Istri Nomor Dua *

November 9th, 2012 § 1 comment § permalink

“Pak Wepe, saya itu istri nomor dua,” begitu tutur seorang perempuan membuka percakapan kami.

“Oh, ya, apakah suami Anda menikah lagi sekarang dan lebih memperhatikan istrinya yang baru sehingga Anda merasa jadi nomor dua?,” jawab saya sambil menyodorkan air minum.

“Engga begitu,  sekarang ini istri nomor satu suami saya ya blackberry nya itu.  Bangun tidur nyari blackberry. Sarapan sambil pegang blackberry di tangan kirinya, dan bahkan ke kamar mandi saja tak ketinggalan blackberry itu dibawanya.  Saya sama sekali tak diperhatikannya pak.  Saya pikir lebih enak jadi blackberry yang terus-terusan disentuh dan dipegangnya,” ujar perempuan itu.

Tawa saya pun meledak.  Bukan menertawakan kemalangan perempuan itu, tetapi menertawakan diri saya sendiri.  Perilaku suaminya persis dengan perilaku saya.  Entah istri saya merasa dinomorduakan atau tidak, saya belum tahu.

***

Sebagai seorang pendeta, sudah berulangkali saya mendengar perempuan mengeluh tentang suaminya.  Suaminya yang begitu mencintai pekerjaannya,  tekun membaca buku-bukunya, tak bisa lepas dari laptop atau smartphonenya,  atau bahkan  begitu menyanyangi  ikan atau anjing peliharaannya.  Istri merasa terabaikan dengan aktivitas suami tersebut.   Istri merasa suami hanya menginginkannya ketika ada urusan dengan ranjang.  Ujung-ujungnya, istri merasa hanya “dipakai” dan tidak dikasihi.

Saya tentu tak hendak membenarkan perilaku pria semacam itu, yang kadang menjadi perilaku saya juga.  Hanya kadangkala saya sulit memahami mengapa perempuan merasa tersaingi kehadirannya dengan smartphone, notebook atau hobby suami.  Sebagai seorang pria dan pendeta, seringkali saya harus menegaskan pada para istri yang galau itu,” Percayalah Anda menempati tempat yang tak tergantikan di hati suami, walau ia nampak asyik dengan barang-barang tertentu itu atau hobbynya.”  Kehadiran perempuan di dalam hidup pria itu unik dan tak tergantikan.

***

Saya berulangkali membaca rangkaian kisah penciptaan pria dan perempuan seperti tertulis di Kitab Kejadian.  Terasa tak ada yang istimewa dan menarik perhatian.  Hingga suatu hari saya membaca perlahan Kejadian pasal dua.  Ada rentetan peristiwa di situ, apakah Anda mengingat urutannya?    Allah menciptakan pria dan kemudian IA menciptakan perempuan?  Ya, ini yang ada di benak Anda?  Salah besar!  Tidak begitu urutannya.

Allah menciptakan pria, dan kemudian IA  bersabda, “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.”  Allah mengerti kesendirian dan kesepian seorang pria.  Sesudah itu Allah langsung menciptakan perempuan?  Tidak!  Nah, inilah uniknya.  Setelah Allah sendiri menegaskan bahwa tidak baik bagi pria untuk seorang diri saja, dan Allah akan menjadikan penolong bagi pria itu, Alkitab menulis,” TUHAN Allah membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara. Dibawa-Nyalah semuanya kepada manusia itu untuk melihat, bagaimana ia menamainya; dan seperti nama yang diberikan manusia itu kepada tiap-tiap makhluk yang hidup, demikianlah nanti nama makhluk itu.”  Hah?  Ga salah nih!  Kenapa Allah tidak langsung menciptakan perempuan?  Mengapa Allah justru menciptakan segala binatang dan meminta pria itu menamai binatang-binatang itu?  Klimaks dari kisah ini adalah ketika penulis kitab kejadian menulis,” Manusia itu memberi nama kepada segala ternak, kepada burung-burung di udara dan kepada segala binatang hutan, tetapi baginya sendiri ia tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia.”

Aha!  Allah nampaknya sengaja ingin membuat Adam, pria pertama itu, menyadari bahwa kehadiran binatang-binatang itu, tak akan cukup bagi dirinya.  Ia membutuhkan pasangan yang sepadan, dan bukan sekedar binatang peliharaan.  Itulah sebabnya, ketika akhirnya Tuhan menciptakan dan membawa Hawa kepadanya,  Adam langsung berkata,” Ini dia, orang yang sama dengan aku  —  tulang dari tulangku, dan daging dari dagingku.” (BIS) Yak, perempuanlah yang melengkapi dan menemani hidup pria.  Tak tergantikan oleh apapun juga, baik binatang-binatang, smartphone, notebook, ataupun hobby.

***

Maria Oendari (MO), selamat menempuh hidup baru bersama dengan Michael Tatang (MT).  Ingatlah bahwa MT adalah pria yang harus bekerja, punya (beberapa) smartphone, dan tentu saja hobby.  Akan ada saat di mana kamu merasa menjadi istri nomor dua di tengah kesibukan MT dengan pekerjaan atau hobbynya.  Ketika perasaan itu datang, ingatkanlah dirimu. Tuhan menciptakanmu bukan untuk bersaing dengan pekerjaan dan hobby suamimu.  Tuhan menciptakanmu untuk bersama-sama dengan suamimu menikmati hasil jerih payah pekerjaannya, karena itu geseklah kartu kredit sepuas mungkin.  Toh MT yang akan bayar.

MT, ingatlah! Kalau MO merasa bahwa  pekerjaan, (beberapa) smartphone dan hobbymu adalah istri nomor satumu, maka bersiaplah mencari tempat untuk menginap!

 

*untuk the perfect blend :  maria dan michael yang akan menikah 10-11-2012

Bejana Retak

August 10th, 2012 § 3 comments § permalink

Saya tiba di pastori sekitar pukul 22.30 di malam minggu itu. Ada permintaan konseling yang mendadak dan urgent tiga jam sebelumnya. Percakapan konseling,  bagi saya selalu lebih melelahkan dibandingkan dengan berkhotbah, karena saya harus mendengar, menganalisa, dan memberikan jawaban.  Secangkir kopi yang nyaris tandas menemani saya menyelesaikan khotbah untuk minggu pagi.  Kopi yang selalu memberi inspirasi menjadi nyaris tak ada artinya saat itu.  Macet.  Tak ada jari jemari yang sibuk dengan keyboard notebook. Saya menopang dagu dengan kedua tangan.  Nyaris putus asa karena sama sekali belum menyusun khotbah untuk besok minggu.  Jangan salah sangka.  Saya tak pernah persiapan mendadak.  Teks Alkitab biasanya sudah saya baca berulang kali mulai Selasa sebelumnya. Coretan-coretan outline khotbah pun bertumpuk.  Namun, malam itu saya gagal untuk menuangkannya dalam naskah lengkap.  Saya menutup notebook dengan putus asa dan segera tidur.  Toh, besok saya masih bisa bangun jam empat pagi untuk melanjutkan persiapan khotbah, begitu pikir saya.

***

Malam itu, tidur saya tak nyenyak. Terbangun beberapa kali dan langsung teringat naskah khotbah yang sama sekali belum selesai.  Sebelum weker berbunyi, saya sudah bangun. Berdoa dan mencoba menyusun naskah khotbah. Duh … desakan tenggat waktu yang biasanya sanggup memicu inspirasi, kini hanya membuat rasa ingin menyerah semakin kuat.  Hanya tersisa 30 menit sebelum saya mandi dan mempersiapkan diri berangkat ke gereja.  Layar notebook masih kosong melompong.  Ya, saya menyerah. Saya mencari naskah khotbah  tahun lalu dan mencetaknya, tak peduli lagi apakah naskah itu sesuai dengan tema atau tidak.  Yang penting teks Alkitab yang mendasari naskah itu ada di bacaan leksionari untuk hari Minggu itu.  Oh ya, Anda perlu mengerti bahwa di gereja saya, tema-tema khotbah sudah tersusun rapi sejak setahun sebelumnya.  Tema-tema itu tercetak di warta gereja, dan kadangkala tertera di dinding samping kiri mimbar.  Jadi, saya tak bisa berkhotbah bebas seperti di gereja-gereja lain.  Minggu pagi itu saya berdoa,”  Ya Tuhan, semoga jemaat tak ingat lagi khotbah setahun lalu.”  Sebuah doa yang kontradiktif dengan doa saya ketika biasanya akan berkhotbah.  Saya selalu ingin agar jemaat mengingat khotbah yang saya sampaikan.

***

“Rasanya saya pernah dengar khotbah bapak sebelumnya,” kata seorang anggota jemaat sambil menjabat tangan saya.  Saya hanya tersenyum kecut.

“Lho khan sudah pernah dikhotbahkan tahun lalu pak, bapak salah ambil naskah ya?” tanya seorang aktivis gereja sesudah kebaktian. Saya tak tahu lagi harus ke mana menyembunyikan wajah ini. Malu. Segera saya bergegas masuk ke ruang pendeta.

“Kak, kok ga nyambung sih antara tema yang tertulis dengan khotbah kakak?”  protes seorang pemuda yang selama ini cukup dekat dengan saya.  Saya hanya terdiam. Tak menjawab.  Lemas seluruh tubuh ini rasanya.

Saya masih harus berkhotbah sekali lagi.  Khotbah yang sama.  Khotbah lama yang ternyata masih diingat oleh beberapa anggota jemaat. Saya tak berani membayangkan apa yang akan terjadi sesudah kebaktian kedua.  Ternyata … tak terjadi apa-apa sesudah kebaktian kedua. Tak ada yang menegur saya, tak ada orang yang menyampaikan bahwa mereka sudah pernah mendengarkan khotbah itu. Huh ….. saya bernafas lega. Ingin segera pulang ke pastori dan tidur.

Lampu notifikasi menyala terus di blackberry yang saya atur dalam mode silent.  Segera sesudah saya menyalakan mesin mobil, saya mengambil blackberry itu.  Ada sms masuk, bunyinya : “Pak wepe, bapak tidak persiapan ya?  Itu tadi khotbah tahun lalu.” Saya terpaku, tak mampu menjawab.  Saya segera menggerakkan jempol untuk melihat pesan yang masuk di facebook.  Ada lima pesan baru. Dengan pelbagai kalimat, semua menanyakan hal  yang serupa : mengapa saya berkhotbah melenceng jauh dari tema dan menggunakan khotbah tahun lalu.  Saya pun tertunduk lesu.  Ya Tuhan, ampuni hamba-Mu yang tak bertanggung jawab ini.

***

“Pak, kami ingin konsultasi dengan bapak malam ini juga,” pinta seorang ibu di telepon.  Saya menyarankan agar ibu itu menemui saya seusai kebaktian minggu besok.  Saya ingin memakai malam minggu itu secara penuh untuk mempersiapkan khotbah.  Peristiwa dua minggu yang lalu benar-benar merampas kepercayaan diri saya.  Tak boleh terulang tentu saja.

“Tak bisa besok pak, harus malam ini.  Besok saya dan anak sudah terbang kembali ke Kalimantan,” desak ibu itu.  Saya terdiam.  “Mohon kesediaannya pak.  Tidak akan lama.  Satu jam saja,” desaknya halus.

Saya terombang-ambing antara iya dan tidak.  Tapi, ok lah.  Toh hanya satu jam saja, begitu pikir saya.  Saya pun segera mempersiapan diri menuju gereja.

***

Ibu itu datang dengan seorang  anak perempuannya.  Saya tak mengenalinya sebagai bagian dari anggota jemaat gereja kami.  Ia pun mengulurkan tangannya dan memperkenalkan diri dan anaknya.

“Kami bukan anggota jemaat bapak.  Kami sedang berada di Surabaya untuk sebuah kepentingan, dan kami menghadiri kebaktian yang bapak pimpin dua minggu lalu,” ujarnya membuka percakapan.

Dua minggu lalu? Duh …. saya langsung merasa tak nyaman.  “Ya sudahlah, saya salah.  Saya tidak mempersiapkan dengan baik.  Saya tak berkhotbah sesuai dengan tema.  Saya memakai khotbah tahun yang lalu,” batin saya sambil mencoba tersenyum.

“Khotbah bapak itu benar-benar ….,” ibu itu mengarahkan pandangan kepada anak nya.  Mereka berpegangan tangan.  Tiba-tiba mereka berdua menangis.  Kebingungan melihat apa yang terjadi, saya mengulurkan kotak tissue.

“Khotbah bapak dua minggu yang lalu itu, benar-benar jawaban Tuhan untuk pergumulan kami selama ini.  Setiap kata yang keluar dari bibir bapak, terasa seperti Tuhan sendiri yang berbicara kepada kami berdua.  Tepat sekali.  Sangat mengena dengan kondisi kami.  Ini jawaban Tuhan atas pergumulan kami,” ujar ibu itu sambil menoleh ke arahnya anaknya.  Dengan anggukan, anak itu mengaminkan perkataan ibunya.

Ibu dan anak itu sedang berada di persimpangan jalan.  Dua tahun bolak-balik terbang dari luar jawa ke Surabaya untuk menemui seorang psikolog kondang tak membuahkan hasil maksimal.  Dua minggu lalu, khotbah usang tak sesuai tema itu menjadi sarana yang dipakai Tuhan untuk memperdengarkan suara-Nya.  Saya terdiam sambil menahan air mata.  “Terima kasih Tuhan,” bisik saya dalam doa.

***

Malam hari itu, saya mengaminkan apa yang pernah Paulus tuliskan tentang dirinya,” Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami.”  Paulus, yang penuh dengan prestasi dan pengalaman rohani itu menggambarkan dirinya sebagai bejana tanah liat.  Bejana tanah liat yang rapuh. Bejana tanah liat yang tak berharga, namun menyimpan harta tak ternilai : Injil Kerajaan Allah.

Sama seperti Paulus, Anda dan sayalah bejana-bejana tanah lihat itu.  Bejana-bejana yang mungkin sudah tak utuh lagi.  Bejana-bejana yang mungkin sudah retak karena dosa, kesalahan dan keterbatasan. Setiap retak pada diri kita adalah sebuah peringatan yang menjauhkan kita dari kesombongan.  Setiap retak pada diri kita adalah panggilan untuk bergantung pada-Nya.  Setiap retak pada diri kita adalah kesempatan bagi Tuhan untuk menyatakan kuasa-Nya.

Dalam diam dan takjub, kita hanya bisa berkata,”  Terima kasih, Engkau berkenan untuk memakai bejana retak seperti diriku untuk menyatakan kehadiran-Mu.”

 

*refleksi  tujuh tahun pelayanan sebagai pendeta gki ngagel surabaya

Tangan-tangan Tuhan

July 18th, 2012 § 0 comments § permalink

“Umur kupu-kupu itu tak panjang. Rata-rata hanya tiga atau empat bulan, walau ada juga yang hampir setahun,” ujar seorang petugas di Taman Nasional Bantimurung, Maros, Sulawesi Selatan. Di kawasan penangkaran kupu-kupu itu, tempat yang oleh Alfred Russel Wallace dijuluki  sebagai kerajaan kupu-kupu, saya menyaksikan proses metamorfosis yang luar biasa. Dari telur menjadi ulat atau larva, kemudian menjadi kepompong, dan akhirnya menjadi kupu-kupu yang indah. “Sayangnya, sekarang kupu-kupu yang baru keluar dari kepompong itu sulit mendapatkan sari pati madu sebagai makanan mereka. Bunga-bunga yang ada tak banyak menghasilkan sari pati madu,” jawab petugas itu ketika saya menunjuk seekor kupu-kupu yang nampak lemah hinggap di atas sebuah daun.

“Terus, bagaimana upayanya supaya kupu-kupu itu bisa terus bertahan hidup?” tanya saya dengan rasa ingin tahu. Petugas itu pun menunjuk sebuah piring plastik yang nampak usang. Ada cairan bening yang mengisi piring tersebut.

“Kami memberi kupu-kupu itu air gula. Ketika kupu-kupu yang baru lepas dari kepompong belajar untuk terbang, sekali dua kali kami menangkap dan membawa mereka untuk mencicipi air gula itu. Mula-mula tak biasa, tetapi akhirnya kupu-kupu itu terbiasa juga,” tutur petugas itu. “Ketika sari pati madu bunga tak lagi cukup, kupu-kupu itu mengisap air gula itu untuk bertahan hidup. Hidup kupu-kupu itu memengaruhi hidup kami, Pak. Orang datang ke tempat ini, selain melihat air terjun, juga hendak melihat kupu-kupu. Kalau kupu-kupu itu habis, mungkin habis juga hidup kami,” ujarnya sembari mencucukkan kupu-kupu itu ke air gula di piring usang itu.

***

Ngagem arto pas mawon, mboten wonten susukipun,” tutur wanita tua itu ketika saya mengulurkan uang sepuluh ribu. Harga jaring ikan kecil itu enam ribu rupiah. Masa sih ia belum punya uang kembalian, toh hari sudah cukup siang, dan hanya perlu empat ribu rupiah. “Dinten niki dereng wonten ingkang payu,” ujarnya seolah menjawab pertanyaan dalam hatiku. Di hari itu, ia bahkan belum menjual satu jaring kecil penangkap ikan pun.

Siang hari itu, matahari menyinari pantai dengan maksimal. Sebagian pengunjung Pantai Kukup, Wonosari, Yogya memilih untuk berteduh di mana saja, sementara yang lainnya bermain di tepi pantai.  Di tepian pantai itu, beberapa ikan kecil berenang bebas di sela-sela karang. Nampak begitu menarik, sehingga anak-anak berjuang untuk menangkap ikan-ikan itu. Tentu tak mudah menangkap ikan dengan tangan kosong. Nah, itulah yang menjadi sumber rezeki bagi beberapa perempuan tua penjual jaring penangkap ikan yang duduk tak jauh dari tepi pantai itu. Ada enam perempuan yang duduk di tengah teriknya matahari, tanpa peneduh, hanya menggunakan topi seadanya. Mereka menjual jaring kecil untuk menangkap ikan.

Biasanipun payu pinten?” tanya saya.

Njih mboten pasti. Dinten wingi angsal satus seket. Laris manis. Dinten punika dereng angsalTergantung kathah nopo mboten iwakipun,” jelasnya. Kehadiran ikan-ikan kecil itu menjadi sumber penghidupan bagi beberapa perempuan tua dan keluarganya. Semakin banyak ikan yang berenang di sela-sela karang, semakin menarik bagi anak-anak untuk menangkap ikan itu, maka larislah jualan perempuan tua itu.

***

Sebagai orang beriman, kita tentu percaya bahwa Tuhan memelihara kehidupan kita. Hanya saja,  yang seringkali luput dari perhatian kita adalah cara Tuhan mewujudnyatakan pemeliharaan-Nya. Tak ada berkat yang jatuh dari langit. Berkat Tuhan mengalir melalui ciptaan-Nya. Berkat Tuhan bagi manusia bisa mengalir melalui kupu-kupu di Bantimurung, atau melalui  ikan-ikan kecil yang berenang gembira di tepi Pantai Kukup. Kupu-kupu dan ikan-ikan kecil itu adalah tangan-tangan Tuhan yang memelihara kehidupan manusia.

Setiap kali kita menatap ke langit dan bertanya,” Tuhan, apakah Engkau benar-benar memelihara hidupku?  Mengapa hidupku kurang dengan ini atau itu? Bagaimana wujud nyata pemeliharan-Mu?”  Mungkin tak ada jawaban dari langit.  Kita mungkin memandang ke arah yang salah.  Jangan hanya menatap ke atas, pandanglah juga ke sekelilng.  Ada tangan-tangan Tuhan yang terus bekerja memelihara kehidupan kita.

Kasih yang Mengubahkan

May 27th, 2012 § 0 comments § permalink

“Sepuluh tahun saya menelantarkan anak dan istri saya.  Becak itu bukan hanya menjadi alat untuk mencari  makan, tetapi juga tempat tidur saya.  Saya hidup di jalanan. Dapat uang, makan, main perempuan, dan mabuk-mabukan.  Tak pernah memberi nafkah untuk anak istri,” demikian tutur pria itu setelah ia memperkenalkan diri.  Pria itu hadir di sebuah persekutuan untuk membagikan kisah hidupnya. Ia tak lagi muda, usianya sekitar 50 tahun.  Bicaranya yang lancar menunjukkan bahwa ia telah terbiasa tampil di muka umum. “Selain mbecak, saya juga sering tampil di acara-acara ludruk. Saya senang sekali kalau bermain ludruk. Tapi ya setelah itu kembali ke jalanan, jadi orang bejat,” tuturnya sambil mencoba mengingat  kembali perjalanan hidupnya.

***

“Empat  tahun yang lalu saya bertobat. Saya menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat,” lanjut pria itu. “Hidup saya berubah. Saya pulang ke rumah dan meminta maaf kepada istri dan anak saya. Syukurlah, istri dan anak saya mau menerima saya kembali, walaupun pertobatan saya membuat kami menjadi berbeda keyakinan,” ujarnya sambil memperkenalkan istrinya. Pandangan saya pun terarah kepada perempuan yang ditunjuk oleh pria itu. Seorang perempuan berpenampilan sederhana, dengan usia sekitar 40-an tahun.

“Istri saya dulu sering kali marah-marah kalau saya pergi ke persekutuan atau ke gereja. Ia pernah meminta saya untuk menurunkan salib yang saya pasang di rumah. Ya, saya ikuti sajalah, daripada ribut.”

Sementara pria ini bercerita, saya mengarahkan pandangan ke istrinya yang sedang tersenyum.  “Anak juga pernah mengejek, ketika tahu bahwa saya menjadi orang Kristen. Anak saya pernah bilang sebelum salib itu saya turunkan, ‘Pak, Tuhanmu kuwi kok ra katokan. Kene, tak wenehi katok’. Saya hanya tersenyum sambil terus berdoa agar Tuhan mengubah hati istri dan anak saya.” Sebuah doa yang didengar oleh Tuhan. Kini, istri dan anaknya telah bertobat dan aktif melayani Tuhan di sebuah gereja.

***

Setelah bertobat, pria itu terus menjalankan pekerjaannya sebagai tukang becak. Ia menyaksikan betapa tidak pastinya penghasilan sebagai tukang becak di tengah murahnya cicilan motor dan banyaknya bemo (kendaraan umum) di Surabaya.  “Biar susah dapat penumpang, berkat Tuhan selalu ada. Pernah ada yang minta bantuan saya membersihkan gudang. Saya mendapatkan upah untuk membersihkan gudang dan membuang  kayu-kayu bekas. Eh … di tengah jalan, ada orang yang mau membeli kayu-kayu bekas itu. Tuhan itu baik. Ada juga penumpang, yang bisa naik taksi, eh memilih naik becak saya. Eh… saya dikasih berkat beberapa ratus ribu,” ucapnya dengan penuh rasa syukur.

“Setelah bertobat, saya mulai memberitakan Injil kepada sesama tukang becak. Kalau ada yang sakit, ya saya pijit dan kerok, sambil bercerita tentang kasih Tuhan Yesus. Teman-teman saya yang mabuk pun saya datangi. Ada yang menolak dan tak mau berteman dengan saya, tapi puji Tuhan ada yang mau menerima Kristus. Saya sampai dijuluki pendeta oleh teman-teman saya,” ujarnya sambil tersenyum. Di akhir kesaksiannya, pria itu nembang lagu-lagu jawa, yang syairnya telah diubahnya untuk menceritakan kasih Tuhan Yesus.

***

Apa yang menyebabkan seorang tukang becak yang telah menelantarkan anak istrinya, hidup di jalanan dan melakukan begitu banyak hal yang buruk, berjumpa dengan kasih Kristus? Bukan khotbah seorang pendeta, bukan pula pemberian bantuan dari gereja, melainkan melalui salah satu penumpang langganannya.

Dua kali dalam seminggu, ia mengantar-jemput langganannya, seorang anak remaja yang menderita cacat sejak lahir ke sebuah gereja. Kedua kaki remaja itu tak bertumbuh sempurna karena polio. Ia harus mengangkat anak remaja itu naik ke atas becak, mengantar, dan kemudian menurunkannya di gereja. Awalnya sekedar mengantar, hingga akhirnya ia ikut berdiri dan mendengarkan khotbah dari luar gereja.

“Anak itu baik sekali. Walaupun cacat, tetapi rajin ke gereja. Ia beberapa kali mengajak saya makan bersama sambil bercerita tentang kasih Kristus. Pada malam menjelang lebaran, anak itu memberikan kado kepada saya. Saya buka, ternyata isinya adalah uang dua puluh ribu dan Alkitab. Bukan Alkitab yang baru. Saya bingung, kenapa Alkitabnya diberikan ke saya? Apakah anak itu tidak akan memakai Alkitabnya lagi? Tenyata, seminggu kemudian anak itu meninggal. Saya sampai ikut menangis. Sepertinya anak itu mewariskan Alkitabnya yang penuh dengan coretan catatan khotbah itu untuk saya. Saya baca terus Alkitab itu, sambil belajar dari catatan khotbah anak itu. Saya pun bertobat dan menyerahkan diri saya dibaptis di sebuah gereja.”

***

Seorang anak remaja dengan cacat di tubuhnya. Seorang tukang becak yang sudah sepuluh tahun menenelantarkan keluarganya. Istri dan anak yang harus jungkir balik mencari nafkah. Apa yang menghubungkan mereka? Kasih Kristus. Kasih Kristuslah yang memampukan anak remaja itu  untuk menerima kondisinya, dan bahkan mempersaksikan kebaikan Tuhan. Kesaksian yang membuahkan pertobatan tukang becak itu. Pertobatan yang mengembalikan tukang becak itu kepada istri dan anaknya. Pertobatan yang menggerakkan tukang becak itu untuk berbagi kasih pada tukang becak lainnya. Pertobatan-pertobatan pun terjadi di jalanan, bukan hanya di gereja.

Ketika seseorang menerima dan menghidupi kasih Kristus, kasih itu mengubahkan dirinya dan orang-orang di sekitarnya. Perlahan, namun pasti.

 

Pelangi

April 18th, 2012 § 0 comments § permalink

 

Iman itu bak sekeping uang dengan dua sisi.  Satu sisi memberikan jaminan dan kepastian. Sisi yang memberikan penegasan yang kita butuhkan. Sisi tanda seru.  Sisi yang kita sukai. Sedangkan sisi lainnya adalah sisi yang tak kita sukai.  Sisi misteri.  Sisi yang menggelisahkan. Sisi tanda tanya.

Tentu jauh lebih mudah dan menyenangkan bagi kita untuk menerima jaminan dan kepastian, daripada ketidakjelasan dan pertanyaan.  Namun, ini realita hidup beriman.  Bukan hanya menerima sisi tanda seru, tetapi juga sisi tanda tanya. Beriman bukan hanya hidup dengan jaminan dan kepastian, tetapi juga harus rela dan bahkan berani untuk hidup dengan pertanyaan.

Dua paragraf di atas adalah akhir dari tulisan “Dua Sisi” yang mengisahkan tentang Rudi Suseno, seorang calon missionaris yang telah mempersiapkan diri selama 4 tahun, namun meninggal dunia karena kecelakaan hanya satu bulan sebelum memasuki ladang  pelayanannya.  Bagaimana nasib istri dan anaknya setelah kepergian sang suami?  Bagaimana keyakinan mereka terhadap Tuhan setelah kecelakaan maut itu merenggut suami dan ayah mereka?

***

Suatu kali saya menerima terusan surel surat doa yang ditulis sendiri oleh Paryati, istri alm Rudi Suseno. Surel ini menggambarkan pikiran dan perasaan Paryati ketika kecelakaan maut yang merenggut suaminya itu terjadi.

Berikut ini kutipan sebagian dari surat doa itu :

Kamis 5 Januari sekitar jam 18.30 Wib, saya sangat dikejutkan dengan adanya telepon dari polsek Getasan yang memberitahukan“Bp. Rudi Suseno kecelakaan dan berada di polsek setempat, mohon ibu dan seluruh keluarga segera datang!”(waktu itu suami keluar rumah untuk membeli pulsa modem dan lauk makan malam). Segera setelah itu, saya dengan mengendong Deven (anak kami yang masih berumur 2 tahun) minta tetangga mengantar ke polsek, namun sebelum berangkat saya sempat menelpon adik yang tinggal di kota Salatiga (30 menit dari rumah sewa kami).

Sepanjang perjalanan menuju Polsek, saya terus berdoa didalam hati: “Tuhan apapun yang terjadi terhadap papa, ajar aku tetap besyukur dan beri kekuatan.” Saya tidak tahu kok doa seperti itu? Setalah 20 menit, tibalah kami ditujuan, singkat cerita kami diantar ke PUSKESMAS tidak jauh dari polsek itu. Setibanya disitu, saya melihat banyak orang diluar sepertinya mereka menunggu seseorang dan ketika melihat kami datang, mereka berguman satu dengan yang lain. Katanya: “itu istri dan anaknya sudah datang, kasihan anaknya masih kecil sekali.” Mendengar itu hatiku semakin kuatir, ditambah lagi ketika kami akan masuk PUSKESMAS, Deven tidak boleh ikut.  Deven digendong orang yang mengantar kami, dan tidak menangis sekalipun belum kenal.

Saya diantar petugas polisi menuju sebuah kamar dalam pikiranku, Papa hanya luka ringan saja. Tetapi ketika pintu dibukakan saya sangat terkejut karena melihat kedua jempol kakinya sudah diikat. Saya terus mendekat dan sekujur tubuhnya juga sudah ditutup dengan selimut. Saya buka kepalanya dan….. saya langsung menjerit dengan sekuat tenaga, sambil mencium dan memeluk  suami  yang sudah pulang ke rumah Bapa. Saya diam disamping jenasah…

Sesaat saya mendekat dan berkata: “Papa, kita kan sebentar lagi ke lapangan? pelayanan ke tempat yang sudah kita gumulkan? Kita akan memulai pelayanan jangka panjang? Pa, koq ternyata Tuhan punya rencana lain? …

***

Di dalam duka yang mendalam itu, Paryati juga menyatakan bagaimana kuasa Tuhan dinyatakan dalam kondisi yang buruk itu.  Salah satunya adalah ketika ia menulis,” Berita keselamatan disampaikan kembali ketika ibadah ucapan syukur 7 dan 40 hari dan didengar oleh keluarga besar. Adik laki-laki Mas Rudi, setelah beberapa tahun tidak ke gereja pada mulai tanggal 8 Januari 2012 kembali beribadah dan tanggal 16 Februari mengikuti bimbingan baptisan.”

***

Inilah hidup orang yang beriman. Orang beriman melihat keindahan pekerjan tangan Tuhan di tengah kelamnya kehidupan.  Lebih dari itu, orang beriman memercayai pelangi akan muncul bahkan ketika mendung gelap masih menggantung.

 

Where Am I?

You are currently browsing the Refleksi Wepe category at Wahyu 'wepe' Pramudya's blog.

Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome.