Kotak-kotak Kehidupan

June 18th, 2014 § 1 comment § permalink

Berapa kali Anda beribadah dalam seminggu?  Saya tahu beberapa orang Kristen atau Katolik yang gemar mengikuti ibadah atau persekutuan doa selain di gerejanya sendiri.  Ada persekutuan doa wilayah tempat tinggal, persekutuan doa di kantor, di sekolah dan kampus.  Cobalah hitung sejenak, dalam seminggu berapa ibadah yang Anda ikuti?  Dua, tiga atau sampai lima kali?  Nah, sekarang coba Anda bayangkan sekelompok orang yang mengikuti ibadah tujuh kali dalam sehari.  Yak, tujuh kali dalam sehari, bukan seminggu. Wow … luar biasa bukan?  Tapi, kalau kita beribadah tujuh kali dalam sehari, kapan kerjanya?  Kapan waktu untuk keluarga?  Apa tidak akan mengalami kejenuhan dan kebosanan?

***

panoramaPagi itu, saya berjalan menyusuri sebuah lahan peternakan.  Tak ada tujuan khusus, saya hanya ingin melihat peternakan yang bertempat di sebuah pertapaan.  Udara masih terasa cukup dingin, walau mentari sudah beberapa jam bersinar terang.

“Selamat pagi.  Kapan tiba di sini?” sapa ramah seorang pria mengenakan baju kerja berwarna putih.

Ah, saya segera mengenali pria tersebut.  Pria itu adalah salah satu penghuni pertapaan yang berada dalam pengelolaan OCSO.  Order of Cistercians of the Strict Observance  adalah kepanjangan dari OCSO, juga dikenal sebagai  “Trappists”.   Ordo ini adalah bagian dari gereja Roma Katolik yang bercorak kontemplatif yang menjalani kehidupan dan pelayanan mereka dengan tinggal di biara atau pertapaan.  Dari kepanjangan OCSO kita dapat mengenali dua hakikat kelompok ini : cistercians dan Strict Observance.

ocso

Istilah Cistercian berasal dari Cistercium, istilah Latin untuk desa Cîteaux, yang berada dekat Dijon, Perancis bagian timur.  Di desa inilah sekelompok biarawan mendirikan pertapaan pada tahun 1098 dengan tujuan untuk mengikuti lebih seksama ajaran dari St. Benedict.  Niat untuk mengikuti dengan lebih seksama atau lebih ketat itulah yang menjadi bagian dari nama kelompok ini : Strict Observance.  Secara ringkas, ajaran dari St. Benedict adalah mencari penyatuan dengan Tuhan, melalui Yesus Kristus, dalam hidup bersama saudara seiman.  Nah, ibadah bersama tujuh kali dalam sehari adalah salah satu upaya untuk mengarahkan hati dan pikiran pada Kristus.

“Selamat pagi Frater.  Saya memang masih baru di sini.  Baru beberapa hari yang lalu saya datang ke tempat ini,” jawab saya.

“Oh, sama. Saya juga baru di tempat ini,” jawab Frater itu.

“Oh ya, baru berapa lama?” selidik saya.

“Baru enam belas tahun.  Saya menyebutnya baru, karena ada yang lebih dari 30  tahun di tempat ini,” tuturnya sambil tersenyum.

Kami pun tertawa bersama.  Enam belas tahun tentu bukan waktu yang pendek.  Enam belas tahun dengan setiap hari mengikuti tujuh ibadah?  Maka segeralah meluncur pertanyaan dari bibir saya,”  Tidak pernah bosan mengikuti ibadah setiap hari sebanyak tujuh kali?”

“Bosan?  Ya tentu saja pernah.  Bosan itu bagian hidup manusia. Kebosanan juga adalah salah satu alat pemurni motivasi.  Waktu bosan saya  mengingat kembali mengapa dulu memasuki pertapaan ini.  Ini pilihan saya sendiri,” jawab frater itu sembari melangkahkan kakinya menuju kandang sapi.  Hari itu perternakan akan mendapatkan kunjungan dari dinas peternakan yang akan membawa rombongan peternak untuk studi banding.

***

suasana ibadah“Kalau di pertapaan, penghuninya hanya berdoa kepada Tuhan di kamarnya, ya?  Di Kamarnya ada satu jendela, satu-satunya jendela yang terbuka untuk melihat dunia luar dan menatap langit?” tanya seorang rekan. Ah, saya tak tahu mengapa apa persepsi seperti itu terkait dengan hidup di pertapaan.  Mungkin karena tak banyak orang pernah bersentuhan secara langsung dengan mereka yang tinggal di pertapaan.

Beribadah dan bekerja, itulah dua hal yang justru saya saksikan selama beberapa hari di Pertapaan Rawaseneng, Temanggung.  Pertapaan ini terletak 14 km dari kota Temanggung, sebuah kota kecil penghasil tembakau di Jawa Tengah.  Di pertapaan ini, ibadah yang berlangsung selama tujuh kali sehari bukanlah halangan untuk melakukan pekerjaan.  Justru sebaliknya,  kerja dibingkai oleh rangkaian ibadah yang ada.  Kami memulai hari dengan Ibadah Bacaan pada pk 03.30.  Ibadah Pagi yang dilanjutkan dengan Ekaristi mulai pada pk 06.00, sedangkan Ibadah Tertia berlangsung pada 08.15.  Jeda waktu yang ada antar jam kebaktian digunakan untuk persiapan pribadi seperti mandi, makan pagi atau melakukan aktivitas yang lain.  Para petapa melakukan pekerjaan sehari-hari setelah Ibadah Tertia berakhir.

Lima menit menjelang pk 12.00 lonceng berbunyi berulangkali sebagai tanda Ibadah Sexta akan segera berlangsung.  Ibadah selanjutnya adalah Ibadah Nona pada pk 14.30, Ibadah Sore pk 17.30 dan Ibadah Penutup pk 19.45.  Oh ya, jangan berharap ada nona apalagi nona-nona di Ibadah Nona.  Kata Nona, sebagaimana Tertia dan Sexta, berasal dari bahasa Latin yang berarti jam ke sembilan sejak matahari terbit.

Satu hal yang mengesankan saya adalah nyanyian mazmur yang mewarnai mayoritas ibadah sepanjang hari.  Bukan hanya satu dua buku nyanyianbait yang dinyanyikan, tetapi keseluruhan pasal dan berulangkali malah beberapa pasal.  Kita dapat mengikuti rangkaian nyanyain dengan buku-buku ibadah yang tersedia.  Dengan iringan organ yang sederhana, suara para petapa bergema di tengah keheningan  yang hanya berhias suara gemercik air dan sesekali sapi yang melenguh keras.  Jiwa tergetar, Sang illahi menyapa melalui semesta dan suara sesama.

***

“Rasa jenuh atau bosan barangkali adalah pertanda kalau hidup kita selama ini terkotak-kotak,” ujar Romo pemimpin pertapaan menjawab pertanyaan saya.

“Kita mengkotak-kotakkan hidup kita : pekerjaan, keluarga, hobby, bisnis, ibadah dan seterusnya.  Kotak-kotak yang seringkali tak kita temukan hubungannya satu dengan yang lain.  Akibatnya kita bertanya untuk apa saya bekerja?  Untuk apa saya berkeluarga?  Untuk apa saya melakukan ini dan itu?  Pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab itu menghasilkan kekosongan dan kekeringan dalam hidup ini.

Saya terdiam mendengarkan kata-kata itu.  Ah, seandainya ada gadget di tangan, pasti saya segera tweet kata-kata luar biasa tersebut.

“Lalu, bagaimana menemukan hubungan antar kotak-kotak yang ada dalam hidup kita?” tak sabar saya menanyakan hal ini.

Romo itu tersenyum.

“Salah satu disiplin rohani yang kami lakukan di sini adalah mencoba mengingat atau mengarahkan hati pada Tuhan dalam segala aktivitas yang ada.  Barangkali ini menolong untuk mencoba menemukan hubungan antar kotak-kotak yang ada di kehidupan kita.  Jika hati dan pikiran kita terarah pada Tuhan, maka akan lebih mudah bagi kita untuk menemukan makna dari semua aktivitas sehari-hari.  Penemuan makna ini akan mengurangi kejenuhan dan kebosanan dalam hidup,” terang Romo tersebut lirih dan perlahan.

Saya mengangguk perlahan.  Pertemuan sore menjelang malam itu berakhir.

***

christ

Kejenuhan dan kebosanan bukanlah musuh kehidupan.  Kejenuhan dan kebosanan adalah sahabat yang berulangkali hadir untuk menanyakan ulang : mengapa saya melakukan ini?  Mereka mengajak kita untuk memeriksa apakah kotak kotak kehidupan : pekerjaan, keluarga, dan pelayanan terhubung satu dengan yang lainnya.  Sebuah hubungan dan bahkan rangkaian yang indah hanya akan tercipta ketika dalam segala aktivitas mata kita terarah pada Sang Pencipta.  Balas menatap mata-Nya yang selalu tertuju pada kita.

 

 

*saya mengambil semua gambar ini secara langsung ketika menginap  di Pertapaan Rawaseneng, Temanggung.  Pertapaan ini terbuka bagi orang-orang yang ingin melakukan retret pribadi. Hubungi saya untuk mendapatkan nomor telepon contact person yang mengelola penginapan tamu.

Ikhlas

February 27th, 2014 § 0 comments § permalink

 

ikhlas“Tadi, kami bertiga, tapi satu teman lupa passportnya.  Kami tinggal berdua yang pulang,” pria itu berkata sambil mengarahkan pandangan ke saya, ketika mengatur posisi duduknya di penerbangan berbiaya rendah sore itu.  Beberapa detik kemudian, bau keringat pria itu menyergap hidung saya, seolah menjadi penanda sebagian jati dirinya.

Ia nampak kebingungan mengenakan seatbelt nya.  Kebingungan yang juga menunjukkan sebagian dari jati dirinya. Saya pun memperagakan bagaimana menggunakan alat pengaman itu sambil bertanya,” Mau pulang ke mana?”

“Paciran, Lamongan, Tanjung Kodok, tahu?” jawab pria itu menyodorkan beberapa jawaban, sepertinya dengan harapan saya mengenal salah satu di antaranya.  “Ya, saya pernah ke Tanjung Kodok beberapa kali,” jawab saya.

Percakapan awal itu ternyata adalah sebuah pintu menuju masa lalu; keramahan dan kepedulian sederhana bisa jadi kunci pembuka kehidupan seseorang.

“Dua tahun sudah saya kerja di Port Klang. Kini saya mau pulang.  Sudah lama tak jumpa anak-anak.  Kangen,” ringkasan kata-kata yang memberikan deskripsi identitas secara jelas.

“Bapak akan kembali ke Malaysia untuk bekerja lagi?”

Ia dengan tangkas menjawab,” Iya, tentu.  Kalau saya kerja di sini,  setiap bulan saya bisa mengirim sekitar dua juta rupiah untuk anak-anak sekolah.  Kalau saya kerja di Indonesia, tak mungkinlah saya bisa sekolahkan anak-anak.  Apalagi anak-anak sekarang sudah mau SMP dan SMA.”

Ketika mendengarkan jawabannya, saya tiba-tiba tersadar, ada yang tak pernah ia sebutkan dalam jawaban-jawabannya.  Ia bercerita tentang pekerjaannya, anak-anaknya, tapi mengapa tak pernah tentang istrinya? Tentang ibu dari dua anaknya?

“Anak-anak Bapak tinggal dengan ibunya di Lamongan?”

Pria itu terdiam, tak langsung menjawab seperti sebelumnya. Ia mengalihkan pandangan ke arah jendela kecil di pesawat.  Tak ada jawaban.  Pramugari kemudian mengulurkan formulir isian bea cukai untuk kami berdua.  Pria itu menunjukkan formulirnya sambil meminta, “Bisakah tolong isikan ini untuk saya?”

Saya mengambil pena dan segera mengisikan formulir itu.  Ketika saya melihat passportnya untuk mengisi beberapa hal, saya terkejut melihat tahun kelahiran yang tertera.  Usianya ternyata tak  berbeda jauh dengan saya.  Kami hanya berselisih beberapa tahun saja.  Lalu, apa yang membuatnya nampak begitu tua?

***

Segera setelah menyelesaikan formulir itu, saya memintanya untuk membubuhkan tanda tangan.  Sambil membubuhkan tanda tangan, ia memberikan jawaban yang tertunda,”  Tiga belas tahun lalu, waktu anak kedua saya berumur 3 bulan, istri saya berangkat untuk bekerja di Malaysia.  Saya tidak setuju, tapi kami sangat butuh uang banyak.  Apa boleh buat, pekerjaan saya juga tak jelas.  Selama tiga tahun, ia selalu kirim uang untuk saya dan anak-anak,” tuturnya sambil tersenyum.

“Oh, jadi sekarang bapak menyusul istri untuk bekerja di Malaysia demi masa depan anak-anak,” saya lontarkan dugaan saya.

“Ya, pak. Saya bekerja untuk masa depan anak-anak.  Tapi, saya tak menyusul istri saya,” jawabnya dengan nada bergetar.  Saya merasa ada sesuatu di balik getaran suaranya.

“Setelah tiga tahun, istri saya tidak lagi mengirim uang untuk saya dan anak-anak.  Saya menulis surat, tetapi tak pernah ada jawaban.  Saya bahkan menelpon tempatnya bekerja, tetapi juga tak ada lagi istri saya di sana.  Akhirnya, setelah lima tahun ada teman sekampung yang pulang dari Malaysia bawa kabar kalau istri saya menikah lagi dengan orang India,” tuturnya dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya.

Tak tega melihatnya meneteskan air mata, saya segera menyahut,“Maaf pak, saya merasa tidak enak hati karena telah menanyakan hal ini.”

“Tidak apa-apa.  Toh, peristiwa itu sudah terjadi.  Tak mudah menerimanya.  Saya sempat mabuk-mabukan dan main perempuan karena sakit hati. Bertahun-tahun saya tidak bekerja, dan hidup hanya dari menjual barang-barang yang ada di rumah.  Anak-anak tak saya urus lagi, karena tiap melihat mereka saya teringat ibunya. Hancur hidup saya,” tuturnya dengan nada agak keras, sehingga mengudang beberapa penumpang pesawat mengarahkan pandangan pada kami.

Saya menaruh telunjuk saya di bibir agar pria itu tak berbicara dengan volume yang keras.  Seperti tersadar, ia nampak malu ketika menengok kiri dan kanan.

Dengan suara yang lebih pelan, pria itu melanjutnya kisahnya,” Saya tak pernah mengira istri saya tega berkhianat dan meninggalkan saya.  Sampai suatu saat saya dapat nomor hp-nya. Saya telpon beberapa kali tak pernah dijawab, akhirnya saya kirim sms untuk bertanya mengapa ia tega menikah lagi.  Hanya satu jawaban dari istri saya. Saya masih ingat jawabannya : ‘saya ingin hidup yang lebih baik.’

Hidup yang lebih baik.  Jawaban yang terdengar klise, namun tentu saja sangat menyakitkan bagi pria ini.

***

“Setelah bertahun-tahun hidup tak keruan, saya baru sadar. Istri saya pasti sudah punya hidup yang lebih baik. Lha kok, hidup saya malah jadi lebih buruk.  Tak punya uang, anak-anak tak terurus.  Akhirnya, saya mantapkan hati.  Saya harus ikhlas.  Saya ikhlaskan istri menikah lagi,” tuturnya tegar.

Saya terdiam mendengar rangkaian kata-katanya. Tak sepenuhnya bisa saya  mengerti bagaimana ia bisa mencapai titik ikhlas itu.

“Saya pergi bekerja di Malaysia agar hidup saya lebih baik dan punya uang untuk sekolah anak-anak. Dua tahun ini, anak-anak gembira karena saya bekerja walau di negeri orang. Saya gembira karena punya uang untuk membayar sekolah anak-anak,” tuturnya mantap.

“Apakah selama di Malaysia, Bapak tidak ingin bertemu dengan istri?” tanya saya.

“Tidak, Pak. Saya tidak ingin menganggu rumah tangga orang lain.  Saya ikhlas.  Semoga istri saya dapat hidup yang lebih baik.  Hidup saya dan anak-anak juga lebih baik sekarang,” jawabnya sambil tersenyum.

Kembali, ia mengarahkan padangannya ke jendela, sambil berbisik,” Kalau kita ikhlas, hidup lebih enteng, Pak. Kalau hidup lebih enteng, kerja pun jadi semangat. ”

***

Keikhlasan tak mengubah masa lalu, namun ia pasti meringankan langkah menuju masa depan.

 

 

Mama

December 18th, 2013 § 1 comment § permalink

hatiDi suatu pagi, ia melangkahkan kaki masuk ke ruang kerja saya, dengan pakaian rapi dan santun seperti hendak pergi bekerja. Ia lalu duduk berhadapan dengan saya. Parasnya cantik, walau hanya tersentuh polesan make up yang sederhana. Hmm… bukankah kecantikan itu memang tak membutuhkan topeng dalam bentuk polesan make up yang tebal?

Dengan mug berisi kopi di tangan, saya membuka percakapan pagi itu, “Ada yang bisa saya bantu?”

Sekilas muncul kerut di keningnya, namun langsung lenyap begitu senyum manisnya terbit.”Pak Wepe, saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Saya sedang bingung. Sebentar lagi saya akan menikah, tapi… “ Ia berhenti bicara, mengeluarkan tissue, dan menyeka air matanya yang mendadak turun seperti gerimis di hari itu.

Saya menikmati satu tegukan kopi, sembari menanti dalam hening pagi. Sekilas di pikiran saya bermunculan inventaris masalah orang yang akan menikah.  Ada yang baru mengetahui bahwa pasangannya ternyata sudah mempunyai keluarga, selingkuh, menderita penyakit tertentu, atau malah adalah pecinta sejenis. Masalah-masalah klise, namun pastilah terasa menyesakkan bagi mereka yang mengalaminya.

“Saya tinggal di rumah bersama dengan papa mama saya. Keduanya mempunyai usaha sendiri.  Sangat sibuk dengan pelbagai aktivitas bisnis, sehingga sejak kecil kami, anak-anak papa-mama, diasuh oleh seorang pembantu rumah tangga yang bisu dan tuli. Ada beberapa pembantu yang lain, tetapi pembantu bisu dan tuli itulah yang memandikan, memberi kami makan dan menemani kami ke sekolah,” tutur perempuan itu dengan mata yang menerawang, mencoba mengingat perjalanan hidup.

Rangkaian pemaparan yang biasa saya dengarkan, namun tetap menyisakan tanya ke mana arah dari percakapan ini.

“Pergumulan saya mungkin terasa sederhana bagi orang lain Pak Wepe, tapi tentu saja tak sesederhana itu bagi saya,” kembali kerut muncul di dahinya.

“Saya yakin itu tak sederhana.  Sebab jika itu adalah pergumulan sederhana, pasti Anda tak akan rela menunggu giliran jadwal konseling dengan saya selama seminggu lebih,” tutur saya untuk mendorongnya berbicara.

Hening sejenak di pagi yang masih sepi itu.  Hembusan angin dari AC makin terasa.  “Apakah kalau saya menikah nanti, maka orang tua saya harus duduk di depan baik di gereja maupun di tempat acara?” tanyanya.

“Saya tidak tahu bagaimana aturan yang berlaku di gereja Anda, tetapi di gereja kami itu adalah hal yang biasa saja. Orangtua pada umumnya akan hadir, duduk di bangku paling depan, baik di gereja maupun di tempat jamuan makan. Apakah ada pergumulan tertentu yang membuat orangtua Anda tidak bisa seperti itu? Ada masalah dengan kesehatan, sehingga mereka tidak dapat hadir? Atau jangan-jangan mereka tidak setuju dengan pernikahan Anda?”  Saya sengaja melontarkan beberapa dugaan sekaligus untuk menentukan arah percakapan.

***

“Dua minggu yang lalu, mama memanggil saya. Ia berbicara banyak hal pada saya. Mungkin ia ingin memberikan bekal-bekal pernikahan. Di ujung percakapan itu, mama…..,” tiba-tiba ia terisak dan tak mampu membendung lagi air matanya. Saya menyodorkan kotak tissue di ruang kerja.  Kotak tissue yang menjadi saksi setia betapa air mata akrab dengan derita dan bahagia.

Hening kembali menyapa ruangan kerja. Ada jeda yang tak nyaman bagi saya, tetapi nampaknya perlu bagi perempuan itu untuk menuntaskan tangisnya.

“Mama bilang…. saya bukan anak kandungnya,” katanya setelah menghela nafas panjang.

“Oh ya, jadi siapa papa-mama kandung Anda? Apakah mama Anda mengatakannya?” tanya saya.

“Ya, mama saya mengatakannya. Orang yang selama ini saya sebut papa adalah benar papa kandung saya, beliau sudah meninggal dunia, sedangkan mama kandung saya adalah….” tangisnya pecah kembali.

Keheningan yang kembali menyapa dengan tanya yang tak terjawab.

“Mama kandung saya sebenarnya adalah pembantu bisu tuli yang selama ini mengasuh saya. Saya adalah buah hasil pemerkosaan papa terhadap pembantu itu,” tuturnya sambil menundukkan kepalanya.

Astaga.  Saya tak bisa menyembunyikan keterkejutan saya lagi. “Apakah Anda sudah melakukan konfirmasi kisah ini kepada pembantu eh … orang yang disebut sebagai mama kandung Anda?” tanya saya segera.

“Beberapa hari yang lalu, saya mengajak pembantu itu duduk bersama.  Saya menuliskan beberapa kata di selembar kertas, yang intinya menanyakan apakah saya memang adalah anaknya, dan apakah betul almarhum papa memerkosanya dua puluhan tahun yang lalu,” jawab perempuan itu.

“Apa jawabnya?” tanya saya segera ingin tahu.

“Ia tak menjawab apapun, karena bisu dan tuli. Segera sesudah ia membaca tulisan saya, ia memeluk saya dan menangis histeris. Mengertilah saya bahwa saya adalah anak kandungnya. Pantas saja selama ini saya diperlakukan istimewa olehnya. Saudara saya yang lain kerap tak dipedulikannya, tetapi saya selalu dilayaninya. Saudara-saudara yang lain dimarahinya, walau dengan kata-katanya tak jelas, tetapi jarang sekali ia marah pada saya,” jelas perempuan itu.

“Dengan tulisan tangan yang jelek, mama kandung saya menulis bahwa sebenarnya ia dipaksa untuk menggugurkan kandungannya oleh papa dan orang yang selama ini saya sebut sebagai mama. Ia menolak untuk menggugurkan saya.  Obat-obatan itu tak pernah ditelannya, ia juga lari ketika dibawa ke sebuah tempat untuk menggugurkan saya. Ia bersikeras untuk membesarkan saya dan melahirkan saya.  Ia pasti sangat mencintai saya,” lanjut perempuan itu.

“Jadi, siapa pak yang seharusnya duduk di bangku depan gereja atau di tempat acara? Siapa yang kepadanya saya akan memeluk dan mengucapkan terima kasih?  Mama yang selama ini membesarkan saya pun sudah rela seandainya mama kandung saya yang duduk di bangku terdepan?” tanyanya.

Saya menghela nafas panjang sambil mencoba menemukan kata-kata yang tepat. “Anda punya dua mama;mama kandung dan mama yang membesarkan Anda. Dua-duanya mencintai Anda dengan caranya masing-masing. Sebaiknya, kalau saya boleh memberi saran, kepada keduanyalah rasa hormat dan terima kasih layak diberikan. Keduanya layak duduk di depan, bersama-sama.”

***

Beberapa bulan kemudian, melalui Facebook, saya menerima kiriman gambar pernikahan perempuan itu. Ada dua perempuan dewasa yang duduk di sampingnya. Mama kandungnya, dan mama yang membesarkannya. Perempuan-perempuan tangguh di tengah hidup yang seringkali tak menghamparkan pilihan lain.

***

Ada perempuan yang mendapatkan kesempatan untuk melahirkan anak dari rahimnya.  Ada perempuan yang tak mendapatkan kesempatan seperti itu.  Perempuan yang mendapatkan kesempatan melahirkan anak dari rahimnya mempunyai waktu sembilan bulan lebih untuk mengolah rasa agar anak itu juga lahir dari hatinya.  Apa sebutan bagi seorang perempuan yang melahirkan anak dari rahim dan hatinya?  Mama!

Perempuan yang tak berkesempatan melahirkan anak dari rahimnya, tetap masih bisa melahirkan seorang anak dari hatinya.   Apa sebutan bagi seorang perempuan yang tak berkesempatan melahirkan anak dari rahimnya, namun telah melahirkan anak dari hatinya?  Mama!

 

*@pdtwepe menulis kisah nyata seorang rekan ini dalam rangka menyambut Hari Ibu tahun 2013.

Masih Sayang Aku?

September 24th, 2013 § 4 comments § permalink

 

alden_clay_berduaKemarin malam, setelah meninggalkan Surabaya selama tiga hari, saya kembali bersama dengan Alden (6,5 th) dan Clay (3 th)  bermain di tempat tidur mereka.  Clay selalu berceloteh dan  bertingkah lucu, dengan senang hati mencium atau dicium papanya.  Gelak tawa mewarnai permainan kami.

 

Seperti biasanya, jika ada di rumah pada malam hari, saya membacakan cerita untuk Alden. Setelah membacakan cerita Alkitab Anak yang Hilang dalam bahasa Inggris, tiba-tiba Alden bertanya,” Papa masih sayang koko?”

 

 Sebuah pertanyaan yang sangat mengejutkan.

 

 “Kenapa kamu bertanya seperti itu?” tanya saya balik

 

 “Koko khan sudah tidak lucu lagi.  Tidak seperti dedek ” jawab Alden sambil melirik Clay di pelukan saya.

 

Duerrrrr.  Saya terdiam.  Tak mampu berkata-kata.  Mungkin selama ini saya dan istri banyak mencium Clay dan memuji-muji kelucuannya.  Mungkin itu yang membuat Alden bertanya-tanya apakah saya masih mencintainya.  Kini, saya berpikir keras bagaimana menjawab pertanyaan Alden.

 

Saya panggil Alden mendekat, memeluknya sambil tiduran, dan berkata,”  Tentu, papa masih sayang kamu.  Bukan karena kamu lucu atau tidak.  Tetapi karena kamu anak papa-mama.”

 

Alden terdiam di dalam pelukan saya.  Semoga ia mengerti apa artinya menjadi seorang anak.  Dicintai tanpa perlu prestasi atau pencapaian. Dicintai walau penuh kesalahan dan kegagalan.  Dicintai papa karena ia adalah anaknya.  Titik.

 

Malam itu sebetulnya, saya juga punya pertanyaan yang sama.
Setelah sekian lama melayani sepenuh waktu, saya ingin bertanya,” Bapa, masih sayang padaku?  Saya merasa tak melayani-Mu dengan semangat seperti dulu.  Saya merasa tak banyak lagi berdoa seperti dulu.  Saya merasa tak banyak lagi bersaksi seperti dulu.   Saya merasa tak banyak lagi membaca Alkitab seperti dulu.  Saya merasa tak mampu menjalani kehidupan seperti kehendak-Mu. Kini,  banyak dosa dan kesalahan yang tentu saja tak terlihat orang lain, tetapi pasti Bapa tahu”

 

 “Bapa, masih sayang padaku?”

 

Ketika memeluk Alden dan Clay di tempat tidur itu, tiba-tiba, air mata saya mengalir deras ….

 

 

Studi Lanjut

June 30th, 2013 § 1 comment § permalink

 

buku“Mas, fotokopi gambarnya tidak bisa hitam seperti aslinya ya, hemat tinta,” begitu tutur ramah mbak penjaga perpustakaan.  Saya mengerti, di perpustakaan seminari ini biasanya mahasiswa hanya memfotokopi bahan-bahan untuk membuat makalah yang tentu saja sama sekali tak bergambar yang membuat boros tinta fotokopi.  Permintaan saya untuk melakukan fotokopi lembar yang ada gambarnya memang terasa tak biasa.

“Mas Wahyu, kenapa sih fotokopi gambar-gambar iklan sekolah teologi di luar negeri?” tanya mbak penjaga perpustakaan suatu kali.  Saya hanya tersenyum tanpa sepatah kata pun.

Ya, saya sering memfotokopi gambar-gambar iklan sekolah teologi yang saya temukan misalnya di Christianity Today ataupun majalah Kristen lainnya.  Saya mulai mengenal nama Fuller Theological Seminary, Trinity Evangelical Divinity Schools, Dallas Theological Seminary, Reformed Theological Seminary, dan beberapa sekolah lain yang terhisab dalam kelompok Evangelical.  Hasil fotokopi itu saya tempelkan di depan meja belajar saya di kamar asrama.  Saya belajar sambil membayangkan suatu kali akan belajar di salah satu sekolah teologi ternama itu.  Saya tentu tak punya bekal finansial memadai, tetapi saya juga mendengar bahwa beberapa sekolah menyediakan beasiswa.  Tekad saya membulat sejak semester ketiga di seminari itu. Ya, saya harus sekolah sampai dengan jenjang doktoral di salah satu sekolah itu.

***

Selesai dari seminari itu, entah mengapa beberapa gereja justru menawarkan pelayanan sebagai pendeta.  Sungguh, saya tak merasa terpanggil untuk menjadi seorang pendeta.  Saya menikmati belajar dan mengajar, dan bukan menggembalakan jemaat.  Dalam rangka menghindar dari beberapa tawaran itu, saya memutuskan untuk melanjutkan studi magister di sebuah sekolah teologi di Semarang.  Hasilnya?  Tak mengecewakan tentunya, bahkan saya mendapatkan penghargaan sebagai salah satu lulusan terbaik dengan indeks prestasi yang nyaris sempurna.  Makin yakinlah saya bahwa mengajar adalah panggilan pelayanan saya, seperti juga menjadi dosen adalah panggilan hidup ayah dan kakak.

Eh, ternyata tetap saja panggilan dari beberapa gereja untuk menjadi pendeta berdatangan.  Saya menyerah.  Saya mempertimbangkan untuk memasuki pelayanan di gereja, dengan catatan saya tak bersedia menjadi pendeta tetapi menangani masalah pengajaran atau pendidikan teologi bagi warga gereja. Akhirnya … yah Anda tentu tahu bahwa saya menjadi seorang pendeta.  Apakah menjadi seorang pendeta mengaburkan harapan saya untuk studi lanjut sampai jenjang akademis tertinggi? Anda bisa menemukan jawabannya di artikel berjudul : Di Tangan Sang Penjunan.  Artikel itu saya tuliskan untuk buku penahbisan pendeta.  Di bagian akhir tulisan itu, saya mengungkapkan harapan bahwa suatu saat saya akan melanjutnya studi, syukur-syukur di luar negeri.

Impian studi lanjut itu tetap hidup di sepanjang pelayanan saya sebagai pendeta.

***

“Secara pribadi, selain secara kelembagaan, saya akan mendukung pak pendeta untuk studi lanjut.  Pak pendeta boleh melanjutkan studi di manapun juga di luar negeri, saya akan memberikan dukungan finansial penuh. ” ucap pria itu tegas sambil menatap mata saya.  Pria itu bukan sekedar berjanji, saya tahu pasti ia punya kapasitas yang lebih dari memadai untuk menggenapi janjinya.  Namanya terbilang di antara salah satu dari lima puluh orang terkaya di Indonesia.

Ya, inilah yang saya nantikan.  Impian saya puluhan tahun lalu mendekati kenyataan.  Malam itu, saya kembali ke hotel pada pk 23.30 dan sama sekali tak dapat tertidur, seperti seorang anak yang begadang karena tak sabar menantikan pagi menjelang, saat ayahnya pulang membawa kado ulang tahunnya.

Ya, saya bersukacita tetapi sekaligus bergumul.  Impian saya ada di depan mata, tetapi bukan tanpa syarat.  Pria itu mengharapkan saya untuk melayani di gerejanya.  Bukan syarat yang mudah, tetapi impian itu juga terlalu indah untuk dilepas begitu saja.  Saya membutuhkan waktu untuk berpikir dan berdoa.  Berapa lama?  Setahun!  Akhirnya … saya memutuskan untuk melepaskan impian itu. Sedih dan berat tentu saja, tetapi saya sangat menyakini bahwa belum saatnya saya pergi meninggalkan gereja yang selama ini saya layani.

***

Ketika hati terbelah antara melayani di gereja dan meneruskan studi, akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan studi pada tingkat doktoral di Indonesia saja.  Saya mengubur dalam-dalam impian studi di luar negeri, karena sejauh ini saya semakin menemukan kecintaan untuk melayani sebagai pendeta jemaat.  Keinginan untuk mengajar di seminari berganti dengan kecintaan terhadap pelayanan firman dan pelatihan di pelbagai tempat di Indonesia hingga keluar negeri.  Saya masih berminat untuk studi, bukan dengan tujuan mengajar di seminari, tetapi untuk memperlengkapi diri.

“Ya, kami bisa memberikan Anda rekomendasi untuk melanjutkan studi lanjut pada tingkat doktoral,” begitu tutur seorang rekan pendeta yang mengurusi bidang kependetaan di sinode kami, setelah saya melakukan presentasi dan kami bertanya jawab. Setelah itu kami berbincang tentang prospek pelayanan setelah saya nantinya menyelesaikan studi doktoral itu.  Saya bersyukur untuk keputusan itu.  Selama 6 bulan terakhir, setelah berkonsultasi dengan seorang dosen teologi, saya memutuskan untuk studi lanjut pada bidang yang relatif baru di Indonesia.  Buku-buku akademis telah saya beli dan baca, puluhan artikel di jurnal telah terkumpulkan, sementara proposal studi doktoral sudah mendekati tahap akhir penyelesaian.

Pada akhirnya, impian saya segera menjadi kenyataan.  Tak seperti bayangan awal, tetapi inilah yang terbaik yang terbuka jalannya bagi saya.

***

“Kami telah mengadakan observasi terhadap anak bapak.  Kemampuan motorik halus dan kasar baik, sesuai dengan perkembangan umurnya.  Hanya saja kemampuan berbicaranya terlambat.  Usia Clay kini 35 bulan, sedangkan kemampuan bicaranya setara dengan anak 15 bulan,” begitu tutur seorang suster di sebuah klinik tumbuh kembang anak.  Hasil observasi itu menjawab pertanyaan Saya dan Vanda selama ini.  Clay bertumbuh sehat dan aktif, tetapi tak banyak bicara.  Clay baru bisa mengucapakan : papa, mama, koko, keluar, dan mam-mam alias makan.  Vanda yang merasa gelisah meminta saya untuk membawa ke klinik tumbuh kembang anak.  Setelah berkonsultasi dengan banyak ahli di beberapa tempat, pencarian kami berujung pada hasil observasi tersebut.  Sebelumnya, kami telah mendapatkan hasil diagnosis yang kurang lebih sama, tetapi kini hasilnya begitu gamblang.  Proses terapi menjelang di depan mata.

Dilema datang walau tak diundang.  Rencana awal untuk studi di luar kota pada senin sd jumat, dan kembali ke Surabaya pada Sabtu sd Minggu kini menjadi terasa begitu berat.  Rasanya tak mungkin meninggalkan Vanda seorang diri untuk mengurus Alden dan terapi rutin bagi Clay.  Tak mudah untuk mengambil keputusan dalam dilema ini.  Untuk kedua kalinya, impian ada di depan mata, tapi pergumulan yang tak pernah diundang itu datang.  Beberapa orang menganggap wajar dan biasa keterlambatan bicara pada seorang anak, toh nanti akan bisa dengan sendirinya.  Tentu, saya berharap Clay bisa mengejar ketertinggalannya.  Tapi membiarkan begitu saja, tanpa penanganan, saya tak tega melakukannya.

***

Saya ingin menyampaikan perkembangan terakhir terkait dengan rencana studi lanjut.  Pada saat ini, saya memutuskan untuk menunda rencana studi  terkait dengan kondisi tumbuh kembang anak  kedua yang tak berjalan dengan optimal.  Kebutuhan anak untuk mendapatkan terapi secara rutin menuntut konsentrasi dan pendampingan dari saya dan istri, sehingga studi lanjut untuk sementara ini belum memungkinkan.”  Demikianlah kutipan salah satu bagian dari surat yang saya kirimkan ke sinode gereja kami.

Ya, untuk kedua kalinya, impian itu sirna.  Sedih tentu saja, tetapi apa artinya saya mampu menyelesaikan studi doktoral, sementara anak saya tak lancar berbicara?

***

Hidup itu seperti berjalan di selasar mall.  Kita berjalan dan mengamati toko-toko dengan harapan menemukan sesuatu yang kita cari, tetapi ada kalanya kita tak mendapatkan apapun.  Kadangkala kita malah menemukan sesuatu yang tak pernah kita harapkan. Tak pernah kita harapkan tentu saja bukan berarti tak berarti bagi kita.  Terbuka kemungkinan sesuatu yang tak pernah kita harapkan  adalah hal yang sunguh-sungguh memiliki arti.

 

Where Am I?

You are currently browsing the Refleksi Wepe category at Wahyu 'wepe' Pramudya's blog.

Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome.