Kemurahan Allah yang Menyelamatkan*

December 24th, 2010 § 0 comments § permalink

Seorang pria sedang memikirkan hadiah apa yang tepat bagi ulang tahun mama mertuanya.  Mama mertuanya terkenal kaya raya namun pelit, cerewet plus judes.  Akhirnya, pria itu menghadiahkan sebidang tanah di tempat pemakaman umum kota itu.  Mama mertuanya tentu saja terkejut dengan hadiah ini. “Ini bukan apa-apa, mam,  kebetulan ada yang menawarkan dengan harga khusus.    Cuman buat persiapan saja, harga tanah di pemakaman khan makin lama makin mahal,” jelas pria itu sambil mencium pipi mama mertuanya.  Sang mama mertua tersenyum.

Setahun berlalu, tiba kembali hari ulang tahun sang mama mertua.  “Kali ini, kamu bawa kado apa buat aku, Nak?” tanya mama mertua. Pria itu menjawab,”  Tidak bawa apa-apa Mam!”  “Lho, kenapa kamu tidak membawa apa-apa? Dasar menantu tidak tahu diri,” kata sang mama. “Lho, mama ini bagaimana sih.  Hadiah tahun lalu saja mama belum dipakai, kok sudah minta lagi?  Pakai dulu dong,” balas sang pria.

Memberi tidak selalu berasal dari kemurahan hati.  Ada orang yang memberi dengan terpaksa.  Ada pula yang memberi untuk mendapatkan keuntungan kembali yang berlipat kali ganda.  Misalnya memberikan pinjaman, tetapi dengan bunga yang sangat tinggi.   Ada pula yang memberi dengan niat mencelakai seperti dalam kisah tadi.  Memberi adalah tindakan yang nilainya ditentukan bukan oleh wujud pemberiannya, tetapi oleh motivasinya.

Itulah sebabnya, Paulus ketika menggambarkan tentang Allah yang memberi kepada manusia, ia menegaskan sejak awal tentang dimensi motivasi ini.  “Tetapi nyata kemurahan Allah, Juruselamat kita, dan kasih-Nya kepada manusia, pada waktu Dia telah menyelamatkan kita”   Motivasi Allah jelas dipaparkan : kemurahan atau kindness dan kasih-Nya kepada manusia.  Kemurahan dan kasih Allah inilah yang menghantarnya untuk memberikan keselamatan pada manusia.

Kemurnian motivasi ini : kemurahan dan kasih-Nya kepada manusia juga ditegaskan dengan kondisi manusia penerima pemberian-Nya.  “… pada waktu itu Dia menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya.”  Allah datang untuk mengampuni dosa dan kesalahan kita bukan karena kita pantas menerimanya.  Sebaliknya, kita pantas mendaptkan hukuman Allah.  Dosa dan kesalahan itu pantasnya dihukum; tetapi Allah memilih untuk mengampuni.  Inilah pemberian yang keluar dari kemurahan hati Allah, yakni keselamatan manusia.

Mengapa Allah harus menyatakan kemurahan hati dan kasih-Nya dengan menyelamatkan manusia?  Karena ada satu hal yang tak dapat diselesaikan manusia.  Dosa telah menjadi masalah yang tak mampu diselesaikan manusia.  Betapa pun manusia menginginkan yang baik, namun seringkali manusia gagal mewujudkannya.

Ketika beranjak remaja dan dewasa, kita merindukan meraih keberhasilan dalam studi dan pencarian pasangan hidup.  Kita tahu apa yang baik dan apa yang buruk.  Namun, seringkali kita gagal mengeksekusi apa yang kita tahu baik bukan?  Godaan untuk melakukan yang buruk itu begitu kuat, sehingga akhirnya kita jatuh dan terjerat di dalamnya.  Hidup dihancurkan oleh pilihan kita sendiri.

Ketika menikah, kita pasti merindukan keluarga yang berbahagia.  Namun, tentu pasangan kita mempunyai kelemahan dan keterbatasan.  Kita merasa tidak mendapatkan apa yang kita harapkan.  Lalu, apa yang kita lakukan?  Kita berjuang untuk menerima kelemahan dan keterbatasan itu, namun  bukan hal yang mudah bukan?  Apalagi ketika godaan itu menerpa kita.  Jauh lebih mudah dan menyenangkan bukan bagi kita untuk jatuh ke dalam pelukan pria atau wanita lain, daripada menerima keterbatasan pasangan kita.  Keluarga dihancurkan oleh pilihan kita sendiri.

Ketika kita mulai bekerja, kita pasti punya idealisme untuk melakukannya dengan integritas dan kejujuran.  Namun, ketika orang lain sukses dengan menghalalkan segala cara, sementara kita gagal terus menerus, tidakkah kita terpikir untuk melakukan hal yang sama?  Pada akhirnya, kita harus menekan suara hati yang menyuarakan kebenaran, demi mendapatkan apa yang kita harapkan. Kehausan untuk mendapatkan kesuksesan itu telah mengubah kita menjadi sosok yang menghalalkan segala cara.

Ketika kita sadar kita telah mengambil pilihan yang salah berkenaan dengan hidup kita, keluarga atau pekerjaan kita, apa yang kita harapkan terjadi?  “Ya, mau apa lagi pak, mesti terima konsekuensinya khan?”  Namun, kita juga berharap seandainya mungkin terhindar dari konsekuensi dari dosa itu bukan? Atau kalau pun harus menanggung konsekuensinya, kita tetap ada kemurahan Tuhan bukan?  Kita berharap pergaulan kita yang tidak kenal batas itu, tidak membawa dampak permanen di dalam kehidupan kita.  Kita berharap Tuhan tetap melindungi kita bahkan di tengah kenakalan kita.

Kita berharap pasangan kita tidak tahu apa yang kita lakukan di luar rumah, atau pun kalau tahu, kita berharap ia memaafkan dan menerima kita kembali.  Kita berharap pada kemurahan hati pasangan kita, dan tentu juga kemurahan hati Tuhan untuk menjaga keutuhan keluarga.  Kita berharap kejahatan bisnis yang kita tidak terungkap.  Bahkan di tengah kejahatan dan kesalahan kita, kita masih mengharapkan perlindungan dan kemurahan Tuhan.  Ya, walaupun kita bersalah dan berdosa.  Kita tidak menginginkan hukuman.  Kita mengharapkan pengampunan, ketika dosa itu terungkap.

Di sebuah perempatan jalan, saya pernah melanggar rambu lalu lintas.  Saya sadar bahwa yang saya lakukan itu salah, namun toh beberapa kali saya melakukannya, karena antrian di lajur itu pendek.  Saya tahu itu salah, tetapi berhenti berkali-kali menunggu lampau menyala hijau tentu tidak nyaman.  Nah, suatu kali tepat setelah melanggar rambu itu mobil saya dihentikan polisi.  “Tahu pak apa salahnya?” tanya polisi itu.  Tentu saja saya tahu apa kesalahan saya, namun toh saya menjawab,” Hm … apa ya pak? Masak sih?”  Khas orang bersalah yang pura-pura tidak tahu kesalahannya.  Polisi itu kemudian menerangkan kesalahan yang sebenarnya saya sudah tahu.

Ia meminta sim dan stnk saya sambil berkata,”  Bagaimana ini pak?”  Harusnya saya menjawab,”  Ya pak, saya salah, silakan ditilang.”  Namun saya terdiam. Sambil memeriksa sim dan stnk itu polisi itu bertanya,”  Bapak maunya bagaimana?”  Saya pun menjawab mantap,”  Saya sih maunya dimaafkan sama bapak.”  Polisi itu tersenyum dan mengembalikan sim-stnk saya,” Ya pak. Jangan diulangi lagi.  Bapak khan pendeta, pemimpin umat, harus jadi contoh yang baik.”

Sebagai orang yang bersalah atau berdosa, kita rindu mendapatkan kemurahan hati.  Kita rindu diampuni walaupun kita menyadari betapa besarnya kesalahan atau dosa kita.  Kita rindu bukan saja dimaafkan manusia, namun juga diampuni Tuhan.

Tuhan mengerti kerinduan hati yang terdalam ini.  Itu sebabnya, firman Tuhan yang saya bacakan tadi berkata,” Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa:  Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.” (Lukas 2:10-11).  Jangan takut!  Ada berita sukacita.  Tuhan mengerti kerinduan hati kita terbesar untuk mendapatkan pengampunan.  Telah lahir bagi kita, ya bagi kita yang berdosa ini : juruselamat, Kristus!

Inilah Natal : kemurahan hati Allah di tengah kesalahan dan dosa kita.  Kemurahan hati yang bukan murahan. Alkitab mengatakan,” Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Kemurahan hati yang mesti Allah curahkan dengan merelakan Yesus Kristus datang ke dunia ini : lahir, melayani dan mati untuk menyatakan betapa berharganya hidup mu dan hidupku. Berapa banyak dari kita mau menyerahkan anak kita untuk keselamatan orang lain?  Tidak ada bukan?  Namun, bapa sorgawi rela memberikan Yesus Kristus bagi keselamatan kita.

Bersediakah kita menyambut kemurahan hati-Nya dengan pertobatan alias pengakuan bahwa kita telah bersalah di hadapan sesama dan Tuhan? Bersediakah kita menerima kemurahan hati-Nya?

*) Didasarkan pada Titus 3:4-7

Bersyukur untuk Rasa Takut

October 20th, 2010 § 0 comments § permalink

Suatu kali sekitar pukul 02.00 dinihari , suara halilintar menggelegar berulangkali. Sangat keras memekakkan telinga.   Saya masih bekerja menggunakan notebook di luar kamar tidur.  Segera saya masuk ke kamar karena saya tahu biasanya Alden bisa  terbangun hanya karena suara hujan.  Apalagi halilintar yang begitu keras, pasti Alden terbangun.  Dugaan saya terbukti.   Alden terbangun dengan wajah yang terlihat pucat karena ketakutan.  Sambil menutup telinganya, ia mendekatkan tubuhnya untuk dipeluk Vanda. Dalam pelukan mamanya,  ketakutannya sirna dan Alden dapat melanjutkan tidurnya walau suara halilintar masih menggelegar.

Dari sebuah e-mail yang pernah dikirimkan, saya membaca bahwa konon  ada 484 ketakutan atau phobia manusia. Sebuah daftar panjang yang membuktikan betapa manusia tidak dapat lepas dari rasa takut. Sayangnya, semenjak kecil kita selalu diajar bahwa rasa takut harus dilawan. Rasa takut harus ditaklukkan. Jadilah berani!  Titik.  Bagaimana cara menjadi berani?  Kita tidak pernah mendapatkan jawabannya.  Akibatnya, daftar panjang ketakutan itu masih bertambah satu lagi : takut tidak bisa mengalahkan rasa takut.  Ironis bukan?

Mungkin kita harus belajar untuk hidup berdampingan dengan rasa takut, dan bukan mengalahkannya.  Rasa takut yang menjaga kita dari melakukan sebuah kesalahan yang tidak perlu.  Rasa takut yang menyebabkan kita berpikir, berkata dan bertindak dengan hati-hati.   Bayangkan jika kita tidak mempunyai rasa takut sama sekali.  Berjalan di atas atap rumah untuk memperbaiki atap yang bocor, kita anggap sama seperti berjalan kaki mengelilingi taman.  Meloncat dari atap rumah pun mungkin akan kita lakukan dengan enteng.  Hasilnya?  Mungkin patah kaki atau malah gegar otak.

Ke mana rasa takut itu membawa kita?  Inilah masalah utama dengan rasa takut, dan bukan bagaimana kita mengalahkannya.  Jika rasa takut itu membawa kita untuk menjalani hidup dengan hati-hati,maka kita membutuhkan rasa takut itu bukan?  Jika rasa takut itu mengingatkan akan keterbatasan kita sekaligus membawa kita menyadari betapa berharganya orang lain dan Tuhan, maka rasa takut itu harus kita syukuri.

Mari bersyukur untuk rasa takut.

Kesempitan Hidup, Kesempatan Berkarya

October 15th, 2010 § 0 comments § permalink

Di tengah beratnya beban kehidupan, masih mampukah kita berkarya melayani orang lain seperti Yesus?

Nama adalah harapan. Sayangnya, apa yang menjadi harapan dari sebuah nama seringkali tidak mewujud dalam kenyataan. Hal ini adalah ironi yang kemudian bisa menjadi bahan olokan. Coba bayangkan saja nama Jujur Setiawan, nama yang jelas dan lugas mengungkap harapan orangtua sang pemberi nama. Eh … ternyata orang ini malah jadi koruptor. Seorang perempuan diberi nama Suci Murniati, h … ternyata malah menggandeng suami orang. Sebuah pabrik diberi nama Teguh Jaya Lestari. Tapi, jangankan lestari, jaya saja belum, teguh berdiri saja tidak bisa karena terbenam oleh lumpur Lapindo. Sebuah ironi bukan?

Kesempitan Hidup
Nama Bethesda adalah sebuah ironi besar. Bethesda yang mempunyai arti rumah kasih karunia, adalah nama sebuah kolam yang diyakini sanggup menyembuhkan penyakit apa pun juga (Yoh. 5:4). Penduduk di sekitar kolam itu meyakini bahwa sewaktu-waktu akan ada malaikat Tuhan yang menggoncangkan air kolam itu. Siapa saja yang pertama kali masuk setelah air kolam itu erguncang akan mengalami kesembuhan. Di sinilah ironi nama Bethesda. Di tempat yang bernama rumah kasih karunia itu, orang-orang berebutan untuk menjadi yang pertama masuk ke kolam setelah guncangan air terjadi. Sangat mungkin orang yang pertama kali masuk ke kolam Bethesda adalah orang yang paling memikirkan dirinya sendiri dengan segala akal dan kekuatannya mengalahkan yang lain. Di kolam bernama kasih karunia, tiap-tiap orang hanya berpikir tentang dirinya sendiri. Akibatnya, ada seorang yang sudah lumpuh selama 38 tahun tidak mendapatkan kasih karunia di kolam kasih karunia.

Apa yang terjadi di sekitar kolam Bethesda adalah gambaran tentang kerasnya kehidupan. Hidup ini keras dan menuntut perjuangan, sehingga selalu ada orang-orang yang kalah. Orang-orang kalah dan tersisihkan yang harus menerima realita hidup tanpa perlawanan berarti. Sama seperti saat ini, kita mungkin hanya bisa menerima sebuah kenyataan hidup, tanpa tahu mengapa dan bagaimana kenyataan hidup itu bisa sedemikian sulit. Kita harus menerima naiknya harga BBM (24/5) tanpa perlawanan berarti. Kita harus menerima realita ada anggota keluarga yang sakit tak kunjung sembuh. Kita harus bergumul dengan kenyataan bahwa anak yang kita harapkan di masa depan, tiba-tiba terjerat hidupnya dengan narkoba. Kita pun harus menerima duka yang tiba-tiba menyergap orang-orang terkasih. Hal-hal ini terjadi dan mau tidak mau kita harus menerimanya. Inilah yang membuat hidup terasa sempit.

Kesempatan Berkarya
Penulis Injil Lukas mengisahkan bahwa Yesus datang ke kolam Bethesda. Tentu banyak orang sakit yang menantikan mukjizat kesembuhan. Tapi, perhatian Yesus tertuju justru pada orang yang sudah tersisihkan di kolam kasih karunia itu. Kepada orang yang sudah lumpuh selama 38 tahun ini, Yesus bertanya, “Maukah engkau Sembuh ?” (Luk. 5:6) Sebuah pertanyaan yang terdengar aneh bukan? Jika orang lumpuh itu tidak ingin sembuh, tentu ia tidak berada di kolam Bethesda. Yesus memahami bahwa kesempitan hidup ini bisa membuat orang kecewa dan tidak berani berharap lagi. Kekecewaan orang itu nampak dalam jawaban, “ …. sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku.” Yesus ingin membangkitkan kembali semangat dan harapan orang lumpuh itu. Di mata esus, kesempitan hidup adalah kesempatan baginya untuk berkarya. Maka Yesus pun memerintahkan dengan otoritas-Nya hingga mukjizat terjadi.

Di tengah makin beratnya beban kehidupan ini, masih mampukah kita berkarya melayani orang lain seperti Yesus? Mari kita mawas diri jangan-jangan justru perilaku kitalah yang membuat kehidupan ini terasa makin sempit bagi orang lain? Mari kita belajar pada Yesus untuk melihat kesempitan hidup sebagai kesempatan untuk berkarya bagi orang lain demi kemuliaan Tuhan.

dimuat dalam Majalah Bahana Juli 2008

Beriman : Berani Hidup dengan Pertanyaan

October 4th, 2010 § 4 comments § permalink

Seseorang mengajak rekan-rekannya makan bersama untuk merayakan ulang tahunnya. “Ayo,  pumpung ada promo nih.  Diskon 50 % all item.”  Maka duduklah ia bersama dengan 4 rekannya yang lain.  Sambil membaca menu, ia bertanya kepada pelayanan restaurant,”  Diskonnya 50 % khan mbak?”  Sang pelayanan menjawab,” Benar pak! Tapi hanya untuk makan pada pukul 2 sampai dengan 4 sore.”  “Lho, ada batasan jam nya ya. Kok tidak tertulis di iklannya?” protes rekan itu.  Sang pelayanan tersenyum,” Ada kok pak. Ada tanda * dan tulisan : syarat dan ketentuan berlaku, kecil sekali di bagian bawah.”

Syarat dan ketentuan berlaku.  Pernahkah Anda memperhatikan dengan detil tulisan yang selalu ditulis dalam huruf kecil itu?  Diskon 50% all item, syarat dan ketentuan berlaku.  Buy 1 get 2, syarat dan ketentuan berlaku.  Bonus voucher diskon senilai Rp. 500.000,-, syarat dan ketentuan berlaku.  Bagaimana Anda menilai kalimat syarat dan ketentuan berlaku?  Tidak jujur? Atau ini semata-mata upaya promosi, jadi wajar kalau seperti itu?

Saya harus mengatakan pada Anda, para pedagang yang memasang promosi diskon dalam huruf besar, dan syarat dan ketentuan berlaku dalam huruf kecil itu ada kalanya lebih jujur daripada para pengkhotbah Kristen tertentu.  Tidak percaya?  Saya kutipkan langsung beberapa perkataan mereka :

  • Datang dan rasakan kuasa Tuhan.  Segala sakit disembuhkan. Yang lumpuh berjalan, yang buta melihat, yang tuli mendengar!  Titik.  Begitu iklannya.  Realitanya?  Semua yang lumpuh berjalan, yang buta melihat dan tuli mendengar?  Puji Tuhan kalau realitanya seperti itu. Namun seringkali tidak demikian bukan?  Mungkin beberapa sembuh, tapi jauh lebih banyak yang merasa kecewa.  Harusnya dipasang tanda * syarat dan ketentuan berlaku bukan? Apa syarat dan ketentuannya? Jika sesuai dengan kehendak dan rencana Tuhan.
  • Alami kuasa perjamuan kudus.  Segala kutuk : kutuk kemiskinan, kutuk operasi, kutuk kesusahan, kutuk musibah, kutuk sakit penyakit dipatahkan.  Seorang rekan begitu mempercayai  ini : ikut perjamuan kudus, dinyatakan sembuh oleh karena imannya, dan dengan demikian menolak untuk operasi.  Hasilnya? Usus buntu itu pecah di perutnya. Harusnya dipasang tanda * syarat dan ketentuan berlaku.  Apa syarat dan ketentuannya? Jika sesuai dengan kehendak dan rencana Tuhan.
  • Berilah persembahan Anda, Tuhan akan mengembalikan berlipat kali ganda.  Seorang rekan begitu tergiur, sehingga meminjam uang sana-sini untuk memberikan persembahan.  Setelah persembahan diberi, otomatis kembali berlipatkali ganda?  Sampai sekarang realitanya tidak.  Ia pun kecewa.  Harusnya dipasang * syarat dan ketentuan berlaku.  Apa syarat dan ketentuannya? Jika sesuai dengan kehendak Tuhan.

Nah, masalahnya justru pada kalimat : jika sesuai dengan kehendak dan rencana Tuhan.  Tidak mudah kita memahami  kehendak dan rencana Tuhan bukan?  Secara umum kehendak Tuhan dinyatakan dalam firman-Nya, tetapi dalam situasi tertentu kita  seringkali bertanya,” Apakah situasi ini kehendak Tuhan?  Mengapa hal ini terjadi?  Apa yang Tuhan kehendaki dari hidupku?”  Pernahkah Anda menanyakan hal-hal yang seperti ini?

Kadangkala, ketika kita menanyakan hal-hal seperti itu, kita merasa semua itu terjadi karena kita kurang “rohani”.  Seandainya saya lebih “rohani” maka saya akan memahami kehendak dan rencana Tuhan.  DItambah lagi dengan sorot mata penghakiman dari orang lain.  Menambah rasa bersalah kita.

Apakah memang ketidaktahuan kita terhadap rencana Tuhan itu karena faktor kita kurang “rohani”?  Kita merasa seandainya kita lebih dekat dengan Tuhan, maka semua pertanyaan itu hilang lenyap tak berbekas.  Namun, benarkah demikian?

Mari kita dengarkan serentetan pertanyaan ini :

  • Berapa lama lagi, TUHAN, aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar, aku berseru kepada-Mu: “Penindasan!” tetapi tidak Kautolong?
  • Mengapa Engkau memperlihatkan kepadaku kejahatan, sehingga aku memandang kelaliman?

Siapa yang melontarkan pertanyaan dan gugatan ini kepada Tuhan?  Habakuk!  Siapa Habakuk?  Seorang nabi, penyambung lidah Allah pada umat.  Bayangkan seorang nabi bertanya dan menggugat Allah di dalam ketidakmengertiannya.  Ia tidak bisa mengerti mengapa : aniaya dan kekerasan ada di depan mataku; perbantahan dan pertikaian terjadi.  Hukum kehilangan kekuatannya dan tidak pernah muncul keadilan, sebab orang fasik mengepung orang benar; itulah sebabnya keadilan muncul terbalik.  Kalau seorang nabi saja tidak paham tentang apa yang ada di depan matanya, bagaimana ia menjelaskan hal ini kepada pendengarnya?

Ternyata status dan kedudukan sebagai nabi tidak membuatnya lebih tahu dari manusia lain.  Itu sebabnya Habakuk bertanya dan bahkan pertanyaannya bernada gugatan.  Apakah Habakuk kurang “rohani” dan kurang beriman?

Pertanyaan dan bahkan gugatan Habakuk adalah sebuah bukti bahwa beriman hanya berarti  memilki kepastian, kemenangan dan damai sejahtera selama-lamanya.  Semua itu akan terjadi di surga, tetapi kita masih hidup di dunia.  Di dalam dunia ini, walau beriman, kita juga harus berani berhadapan dengan pertanyaan :  mengapa ini dan itu terjadi, dan berapa lama semua ini akan berakhir?  Beriman berarti berani hidup dengan pertanyaan.

Beriman nampaknya  tetapi juga menuntut keberanian  hidup dengan pertanyaan.  Ada saat di mana-mana kita bertanya-tanya kepada Tuhan.  Dan dalam satu dua cara Tuhan menjawab kita.  Kita bersyukur.  Namun ada saatnya kita harus hidup dengan tanda tanya : mengapa Tuhan?  Bagaimana caranya Tuhan?  Tidak banyak orang tahan hidup dengan pertanyaan, akibatnya Tuhan ditinggalkan dan mencari kepastian yang lain.  Yang lebih bisa dipegang dan kasat mata : orang pintar, benda-benda jimat tertentu, pergi ke gunung tertentu.  Hal-hal yang membuat Tuhan berduka.

Beriman seringkali memang tidak memberikan kepastian kasat mata, tetapi satu-satunya cara untuk hidup.  Di dalam pergumulan-Nya, Habakuk berkata,” tetapi orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya.” (Habakuk 2:4).  Apa maksudnya?

Alden (3,5 th) anak saya sudah menghafal rute dari pastori ke gereja.  Suatu kali kami akan ke gereja.  Karena jalan yang biasa dilalui macet, saya mencoba mencari jalan lain.  Sepanjang jalan itulah Alden mengeluh dan menyalahkan saya kenapa kok lewat jalan ini dan bukan yang biasanya.  Saya berupaya untuk menjelaskan kepada Alden, tetapi ia tetap sulit mengerti.  Akhirnya saya memilih berdiam diri.  Saya baru bicara ketika kami sudah parkir di gereja.  Melihat kami telah sampai di gereja, langsung keluhan Alden berubah menjadi pujian : papa pinter.  Keterbatasan pikiran Alden membuat ia tidak mengerti apa yang saya ingin sampaikan.  Menyadari keterbatasan itu, saya tidak perlu bicara lagi.  Saya diam, tetapi terus mengupayakan agar sampai ke gereja.  Saya rasa itulah juga yang seringkali Allah lakukan dalam kehidupan kita.  Kita tidak selalu bisa memahami rancangan Allah, tetapi berserah senantiasa adalah sikap yang terbaik.  Inilah arti orang benar hidup karena percayanya.  Percaya pada Tuhan, walaupun belum melihat jalan-Nya.  Percaya pada kebaikan dan kemurahan Tuhan atas umat-Nya.

Karakter Allah itulah dasar kepercayaan kita pada-Nya. Mengapa berani percaya kepada-Nya? Karena kita mengetahui walau bibir Tuhan terkatup, dan kita tidak mendapat jawaban, namun tangan-Nya terus berkarya untuk kebaikan kita.  Inilah hidup beriman : berani hidup dengan pertanyaan.

* berdasarkan Habakuk 1:1-4

Perspektif Hidup: Pengkhotbah dan Yesus Kristus

September 25th, 2010 § 0 comments § permalink

(Berdasarkan Pengkhotbah 8:14,17; Matius 10 : 16; diambil dari buku wepe “Saat Badai Menerpa”)

Di balik tindakan-tindakan manusia senantiasa terdapat keyakinan-keyakinan dasar yang me­la­tar­belakanginya. Keyakinan-keyakinan dasar itulah yang mendorong orang untuk melakukan atau ti­dak melakukan sesuatu. Ada contoh yang sederhana mengenai hal ini. Setahun yang lalu ketika saya baru sampai di Surabaya, Jawa Timur, saya bertanya kepada banyak orang, di manakah tempat yang terdekat bagi saya untuk membeli barang-barang kebutuhan rumah tangga sehari-hari. Dari 10 orang yang saya tanya, 9 orang mengatakan bahwa tempat yang terdekat adalah Toko B. Kemudian saya bertanya lagi adakah tempat lain selain Toko B. Keluarlah beberapa nama lain: A, H, dan T. Akan tetapi, rata-rata orang-orang itu menganjurkan saya untuk pergi ke Toko B, dengan alasan toko itu lebih murah dibandingkan dengan toko-toko yang lain. Begitu membekasnya perkataan orang-orang tersebut sehingga tiap kali saya terpaksa berbelanja di Toko A, H, atau T, saya merasa sedikit menyesal karena harus keluar uang lebih banyak. Saya terus berpikir bahwa Toko B lebih murah. Pada akhirnya, saya sering berbelanja ke Toko B.

Di dalam kehidupan ini, mulai dari hal yang sederhana, seperti berbelanja, pilihan kita di­ten­tukan oleh keyakinan-keyakinan mendasar kita. Dari manakah kita mendapatkan kepercayaan-ke­per­ca­yaan dasar itu? Kita mendapatkannya dari orang lain dan dari pengalaman diri sendiri. Jadi, di balik setiap tindakan selalu ada keyakinan-keyakinan dasar yang membentuknya. Karena itu, amatlah penting bagi kita sebagai orang Kristen untuk mengingat bahwa bukan hanya perbuatan kita atau apa yang kita lakukan sepanjang tahun ini yang perlu kita perhatikan, tetapi juga keyakinan-keyakinan apa yang ada di balik tindakan kita.

Ketika sesorang melakukan suatu tindakan, kita dengan mudahnya menilai, “Oh, ia itu begitu, ka­rena ia memang seperti itu.” Atau, “Oh, ia itu begini karena nenek moyangnya juga kayak begitu.” Namun, kita lupa memberikan penilaian kepada sesuatu yang lebih dasar: mengapa ia melakukan tindakan itu? Keyakinan-keyakinan seperti apa yang mendorong perbuatan itu?

Pada kesempatan ini, saya ingin mengajak kita semua untuk melihat dan menguji apakah keyakinan dasar atau perspektif dasar kita tentang kehidupan ini selaras dengan apa yang diajarkan Tuhan melalui firman-Nya? Kita yang mengaku sebagai orang Kristen perlu memeriksa bukan saja apakah perbuatan kita selaras dengan firman-Nya, tetapi juga apakah keyakinan-keyakinan dasar kita tentang kehidupan sesuai dengan firman-Nya? Ibarat kelompok paduan suara yang melantunkan nyanyian, maka kita berbicara terlebih dahulu tentang nada dasarnya. Pas atau tidak nada dasarnya? Kalau terlalu tinggi nanti mencekik leher, kalau terlalu rendah pun sulit bernyanyi. Nah, apakah perspektif kita tentang kehidupan telah pas dengan firman Tuhan?

Untuk mengupas itu, kita akan belajar dari dua orang mengenai perspektif hidup ini. Yang pertama, kita belajar dari seseorang yang bernama Pengkhotbah. Pengkhotbah adalah seorang yang guru yang dalam bahasa Ibrani-nya disebut dengan qohelet atau pengajar hikmat. Ia adalah orang yang mengamati dunia di sekelilingnya dan kemudian mengajarkannya. Di dalam Pengkhotbah ayat 14, ia mengatakan bahwa ada suatu kesia-siaan yang terjadi di atas bumi. Ada orang benar yang menerima ganjaran yang seharusnya layak diterima oleh orang fasik. Ada orang-orang fasik yang menerima pahala yang layak untuk perbuatan orang-orang benar. Ia menemukan ada orang yang baik ternyata mendapat musibah. Meskipun demikian, ada juga orang jahat yang mendapatkan kesuksesan. Ada orang yang melakukan banyak hal yang menyimpang jauh dari kehendak dan tuntunan Tuhan, tetapi ternyata bisnisnya membumbung tinggi. Sebaliknya, ada orang yang sudah berhati-hati menjaga hidupnya dan perilakunya, namun tertimpa kena kemalangan juga.

Pengkhotbah melihat secara jujur bahwa ada hal-hal di dalam kehidupan ini yang memang sering kali terbalik-balik. Ada hal-hal yang memang terjadi tidak sesuai dengan harapan kita. Bukankah ketika melakukan hal yang baik, kita berharap menerima sesuatu yang baik dari orang lain? Bukankah ketika berusaha taat kepada Tuhan, kita sadar bahwa sebenarnya kita juga mengharapkan berkat Tuhan sebagai ganjarannya? Tetapi kadang kala yang terjadi justru bukan itu.

Saya sangat bersyukur karena Pengkhotbah adalah orang yang jujur. Ia mengamati dunia ini dengan cermat dan kemudian berkata bahwa apa yang terjadi di dalam dunia ini memang menunjukkan bahwa dunia dan kehidupan ini tidaklah adil. Jadi perspektif pertama yang ditawarkan oleh Pengkhotbah kepada kita adalah sesuatu yang sangat realistis, yaitu bahwa kehidupan di dalam dunia ini bukanlah kehidupan yang adil. Di dalam dunia ini banyak kemalangan yang terjadi atas orang benar. Dalam hal ini Pengkhotbah bersikap jujur dan ia tidak hendak menipu kita dengan pandangannya yang seolah-olah semuanya baik-baik saja. Ia bersikap jujur terhadap realita hidup ini. Ia tidak mencoba menyembunyikannya; ia tidak mencoba memolesnya supaya kelihatan indah, tetapi ia mengatakan bahwa kehidupan ini tidaklah adil.

Apakah sebabnya kita diperhadapkan pada kejujuran seorang penulis Alkitab yang seperti ini? Bukankah kita lebih suka memoles segala sesuatu supaya menjadi lebih indah? Itu memang kebiasaan dan kebudayaan kita. Suka memoles segala sesuatu supaya lebih indah, tentunya tidak salah. Tetapi ada hal yang krusial di balik kebiasaan kita yang selalu berkata “semuanya OK” kepada diri kita sendiri dan kepada orang lain ketika melihat kenyataan hidup yang tidak menyenangkan dan memang pahit ini. Pengkhotbah dengan sangat jujur dan realistis berkata bahwa dunia ini memang sudah terputar balik. Orang jahat mendapatkan apa yang layak diterima oleh orang benar dan orang benar mendapatkan apa yang layak diterima oleh orang jahat. Pengkhotbah bersikap jujur dengan perspektif ini karena ia tahu bahwa dengan kejujuran dan dengan keberanian menyampaikan apa yang terjadi, kita akan siap menghadapi realita. Jika kita melihat ketidaknyamanan dan kepahitan hidup ini dan menyembunyikannya, maka kita tidak akan pernah siap menghadapinya. Inilah bahaya yang terbesar dalam hidup manusia: mendustai diri sendiri.

Suatu kali saya naik mobil menuju Malang. Ketika melewati Pujon di daerah Batu, jalan mulai berkelok-kelok dan ketika itu hujan rintik-rintik. Pada saat jalan berkelok-kelok itu, sopir berulang kali menghentikan mobilnya, lalu keluar sebentar dari mobil, berteduh sambil meregang-regangkan badan, kemudian masuk lagi ke dalam mobil. Namun, setiap 10-15 menit kemudian, ia melakukan hal itu lagi di tengah cuaca yang masih hujan itu. Karena saya duduk paling depan, saya memiliki keleluasaan bertanya kepadanya mengapa ia menghentikan mobil dan keluar setiap 10-15 menit. Mula-mula ia mengatakan bahwa ia melakukannya hanya untuk iseng saja. Tetapi setelah saya desak, akhirnya ia mengaku bahwa sebenarnya ia melakukannya untuk mengusir kantuk. Ia membasahi dirinya dengan air hujan supaya segar. Kemudian ia bertanya apakah saya bisa mengemudikan mobil dan apakah saya bisa menggantikan ia. Saya bisa mengemudi mobil, tetapi saya menolak mengambil alih tugasnya karena saya tidak mengenal jalan-jalan di sana lagipula saat itu malam hari. Kemudian ada penumpang lain yang bersedia menggantikan tugas sopir itu setelah mengetahui bahwa sopir itu mengantuk. Bayangkan jika sopir ini tidak mengakui bahwa ia mengantuk dan mengatakan bahwa semuanya baik-baik! Mungkin dalam waktu yang tidak terlalu lama mobil yang kami tumpangi sudah menabrak atau malah masuk jurang. Akan tetapi, karena ia menyampaikan masalahnya secara jujur, maka kami bisa menyiapkan diri dan ternyata terdapat seorang sukarelawan yang bisa menolong supaya kendaraan kami bisa berjalan dengan baik.

Saya melihat kejujuran Pengkhotbah justru menyelamatkan kita dari “kecelakaan” di dalam hidup ini. Ketika mengatakan bahwa dunia ini tidak adil, ia sedang mengajak para pembacanya agar jangan pernah mengharapkan untuk diperlakukan secara adil di dunia ini. Ia mengajak kita untuk jangan pernah menantikan bahwa keadilan itu adalah sesuatu yang diberikan dengan begitu saja kepada kita. Jangan kita hidup dalam keyakinan dasar bahwa jika kamu berbuat baik maka kamu akan menuai yang baik. Pengkhotbah menjungkirbalikkan semua asumsi itu dengan berkata bahwa kehidupan ini memang tidaklah adil.

Apakah ia ingin membuat kita kecewa atau takut? Bukan! Untuk membuat kita siap. Betapa konyolnya kita jika sebenarnya Alkitab sudah memberikan kita sebuah perspektif yang jujur bahwa dunia ini memang tidak adil, tetapi kemudian kita selalu mengharapkan keadilan terjadi dalam hidup kita. Kemudian, ketika ada orang yang melukai kita, kita menjadi bingung, “Lho, saya kan sudah bersikap baik kepadanya, kenapa kok ia melukai saya?”

Pengkhotbah mengajak kita agar menilai hidup ini dengan adil dan jujur. Kehidupan ini memang bukanlah kehidupan yang jujur, dan Pengkhotbah mengetahui hal ini, seperti yang dituliskan dalam dalam ayat 17 bahwa di tengah ketidakjujuran dan ketidakadilan di dalam kehidupan ini, orang baik bisa mendapatkan malapetaka dan bisa mendapatkan musibah. Namun, Pengkhotbah sadar bahwa di tengah-tengah semuanya itu ada tangan Tuhan. Ia mengakui realita ini: dunia ini tidak adil, tetapi jangan lupa Tuhan belum angkat tangan. Tuhan bukannya angkat tangan lalu berkata, “Ya terserahlah…”. Tidak! Tangan-Nya masih memegang kendali.

Janganlah mata kita hanya memandang perilaku yang tidak menyenangkan, tetapi biarlah mata kita menembus apa yang ada di balik Matahari. Biarlah mata kita menembus ke atas untuk melihat bahwa di dalam ketidakadilan ini masih ada tangan Tuhan yang memegang kendali. Apa yang bisa membuat kita bertahan di dalam hidup ini, selain keyakinan bahwa di tengah segala hal yang kita alami, di tengah keadaan yang paling tidak menyenangkan sekalipun, di situ ada tangan Tuhan yang sedang mengerjakan sesuatu di dalam hidupmu. Termasuk ketika ada seseorang yang melukai hati kita, termasuk ketika seseorang menghancurkan diri kita, termasuk ketika seseorang merampas impian kita, di situlah ada tangan Tuhan yang terus dan sedang bekerja.

Ke manakah kita hendak bersandar dari tahun ke tahun? Tidak ada hal yang pasti hari-hari ini. Satu-satunya hal yang pasti adalah ketidakpastian itu sendiri. Situasi politik dan ekonomi terus-menerus bergejolak. Ke manakah kita akan lari? Ke manakah kita akan menemukan keteduhan? Tidak ada jawaban yang lain, kecuali di dalam Tuhan.

Yang kedua, kita akan melihat perspektif seseorang yang namanya sangat kita kenal, yaitu Yesus Kristus. Jika perspektif Pengkhotbah mengatakan bahwa memang kehidupan ini tidak adil, namun ada tangan Tuhan di situ, Yesus Kristus melihat hidup selangkah lebih maju lagi. Yesus berkata kepada murid-murid-Nya di dalam Matius 10, “Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itulah hendaknya kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.” Tuhan Yesus bersikap sangat jujur ketika Ia mengatakan hal ini di hadapan pengikut-Nya. Ia tidak mengatakan janji-janji kosong tentang keberhasilan dan berkat yang terus-menerus kalau kita mau mengikuti-Nya. Yesus justru berkata, “Aku mengutus kamu sama seperti domba ke tengah-tengah serigala.” Apa yang dimaksudkan-Nya? Tuhan Yesus tidak ingin murid-murid-Nya melarikan diri dari dunia: “Aduh dunia ini begitu susah, ya … saya berdagang, ditipu; saya married, eh … ketipu juga! Ya, sudahlah saya pergi saja meninggalkan dunia; tinggal di sebuah gunung dan tidak berteman dengan siapa pun kecuali binatang-binatang dan saya merasa akan damai sejahtera di sana.” Tuhan Yesus tidak mau murid-murid-Nya melarikan diri dari dunia seperti itu. Tuhan Yesus pun tidak mau murid-murid-Nya cuma kumpul sambil berkata, “Hati-hati! Kita sebaiknya berkumpul dengan orang-orang yang sama dengan kita. Kita harus berkumpul dengan sesama orang Kristen saja. Kalau dengan orang lain, wah, hati-hati! Mereka itu serigala, sedangkan kita ini domba semua. Maka jadilah: teman kita Kristen semua, pegawai kita Kristen semua, pembantu kita Kristen semua, bahkan kalau anjing kita pun juga Kristen.

Tuhan Yesus tidak mau kita sekalian membentuk satu komunitas dan hidup dalam satu komunitas tersebut kemudian kita berkata, “Ya, inilah tempat domba, aman dari serigala.” Tuhan Yesus berkata memang kehidupan ini tidak nyaman, tetapi Ia berkata, “Aku mengutus kamu”, yang artinya Ia memang menempatkan kita di dalam dunia yang seperti ini. Jadi tidak ada alasan bagi kita untuk melarikan diri dan merasa jenuh terhadap hidup ini dan berkata, “Oh Tuhan, panggil saja saya pulang ke surga! Cepat Tuhan, panggil saya pulang!” Bukankah begitu doa kita ketika kesesakan itu melanda hidup kita? Begitu lelahkah dan begitu parahkah kita dengan kehidupan sehingga menyerah seperti itu? Tuhan Yesus berkata, “Aku mengutus kamu.” Ia menempatkan kita dan memasukkan kita ke dalam suasana yang sama seperti domba di tengah serigala. Ia tidak mempermanis dan memoles kenyataan ini dengan berkata, “Aku mengutus kamu seperti harimau ke tengah kelinci.”

Yesus berkata bahwa pengutusan ini berisiko dan berat. Karena berat, maka supaya kita bisa bertahan, Tuhan Yesus memberikan rumus, “Hendaklah kamu cerdik seperti ular.” Cerdik, bukan licik. Ada perbedaan antara cerdik dan licik. Kita disebut cerdik ketika kita bisa melindungi diri dari ancaman yang datang kepada diri kita. Tetapi, kita dikatakan licik jika kita merugikan orang lain untuk keuntungan kita. Cerdik itu melakukan segala daya upaya yang halal untuk melindungi diri sendiri, untuk membuat bertahan, tetapi licik berarti memanfaatkan segala situasi apa pun, termasuk merugikan orang lain demi kepuasan diri sendiri.

Ular digambarkan sebagai binatang yang amat cerdik. Jadi, Tuhan Yesus tidak ingin orang Kristen menjadi orang bego dan kalahan sehingga dianiaya dan dipukuli juga merasa tidak berkeberatan. Tuhan Yesus ingin kita cerdik karena kita ini berhadapan dengan serigala. Walaupun demikian, janganlah lupa juga, Tuhan Yesus mengatakan,  kita mesti bersikap tulus dan bukan bulus! Ada perbedaan yang esensial antara tulus dan bulus. Kalau bulus itu banyak akal, tetapi Yesus ingin kita tulus, arti terjemahan lainnya adalah “tanpa kesalahan”. Jadi rumus dari Tuhan Yesus adalah cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.

Kita mesti cerdik di dunia ini karena kita tahu dunia ini adalah dunia yang tidak adil dan di luar sana ada orang-orang yang berpotensi mencelakakan kita. Tanpa kecerdikan kita akan mati konyol. Akan tetapi, dengan kecerdikan kita tidak akan kalah di dalam kehidupan ini dan kita tidak mudah ditipu dan dibohongi orang. Saya sudah beberapa kali dibohongi orang karena mungkin saya hamba Tuhan dan dianggap tidak memiliki prasangka buruk terhadap orang lain. Ada yang mengaku kehilangan seluruh isi dompetnya dan minta diizinkan meminjam uang serta berjanji mengembalikan. Di satu sisi hati saya merasa ragu-ragu, tetapi di sisi yang lain saya juga merasa kasihan. Saya terjebak antara “memberi” atau “tidak memberi”. Akhirnya saya memilih untuk memberi dan ternyata melayanglah sejumlahnya uang yang nilainya cukup besar dan uang itu tidak pernah kembali lagi.

Jadi, Tuhan Yesus ingin kita cerdik supaya, kita tidak mudah dibodohi. Yang kedua, Tuhan Yesus ingin kita cerdik, supaya kita bisa eksis dan bertahan di tengah dunia yang tidak adil seperti ini. Namun, Tuhan Yesus juga menyiratkan perkataan, ”Hendaklah kamu tulus seperti merpati supaya kamu tidak menjadi serigala” Ini penting karena Tuhan Yesus ingin kita memiliki ketulusan di dalam hati agar kita terhindar dari menjadikan diri kita serigala juga. Kita tahu seperti apa nasib domba di tengah serigala. Hidup kita menjadi begitu susahnya dan begitu beratnya. Bisa jadi kita terus berjuang untuk bersikap cerdik sehingga lama-lama ketulusan pun sirna. Akibatnya, jadilah kita serigala berbulu domba! Memang benar kita orang Kristen! Memang benar kita pergi ke gereja dan mengenakan bulu domba, tetapi sebenarnya perilaku hidup kita sama seperti serigala dan sama sekali tidak mencerminkan ketulusan.

Pengutusan ini memang berat. Menghadapi realita hidup yang susah dan tidak adil saja, kita sudah merasa berat, apalagi diutus untuk berkarya di tengah-tengah kehidupan yang seperti itu. Akan tetapi, inilah pengutusan. Inilah panggilan. Pengutusan atau panggilan itu tidak bisa ditawar-tawar! Pengutusan serta panggilan itu hanya bisa diterima dan dilakukan, dan Tuhan Yesus pun sudah memberikan rumusnya.

Kita merasa sulit hidup sebagai domba di tengah serigala dan di tengah tidak adilnya dunia ini. Kita mengalami kesulitan mengubah serigala menjadi domba. Namun, betapapun sulitnya, setidaknya yang perlu dijaga adalah bagaimana diri kita tidak ikut-ikutan menjadi serigala juga. Itu saja sudah cukup; tidak usah berpikir bagaimana caranya supaya serigala bisa menjadi domba. Tidak usah berpikir bagaimana caranya menantang dan mengalahkan serigala. Setidaknya pertahankan diri agar tidak ikut-ikutan menjadi serigala. Supaya seperti yang Yesus katakan, yaitu kita adalah (tetap) domba di tengah serigala.

Sekarang kita sudah menemukan dua perspektif. Yang pertama, Pengkhotbah mengatakan dunia ini tidak adil tetapi ada tangan Tuhan yang terus berkarya dan terus menopang kita. Yang kedua, Yesus berkata bahwa kita diutus ke dalam dunia ini sama seperti domba ke tengah serigala. Pertanyaan yang perlu kita renungkan adalah kecewakah kita dengan hidup kita? Kecewakah kita dengan apa yang kita alami? Kecewakah kita jika pekerjaan tidak menghasilkan sebagaimana yang kita inginkan, keluarga tidak berfungsi sebagaimana yang kita harapkan, kehidupan tidak semanis yang kita pikirkan dan inginkan? Secara jujur dan terus terang, kita boleh mengakui bahwa kita kecewa dan layak terluka ketika itu datang kepada kita. Kita layak kecewa karena menerima apa yang tidak seharusnya kita terima. Namun, ketahuilah bahwa di dalam semua kepedihan dan kepahitan serta kekecewaan hidup ada tangan Tuhan yang masih terus berkarya dan yang tidak pernah kehilangan kendali, bahkan pada saat kita tidak melihatnya sekalipun. Di dalam semua kedukaan, kepahitan dan kekecewaan kita, pandanglah melalui mata iman bahwa ada tangan Tuhan yang terus berkarya di dalam hidup kita.

Hari demi hari berlalu. Bagaimanakah kita menjalani hari-hari kita sebagai keluarga, sebagai usahawan, sebagai pekerja, atau sebagai seorang pensiunan? Apakah kita sudah menjalankan tugas pengutusan ini? Di tengah medan pengutusan ini, apakah kita tetap adalah domba? Ataukah jangan-jangan perilaku kita sudah lebih mirip serigala? Tidak mudah bagi kita mengubah orang lain atau mengubah dunia ini. Mari kita juga terus mengingat-ingat untuk menjaga diri kita agar tidak semakin mirip serigala, sebaliknya tetaplah berjuanglah untuk tetap menjadi domba! Domba di tengah serigala.

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with hidup at Wahyu 'wepe' Pramudya's blog.

Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome.