Mendekat Kepada Allah

January 12th, 2011 § 0 comments § permalink

Beberapa waktu yang lalu saya mencari dompet saya sebelum berangkat ke gereja.  Saya mencoba mencarinya,  namun tidak ditemukan.  Hampir setengah hari mencari, namun tidak ketemu. “Hilangnya di mana pak?” tanya pembantu saya.  “Kalau bapak tahu di mana hilangnya, ya pasti sudah ketemu,” jawab isteri saya.  Kami pun tertawa. Lelah mencari, saya memutuskan untuk tidur sejenak karena malam harinya saya telah mempunyai janji konseling dan memimpin doa malam.  Tidak ada doa yang terucap, namun hanya sebuah curahan hati saja di hadapan Tuhan,”Minggu ini jadwal pelayanan padat.  Masak sih harus ditambah dengan mengurus ktp, dua sim, kartu atm, kartu kredit dan kartu-kartu yang lain.”

Saya berangkat ke gereja dan melakukan konseling.  HP pun saya silent.  Tiba-tiba ruang pendeta diketuk oleh seorang penatua.  “Vanda bilang ada orang yang menemukan dompetmu.”  Segera saya telpon ke rumah dan ternyata benar ada seorang petugas kebersihan yang menemukan dompet saya.  Uang tentu saja telah hilang, namun seluruh kartu penting masih ada.  Akhir yang indah bukan?  Plus tiba-tiba saja ada orang yang tidak saya kenal sebelumnya menitipkan uang persembahan kasih yang jumlahnya kurang lebih sama dengan yang hilang.  Luar biasa bukan?

Hidup Tak Selalu Indah

Sayangnya tidak semua kesulitan di dalam hidup ini, juga hidup saya, berakhir seindah itu.  Ada saat-saat di mana kita berdoa memohon sesuatu dari Tuhan, eh sampai sekarang belum ada jawaban dari Tuhan.  Padahal toh yang kita minta adalah hal yang baik : perubahan sikap anggota keluarga kita, pekerjaan yang lebih baik, pasangan hidup, rejeki untuk hidup sehari-hari dan juga kesembuhan dari penyakit.  Apakah ada yang salah dengan permintaan kita ini?  Tidak ada bukan! Lalu apa sulitnya bagi Tuhan untuk mengabulkan hal-hal yang baik seperti ini? Sebuah pertanyaan besar tersimpan di hati kita.

Tanya di dalam diri kita makin bertambah tatkala kita memperhatikan dunia di sekitar kita.  Kita melihat rekan-rekan kita yang mengalami keberhasilan di dalam pekerjaan dan kebahagiaan dalam keluarga.  Tubuh mereka pun sehat, terbebas dari segala penyakit.  Harta melimpah yang membuat mereka bisa menikmati segala yang terbaik di dalam dunia ini.  Padahal kita tahu benar bagaimana mereka menjalani kehidupan ini.  Bukan hanya tidak mengenal Tuhan, mereka juga melanggar tatanan moral yang ada di masyarakat.  Mereka jahat terhadap manusia lain, pintar memutarbalikan keadilan, dan tidak pernah tertangkap oleh aparat yang berwenang.  Tanya yang menggema di hati : mengapa Tuhan membiarkan hal seperti ini terjadi?  Apa sulitnya bagi Tuhan untuk menghukum mereka?  Mengapa Tuhan tidak melakukannya?

Mengapa Orang Benar Menderita?

Asaf, penulis Mazmur 73 ini, mempunyai pertanyaan yang sama dengan kita.   Mengapa orang-orang jahat mengalami kemujuran?  Tubuh mereka sehat, tidak terkena penyakit.  Mereka lepas dari segala kesulitan dan penyakit yang menimpa manusia lain.  Mereka menjadi sombong dengan segala macam kejahatannya.  Bahkan mereka berani membual di hadapan langit dan tidak ada yang terjadi pada diri mereka.  Kalau orang jahat mengalami kemujuran dan segala yang terbaik di dalam hidup ini,  Asaf merasa bahwa kesalehannya menjadi sia-sia.  Bahkan, Asaf yang menjaga hidupnya bersih pun tidak luput dari kesulitan dan tulah.  Perhatikan perkataan Asaf,”  Sia-sia sama sekali aku mempertahankan hati yang bersih, dan membasuh tanganku, tanda tak bersalah.  Namun sepanjang hari aku kena tulah, dan kena hukum setiap pagi.”

Kalau begitu, pikir Asaf, lalu mengapa tidak ikut-ikutan menjadi jahat sekalian saja.  Kalau orang benar malah menderita, sedangkan orang jahat menikmati kebahagiaan lalau mengapa tidak ikut menjadi jahat sekalian saja.  Ayat yang ketiga mengungkapkan hal ini : “Sebab aku cemburu kepada pembual-pembual, kalau aku melihat kemujuran orang-orang fasik.” (Mazmur 73:3)

Tidak ada yang lebih menggoda kita untuk melakukan hal yang jahat, selain melihat kejahatan itu membuahkan hasil yang diharapkan dan pelakunya tidak tertangkap.  Atau kalau pun tertangkap toh dengan hasil kejahatan yang ada, semua bisa diatur.  Mau keluar masuk rumah tahanan sampai 68 kali bisa.  Mau nonton tenis ke Bali juga bisa.  Tentu saja, jangan lupa pakai wig   Gemas sekali bukan kita melihatnya?

Bagaimana juga dengan mereka yang telah membunuh Munir misalnya?  Melenggang tak terungkap bukan?  Bagaimana dengan kasus penghilangan aktivis di Orde Baru, seperti Wiji Thukul misalnya?  Bagaimana dengan kasus keteledoran eksplorasi minyak yang disulap menjadi bencana alam?  Bagaimana dengan ….  Silakan Anda mengisi sendirilah.  Daftarnya bisa menjadi panjang bukan?  Rasa putus asas kita juga makin panjang.  Dan … ada godaan besar untuk berhenti melakukan yang baik, dan turut melakukan yang jahat bukan?

Dalam sebuah perjalanan dari Bandara Soekarno Hatta menuju ke gereja, kami melewati jalan tol.  Antrian begitu padat, dan satu-dua mobil mulai mengambil bahu jalan.  Ketika melihat kejadian itu, sang sopir langsung nyeletuk,”  Bakal ketangkep polisi tuh.  Polisi di sini keras.  Siap-siap aje!  Kita sih sabar aja ya pak, yang penting kita tidak ngelanggar.  Kita yang bener.”  Beberapa menit berlalu, beberapa mobil di belakang kami pun melesat mengambil bahu jalan.  Makin lama makin banyak. “Panen deh polisinya,” kata pak sopir sambil tertawa.  “Masih sabar untuk menunggu khan pak?” tanyanya.  Saya hanya tersenyum saja.  Hampir dua puluh menit nyaris tidak bergerak. Sopir mobil gereja pun bertanya,”  Pak, emang di depan tidak ada polisi?”  Saya yang duduk di sebelah kiri mengarahkan pandangan ke depan,” Ada tuh pak. Tapi semua yang tadi lewat dibiarin aja. “Kalau gitu, sekalian aja mobil ini.  Kalau nanti kita yang ketangkep, kita bilang aja kenapa yang tadi dibiarin saja,” kata sang sopir sambil membanting stir ke kiri

Ketika apa yang salah tidak mendapatkan hukuman yang seharusnya, sementara yang benar malah sengsara, tidakah kita tergoda juga untuk melakukan yang salah juga?  Asaf yang mengamati kenyataan yang serupa ini, jujur mengaku, “Tetapi aku, sedikit lagi maka kakiku terpeleset, nyaris aku tergelincir.

Sebab aku cemburu kepada pembual-pembual, kalau aku melihat kemujuran orang-orang fasik …” (Mazmur 73:1-2).

Perspektif yang Berubah

Lalu, apa yang terjadi pada Asaf selanjutnya?  Apakah ia ikut-ikutan melakukan yang jahat?  Simak penuturannya,” … sampai aku masuk ke dalam tempat kudus Allah, dan memperhatikan kesudahan mereka.  Sesungguhnya di tempat-tempat licin Kautaruh mereka, Kaujatuhkan mereka sehingga hancur. Betapa binasa mereka dalam sekejap mata, lenyap, habis oleh karena kedahsyatan!” (Mazmur  73:17-19).

Belum berakhir!  Itulah pemandangan yang dilihat oleh Asaf ketika ia masuk ke tempat kudus Allah.  Frasa tempat kudus Allah berarti tempat di mana Allah bertahta dalam kekudusan dan kemuliaan.

Dari sudut pandang Allah nampaknya kejayaan orang fasik itu tidak akan bertahan selama-lamanya.  Asaf melihat orang-orang itu seperti di taruh di tempat-tempat licin.  Hanya menunggu waktu untuk jatuh.  Kejahatan itu walaupun nampak perkasa menyimpan benih-benih kehancurannya sendiri.

Sejarah telah menjadi saksi betapa orang-orang yang jahat, berkuasa seolah-olah tanpa batas dan durasi waktu, namun toh jatuh juga.  Adolf Hitler yang begitu digdaya pun akhirnya bunuh diri ketika mendengar kabar kekalahan pasukannya.  Begitu pula dengan Stalin, Polpot, Mussolini dll.  Tuhan tidak hanya berurusan dengan kejahatan yang besar-besar saja.  Tetapi, di dalam setiap kejahatan, besar atau kecil, tersimpan benih kehancurannya sendiri.  Dan kadangkala yang Tuhan lakukan adalah membiarkan pelaku kejahatan itu terjebak oleh keinginannya sendiri.

Harian Kompas, 16 Januari 2010 mengisahkan tentang seorang pria pemalsu uang yang tertangkap polisi di Kuala Lumpur.  Uniknya, pria ini tertangkap setelah memberikan tip selembar uang 500 dollar AS (senilai 4,6 juta) kepada pelayan hotel.  Pelayan hotel yang merasa beruntung ini segera menukarkan selembar uang tersebut.  Petugas penukar uang segera memanggil polisi untuk menangkap sang pemberi tip.  Mengapa?  Karena pecahan tertinggi dalam dollar AS adalah 100 bukan 500.  Polisi menemukan uang palsu senilai 66 juta dollar AS.

“Dosa orang jahat bagaikan perangkap yang menjerat orang itu sendiri,” demikianlah peringatan penulis Kitab Amsal dalam pasal 5 ayat 22 versi Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS).  Apa yang dilakukan oleh Asaf ketika menantikan kejahatan itu akhirnya tumbang? Ia sadar kalau berdiam diri saja, ia bisa tergerus oleh keinginan untuk melakukan kejahatan yang sama. Ia pun sadar kemampuannya untuk mengubah orang lain tidaklah besar.  Apa yang dilakukan oleh Asaf?

Asaf memilih untuk,” Tetapi aku tetap di dekat-Mu; Engkau memegang tangan kananku.  Dengan nasihat-Mu Engkau menuntun aku …” (Mazmur 73:23-24).  Ia memilih untuk berada di dekat Tuhan, dan merasakan tangan Tuhan memegang tangannya.  Gambaran yang mungkin terasa abstrak, tetapi dipertegas dengan kalimat selanjutnya :  Dengan nasihat-Mu Engkau menuntun aku.  Dekat dengan Tuhan berarti memilih untuk mendengarkan sabda-Nya.

Dekat dengan Tuhan berarti membiarkan hidup dituntun oleh sabda-Nya, dan bukan oleh apa yang nampak di depan mata kita.  Seperti yang pernah dikatakan oleh Habakuk,” Tetapi orang benar akan hidup oleh percayanya.”

Inilah kekuatan kita untuk bertahan di tengah masyarakat yang karut-marut.  Ketika kejahatan nampak perkasa, ingatlah bahwa ia tak kan bertahan lama.  Sementara itu, marilah kita dekat dengan Tuhan dengan membiarkan firman-Nya menuntun kehidupan kita memasuki tahun yang baru.

Bapa Tahu yang Terbaik

October 6th, 2010 § 0 comments § permalink

“Loh … kok masih di sini!” protes Alden ( saat itu 2,5 th) ketika ia membuka matanya, bangun dari tidurnya. “Alden mau pergi main. Naik mobil. Bukan di sini!,” teriaknya. Sesudah bangun itu, Alden menunjukkan kemarahan terutama kepada saya. Protesnya disampaikan sambil memukul-mukul tubuh saya. Saya mencoba menjelaskan kepada Alden bahwa mengapa kami membatalkan rencana ke taman, tapi ia tetap saja menunjukkan kemarahannya.

Siang hari itu, kami memutuskan untuk mengajak Alden jalan-jalan ke sebuah taman. Seperti biasanya, Alden sangat antusias. Ia memilih sendiri bajunya dari lemari. Mengenakan baju itu sebisanya, mencari sandalnya. Siap untuk berangkat bahkan ketika kami belum berganti baju. Alden memang selalu antusias kalau diajak jalan-jalan. Persis sama dengan mamanya.

Di awal perjalanan, Alden masih dengan semangat bercerita tentang apa saja yang dilihatnya. Sampai … suatu saat kami tidak lagi mendengark suaranya. Alden tertidur bahkan ketika belum separo jalan menuju taman. Dan … anak itu mendengkur halus, kayak papa-mamanya. Mendengkur kalau tidur maksudnya, suaranya sih jelas berbeda volumenya. “Alden tidur, tidak usah ke taman, ia perlu istirahat, beli susu saja,” kata Vanda. Saya mengangguk setuju. Kami pun membeli susu dan kemudian pulang.

Kami memutuskan untuk pulang, bukan karena kami tidak ingin Alden bermain di taman itu. Kami bukan hendak merampas sukacita Alden. Kami sangat mengenal perilaku dan kebutuhan Alden. Kami memutuskan pulang karena Alden lelah dan sudah tertidur. Main di taman tentu bukan gagasan yang tepat di tengah kelelahan Alden. Kami meletakkan Alden di tempat tidur. Ia tertidur dengan nyenyak, sampai kemudian bangun dengan kemarahan seperti itu.  Di tengah keterbatasan kami sebagai orangtua, kami tahu yang terbaik untuk Alden. Walau bukan hal yang mudah ternyata bagi Alden untuk menerima keputusan kami.

Tidak mudah bagi kita untuk menerima rencana atau keinginan yang tidak menjadi kenyataan. Apalagi ketika kita begitu menginginkannya, serius berdoa dan mempersiapkan diri sepenuh hati untuk mewujudkan rencana itu. Maka Tuhanlah yang menjadi sasaran kemarahan dan protes kita. “Mengapa kondisi saya masih seperti ini? Mengapa keinginan saya tidak menjadi kenyataan? Mengapa Tuhan tidak membuat usaha saya berhasil?” begitu bunyi rentetan protes kita.

Mungkin … dalam keadaan seperti ini kita perlu belajar untuk percaya dan berserah: Bapa mengenal kita dengan sempurna. Bapa tahu yang terbaik!

Beriman : Berani Hidup dengan Pertanyaan

October 4th, 2010 § 4 comments § permalink

Seseorang mengajak rekan-rekannya makan bersama untuk merayakan ulang tahunnya. “Ayo,  pumpung ada promo nih.  Diskon 50 % all item.”  Maka duduklah ia bersama dengan 4 rekannya yang lain.  Sambil membaca menu, ia bertanya kepada pelayanan restaurant,”  Diskonnya 50 % khan mbak?”  Sang pelayanan menjawab,” Benar pak! Tapi hanya untuk makan pada pukul 2 sampai dengan 4 sore.”  “Lho, ada batasan jam nya ya. Kok tidak tertulis di iklannya?” protes rekan itu.  Sang pelayanan tersenyum,” Ada kok pak. Ada tanda * dan tulisan : syarat dan ketentuan berlaku, kecil sekali di bagian bawah.”

Syarat dan ketentuan berlaku.  Pernahkah Anda memperhatikan dengan detil tulisan yang selalu ditulis dalam huruf kecil itu?  Diskon 50% all item, syarat dan ketentuan berlaku.  Buy 1 get 2, syarat dan ketentuan berlaku.  Bonus voucher diskon senilai Rp. 500.000,-, syarat dan ketentuan berlaku.  Bagaimana Anda menilai kalimat syarat dan ketentuan berlaku?  Tidak jujur? Atau ini semata-mata upaya promosi, jadi wajar kalau seperti itu?

Saya harus mengatakan pada Anda, para pedagang yang memasang promosi diskon dalam huruf besar, dan syarat dan ketentuan berlaku dalam huruf kecil itu ada kalanya lebih jujur daripada para pengkhotbah Kristen tertentu.  Tidak percaya?  Saya kutipkan langsung beberapa perkataan mereka :

  • Datang dan rasakan kuasa Tuhan.  Segala sakit disembuhkan. Yang lumpuh berjalan, yang buta melihat, yang tuli mendengar!  Titik.  Begitu iklannya.  Realitanya?  Semua yang lumpuh berjalan, yang buta melihat dan tuli mendengar?  Puji Tuhan kalau realitanya seperti itu. Namun seringkali tidak demikian bukan?  Mungkin beberapa sembuh, tapi jauh lebih banyak yang merasa kecewa.  Harusnya dipasang tanda * syarat dan ketentuan berlaku bukan? Apa syarat dan ketentuannya? Jika sesuai dengan kehendak dan rencana Tuhan.
  • Alami kuasa perjamuan kudus.  Segala kutuk : kutuk kemiskinan, kutuk operasi, kutuk kesusahan, kutuk musibah, kutuk sakit penyakit dipatahkan.  Seorang rekan begitu mempercayai  ini : ikut perjamuan kudus, dinyatakan sembuh oleh karena imannya, dan dengan demikian menolak untuk operasi.  Hasilnya? Usus buntu itu pecah di perutnya. Harusnya dipasang tanda * syarat dan ketentuan berlaku.  Apa syarat dan ketentuannya? Jika sesuai dengan kehendak dan rencana Tuhan.
  • Berilah persembahan Anda, Tuhan akan mengembalikan berlipat kali ganda.  Seorang rekan begitu tergiur, sehingga meminjam uang sana-sini untuk memberikan persembahan.  Setelah persembahan diberi, otomatis kembali berlipatkali ganda?  Sampai sekarang realitanya tidak.  Ia pun kecewa.  Harusnya dipasang * syarat dan ketentuan berlaku.  Apa syarat dan ketentuannya? Jika sesuai dengan kehendak Tuhan.

Nah, masalahnya justru pada kalimat : jika sesuai dengan kehendak dan rencana Tuhan.  Tidak mudah kita memahami  kehendak dan rencana Tuhan bukan?  Secara umum kehendak Tuhan dinyatakan dalam firman-Nya, tetapi dalam situasi tertentu kita  seringkali bertanya,” Apakah situasi ini kehendak Tuhan?  Mengapa hal ini terjadi?  Apa yang Tuhan kehendaki dari hidupku?”  Pernahkah Anda menanyakan hal-hal yang seperti ini?

Kadangkala, ketika kita menanyakan hal-hal seperti itu, kita merasa semua itu terjadi karena kita kurang “rohani”.  Seandainya saya lebih “rohani” maka saya akan memahami kehendak dan rencana Tuhan.  DItambah lagi dengan sorot mata penghakiman dari orang lain.  Menambah rasa bersalah kita.

Apakah memang ketidaktahuan kita terhadap rencana Tuhan itu karena faktor kita kurang “rohani”?  Kita merasa seandainya kita lebih dekat dengan Tuhan, maka semua pertanyaan itu hilang lenyap tak berbekas.  Namun, benarkah demikian?

Mari kita dengarkan serentetan pertanyaan ini :

  • Berapa lama lagi, TUHAN, aku berteriak, tetapi tidak Kaudengar, aku berseru kepada-Mu: “Penindasan!” tetapi tidak Kautolong?
  • Mengapa Engkau memperlihatkan kepadaku kejahatan, sehingga aku memandang kelaliman?

Siapa yang melontarkan pertanyaan dan gugatan ini kepada Tuhan?  Habakuk!  Siapa Habakuk?  Seorang nabi, penyambung lidah Allah pada umat.  Bayangkan seorang nabi bertanya dan menggugat Allah di dalam ketidakmengertiannya.  Ia tidak bisa mengerti mengapa : aniaya dan kekerasan ada di depan mataku; perbantahan dan pertikaian terjadi.  Hukum kehilangan kekuatannya dan tidak pernah muncul keadilan, sebab orang fasik mengepung orang benar; itulah sebabnya keadilan muncul terbalik.  Kalau seorang nabi saja tidak paham tentang apa yang ada di depan matanya, bagaimana ia menjelaskan hal ini kepada pendengarnya?

Ternyata status dan kedudukan sebagai nabi tidak membuatnya lebih tahu dari manusia lain.  Itu sebabnya Habakuk bertanya dan bahkan pertanyaannya bernada gugatan.  Apakah Habakuk kurang “rohani” dan kurang beriman?

Pertanyaan dan bahkan gugatan Habakuk adalah sebuah bukti bahwa beriman hanya berarti  memilki kepastian, kemenangan dan damai sejahtera selama-lamanya.  Semua itu akan terjadi di surga, tetapi kita masih hidup di dunia.  Di dalam dunia ini, walau beriman, kita juga harus berani berhadapan dengan pertanyaan :  mengapa ini dan itu terjadi, dan berapa lama semua ini akan berakhir?  Beriman berarti berani hidup dengan pertanyaan.

Beriman nampaknya  tetapi juga menuntut keberanian  hidup dengan pertanyaan.  Ada saat di mana-mana kita bertanya-tanya kepada Tuhan.  Dan dalam satu dua cara Tuhan menjawab kita.  Kita bersyukur.  Namun ada saatnya kita harus hidup dengan tanda tanya : mengapa Tuhan?  Bagaimana caranya Tuhan?  Tidak banyak orang tahan hidup dengan pertanyaan, akibatnya Tuhan ditinggalkan dan mencari kepastian yang lain.  Yang lebih bisa dipegang dan kasat mata : orang pintar, benda-benda jimat tertentu, pergi ke gunung tertentu.  Hal-hal yang membuat Tuhan berduka.

Beriman seringkali memang tidak memberikan kepastian kasat mata, tetapi satu-satunya cara untuk hidup.  Di dalam pergumulan-Nya, Habakuk berkata,” tetapi orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya.” (Habakuk 2:4).  Apa maksudnya?

Alden (3,5 th) anak saya sudah menghafal rute dari pastori ke gereja.  Suatu kali kami akan ke gereja.  Karena jalan yang biasa dilalui macet, saya mencoba mencari jalan lain.  Sepanjang jalan itulah Alden mengeluh dan menyalahkan saya kenapa kok lewat jalan ini dan bukan yang biasanya.  Saya berupaya untuk menjelaskan kepada Alden, tetapi ia tetap sulit mengerti.  Akhirnya saya memilih berdiam diri.  Saya baru bicara ketika kami sudah parkir di gereja.  Melihat kami telah sampai di gereja, langsung keluhan Alden berubah menjadi pujian : papa pinter.  Keterbatasan pikiran Alden membuat ia tidak mengerti apa yang saya ingin sampaikan.  Menyadari keterbatasan itu, saya tidak perlu bicara lagi.  Saya diam, tetapi terus mengupayakan agar sampai ke gereja.  Saya rasa itulah juga yang seringkali Allah lakukan dalam kehidupan kita.  Kita tidak selalu bisa memahami rancangan Allah, tetapi berserah senantiasa adalah sikap yang terbaik.  Inilah arti orang benar hidup karena percayanya.  Percaya pada Tuhan, walaupun belum melihat jalan-Nya.  Percaya pada kebaikan dan kemurahan Tuhan atas umat-Nya.

Karakter Allah itulah dasar kepercayaan kita pada-Nya. Mengapa berani percaya kepada-Nya? Karena kita mengetahui walau bibir Tuhan terkatup, dan kita tidak mendapat jawaban, namun tangan-Nya terus berkarya untuk kebaikan kita.  Inilah hidup beriman : berani hidup dengan pertanyaan.

* berdasarkan Habakuk 1:1-4

Mengapa Pornografi Digemari?

September 30th, 2010 § 0 comments § permalink

Mengapa pornografi digemari?  Ada sebuah perspektif menarik yang saya temukan dalam tulisan Henri J.M.Nouwen dalam Reaching Out, The Three Movement of Spiritual Life (Menggapai Kematangan Hidup Rohani).  Berikut ini kutipannya :

Pengalaman kesepian adalah satu di antara pengalaman-pengalaman manusiawi yang sangat biasa. Hanya saja masyarakat modern dewasa ini begitu memberikan perhatian kepada pengalaman ini hingga kesadaran kita berlebih-lebihan. Masyarakat di mana kita hidup, membuat kita sadar akan kesepian kita. Kita menjadi semakin sadar bahwa kita hidup dalam dunia, di mana bahkan hubungan yang paling intim telah menjadi bagian dari persaingan dan permusuhan.

Sebagai salah satu akibatnya ialah berkembanganya pornografi. Pornografi adalah keakraban yang diperdagangkan. Banyak orang, baik tua maupun muda melihat gambar atau membaca buku porno dengan perasaan was-was, jangan-jangan ada orang yang dikenal yang melihatnya. Dengan cemas menatap seorang wanita telanjang sambil membayangkan bahwa kesepiannya akan terhalau lewat pergaulan seperti itu.

setujukah Anda dengan pengamatan Nouwen itu?

Where Am I?

You are currently browsing entries tagged with mengapa at Wahyu 'wepe' Pramudya's blog.

Content Protected Using Blog Protector By: PcDrome.