga ini. Mungkin mereka tidak setia membayar perpuluhan”
• “Mengapa keluarga itu belum dikaruniai anak? Kasihan keluarga itu, tapi mungkin mereka juga harus bertobat. Dosa apa yang membuat Tuhan belum mempercayakan anak pada mereka?”
• “Wah … dia khan cantik/ganteng dan menarik, punya pekerjaan yang baik. Tapi sejauh ini belum dapat jodoh, wah … sepertinya ini tanda bahwa Tuhan tidak berkenan atas hidupnya. Pasti ada dosa yang terselubung di dalam hidupnya.”

7. Ada kesalahan besar di balik kalimat-kalimat seperti ini. Seolah-olah setiap nasib kurang baik itu berhubungan langsung dengan kadar keberdosaan seseorang. Semakin berdosa, semakin kurang baik nasibnya. Semakin saleh, semakin baik nasibnya. Tentu tidak demikian bukan?

8. Sewaktu kami tinggal di pastori yang lama, beberapa teman yang mengenali kondisi sekitar pastori itu dan bertanya,” Banjir ngga pak di pastori?” Saya jawab : Tidak! Terus ada yang berkata,” Itu lho bedanya rumah pendeta dan rumah orang lain. Rumah orang lain kebanjiran, rumah pendeta tidak. Maklumlah pendeta khan orang saleh, yang lainnya orang salah. ” Segera saya jawab : Tidak. Tidak banjir kalau tidak ada hujan deras. “Lha, kalau hujan deras bagaimana pak?” Ya banjir kayak rumah-rumah lain di daerah itu. Memang air yang mengalir itu mampu membedakan mana rumah pendeta mana yang bukan? Tentu tidak.

9. Sakit penyakit, kegagalan dalam usaha, tidak mempunyai anak, belum mendapatkan jodoh itu belum tentu disebabkan karena dosa. Penyebabnya bisa multifaktor bukan? Bahkan tidak menutup kemungkinan di dalam kehendak Tuhan segala hal yang kurang baik itu terjadi. Kita ingat hidup Ayub? Kita ingat Paulus dengan semua kesulitan dan pergumulannya? Bahkan tentu kita ingat Yesus Kristus, yang justru karena melakukan kehendak Allah, nasibnya harus berakhir di kayu salib.

10.Berhentilah menunjuk pada nasib buruk orang lain, seolah-olah semua yang buruk itu terjadi karena dosa mereka. Karena kita pun sebenarnya di mata Tuhan, tidak lebih baik daripada orang yang bernasib buruk. Berhentilah menunjuk karena itu hanya menunjukkan sikap hati kita yang merasa lebih benar daripada orang lain. Berhentilah menunjuk karena tindakan itu tidak menghasilkan apapun juga bagi orang yang kita tunjuk. Bukan berarti kita tidak boleh mengatakan apa yang salah sebagai salah, dan benar adalah benar. Tetapi, apabila hanya menunjuk kesalahan dan tidak melakukan hal yang lain, lalu apa gunanya?

11.Tentu saja ada orang-orang tertentu yang memang melakukan kesalahan atau kejahatan di dalam hidupnya. Kini mereka harus menanggung akibat dari kesalahan dan perbuatannya. Dengan puas, kita menunjuk pada mereka dan mungkin sambil berkata,” Rasain deh akibat perbuatanmu sendiri!” Tetapi, apakah yang dihasilkan dengan sikap menunjuk pada kesalahan orang lain selain rasa puas di dalam diri kita? Tetapi, apakah menunjuk itu menyelesaikan masalah orang tersebut? Tentu saja tidak. Menunjuk bukan hanya berpotensi untuk menghantar kita pada kesombongan, bahwa kita lebih baik daripada orang lain. Menunjuk juga tidak menghasilkan sesuatu yang produktif bagi orang yang kita tunjuk. Berhentilah menunjuk, tapi lalu apa yang harus kita lakukan?

12.Yesus melanjutkan pengajarannya dengan mengisahkan perumpamaan tentang seseorang yang mempunyai pohon Ara. Ia menantikan pohon itu berbuah, tetapi setelah tiga tahun buah itu tidak kunjung ada. Pemilik itu menjadi kecewa dan memerintahkan tukang kebun untuk menebang pohon ara yang tidak berbuah itu. Tukang kebun itu, yang melihat realita yang sama, tidak mengompori sang pemilik dengan berkata,” Ya. Anda betul tuan. Kita tebang saja pohon tidak berguna ini.” Sebaliknya, tukang kebun itu berkata,” Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya. Mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak tebanglah dia!”

13.Apakah arti perumpamaan ini? Apa yang hendak Yesus ajarkan kepada kita? Lihat sikap sang tukang kebun itu. Ia melihat realita yang kurang baik. Pohon Ara itu tidak berbuah. Tetapi, ia tidak menunjuk dan menyalahkan pohon ara itu. Ia justru membela keberadaan pohon Ara itu. Bukan hanya membela, ia menjanjikan upaya keras agar pohon itu berbuah di tahun yang akan datang. Tukang kebun itu tidak menunjuk kegagalan pohon itu berbuah, ia justru ingin mengupayakan dan merawat dengan baik. Ia tidak menunjuk, ia memeluk.

14.Yesus ingin mengajar kepada kita : jika kita melihat sebuah kenyataan yang kurang baik (musibah, kecelakaan, bencana alam, masalah keluarga dll) jangan menunjuk alias menghakimi. Lewat perumpaan ini, Yesus justru mengajarkan sikap memeluk. Pahamilah kesulitan dan pergumulan orang lain, dan tolonglah agar seseorang mampu mengatasi kesulitan dan pergumulan itu. Sama seperti sang tukang kebun mengupayakan semaksimal mungkin agar pohon itu berbuah.

15.Yesus mengajar kita untuk berhenti menunjuk, mulailah memeluk. Bukan menghakimi, tetapi memahami. Bukan meninggalkan sendiri mereka yang bergumul, tetapi justeru menemani dan mengupayakan yang terbaik.

16.“Pak, ketika hidup kami dirundung masalah demi masalah. Tidak sedikit rekan dan sahabat yang menunjuk pada kami : itu akibat dosa kalian. Pasti ada yang tersembunyi selama ini. Tentu kami sadar kami berdosa, sama seperti para rekan dan sahabat kami itu. Tetapi, ketika mereka menunjuk, kami merasa seolah-olah kami begitu berdosa dan mereka begitu salehnya. Teman-teman yang menunjuk itu tidak banyak membantu kami mengatasi masalah yang ada. Di dalam kondisi putus asa itu, muncul seorang rekan yang selama ini tidak banyak bicara. Ia datang ke rumah bukan dengan menunjuk, ia hanya melingkarkan tangannya dan memeluk kami sekeluarga. Ia memeluk dan mendoakan kami. Sebuah tindakan sederhana yang justru membuat kami kuat. Kami kuat karena kami tahu kami tidak sendiri. Ada rekan yang memeluk, ada Tuhan yang mendekap.”

17.Di dalam dunia ini, kita sudah lelah melihat orang saling menunjuk pada orang lain. Di bangsa ini, kita sudah bosan membaca orang saling menyalahkan, tanpa upaya kongkret untuk memperbaiki. Mari kita arahkan diri kita pada panggilan yang Yesus ajarkan dan hidupi : berhentilah menunjuk, mulailah memeluk. Inilah buah kehidupan yang dinantikan oleh orang-orang di sekeliling kita dan tentu saja oleh Tuhan.

Menabur Benih Pengharapan

September 16th, 2010 § 1 comment § permalink

1. Coba kita lihat empat orang di sekeliling kita. Perhatikan baik-baik raut wajahnya. Sudah? Nah, berdasarkan hasil Survei Kesehatan Mental Rumah Tangga yang dilakukan di 11 kota oleh Jaringan Epidemiologi Psikiatri Indonesia tahun 1995 mendapatkan 1 dari 5 orang dewasa di Indonesia memperlihatkan gangguan kesehatan jiwa. Gangguan kesehatan jiwa bisa berupa kecemasan, depresi, sampai tingkat yang lebih parah. Nah, pertanyaannya adalah yang mana dari empat orang tadi yang menurut Anda terlihat sedang mengalami gangguan kesehatan jiwa? Atau jangan-jangan kita sendiri ya, atau malah saya?

2. Dalam skala global, pada tahun 2009 WHO-organisasi PBB untuk urusan kesehatan-mencatat bahwa tiap 40 detik sebuah keluarga kehilangan orang yang mereka kasihi karena bunuh diri. Mayoritas kasus bunuh diri itu dipicu oleh ketidakmampuan mengatasi depresi, penderitaan atau ketakutan dan pelbagai macam gangguan dan tekanan hidup. Penyebab kematian terbesar kedua di kelompok usia 10-24 tahun adalah bunuh diri.

3. Apa yang bisa kita petik dari data-data tadi? Secara sederhana data itu menunjukkan bahwa manusia butuh lebih dari pangan, papan dan sandang untuk bertahan hidup bukan? Manusia membutuhkan harapan untuk bertahan hidup. Pengharapan itu bak bahan bakar yang membuat mobil terus dapat melaju. Secanggih dan sebaru apa pun sebuah mobil, tanpa pengharapan ia tidak dapat melaju ke mana-mana. Begitulah manusia, tanpa pengharapan, ia berhenti melaju. Mogok dan tidak tahu apa yang harus diperbuat.

4. Tidak tahu lagi apa yang harus diperbuat. Demikianlah yang terjadi juga pada hidup Abram. Dalam Kejadian pasal 12 kita melihat bagaimana Abram menerima panggilan Tuhan untuk pergi dari negerinya ke tanah yang akan ditunjukkan Tuhan kepada-Nya. Tuhan pula yang berjanji bahwa ia akan menjadi bangsa yang besar dan olehnya semua bangsa akan mendapatkan berkat. Panggilan dan janji Tuhan itulah yang membuat ia memulai sebuah perjalanan yang panjang. Di dalam perjalanan itu banyak hal yang terjadi : isterinya diambil oleh Firaun, konflik antara Lot dan dirinya, peperangan dengan bangsa-bangsa lain untuk menolong Lot. Singkatnya, ketaatannya dalam mengikuti perintah Tuhan bukanlah jalan yang mudah. Tetapi, Abraham bertahan karena Ia yakin bahwa Tuhan akan menggenapi janji-Nya, khususnya tentang keturunannya yang akan menjadi bangsa yang besar.

5. Tetapi, kini dalam pasal 15, sepertinya Abraham mulai kehilangan pengharapannya. Kita tidak tahu persis berapa tahun berlalu dari pasal 12 sd 15, tetapi jelas itu membutuhkan waktu bertahun-tahun. Tanpa pengharapan, Abraham seperti mobil yang kehabisan bahan bakar. Keputusan asaan terlihat jelas dalam perkataan Abraham kepada Tuhan. Perhatikan apa yang dikatakan Abraham,” Ya Tuhan ALLAH, apakah yang akan Engkau berikan kepadaku, karena aku akan meninggal dengan tidak mempunyai anak, dan yang akan mewarisi rumahku ialah Eliezer, orang Damsyik itu. Engkau tidak memberikan kepadaku keturunan, sehingga seorang hambaku nanti menjadi ahli.” Nada keputusasaan itu terlihat ketika Abram sudah berbicara tentang kematian dan apa yang terjadi kelak sesudah kematiannya. Bahkan sepertinya Abram menunjuk bahwa Tuhan lah sumber masalah sehingga ia belum mendapatkan keturunan. Perhatikan perkataan Abram,” “Engkau tidak memberikan kepadaku keturunan, sehingga seorang hambaku nanti menjadi ahli warisku.” Abram tidak berkata,” Aku tidak akan mempunyai keturunan, sebab aku dan isteriku sudah tua.” Bagi Abram pada waktu itu masalahnya ada pada Tuhan. Bukan pada dirinya sendiri. Saat itu, Abram cenderung menyalahkan Tuhan yang tak kunjung memenuhi janji-Nya. Ia mulai kecewa dan putus asa.

6. Putus asa karena kehilangan harapan? Itu hal yang seringkali terjadi dalam kehidupan manusia bukan?
• Kita berdoa memohon agar Tuhan memberikan kebangunan rohani pada gereja kita, tapi sejauh yang terlihat saat ini konflik justru makin tajam.
• Kita berdoa memohon Tuhan menyelamatkan keluarga kita dari perpisahan, namun sejauh ini situasi tidak berubah bahkan menjadi makin parah.
• Kita berdoa memohon Tuhan memberikan berkat-Nya yang memadai agar kita dapat menyelesaikan masalah finansial kita, tapi sejauh ini toko atau usaha kita malah tambah sepi.
• Kita berdoa memohon kesembuhan bagi diri kita atau orang yang kita kasihi, tetapi sejauh ini kok malah sakitnya bertambah parah.
• Kita berdoa memohon Tuhan memberikan pasangan hidup kepada kita, tapi semakin lama usia kita bertambah, makin terbatas teman dan lingkup pergaulan kita. Saking putus asanya, mungkin kita berdoa : Tuhan kalau yang baru susah, yang second aja deh

7. Putus asa karena kehilangan harapan? Anda tidak sendirian. Anda bersama dengan Abram, dan begitu banyak orang percaya lainnya di sepanjang zaman. Keputusasaan terjadi karena adanya jarak antara harapan dan kenyataan. Harapan itu ternyata tidak atau belum mewujud dalam kenyataan. Jika kita tidak mau mengalami kekecewaan, maka buanglah harapan. Hiduplah tanpa harapan, maka kita tidak akan kecewa. Belajarlah berkata,” Suami saya mau apa, silakan aja, mau kawin lagi ya silakan, mau selingkuh ya silakan.” Belajarlah berkata,” Anak saya mau sekolah silakan, mau mogok sekolah ya silakan saja.” Belajarlah berkata,” Terserahlah usaha saya mau maju ya bersyukur, makin mundur ya biarlah.” Tapi, masalahnya maukah Anda menjalani kehidupan dengan cara seperti itu? Kehidupan seperti itu tidak layak untuk dijalani bukan?

8. Bukan putus asanya yang menjadi masalah, tetapi ke mana rasa putus asa itu membawa kita. Jangan biarkan rasa putus asa itu membawa kita pada keinginan untuk menghancurkan kehidupan ini. Kalau memang tidak lagi kuat melangkah, maka duduk diamlah. Nantikanlah Tuhan. Bukankah Tuhan sendiri yang berkata,” … tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru…” (Yesaya 40:31). Kekuatan baru dari mana? Dari Tuhan tentu saja.

9. Putus asa karena kehilangan harapan? Nasihat apa yang biasa kita dengar ketika kita sedang mengalaminya? “Sudahlah, percaya saja, rancangan Tuhan tidak pernah gagal”; “Tuhan akan beri yang terbaik”; “makanya beriman dong!” Apa yang kita rasakan setelah mendengar nasihat-nasihat sejenis itu? Bersemangat kembali? Syukurlah kalau Anda seperti itu. Tapi tidak jarang, kita malah merasa bersalah khan. Bersalah karena gagal untuk mempercayai Tuhan. Atau sebagian orang lagi malah mengambil langkah yang lain : jika Tuhan tidak segera menolong, mari kita “protes” di hadapan Tuhan : stop doa, potong uang persembahan, stop pelayanan atau malah stop ke gereja. Lupakah Tuhan, mari kita cari pertolongan dari pihak yang lain.

10. Syukurlah, Tuhan tidak memperlakukan manusia yang putus asa karena kehilangan harapan, seperti kita memperlakukan orang lain. Ayat 4 menegaskan bahwa Tuhan menjawab pertanyaan Abram dengan menegaskan bahwa bukan Eliezer yang akan menjadi ahli warisnya, tetapi anak kandung Abram sendiri. Yang menarik adalah apa yang kemudian Tuhan lakukan. Tuhan tidak menjelaskan panjang lebar tentang janji-Nya, tetapi Tuhan memberikan dua demonstrasi yang menunjukkan bahwa ia akan memenuhi janji-Nya.
• Ay. 5 menjelaskan bahwa Tuhan membawa Abram ke luar dan memintanya untuk menghitung jumlah bintang di langit. Seperti jumlah bintang-bintang di langit, begitulah keturunan Abram. Sebuah demonstrasi yang sederhana dan menyentuh bukan? Pasti di kemudian hari, tiap malam Abram bukan saja melihat bintang di langit, tapi juga melihat dengan mata imannya bahwa Tuhan akan menggenapi janji.
• Ay. 17-19 menjelaskan bahwa Tuhan memakai kebiasaan orang-orang pada waktu itu ketika mengikat perjanjian. Perapian berasap dan beserta suluh berapi yang melambangkan kehadiran Tuhan melalui dua potongan hewan yang diletakkan bersampingan. Tuhan membuat perjanjian dengan Abraham. Perjanjian ini atas inisiatif Tuhan sendiri. Orang-orang pada waktu itu memahami bahwa perjanjian itu mengikat orang yang melewati dua potongan hewan tersebut. Jika orang yang melewati tersebut mengkhianati isi perjanjian tersebut, maka nasibnya akan menjadi seperti hewan yang terpotong itu. Tuhan, dalam penampakan perapian yang berasap dan suluh api yang menyala, melewati dua potongan hewan tersebut. Sebuah cara yang mengena dalam konteks kehidupan sehari-hari pada waktu itu. Sebuah cara yang pasti tak kan terlupakan oleh Abram. Allah mempertaruhkan diri-Nya demi mengikat perjanjian dengan Abram.
11. Tuhan nampaknya memahami bahwa ada kalanya manusia yang putus asa karena kehilangan harapan harus disentuh dengan cara yang demonstratif. Ketika kata tidak lagi cukup, maka tindakan menjadi pilihan yang tepat untuk menguatkan mereka yang dalam keadaan putus asa.

12. Bukankah Tuhan sedang memberikan sebuah contoh kongkret bagi kita untuk berurusan dengan mereka yang sedang mengalami putus asa karena kehilangan harapan dalam kehidupan ini. Ketika kata tidak cukup, dan memang jarang sekali kata-kata itu cukup, bukankah kita juga terpanggil untuk menunjukkan atau mendemonstrasikan kepedulian itu melalui tindakan yang kongkret dan mengena?
• Sebuah pelukan bagi yang putus asa, tentu saja jauh lebih berarti dari sejuta kata-kata nasihat via sms, wall fb atau telepon.
• Kesediaan untuk meletakkan tangan dan mendoakan mereka yang bermasalah atau sakit, pasti lebih dinantikan daripada kartu ucapan juga email ungkapan simpati.
• Kesediaan berbagi sedikit yang menjadi milik kita, pasti akan berarti banyak bagi mereka yang membutuhkan. Lebih dari kalimat basa-basi ”Tuhan akan pelihara kamu, tenang saja”

13. Kita tahu bahwa gereja bukanlah gedungnya, namun orangnya. Itu sebabnya, tugas kita untuk berbagi pengharapan semestinya tidak hanya dilakukan dengan membawa orang lain ke gedung gereja (ikutlah program ini, atau kkr itu dll) tetapi dengan membawa keluar orang-orang yang berhimpun di gereja untu berbagi pengharapan bagi dunia. Mari kita melangkah keluar untuk berbagi pengharapan di tengah keprihatinan. Mari menabur benih pengharapan di lahan keputusasaan. Dan biarlah Tuhan sendiri yang member pertumbuhan pada benih pengharapan itu.
 
 

Tantangan Facebook bagi Kekeristenan

September 15th, 2010 § 1 comment § permalink

1. Saya ingin memulai percakapan ini dengan sebuah pengakuan. Ini sudah ke lima atau ke enam kali saya diminta berbicara tentang facebook di tahun ini. Ketika saya bertanya kepada sebuah panitia yang terdiri dari remaja dan pemuda, mengapa mereka memilih saya untuk berbicara tentang facebook, mereka berkata,” Sulit pak cari pendeta!” Saya bilang,” Ada puluhan bahkan ratusan pendeta yang ada di Surabaya, apanya yang sulit?” Kemudian salah satu dari remaja-ada pemuda itu menjawab,” Sulit yo pak. Pendeta banyak, tapi yang kecanduan facebook rak cuman bapak!”

2. Facebook memang sudah merajalela. Sesuai harapan Mark Zucerberg, si jenius dari Hardvard, penciptanya yang ingin membantu orang untuk lebih mudah berelasi, inilah yang kemudian terjadi. Saat ini ada lebih dari 250 juta orang mempunyai akun di fb, 120 juta di antaranya mengunjungi fb setiap hari. 30 juta orang mengabarkan statusnya setidaknya satu kali sehari. Dan bukan fb kalau tanpa foto dan video, rata-rata setiap bulan di upload 1 milliar potret dan 10 juta video.

3. Facebook sebenarnya adalah buah dari sebuah zaman baru yang telah kita masuki. Sebagian pakar menyebut zaman baru ini sebagai era digital, sebagai lagi menyebutnya sebagai era virtual reality. Sebuah zaman yang ditandai dengan kelincahan yang luar biasa dalam komunikasi antara manusia. Kita mendapatkan kemudahan dengan segala bentuk data yang bisa diubah menjadi digital. Upload, download, video streaming, chatting menjadi bagian hidup sehari-hari. Perubahan ini tentu saja membawa tantangan baru dalam kehidupan manusia, dan penghayatan kita akan Kekristenan.

Saya ingin berbagi dua hal yang saya pahami sebagai tantangan facebook (sebagai buah dari era digital atau virtual) bagi kehidupan Kristen kita.

4. Pertama, Facebook menawarkan kita sebuah relasi virtual, sedangkan jantung hati Kekristenan adalah persekutuan.

5. Yohanes 1: 14 “ Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita … “ adalah hakikat dari intisari Kekristenan. Firman yang adalah Allah, yang nun jauh di sana itu, menjadi manusia untuk mengalami persekutuan sepenuh-penuhnya dengan manusia. Inkarnasi adalh jantung hati kekristenan. Kata “diam” di antara kita, diterjemahkan juga menjadi “tabernacle” among us, bertabernakel di tengah-tengah kita. Sebuah gambaran yang meningatkan di era perjanjian lama tabernakel itu menjadi simbol kehadiran Allah. Tetapi di era Perjanjian baru, dia yang disimbolkan itu sudah datang dalam wujud darah dan daging. Mengapa? Allah ingin mengalami persekutuan dengan manusia, sepenuh dan seutuh-utuhnya. Ini adalah jantung hati Kekristenan : persekutuan dengan kehadiran fisik di mana kedalaman relasi terjadi.

6. “Pak, berapa teman bapak di fb saat ini?” kata seorang anak remaja. Makin banyak makin sip. Saya sudah punya 659 lho pak?” Saya jarang sekali add orang nak, saya hanya menerima permintaan orang untuk join. Jadi saya hanya punya 1500-an teman aja. Tetapi, apa artinya jumlah 1500 teman itu? Apakah mereka hadir ketika saya tertawa, apakah mereka hadir ketika saya menangis, apakah mereka mengulurkan tangan ketika saya membutuhkan bantuan? Paling mereka hanya meninggalkan pesan di wall saya, tapi apa itu cukup bagi saya? Tentu tidak.

7. Facebook (sebagai buah dari zaman digital) adalah pembalikan dari inkarnasi. Inkarnasi : yang nun jauh di sana, menjadi manusia (download). Facebook : manusia menjadi data digital yang diupload. Akibatnya :
• Facebook menawarkan sebuah relasi virtual yang massal. Kita hanyalah 1 dari sekian ribu temannya.
• Facebook menawarkan sebuah relasi yang dangkal, teman di fb bukan berarti seseorang yang mengenal kita dengan baik.
• Facebook, kadangkala, memaparkan hiperrealitas atau bahaya gaulnya kenyataan yang lebay (berlebihan). Kita sulit membedakan lagi mana kenyataan factual, mana yang sensational belaka.

8. Facebook, sebagai bagian dari relasi virtual, tidak boleh menggantikan hal yang esensial dalam hidup dan kekristenan kita : persekutuan dengan kehadiran diri sepenuhnya. Ini kebutuhan utama kita, makanan utama kita. Ibarat makanan, persekutuan adalah makan utamanya, dan facebook adalah camilannya. Hanya orang bodoh yang puas dengan camilan dan mengabaikan makanan utamanya.

9. Kedua, Facebook memberikan ruang yang luas bagi kita untuk memuaskan kecintaan dan kepentingan diri, sedangkan jantung hati kekristenan adalah kepentingan orang lain.

10. Filipi 2:4 “dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.” adalah bagian dari nasihat Paulus bagi jemaat yang sedang bertikai. Mereka bertikai karena masing-masing hanya memperhatikan kepentingan dirinya sendiri aja. Dengan mengacu pada teladan Kristus, yang telah datang sebagai manusia dan hamba, Paulus meminta agar jemaat memperhatikan kepentingan orang lain juga.

11. Nah, natur manusia sejak kejatuhan adalah self centered alias cinta diri, apa yang terjadi dengan natur ini ketika diberikan kesempatan untuk mengaktualisasi diri melalui facebook? Hasilnya ada posting semacam ini dari dua orang pemuda, yang barusan putus pacarannya.

12. Perhatikan posting di status dan jawaban dari eks pacarnya :
• Wanita : Dasar pria, semua buaya, termasuk eks ku, dengan gampang ke lain hati.
• Pria : Sapa bilang pria buaya? Wanita tuh yang gampang berdusta kayak buaya betina.
• Wanita : Tapi khan kamu gampang ke lain hati
• Pria : Saya tidak ke lain hati, hanya ke lain body.

12. Saya memahami orang ingin menyatakan eksistensi dirinya, entah lewat status, potret atau posting. Saya tidak keberatan, walaupun saya heran mengapa banyak potret dengan pose serupa seperti mengacungkan dua jari dengan wajah manyun. Tapi, jangan hanya memperhatikan kepentingan diri sendiri saja, pertimbangkanlah kepentingan orang lain juga. Jangan biarkan cinta diri itu mendapatkan ruang bergerak secara ganas melalui fb.

13. Yang terakhir mau saya katakan : jangan lupa add saya. Biarlah yang virtual membuka pintu bagi kita untuk mengalami persekutuan yang real. Biarlah yang virtual menjadi sarana bagi kita untuk memperhatikan kepentingan orang lain dan menindaklanjuti secara real.

*) disampaikan dalam kebaktian universitas petra, surabaya akhir 2009.

Where Am I?

You are currently browsing the Khotbah Wepe category at Wahyu 'wepe' Pramudya's blog.

Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome.