Akhir yang Tak Tertebak

December 5th, 2010 § 0 comments § permalink

Dari sekian banyak pengajaran Yesus, perumpamaan tentang kisah anak yang hilang selalu nancep di benak saya.  Kisah luar biasa yang menggambarkan seperti apa anugerah itu.  Di sisi lain, kisah tentang anugerah ini selalu menimbulkan pertanyaan tentang keadilan.  Kalau anak bungsu yang telah menghabiskan harta dan mempermalukan nama keluarga itu diampuni begitu saja, lalu di manakah letak keadilannya?  Bukan sekedar diampuni, tetapi malah dirayakan kepulangannya.  Lalu bagaimana dengan si sulung yang tidak pernah hilang itu?  Wajar kalau kemudian si sulung tidak mau masuk ke rumah, dan begitu ayahnya menemui, maka mengalirlah protes dari bibirnya “Bertahun-tahun lamanya aku bekerja mati-matian untuk Ayah. Tidak pernah aku membantah perintah Ayah. Dan apakah yang Ayah berikan kepadaku? Seekor kambing pun belum pernah Ayah berikan untuk aku  dengan kawan-kawanku!

Yesus menutup perumpamaan anak yang hilang ini dengan jawaban sang ayah kepada anak sulung. “Anakku,’ jawab ayahnya, ‘engkau selalu ada di sini dengan aku. Semua yang kumiliki adalah milikmu juga. Tetapi kita harus berpesta dan bergembira, sebab adikmu itu sudah mati, tetapi sekarang hidup lagi; ia sudah hilang, tetapi sekarang telah ditemukan kembali.”  Kisah itu berakhir di sini.  Tidak ada kisah tentang apakah si sulung akhirnya bisa memahami besarnya pengampunan sang ayah, dan turut bergembira dalam pesta.  Atau malah bisa jadi juga jawaban ini justru membuat rasa keadilan di hati si sulung makin terusik.

Yang lebih menggelisahkan saya adalah dalam kisah itu Yesus tidak menceritakan apakah setelah pengampunan itu si bungsu berubah menjadi anak yang baik?  Memang sih, ada penyesalan yang tergambar dalam perkataan si bungsu,” Aku sudah berdosa terhadap Allah dan terhadap Ayah. Tidak layak lagi aku disebut anak Ayah.” Tapi khan kita bisa berkata bahwa ini adalah penyesalan orang yang sudah kepepet.  “Orang sudah salah, kalau tidak menyesal atau bertobat ya mau apa lagi,” begitu komentar seorang rekan ketika mendengar kabar pemulihan seorang hamba Tuhan yang telah “jatuh”.  “Jangan-jangan pertobatannya juga karena kepepet karena tidak ada gereja yang mau menerimanya.  Kalau tidak bertobat ya tidak bisa hidup,” lanjut rekan itu.  Walau terasa sinis, namun kembali kita merasakan ada kegelisahan tentang apakah pertobatan itu sungguh-sungguh. Apakah penyesalan itu tulus?  Apakah pengampunan itu akan dibalas dengan perubahan hidup?

Saya belum mengerti mengapa Yesus tidak menutup kisah perumpamaan anak yang hilang itu dengan satu kalimat yang menegaskan bahwa si bungsu benar-benar bertobat dan berubah menjadi anak yang baik, sehingga si sulung akhirnya tulus menerima adiknya itu.  Akhir yang indah bukan?  Namun, mungkin inilah kisah tentang kasih karunia itu.  Kisah yang tidak dapat dipastikan ujung ceritanya.  Kisah yang dapat berujung pada akhir yang bahagia atau malah luka hati yang baru.   Kisah tentang orang-orang yang berani mengambil resiko untuk mengasihi walau tidak tahu apakah kasih itu akan mengubah hidup orang yang diampuninya atau tidak.

Ya, kasih karunia atau anugerah yang mewujud nyata dalam pengampunan  itu memang hanya bisa dibagikan oleh mereka yang berani mengambil resiko.  Sebuah kisah kasih dengan akhirnya yang tak tertebak.

* gambar ini adalah karya  Rembrandt van RijnThe return of the prodigal son” c. 1662 Oil on canvas 262 x 206 cm The Hermitage, St. Petersburg

Ngumpet

October 19th, 2010 § 1 comment § permalink

Beberapa waktu yang lalu, saya berkhotbah di sebuah jemaat yang menempati ruko. Ruangannya paling hanya cukup untuk menampung 50 orang. Di mimbar, seperti biasa ada tempat duduk untuk pengkhotbah. Karena mimbarnya cukup besar, maka ketika saya duduk, jemaat tidak akan melihat saya. Hari itu saya memimpin liturgi dan berkhotbah, seperti lazimnya di GKI. Sementara saya memimpin, di deretan bangku anggota jemaat, ada anak kecil yang terus saja tidak pernah tenang. Tidak henti-hentinya anak itu bergerak, berbicara dan kadang tertawa. Si mama terlihat kesulitan untuk menenangkan anak yang aktif itu. Biasanya saya cukup terganggu dengan suara-suara yang tidak perlu seperti itu. Hari itu saya mencoba menerima situasi seperti itu. Maklum anak itu adalah Alden, anak saya sendiri.

Saya merasa kehadiran Alden telah mengganggu ketenangan ibadah. Sebelum doa syafaat, saya meminta maaf kepada anggota jemaat untuk perilaku Alden. Mereka tersenyum tanda memahami apa yang terjadi, sementara Alden terus mengarahkan pandangan ke mimbar. Hati saya lega merasakan anggota jemaat memaklumi keributan yang ditimbulkan Alden.

Selesai saya memimpin doa syafaat, giliran penatua yang berdiri untuk memimpin persembahan. Sesaat setelah saya duduk, ketika penatua sedang melangkah ke mimbar, tiba-tiba terdengar sebuah teriakan keras,” Papa ngumpet!” Dan … gerr … meledaklah tawa seluruh jemaat. Alden kembali berulah!

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with kisah at Wahyu 'wepe' Pramudya's blog.

Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome.