Kotak-kotak Kehidupan

June 18th, 2014 § 2 comments § permalink

Berapa kali Anda beribadah dalam seminggu?  Saya tahu beberapa orang Kristen atau Katolik yang gemar mengikuti ibadah atau persekutuan doa selain di gerejanya sendiri.  Ada persekutuan doa wilayah tempat tinggal, persekutuan doa di kantor, di sekolah dan kampus.  Cobalah hitung sejenak, dalam seminggu berapa ibadah yang Anda ikuti?  Dua, tiga atau sampai lima kali?  Nah, sekarang coba Anda bayangkan sekelompok orang yang mengikuti ibadah tujuh kali dalam sehari.  Yak, tujuh kali dalam sehari, bukan seminggu. Wow … luar biasa bukan?  Tapi, kalau kita beribadah tujuh kali dalam sehari, kapan kerjanya?  Kapan waktu untuk keluarga?  Apa tidak akan mengalami kejenuhan dan kebosanan?

***

panoramaPagi itu, saya berjalan menyusuri sebuah lahan peternakan.  Tak ada tujuan khusus, saya hanya ingin melihat peternakan yang bertempat di sebuah pertapaan.  Udara masih terasa cukup dingin, walau mentari sudah beberapa jam bersinar terang.

“Selamat pagi.  Kapan tiba di sini?” sapa ramah seorang pria mengenakan baju kerja berwarna putih.

Ah, saya segera mengenali pria tersebut.  Pria itu adalah salah satu penghuni pertapaan yang berada dalam pengelolaan OCSO.  Order of Cistercians of the Strict Observance  adalah kepanjangan dari OCSO, juga dikenal sebagai  “Trappists”.   Ordo ini adalah bagian dari gereja Roma Katolik yang bercorak kontemplatif yang menjalani kehidupan dan pelayanan mereka dengan tinggal di biara atau pertapaan.  Dari kepanjangan OCSO kita dapat mengenali dua hakikat kelompok ini : cistercians dan Strict Observance.

ocso

Istilah Cistercian berasal dari Cistercium, istilah Latin untuk desa Cîteaux, yang berada dekat Dijon, Perancis bagian timur.  Di desa inilah sekelompok biarawan mendirikan pertapaan pada tahun 1098 dengan tujuan untuk mengikuti lebih seksama ajaran dari St. Benedict.  Niat untuk mengikuti dengan lebih seksama atau lebih ketat itulah yang menjadi bagian dari nama kelompok ini : Strict Observance.  Secara ringkas, ajaran dari St. Benedict adalah mencari penyatuan dengan Tuhan, melalui Yesus Kristus, dalam hidup bersama saudara seiman.  Nah, ibadah bersama tujuh kali dalam sehari adalah salah satu upaya untuk mengarahkan hati dan pikiran pada Kristus.

“Selamat pagi Frater.  Saya memang masih baru di sini.  Baru beberapa hari yang lalu saya datang ke tempat ini,” jawab saya.

“Oh, sama. Saya juga baru di tempat ini,” jawab Frater itu.

“Oh ya, baru berapa lama?” selidik saya.

“Baru enam belas tahun.  Saya menyebutnya baru, karena ada yang lebih dari 30  tahun di tempat ini,” tuturnya sambil tersenyum.

Kami pun tertawa bersama.  Enam belas tahun tentu bukan waktu yang pendek.  Enam belas tahun dengan setiap hari mengikuti tujuh ibadah?  Maka segeralah meluncur pertanyaan dari bibir saya,”  Tidak pernah bosan mengikuti ibadah setiap hari sebanyak tujuh kali?”

“Bosan?  Ya tentu saja pernah.  Bosan itu bagian hidup manusia. Kebosanan juga adalah salah satu alat pemurni motivasi.  Waktu bosan saya  mengingat kembali mengapa dulu memasuki pertapaan ini.  Ini pilihan saya sendiri,” jawab frater itu sembari melangkahkan kakinya menuju kandang sapi.  Hari itu perternakan akan mendapatkan kunjungan dari dinas peternakan yang akan membawa rombongan peternak untuk studi banding.

***

suasana ibadah“Kalau di pertapaan, penghuninya hanya berdoa kepada Tuhan di kamarnya, ya?  Di Kamarnya ada satu jendela, satu-satunya jendela yang terbuka untuk melihat dunia luar dan menatap langit?” tanya seorang rekan. Ah, saya tak tahu mengapa apa persepsi seperti itu terkait dengan hidup di pertapaan.  Mungkin karena tak banyak orang pernah bersentuhan secara langsung dengan mereka yang tinggal di pertapaan.

Beribadah dan bekerja, itulah dua hal yang justru saya saksikan selama beberapa hari di Pertapaan Rawaseneng, Temanggung.  Pertapaan ini terletak 14 km dari kota Temanggung, sebuah kota kecil penghasil tembakau di Jawa Tengah.  Di pertapaan ini, ibadah yang berlangsung selama tujuh kali sehari bukanlah halangan untuk melakukan pekerjaan.  Justru sebaliknya,  kerja dibingkai oleh rangkaian ibadah yang ada.  Kami memulai hari dengan Ibadah Bacaan pada pk 03.30.  Ibadah Pagi yang dilanjutkan dengan Ekaristi mulai pada pk 06.00, sedangkan Ibadah Tertia berlangsung pada 08.15.  Jeda waktu yang ada antar jam kebaktian digunakan untuk persiapan pribadi seperti mandi, makan pagi atau melakukan aktivitas yang lain.  Para petapa melakukan pekerjaan sehari-hari setelah Ibadah Tertia berakhir.

Lima menit menjelang pk 12.00 lonceng berbunyi berulangkali sebagai tanda Ibadah Sexta akan segera berlangsung.  Ibadah selanjutnya adalah Ibadah Nona pada pk 14.30, Ibadah Sore pk 17.30 dan Ibadah Penutup pk 19.45.  Oh ya, jangan berharap ada nona apalagi nona-nona di Ibadah Nona.  Kata Nona, sebagaimana Tertia dan Sexta, berasal dari bahasa Latin yang berarti jam ke sembilan sejak matahari terbit.

Satu hal yang mengesankan saya adalah nyanyian mazmur yang mewarnai mayoritas ibadah sepanjang hari.  Bukan hanya satu dua buku nyanyianbait yang dinyanyikan, tetapi keseluruhan pasal dan berulangkali malah beberapa pasal.  Kita dapat mengikuti rangkaian nyanyain dengan buku-buku ibadah yang tersedia.  Dengan iringan organ yang sederhana, suara para petapa bergema di tengah keheningan  yang hanya berhias suara gemercik air dan sesekali sapi yang melenguh keras.  Jiwa tergetar, Sang illahi menyapa melalui semesta dan suara sesama.

***

“Rasa jenuh atau bosan barangkali adalah pertanda kalau hidup kita selama ini terkotak-kotak,” ujar Romo pemimpin pertapaan menjawab pertanyaan saya.

“Kita mengkotak-kotakkan hidup kita : pekerjaan, keluarga, hobby, bisnis, ibadah dan seterusnya.  Kotak-kotak yang seringkali tak kita temukan hubungannya satu dengan yang lain.  Akibatnya kita bertanya untuk apa saya bekerja?  Untuk apa saya berkeluarga?  Untuk apa saya melakukan ini dan itu?  Pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab itu menghasilkan kekosongan dan kekeringan dalam hidup ini.

Saya terdiam mendengarkan kata-kata itu.  Ah, seandainya ada gadget di tangan, pasti saya segera tweet kata-kata luar biasa tersebut.

“Lalu, bagaimana menemukan hubungan antar kotak-kotak yang ada dalam hidup kita?” tak sabar saya menanyakan hal ini.

Romo itu tersenyum.

“Salah satu disiplin rohani yang kami lakukan di sini adalah mencoba mengingat atau mengarahkan hati pada Tuhan dalam segala aktivitas yang ada.  Barangkali ini menolong untuk mencoba menemukan hubungan antar kotak-kotak yang ada di kehidupan kita.  Jika hati dan pikiran kita terarah pada Tuhan, maka akan lebih mudah bagi kita untuk menemukan makna dari semua aktivitas sehari-hari.  Penemuan makna ini akan mengurangi kejenuhan dan kebosanan dalam hidup,” terang Romo tersebut lirih dan perlahan.

Saya mengangguk perlahan.  Pertemuan sore menjelang malam itu berakhir.

***

christ

Kejenuhan dan kebosanan bukanlah musuh kehidupan.  Kejenuhan dan kebosanan adalah sahabat yang berulangkali hadir untuk menanyakan ulang : mengapa saya melakukan ini?  Mereka mengajak kita untuk memeriksa apakah kotak kotak kehidupan : pekerjaan, keluarga, dan pelayanan terhubung satu dengan yang lainnya.  Sebuah hubungan dan bahkan rangkaian yang indah hanya akan tercipta ketika dalam segala aktivitas mata kita terarah pada Sang Pencipta.  Balas menatap mata-Nya yang selalu tertuju pada kita.

 

 

*saya mengambil semua gambar ini secara langsung ketika menginap  di Pertapaan Rawaseneng, Temanggung.  Pertapaan ini terbuka bagi orang-orang yang ingin melakukan retret pribadi. Hubungi saya untuk mendapatkan nomor telepon contact person yang mengelola penginapan tamu.

Sinyal Handphone dan Keadilan Tuhan

June 16th, 2014 § 1 comment § permalink

handphone yang tidak ada sinyalSuatu saat bertemulah  romo, pendeta, seorang pemuda dan bapak di ruang makan.  Pemuda dan bapak ini adalah warga gereja Katholik.  Mereka berempat tengah menikmati kudapan menjelang siang di sebuah pertapaan yang sunyi.  Sambil menikmati roti dan kopi, mereka berbincang.

“Kenapa ya, saya sama sekali tidak mendapat sinyal di sini?” tanya pemuda itu.

“Ah, masa sih, sinyal saya penuh tuh” tegas sang romo.   Romo itu memperlihatkan hp dengan indikator sinyal yang penuh.

“Iya lho romo, punya saya juga tak ada sinyalnya,” tegas bapak itu.  Ia menatap hp nya dengan seksama.  “ Tergantung kekuatan sinyal providernya kali ya? Kalau punya pak pendeta bagaimana?”

“Ini bukan soal kekuatan sinyal.  Ini masalah keadilan Tuhan,” jawab saya.

“Ah, mana bisa pak pendeta. Sinyal kok terkait dengan keadilan Tuhan,” tanya  sang romo.

“Begini, Anda ditahbiskan sebagai romo yang melayani umat.  Romo tidak boleh menikah dan harus menanggung beban pelayanan yang berat di daerah.  Nah, sekarang di pertapaan ini, Tuhan memberikan romo hiburan berupa sinyal hp yang penuh terus,” terang saya.

Romo itu pun tersenyum.

“Lha, kenapa kami berdua tak dapat sinyal,” tanya pemuda itu.

“Anda berdua khan bukan romo.  Anda hidup bebas, baik sendiri maupun berkeluarga, menikmati segala keindahan dunia ini, juga tak harus menanggung beban pelayanan.  Nah, sekarang, Tuhan mengurangi sedikit kebahagiaan Anda.  Itu sebabnya Anda berdua tak mendapatkan sinyal HP,” jelas saya.

Mereka bertiga tersenyum simpul.

“Lha, pendeta sendiri dapat sinyal ga?” tanya bapak itu.

“Sinyal hp saya datang dan pergi. Kadang ada, kadang juga tidak.  Mengapa begitu?  Karena saya diteguhkan jadi pendeta, melayani umat tapi masih boleh berkeluarga dan menikmati keindahan dunia ini.   Jadi, kadang ada sinyal, kadang tidak ada.  Tuhan maha adil bukan?” pungkas saya.

Maka meledaklah tawa kami berempat di pertapaan yang sunyi itu.

Ikhlas

February 27th, 2014 § 1 comment § permalink

 

ikhlas“Tadi, kami bertiga, tapi satu teman lupa passportnya.  Kami tinggal berdua yang pulang,” pria itu berkata sambil mengarahkan pandangan ke saya, ketika mengatur posisi duduknya di penerbangan berbiaya rendah sore itu.  Beberapa detik kemudian, bau keringat pria itu menyergap hidung saya, seolah menjadi penanda sebagian jati dirinya.

Ia nampak kebingungan mengenakan seatbelt nya.  Kebingungan yang juga menunjukkan sebagian dari jati dirinya. Saya pun memperagakan bagaimana menggunakan alat pengaman itu sambil bertanya,” Mau pulang ke mana?”

“Paciran, Lamongan, Tanjung Kodok, tahu?” jawab pria itu menyodorkan beberapa jawaban, sepertinya dengan harapan saya mengenal salah satu di antaranya.  “Ya, saya pernah ke Tanjung Kodok beberapa kali,” jawab saya.

Percakapan awal itu ternyata adalah sebuah pintu menuju masa lalu; keramahan dan kepedulian sederhana bisa jadi kunci pembuka kehidupan seseorang.

“Dua tahun sudah saya kerja di Port Klang. Kini saya mau pulang.  Sudah lama tak jumpa anak-anak.  Kangen,” ringkasan kata-kata yang memberikan deskripsi identitas secara jelas.

“Bapak akan kembali ke Malaysia untuk bekerja lagi?”

Ia dengan tangkas menjawab,” Iya, tentu.  Kalau saya kerja di sini,  setiap bulan saya bisa mengirim sekitar dua juta rupiah untuk anak-anak sekolah.  Kalau saya kerja di Indonesia, tak mungkinlah saya bisa sekolahkan anak-anak.  Apalagi anak-anak sekarang sudah mau SMP dan SMA.”

Ketika mendengarkan jawabannya, saya tiba-tiba tersadar, ada yang tak pernah ia sebutkan dalam jawaban-jawabannya.  Ia bercerita tentang pekerjaannya, anak-anaknya, tapi mengapa tak pernah tentang istrinya? Tentang ibu dari dua anaknya?

“Anak-anak Bapak tinggal dengan ibunya di Lamongan?”

Pria itu terdiam, tak langsung menjawab seperti sebelumnya. Ia mengalihkan pandangan ke arah jendela kecil di pesawat.  Tak ada jawaban.  Pramugari kemudian mengulurkan formulir isian bea cukai untuk kami berdua.  Pria itu menunjukkan formulirnya sambil meminta, “Bisakah tolong isikan ini untuk saya?”

Saya mengambil pena dan segera mengisikan formulir itu.  Ketika saya melihat passportnya untuk mengisi beberapa hal, saya terkejut melihat tahun kelahiran yang tertera.  Usianya ternyata tak  berbeda jauh dengan saya.  Kami hanya berselisih beberapa tahun saja.  Lalu, apa yang membuatnya nampak begitu tua?

***

Segera setelah menyelesaikan formulir itu, saya memintanya untuk membubuhkan tanda tangan.  Sambil membubuhkan tanda tangan, ia memberikan jawaban yang tertunda,”  Tiga belas tahun lalu, waktu anak kedua saya berumur 3 bulan, istri saya berangkat untuk bekerja di Malaysia.  Saya tidak setuju, tapi kami sangat butuh uang banyak.  Apa boleh buat, pekerjaan saya juga tak jelas.  Selama tiga tahun, ia selalu kirim uang untuk saya dan anak-anak,” tuturnya sambil tersenyum.

“Oh, jadi sekarang bapak menyusul istri untuk bekerja di Malaysia demi masa depan anak-anak,” saya lontarkan dugaan saya.

“Ya, pak. Saya bekerja untuk masa depan anak-anak.  Tapi, saya tak menyusul istri saya,” jawabnya dengan nada bergetar.  Saya merasa ada sesuatu di balik getaran suaranya.

“Setelah tiga tahun, istri saya tidak lagi mengirim uang untuk saya dan anak-anak.  Saya menulis surat, tetapi tak pernah ada jawaban.  Saya bahkan menelpon tempatnya bekerja, tetapi juga tak ada lagi istri saya di sana.  Akhirnya, setelah lima tahun ada teman sekampung yang pulang dari Malaysia bawa kabar kalau istri saya menikah lagi dengan orang India,” tuturnya dengan air mata yang menggenang di pelupuk matanya.

Tak tega melihatnya meneteskan air mata, saya segera menyahut,“Maaf pak, saya merasa tidak enak hati karena telah menanyakan hal ini.”

“Tidak apa-apa.  Toh, peristiwa itu sudah terjadi.  Tak mudah menerimanya.  Saya sempat mabuk-mabukan dan main perempuan karena sakit hati. Bertahun-tahun saya tidak bekerja, dan hidup hanya dari menjual barang-barang yang ada di rumah.  Anak-anak tak saya urus lagi, karena tiap melihat mereka saya teringat ibunya. Hancur hidup saya,” tuturnya dengan nada agak keras, sehingga mengudang beberapa penumpang pesawat mengarahkan pandangan pada kami.

Saya menaruh telunjuk saya di bibir agar pria itu tak berbicara dengan volume yang keras.  Seperti tersadar, ia nampak malu ketika menengok kiri dan kanan.

Dengan suara yang lebih pelan, pria itu melanjutnya kisahnya,” Saya tak pernah mengira istri saya tega berkhianat dan meninggalkan saya.  Sampai suatu saat saya dapat nomor hp-nya. Saya telpon beberapa kali tak pernah dijawab, akhirnya saya kirim sms untuk bertanya mengapa ia tega menikah lagi.  Hanya satu jawaban dari istri saya. Saya masih ingat jawabannya : ‘saya ingin hidup yang lebih baik.’

Hidup yang lebih baik.  Jawaban yang terdengar klise, namun tentu saja sangat menyakitkan bagi pria ini.

***

“Setelah bertahun-tahun hidup tak keruan, saya baru sadar. Istri saya pasti sudah punya hidup yang lebih baik. Lha kok, hidup saya malah jadi lebih buruk.  Tak punya uang, anak-anak tak terurus.  Akhirnya, saya mantapkan hati.  Saya harus ikhlas.  Saya ikhlaskan istri menikah lagi,” tuturnya tegar.

Saya terdiam mendengar rangkaian kata-katanya. Tak sepenuhnya bisa saya  mengerti bagaimana ia bisa mencapai titik ikhlas itu.

“Saya pergi bekerja di Malaysia agar hidup saya lebih baik dan punya uang untuk sekolah anak-anak. Dua tahun ini, anak-anak gembira karena saya bekerja walau di negeri orang. Saya gembira karena punya uang untuk membayar sekolah anak-anak,” tuturnya mantap.

“Apakah selama di Malaysia, Bapak tidak ingin bertemu dengan istri?” tanya saya.

“Tidak, Pak. Saya tidak ingin menganggu rumah tangga orang lain.  Saya ikhlas.  Semoga istri saya dapat hidup yang lebih baik.  Hidup saya dan anak-anak juga lebih baik sekarang,” jawabnya sambil tersenyum.

Kembali, ia mengarahkan padangannya ke jendela, sambil berbisik,” Kalau kita ikhlas, hidup lebih enteng, Pak. Kalau hidup lebih enteng, kerja pun jadi semangat. ”

***

Keikhlasan tak mengubah masa lalu, namun ia pasti meringankan langkah menuju masa depan.

 

 

Mama

December 18th, 2013 § 2 comments § permalink

hatiDi suatu pagi, ia melangkahkan kaki masuk ke ruang kerja saya, dengan pakaian rapi dan santun seperti hendak pergi bekerja. Ia lalu duduk berhadapan dengan saya. Parasnya cantik, walau hanya tersentuh polesan make up yang sederhana. Hmm… bukankah kecantikan itu memang tak membutuhkan topeng dalam bentuk polesan make up yang tebal?

Dengan mug berisi kopi di tangan, saya membuka percakapan pagi itu, “Ada yang bisa saya bantu?”

Sekilas muncul kerut di keningnya, namun langsung lenyap begitu senyum manisnya terbit.”Pak Wepe, saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Saya sedang bingung. Sebentar lagi saya akan menikah, tapi… “ Ia berhenti bicara, mengeluarkan tissue, dan menyeka air matanya yang mendadak turun seperti gerimis di hari itu.

Saya menikmati satu tegukan kopi, sembari menanti dalam hening pagi. Sekilas di pikiran saya bermunculan inventaris masalah orang yang akan menikah.  Ada yang baru mengetahui bahwa pasangannya ternyata sudah mempunyai keluarga, selingkuh, menderita penyakit tertentu, atau malah adalah pecinta sejenis. Masalah-masalah klise, namun pastilah terasa menyesakkan bagi mereka yang mengalaminya.

“Saya tinggal di rumah bersama dengan papa mama saya. Keduanya mempunyai usaha sendiri.  Sangat sibuk dengan pelbagai aktivitas bisnis, sehingga sejak kecil kami, anak-anak papa-mama, diasuh oleh seorang pembantu rumah tangga yang bisu dan tuli. Ada beberapa pembantu yang lain, tetapi pembantu bisu dan tuli itulah yang memandikan, memberi kami makan dan menemani kami ke sekolah,” tutur perempuan itu dengan mata yang menerawang, mencoba mengingat perjalanan hidup.

Rangkaian pemaparan yang biasa saya dengarkan, namun tetap menyisakan tanya ke mana arah dari percakapan ini.

“Pergumulan saya mungkin terasa sederhana bagi orang lain Pak Wepe, tapi tentu saja tak sesederhana itu bagi saya,” kembali kerut muncul di dahinya.

“Saya yakin itu tak sederhana.  Sebab jika itu adalah pergumulan sederhana, pasti Anda tak akan rela menunggu giliran jadwal konseling dengan saya selama seminggu lebih,” tutur saya untuk mendorongnya berbicara.

Hening sejenak di pagi yang masih sepi itu.  Hembusan angin dari AC makin terasa.  “Apakah kalau saya menikah nanti, maka orang tua saya harus duduk di depan baik di gereja maupun di tempat acara?” tanyanya.

“Saya tidak tahu bagaimana aturan yang berlaku di gereja Anda, tetapi di gereja kami itu adalah hal yang biasa saja. Orangtua pada umumnya akan hadir, duduk di bangku paling depan, baik di gereja maupun di tempat jamuan makan. Apakah ada pergumulan tertentu yang membuat orangtua Anda tidak bisa seperti itu? Ada masalah dengan kesehatan, sehingga mereka tidak dapat hadir? Atau jangan-jangan mereka tidak setuju dengan pernikahan Anda?”  Saya sengaja melontarkan beberapa dugaan sekaligus untuk menentukan arah percakapan.

***

“Dua minggu yang lalu, mama memanggil saya. Ia berbicara banyak hal pada saya. Mungkin ia ingin memberikan bekal-bekal pernikahan. Di ujung percakapan itu, mama…..,” tiba-tiba ia terisak dan tak mampu membendung lagi air matanya. Saya menyodorkan kotak tissue di ruang kerja.  Kotak tissue yang menjadi saksi setia betapa air mata akrab dengan derita dan bahagia.

Hening kembali menyapa ruangan kerja. Ada jeda yang tak nyaman bagi saya, tetapi nampaknya perlu bagi perempuan itu untuk menuntaskan tangisnya.

“Mama bilang…. saya bukan anak kandungnya,” katanya setelah menghela nafas panjang.

“Oh ya, jadi siapa papa-mama kandung Anda? Apakah mama Anda mengatakannya?” tanya saya.

“Ya, mama saya mengatakannya. Orang yang selama ini saya sebut papa adalah benar papa kandung saya, beliau sudah meninggal dunia, sedangkan mama kandung saya adalah….” tangisnya pecah kembali.

Keheningan yang kembali menyapa dengan tanya yang tak terjawab.

“Mama kandung saya sebenarnya adalah pembantu bisu tuli yang selama ini mengasuh saya. Saya adalah buah hasil pemerkosaan papa terhadap pembantu itu,” tuturnya sambil menundukkan kepalanya.

Astaga.  Saya tak bisa menyembunyikan keterkejutan saya lagi. “Apakah Anda sudah melakukan konfirmasi kisah ini kepada pembantu eh … orang yang disebut sebagai mama kandung Anda?” tanya saya segera.

“Beberapa hari yang lalu, saya mengajak pembantu itu duduk bersama.  Saya menuliskan beberapa kata di selembar kertas, yang intinya menanyakan apakah saya memang adalah anaknya, dan apakah betul almarhum papa memerkosanya dua puluhan tahun yang lalu,” jawab perempuan itu.

“Apa jawabnya?” tanya saya segera ingin tahu.

“Ia tak menjawab apapun, karena bisu dan tuli. Segera sesudah ia membaca tulisan saya, ia memeluk saya dan menangis histeris. Mengertilah saya bahwa saya adalah anak kandungnya. Pantas saja selama ini saya diperlakukan istimewa olehnya. Saudara saya yang lain kerap tak dipedulikannya, tetapi saya selalu dilayaninya. Saudara-saudara yang lain dimarahinya, walau dengan kata-katanya tak jelas, tetapi jarang sekali ia marah pada saya,” jelas perempuan itu.

“Dengan tulisan tangan yang jelek, mama kandung saya menulis bahwa sebenarnya ia dipaksa untuk menggugurkan kandungannya oleh papa dan orang yang selama ini saya sebut sebagai mama. Ia menolak untuk menggugurkan saya.  Obat-obatan itu tak pernah ditelannya, ia juga lari ketika dibawa ke sebuah tempat untuk menggugurkan saya. Ia bersikeras untuk membesarkan saya dan melahirkan saya.  Ia pasti sangat mencintai saya,” lanjut perempuan itu.

“Jadi, siapa pak yang seharusnya duduk di bangku depan gereja atau di tempat acara? Siapa yang kepadanya saya akan memeluk dan mengucapkan terima kasih?  Mama yang selama ini membesarkan saya pun sudah rela seandainya mama kandung saya yang duduk di bangku terdepan?” tanyanya.

Saya menghela nafas panjang sambil mencoba menemukan kata-kata yang tepat. “Anda punya dua mama;mama kandung dan mama yang membesarkan Anda. Dua-duanya mencintai Anda dengan caranya masing-masing. Sebaiknya, kalau saya boleh memberi saran, kepada keduanyalah rasa hormat dan terima kasih layak diberikan. Keduanya layak duduk di depan, bersama-sama.”

***

Beberapa bulan kemudian, melalui Facebook, saya menerima kiriman gambar pernikahan perempuan itu. Ada dua perempuan dewasa yang duduk di sampingnya. Mama kandungnya, dan mama yang membesarkannya. Perempuan-perempuan tangguh di tengah hidup yang seringkali tak menghamparkan pilihan lain.

***

Ada perempuan yang mendapatkan kesempatan untuk melahirkan anak dari rahimnya.  Ada perempuan yang tak mendapatkan kesempatan seperti itu.  Perempuan yang mendapatkan kesempatan melahirkan anak dari rahimnya mempunyai waktu sembilan bulan lebih untuk mengolah rasa agar anak itu juga lahir dari hatinya.  Apa sebutan bagi seorang perempuan yang melahirkan anak dari rahim dan hatinya?  Mama!

Perempuan yang tak berkesempatan melahirkan anak dari rahimnya, tetap masih bisa melahirkan seorang anak dari hatinya.   Apa sebutan bagi seorang perempuan yang tak berkesempatan melahirkan anak dari rahimnya, namun telah melahirkan anak dari hatinya?  Mama!

 

*@pdtwepe menulis kisah nyata seorang rekan ini dalam rangka menyambut Hari Ibu tahun 2013.

Paket Penjualan Tak Pernah Usai

December 5th, 2013 § 1 comment § permalink

Klik gambar untuk memperbesar ….

promo paket tak pernah usai

 

 

 

 

Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome.